
"ibuk? Ngapain di atas gitu?" Suara bang Alam terdengar panik. Alhamdulillah, Alam berhasil menemukan ibuk. Tapi kenapa dia bilang ibuk di atas. Jangan-jangan ibuk di bawa mbak kunti tadi. Ya Allah selamatkan ibuk.
"Lam, sini tolongin ibuk. Dari tadi masang lampu salah terus. Pegel leher ibuk Lam"
Lah, ini maksudnya apa?, Aku lekas berlari masuk setelah mendengar ungkapan ibuk.
Kulihat bang Amar dan Mas Alam membantu ibuk turun dari tangga lipat. Ibuk yang menyadari kehadiranku mengembuskan nafas kasar, rautnya tampak kesal.
"Nasib ibuk nih apes pula, cuman di kasih anak sebiji, eh beraninya dia bilang ibuk ini hantu." Ibuk berkata dengan muka melas dan tangan mengelus dada yang mengundang tawa Alam dan bang Amar. Sedang marry yang baru masuk hanya melongo karena tak faham.
"Ya Ami kan nggak tahu buk, abisnya ibuk kenapa pakek pakaian serba putih gitu."
"Ibuk tadi habis yasinan di rumah bu RT Ami, kau lupa hari hah!?"
"Maaf buk, Ami lupa" aku nyengir dan menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Sayang ada testpan nggak?" Tanya Alam yang sudah berada di atas.
"Ada mas, sebentar ya" aku berlalu mengambil testpan dan mengangsurkan pada Alam.
"Kayaknya ini bukan lampunya deh buk, coba cek saklarnya dulu bang"
Bang Amar menerima uluran testpan dari Alam dan beranjak pada saklar yang berada di dinding.
"Iya nih Lam, saklarnya perlu di ganti, pesen gojek aja lah. Nggak usah pakek keluar"
"Kenapa emangnya bang. Lo laper ya"
"Nggak, bukan gue yang laper. Tapi Ami"
Tuding bang Amar padaku.
"Kok jadi aku sih bang?"
__ADS_1
"Sayang, kode keras itu. Siapin makan dulu yuk, ibuk udah makan belum?" Alam beranjak mendekati ibuk dan bersimpuh di lantai lalu menyalaminya takdzim.
"Udah sih Lam, tapi liat kamu ibuk jadi laper lagi "
"Dih, dikira Alam temulawak apa. Penambah nafsu makan." Ibuk menggeplak kepalaku pelan.
"Bukan begitu Am, ibuk ini bawaanya seneng kalau ketemu Alam. Dia perhatian sama ibuk. Seumur-umur mana pernah kamu tanya ibuk sudah makan apa belum"
"Tau ah, ibuk mah gitu kalo udah ada Alam."
Aku beranjak masuk meninggal ibuk dan yang lain.
"Ngambek dia Lam, manggil kamu pakek nama doang" ibuk berkata sambil cekikikan.
Sekilas kudengar Alam memperkenalkan Marry dan bang Amar pada ibuk, selanjutnya aku sibuk menghangatkan makanan dan menatanya di atas meja makan.
"Ini cemilannya mau di taruh mana sayang?"
Saat semua sudah siap, aku berinisiatif untuk memanggil ibuk, marry dan bang amar di ruang tamu, tapi yang kulihat bang Amar sedang membenahi saklar, sedangkan ibuk dan marry nampak berbincang dengan sesekali tertawa. Hatiku berdesir, selalu begini saat melihat ibuk tertawa lepas. Tawa yang sangat langka aku lihat.
"Kenapa sayang? Kok berdiri disini." Aku memang berdiri di ambang pintu ruang tengah. Melihat ibuk dari kejauhan.
"Lihat deh mas, aku jarang sekali melihat ibuk tertawa selepas ini. Aku seneng banget liatin ibuk diam-diam begini pas lagi ketawa lepas. Kayak nggak ada beban. Ibuk pasti kesepian. Tanpa Ayah, sedang aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Aku durhaka ya Mas?" Aku menoleh pada Alam untuk memastikan jawabannya.
