Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
mode bunglon ameena


__ADS_3

Pov. Alam (2)


Aku mempersilahkan Ami masuk ke dalam mobil setelah lebih dulu membuka pintu untuknya. Bukannya tersenyum dan merona seperti kebanyakan wanita yang di spesialkan, Ami justru mengernyit dan mendengkus pelan. Dahiku berkerut dibuatnya, lalu mengedikkan bahu dan memilih masuk mobil, duduk di bangku depan samping kemudi.


Bang Amar yang menggantikanku mengemudi kali ini. Aku yang percaya diri akan mendapat maaf setelah mendapat senyuman Ami tadi, pupus sudah. Saat Ami berucap tegas bersamaan dengan mobil yang mulai melaju pelan.


"Ami seneng bukan berarti maafin Mas ya!,"


Aku terdiam tak bergerak, mendadak lupa cara bernafas, ingin sekali menertawakan diri sendiri. Yang kulakukan hanya memainkan jemariku, mengetukkannya pada dasbor mobil sehingga menimbulkan irama, berharap suara yang di timbulkan jemariku bisa membantu memecahkan balon solusi di atas kepala.


"Mas Alam nggak asyik ih!, Di bilangin belum aku maafin juga! Malah nyantai gitu." Ami memukul sandaran bangku mobil yang aku duduki.


"Ya Allah sayang, bagian mana yang kamu sebut nyantai sih?, Aku ini lagi mikir gimana caranya dapet maaf dari kamu loh. Aku bingung ini, bola lampu diatas kepalaku kayaknya masih direparasi deh. Dari tadi nggak nyala juga."


"Ya, harusnya kamu tuh usaha. Emang sulit banget ya buat bilang,,, ih. Ganggu aja sih"


Kekesalan Ami bertambah level saat mendengar ponselnya berbunyi. Andai saja ada buku panduan mengatasi ribuan masalah random wanita saat datang bulan, yakin seratus persen akan kubaca. Tak peduli jika harus menghabiskan waktu seminggu penuh untuk meresapi isinya. Yang terpenting, aku tak akan mengalami serangan panik dan pening dadakan saat Ameena merajuk.


"Terserah mau lo apain. Mau lo bakar juga nggak apa-apa. Gue nggak peduli!. .. eh, lo jangan sembarangan ya. Maryam disana juga gue yang inisiatif, buat gantiin gue sementara.... Jangan ganggu gue!!!!"


Aku kesulitan meneguk ludahku sendiri. Seperti ada biji salak yang mengganjal di tenggorokan. Baru kali ini aku menghadapi sikap random Ameena teesya, gadis yang realistis dan tak banyak ekspresi itu bisa berubah menjadi medusa kala tamu bulanannya datang. Aku menoleh ke belakang, Ami yang baru saja memuntahkan amarahnya pada seseorang di telepon tadi, yang ku yakin seratus persen bahwa itu novy, sahabatnya sejak masih menyandang status mahasiswa. Kini dia meringkuk memegangi perutnya dan mengeram tertahan.

__ADS_1


"Sayang, Ameena?, Kenapa?. Bang,, bang stop bang. Pinggirin mobilnya." Aku panik melihat Ami menggigit bibir bawahnya untuk menahan eraman karena sakit yang dirasa saat ini.


"Nyeri haid ya?" Bang Amar yang sudah meminggirkan mobil, melongok ke belakang dan bertanya padaku yang sudah berpindah ke jok belakang.


"Sayang nyeri?. Biasanya pakek obat apa sayang,?" Pelan-pelan aku bertanya, dan tetap tak mendapat jawaban. Separah apa nyeri yag dia rasa?, Sampai tak bisa meresponku. Dia hanya terus menggigit bibir bawahnya, semakin lama semakin kuat.


"Sayang, jangan di gigit terus bibirnya, nanti kalo luka gimana.?"


"Gue cari obat dia dulu di seberang sana Lam."


"Oke bang," aku bingung harus apa. Di usia dua puluh empat tahun ini. Baru kali ini aku menghadapi wanita haid. Aku pernah mendengar beberapa keadaan wanita yang mengalami menstruasi. Seperti nyeri, mood yang berubah-ubah kayak bunglon dan lain-lain sebagainya. Tapi itu hanya yang kudengar, dari teman-teman semasa kuliah dulu tentunya. Tapi ini beda, kali ini yang mengalaminya adalag calon istriku. Aku mengomel dalam hati, kenapa aku hanya mempelajari perihal fiqih wanita sebatas dasarnya saja. Yang begini-begini kan lebih gawat tentunya.


