Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
He is surprising me


__ADS_3

🍁🍁🍁


"Am, !!" Novy membuyarkan lamunan yang tercipta oleh keterjutanku atas kehadiran sosok sosok nyata yang tak kukenal sama sekali. Apa gerangan maksud Alam atas kehadiran mereka bersamanya.


Aku mekangkah, memaksakan senyuman termanis sebisaku. Menyalami mereka satu persatu. Kecuali Alam, aku tahu dia tak akan mau jika di antara kami terjadi skinship pra halal.


Ibu mulai bersuara, menyapa mereka formalitas. Ibu pasti jauh lebih terkejut daripada aku, ibu kira sahabatnya yang akan menyertai Alam, jadi ibu menyiapkan mental ala kadarnya. Terdengar keheningan tercipta, aku berinisiatif mengambil kue basah di dapur untuk di suguhkan.


Di bantu novy aku menghidangkan minuman serta kue basah di atas meja. Mempersilahkan tamu menikmati kudapan seadanya.


"Silahkan pak.. bu.. seadanya.."


Kulembutkan suaraku agar terdengar sopan oleh sang tamu, memasang wajah semanis mungkin agar mereka merasa terhormati. Menggulung semua rasa penasaran yang bercokol di hati.


"Hmm.. ini berapa sendok gulanya nduk?"


"Eh.. " tuturnya lembut dan santun mengalun. Tapi maknanya sangat bisa membuatku memutar memori beberapa menit silam. Berapa sendok? Dua sendok teh?, Ya. Aku ingat. Dua sendok teh.


"Dua sendok teh bu, saya yang buatkan tadi. Anak saya menyiapkan yang lain, bagaimana bu,.? Kurang manis ya?"


Bukan.. itu bukan aku yang menjawab. Melainkan ibu, ibu mengambil alih kesalahanku yang jelas tak kusengaja. Tanganku akan reflek menuang dua sendok gula karena hafal di luar kepala. Setiap malam aku selalu membuatnya untuk kami berdua. Bukannya rasa manis itu sesuai selera masing masing?.


"Ehm.. manis kok bu.. semanis yang bikin. Boleh kuhabiskan sekarang?. Itung itung obat pereda gerogi" ucapan manis Alam membuat suasana menghangat. Semuanya tertawa renyah, kecuali aku dan ibu yang sempat mempermasalahkan takaran gula.


Novy senyum senyum tanpa dosa dengan tangan yang tak berhenti menyikutku.


Alih-alih ikut tertawa. Salah satu dari si kembar yang aslinya sangat menggemaskan ini bergelayut manja pada lengan Alam tanpa tahu hatiku yang kebat kebit.


"Papa mau kue... " Si kembar laki-laki merengak sambil mengerjapkan mata berulang kali di atas pangkuan Alam.


"Oh.. oke.. mau yang mana sayang?"


Alam tak canggung memanjakannya di depanku. Aku melirik ibu yang tak kalah bingung menghadapi situasi ini.

__ADS_1


"Aku angkat telfon dulu ya. Penting ini"


Si wanita muda yang tak ku tahu siapa. Pamit tanpa repot menunggu jawaban, bahkan untuk sekedar melihat ekspresi kami. Aku yang lelah berhadapan dengan situasi canggung ini mencoba membuka suara.


"Mas Alam bisa kita bicara berdua sebentar?"


"Oke, Bu, pak, aku nitip Anas Anis dulu ya.?"


"Nggak bisa toh lam, kalian ini kan bukan mahrom, dosa bicara berdua gitu. Bicarain aja disini! Toh kita kesini memang ada yang mau di bicarakan kan?"


"Maaf Bu, kalau ibu keberatan. Saya akan berbicara di temani Novy teman saya."


"Oke, nggak apa apa bu. Ami ini gadis yang sangat menjaga diri, kami aman InsyaAllah."


"Bentar, tunggu Alim dulu ya. Kembar ini pasti rewel kalau nggak ada salah satu dari kalian."


Aku berdiri, dadaku bergemuruh hebat. Mulutku terkatup rapat. Geram sekali melihat kenyataan ini. Ingin hati setenang air, namun apalah daya kenyataan memporak poranda.


