Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
memadamkan emosi dengan pelangi


__ADS_3

Aku dan Alam menoleh, bersamaan dengan suara benda terjatuh. Ternyata bang Amar yang menjatuhkan gelas kopinya saat akan mengembalikannya ke dapur, dan justru mendengar percakapanku bersama Alam.


Aku dan Alam seketika berdiri, sedang Bang Amar mengepalkan dua tanganya erat, lalu menghadap tembok dan menyurukkan keningnya disana, dia meraung tertahan dan memukul tembok dengan kepalan tangannya berulang.


Aku masih mematung di tempat, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Pasalnya, aku tak berniat membagi cerita kepada bang Amar. Dan ketidaksengajaan ini sama sekali tak terprediksi olehku.


Melihat bang Amar meraung frustasi membuatku hatiku perih, masihkah aku cemburu? Bukankah sikap bang Amar ini karena rasa bersalahnya pada Hesti?. Tapi, kenapa yang tertangkap apik oleh mataku justru sakitnya hati laki-laki yang melihat perempuannya tidak bahagia. Bukankah tak ada yang lebih perih dari melihat orang yang kita sayang, kehilangan senyuman bahkan terlihat sangat rapuh dan tak tersentuh meski berdiri di istananya sendiri?. Dan tersangkangkanya?, justru kita sendiri. Kita yang mengantarkan orang tersayang ke tempat yang menjanjikan ribuan kebahagian, yang belakangan baru di ketahuinya, bahwa kebahagiaan itu tak lebih dari fatamorgana belaka. Aku yakin seratus persen, seperti itulah gambaran luka bang Amar kali ini.


Aku tersadar saat Alam mendekati bang Amar dengan raut mukanya yang datar. Kulihat pecahan beling tak lagi menghiasi lantai keramik. Pasti Alam sudah membersihkannya, aku bahkan tak tahu kapan dia melakukannya. Pikiranku tergelung membentuk buntalan yang aku sendiri tak tahu cara mengurainya.


"Gue bodoh Lam!, Kenapa gue abai sama keraguannya dulu. Gue justru dengan jumawanya nganter dia ke kandang singa!,"


Bang Amar mengadu kepalan tangannya dengan tembok, saking kerasnya hantaman itu hingga buku-buka jarinya mengelupas dan mengeluarkan darah. Aku menggigit bibir bawah, perih di dadaku semakin menyiksa. Seperti luka yang dengan sengaja di siram air laut.


"Emang dengan lo emosi begini, bisa mengembalikan keadaan dia jadi baik lagi?, Enggak kan!." Sentak Alam membuat bang Amar tersadar dan menoleh ke arahnya.


"Lo bener Lam. Gue harus bertindak" sedetik kemudian pandangan bang Amar mengarah padaku dengan gusar.


"Gue pinjem kunci motor lo Meena."


"Buat apa bang?, Abang nggak lagi rencana ingkar janji kan?"


"Persetan dengan janji Ameena!!" Aku berjengit mendengar teriakan bang Amar. Tanganku bergetar, dan refleks mencengkeram gamisku erat.


"Bang!!, Lo nggak ada hak bentak dia!" Suara Alam meninggi, rahangnya mengeras, tangannya mengepal erat, dan matanya mengilatkan kemarahan.


Aku beringsut ke belakang, bingung harus berbuat apa. Melihat dua lelaki di depanku ini bersitegang adalah hal baru untukku.

__ADS_1


Melihat bang Amar sedemikian frustasi, dan Alam yang tampak enggan mencampuri, justru semakin tersulut emosi. Membuat dadaku bergemuruh hebat. Kepalaku berdenyut tiba-tiba. Aku berjongkok dan menenggelamkan kepalaku di lekukan kaki, dua tangan kugunakan menutup telinga yang mendengung tak ada henti.


Isakanku lepas, aku menangis tersedu, perih sekali melihat mereka yang biasanya saling lempar tawa, kini mengadu tatap dengan kilatan emosi yang sama-sama tinggi.


"Bang, ami nggak akan larang kamu untuk mencari tahu, atau bahkan lindungin dia. Tapi nggak dengan keadaanmu yang begini.


Emosi aja nggak bisa kamu kendalikan. Apalagi problemnya hesti?" Ku tatap mereka berdua. Bang Amar yang masih setia dengan nafas memburunya. Sedang Alam tampak melafadzkan istighfar pelan, dan mengusap wajahnya berulang kali.