"Kamu anak ibuk satu-satunya Ameena. Kamu berjuang keras memeras tenaga agar ibuk berhenti kerja, agar beliau bisa istirahat oleh tuntutan hidup. Bagian mana yang bisa mengklaim kamu jadi anak durhaka?. Lagian kalau kamu pengen ibuk ketawa lepas gampang sih, tinggal kita bikinin cucu yang banyak. Pasti ibuk seneng" Kalimat Alam yang terakhir dikatakannya dengan senyuman tengil.
"Itu sih maunya kamu aja." Ku tinggalkan dia karena kulihat lampu ruang tamu sudah menyala, lalu mempersilahkan mereka untuk makan.
Kami usai makan saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, ibuk menawari mereka agar menginap saja. Mas Alam dengan senang hati mengiyakan yang di sambut tawa oleh yang lain.
Ibuk berpamit untuk istirahat karena sudah larut malam. Sedang aku, marry, mas Alam dan bang Amar mengobrol santai di ruang tv. Aku yang terbiasa memakai daster rumahan saat di rumah merasa gerah karena belum ganti. Akhirnya kuputuskan untuk membersihkan diri terlebih dulu dan mengganti pakaianku dengan daster rumahan.
Aku tak berlama-lama di kamar mandi karena tak enak meninggalkan tamu terlalu lama. Aku keluar dengan memakai daster dan menggerai rambutku yang masih basah, Alam terhenyak kaget melihat penampilanku. Sedetik kemudian dia mendorongku masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dari luar.
__ADS_1
"Mas Alam apaan sih." Aku setengah berteriak dari dalam. Lalu melangkah malas menjauhi pintu karena mendengar ponselku berbunyi. Kulihat nama Alam tertera disana. Mau apa sih ini bocah.
"Apa?!" Tanyaku sewot.
"Sayang kalau keluar pakek sweater atau outer gitu ya, terus pakai kerudung."
"Ya kali Mas, gerah lah. Kan ini di rumah."
"Kalau cuma sama ibuk nggak apa-apa sayang, sekarang kan ada aku dan bang Amar. Kita belum mahrom. Mau ya, pakai outer sama hijabnya."
"Hmm, gitu ya mas, oke deh. Tapi pakai yang tipis aja nggak apa-apa kan?."
"Iya. Yang penting ketutup auratnya."
"Oke, Ami siap-siap dulu. Abis itu keluar"
"Makasih, sudah mau nurut sama mas"
"Sama-sama, aku lagi belajar nurut apa kata suami sih."
"Uhm,, meleleh kan jadinya."
"Lebay deh, mulai!. Dah ah."
Aku menutup panggilan telepon dan beranjak mencari outer beserta kerudung, lalu bersiap untuk keluar.
Malam itu kami habiskan dengan bertukar cerita. Dari aliran cerita inilah aku tahu siapa maryam sebenarnya. Dia adalah wanita yang di ajak bang Amar untuk bertemu denganku kala perpisahan antara kami terjadi. Dia sepupu dari garis ayah. Sedang Mas Alam adalah sepupu dari garis ibu. Maryam berkali-kali meminta maaf atas apa yang terjadi tahunan lalu. Ternyata dia menangis saat aku pergi meninggalkan mereka. Dia tak tega melihatku pergi dengan mata kosong menerawang dan pikiran yang tak lagi utuh sempurna.
Akhirnya aku tahu kenapa dia diam seribu bahasa kala itu. Biasanya, pelakor akan lebih agresif kan?.
Berbeda dengan cerita maryam yang membuatku sangat lega, fakta milik Alam sangat di luar dugaanku. Kupikir, Alam tinggal bersama ayah bunda hanya karena ingin menempuh pendidikan di kota, ternyata karena keinginan orangtua untuk memisahkannya dari saudari kembarnya.
Kenapa?, Bukankah kembar identik dengan keselarasan?. Kebersamaan?. Yang kutahu, orangtua yang memiliki anak kembar cenderung memberikan sesuatu yang sama persis namun beda warna. Tapi kenapa umi bertindak seperti itu?, atas dasar apa?.
__ADS_1