Papa.? Si kembar itu manggil Alam papa?. Dan siapa wanita muda yang bersamanya?.


Kedua telapak tangan kugunakan menutup wajahku yang tak lagi sedap di pandang. Kegusaranku menghapus senyum manis yang sudah kupersiapkan beberapa jam yang sebelum dia datang.


"Minum dulu sayang"


Alam menyodorkan segelas air putih yang di ambilnya dari teko sebelah televisi. Mataku tak berhenti meliriknya tajam mempertegas bahwa aku sangat membutuhkan penjelasan.


"Cemburunya kamu nyeremin ya. Bisa keluar lo itu nanti bola mata."


OMG!!!!!


Dia bisa sesantai itu?


Masih bisa menggodaiku?

__ADS_1


Setelah dengan jumawanya membawa istri, anak anak, serta mertuanya mungkin.


Bukankah ini keterlaluan!


Aku menghela nafas. Merasa tidak perlu mengeluarkan sepatah kata. Karena aku yakin, yang keluar dari mulutku tak akan lagi semanis gula, bisa jadi sepahit buah khuldi.


Wah, tapi dari mana aku tahu buah khuldi rasanya pahit?.


"Oke. Kamu diem gini aku jadi lebih takut. Malem malem gini lagi. Kamu kan punya kebiasaan berhalusinasi tingkat dewa dewi. Sekali ada agenda halusinasi, kamu seperti di hinggapi ribuan peri, tak ada satupun yang bisa mengajakmu pergi, walau itu hanya dari sana kesini....


"Apaan sih Alam... Kamu bisa nggak sih seriusan dikit. Ini trouble Alam. Kamu ciptakan ribuan pertanyaan, itupun belum terhitung cabangnya. Kamu bayangin,! Berapa ribu pertanyaan yang harus kamu jawab dalam tempo sesingkat-singkatnya, untuk... Agrghrghhh.. kenapa jadi ketularan ngelantur sih..." Aku menghentakkan kaki yang tertekuk rapi di depan meja.


"Kamu lucu banget sih, ya Ampun. Gini banget cemburunya. Ami, Aku Alam, calon suami kamu, wanita muda tadi, Alim, kita kembaran sayang. Merek si kembar Anas dan Anis itu keponakanku, anaknya Alim. Sedangkan mereka adalah orangtua kandungku. "


Alam menjelaskan panjang lebar dengan tawa mengiringi. Dia mengakhiri kalimatnya sambik terus mengusap perut karena geli yang tak kunjung berhenti.


"Kamu sadar barusan ngomong apa?."


Alam lekas menghentikan tawa dan merapikan posisi duduknya.


"Maaf sayang.. seharusnya aku kasih kamu kisi kisi sebelum kesini. Tapi aku betulan lupa am, aku baru jemput mereka tadi siang ke jogja, terus langsung kesini. Lagian aku juga mau ngetes kamu sih, ternyata beneran,, sekarang baru aku yakin 100% lamaranku bakal di terima."


Alam kembali ke mode santai. Berulang kali menaik turunkan alisnya dan menatapku manja.


"Tau ah.!" Aku lekas berdiri meninggalkannya. Tak kuhiraukan tawanya yang semakin menggema.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah penjelasan singkat Alam di ruang tengah tadi, aku kembali dengan suasana hati yang sudah tertata rapi.


Ku kesampingakan beberapa pertanyaan yang muncul karena pancingan surprise Alam.


Acara ini berjalan lancar, mulai dari seorang pria paruh baya yang disebut Alam sebagai Abinya. Memintaku menjadi pendamping disisa umur putranya, dengan tutur kata paling indah yang pernah tertangkap telinga. Sampai pada sesi tukar cincin yang dilakukan oleh wanita paruh baya, yang tak lain adalah Umi, ibu kandung Alam.

__ADS_1


Di keharuan suasana yang tercipta, Umi mebisikkan satu kalimat yang menjungkir balikkan haruku di sela menyematkan cincin tepat di jari manisku.


"Maaf ya nduk, kalau bukan karena Alam bersujud di kaki Umi, Umi nggak akan mundur menjodohkannya dengan gadis pilihan kami."


__ADS_2