"Istighfar bang, wudlu. Redakan dulu emosimu. Aku yang akan antar kamu. kita atur strategi dulu. Jangan sampai uluran tangan kita justru memperumit posisi hesti."


Alam yang lebih dulu menguasai emosi, memberikan solusi.


"Astaghfirullohal'adzim, ya Allah.


Hasbunalloh wa ni'mal wakiil. La haula wa la quwwata illa billah" Bang Amar luruh, dia tangkupkan dua telapak tangannya pada muka, Lalu menangis.


"Le kenapa?, Kalau mantu ibuk nakalin kamu, jangan nangis. Bilang aja ke ibuk, tangan ibuk ini masih sangat kuat buat narik kupingnya Alam kalau dia nakal."


Alam tergelak mendengar gurauan ibuk. Sedang tangisan bang Amar mulai mereda. Di peluknya erat pungguh ibuk, sedang ibuk menepuk pelan punggungnya.


"Bang, minggir lo. Emak mertua gue ini. Enak aja main peluk sembarangan. Nggak gue ijinin pokoknya" Alam mengomel karena cemburu oleh perlakuan ibuk. Lalu menggeser bang Amar paksa dari rengkuhan ibuk.


Alih-alih membela mantunya. Ibuk justru memukuli Alam pelan dan menjewer telinganya.


"Kamu ini nakal siapa yang ajarin hah!!. Udah gedhe gini masih aja ngajak berantem. Kenapa nggak sekalian perang-perangan aja tadi hem!?"


"Aduh buk.. ini mantu atu-atunya lo. Masak iya nanti pas ijab qobul kuping Alam segedhe kuping gajah?" Alam mengaduh oleh serangan ibu yang membabi buta.

__ADS_1


"Mana ada kuping gajah gedhe!. Stoples kecil ibuk aja muat di isi ratusan kuling gajah. Warna-warni lagi. Imut ginuk-ginuk"


Tawa bang Amar pecah, dia sampai tersungkur di lantai dan melengkung memegangi perutnya.


"Astaghfirulloh ibunda mertuaku numero uno.. Itu kue Allah Robbi, snack kuping gajah.. bukan kupingnya gajah."


"Mana ada nyebutnya kuping?, kamu lupa lagunya ya?"


"Enggak kok. Alam nggak lupa. Dengerin nih buk, Gajah.. binatang yang amat besar, matanya sipit, telinganya lebar,... "


"Eh, kau ni nyanyi gajah apa nyebutin ciri-cirinya koh Aceng?. Pakek mata sipit segala!"


Kali ini giliran tawaku yang pecah. Ibuk bagai pelangi yang muncul tiba-tiba setelah badai hujan mendera. Aku tahu ibuk bukan tak tahu menahu apa yang terjadi pada kami beberapa menit lalu. Beliau kembali dari acara pengajiannya tiga puluh menit lalu. Itu artinya, ibuk mendengar keributan kami dan berlagak tidak tahu dengan membawa segudang tawa sebagai penawar hati yang terluka.


Sore itu, akhirnya Alam memenuhi janjinya untuk mengantar bang Amar menemui Hesti, setelah emosinya aman terkendali. Alam tak membolehkan aku ikut dengan alasan, aku harus banyak istirahat dan siap amunisi untuk perjalanan "jakarta-jogja" esok lusa.


"jangan lupa kasih kabar ya Mas, emosinya dikondisikan. salah satu dari kalian harus tetap waras untuk melindungi satu sama lain. Dan disini, kamu yang harus wajib jaga kewarasan kamu"


ucapanku yang panjang kali lebar ini bernada tegas. Tak ada guratan senyum di bibirku sampai celetukan ibuk membuyarkan keseriusanku.


"ngomel aja terus sampek subuh. biar mereka nggak jadi berangkag sekalian!. kalo nggak mau jauh mbok ya minta seret ke KUA, jangan obrolannya Aja yang main seret."


"apasih buk, Ami tuh mewanti-wanti Mas Alam biar nggak gampang kesulut emosi."


"ibuk nggak merasa ngomong sama kamu loh?. kesindir kamu ya?"


" Tau ah. " aku memilih pergi, ketimbang harus menjilat ludah sendiri. mewanti-wanti Alam untuk tidak tersulut emosi. eh, justru aku sendiri yang kesulut emosi oleh api percikan ibu kandung sendiri. Sungguh miris kan pemirsa!.

__ADS_1


__ADS_2