"Bantu dia duduk dulu Lam, suruh minum ini" bang Amar menyodorkan botol ukuran sedang padaku. Aku tak tahu itu apa, sekilas aku membaca tulisan "kirana" yang tertera di botol tersebut saat aku membukanya untuk Ami.


Ami melarangku yang bergerak hendak membantunya duduk.


"Astaghfirulloh, mana ada ambil kesempatan sih sayang, kamu sakit gini bikin aku khawatir tau nggak" oke, sabar Alam. Ini ujian, mohon bersabar. Sebentar lagi LULUS oke. Aku jadi kepikiran membelikannya obat tidur saja kali ini. Biarkan dia tidur dalam perjalanan agar tak perlu membuang tenaga untuk mengomel.


"Aku jelek banget ya Mas hari ini, tadi kan aku nggak sempet mandi. Kamu illfeel ya pasti" bukannya menerima obat yang kusodorkan padanya, dia justru menangis dan menatapaku dan memyembunyikan wajahnya di balik dua telapak tangan. Astahfirulloh, apalagi sih ini. Beneran ini anak kayak bunglon Robbi.


Aku menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


"Kamu selalu cantik sayang, mau kamu mandi atau nggak, itu nggak akan mengubah pesona kamu. Karena cantikmu dari hati sayang. Minum dulu yuk obatnya"


Dia mendongak, semoga jurusku membuahkan hasil kali ini.


"Bener?, Ami bau nggak sih.?"


"Enggak Ameena, kamu cantik dan wangi. Setiap saat. Walau nggak mandi berhari-hari sekalipun " Aku perang mental menungguinya menbalas ucapanku, apalagi setelah ini?, Yakin aku akan pura-pura pingsan kalau ami melontarkan pertanyaan absurd lagi.


"Ya udah sini "kirana" nya, aku minum." Dia berucap dengan tersenyum sangat manis. Aku menghembuskan nafas dan membenahi posisi duduk dengan menyenderkan kepalaku pada sandaran kursi di samping Ami, lega sekali melihat senyumnya kembali terbit.


"Kok gitu responsnya. Kenapa?, Capek ya ngurusin Ami lagi PMS gini?" Ami berucap lagi setelah meneguk habis "kirana"nya.


Allohu robbi, apakah rupaku ini terlihat tidak ikhlas gusti. Kenapa dia selalu salah mengartikan mimik wajahku.


"Maaf" dia berucap lagi, kali ini dengan dengan suara parau dan bibirnya yang mencebik menahan tangis, aku meraup muka dan memutar tubuh mengahadapnya.


"Sayang, harusnya Mas yang minta maaf. Respons Mas tadi, itu karena lega lihat kamu senyum. Kamu nggak tahu, seberapa panik Mas saat lihat kamu gigit bibir nahan sakit kayak tadi. Maaf, Mas baru kali ini menghadapi situasi semacam ini. Mohon maklum ya, Mas janji akan terus belajar gimana cara meredakan nyeri pas kamu lagi mens gini." Ucapku sepanjang gerbong kereta api, biar saja. Jika perlu, seribu kalimat akan aku ucapkan supaya dia tak lagi salah paham.


"Kali ini di maafin, kalimat Mas tadi secara nggak langsung menjelaskan, bahwa aku adalah wanita pertama, dan terakhir tentunya" kalian percaya tidak, Ami mengatakannya dengan wajah yang amat cute di mataku. Dia memiringkan kepala dengan dua telapak tangan di bawah dagu, dan alis yang di naik-turunkan seirama, juga senyum manis yang tak mau kalah memperindah cinptaanNya. Mata sembabnya sama sekali tak merusak indahnya rauy Ami kali ini.


"Sumpah ya Am, dosa nggak, sih, kalo aku doain kamu menopause lebih awal. Bisa gila aku liat kelakuan random kamu yang berubah-ubah kayak bunglon." Kali ini bang Amar yang menyerukan protesnya. Dia menoleh ke belakang dengan raut sebal.

__ADS_1


"Dari ngambek, senyum bilangnya seneng, ngamuk-ngamuk nggak jelas, lalu nyeri, ngamuk lagi. Kali ini bucin!. Bisa mati muda aku kalau harus liat kamu begini sebulan sekali." Bang Amar menyugar rambutnya dengan gerakan kasar.


"Mas Alam denger suara?. Nanti kita mampir ke cucian mobil ya Mas, buat buang roh jahat." Aku tak kuasa menahan tawa, kulihat bang Amar mengeram tertahan, tanggan kanannya mengepal erat menahan kesal. Rasain lo Bang!.


__ADS_2