Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
tiga puluh empat


__ADS_3

Aku menghentikan langkah dan meremas kuat tangan Alam yang sedang menggenggamku. Seperti biasa, Alam terlalu peka untuk ukuran lelaki. Dia menoleh dan mengusap lembut tanganku yang berada dalam genggamannya. sayangnya, senyuman tulus Alam tidak mampu menghalau kecemasanku. Beberapa meter dari tempatku berdiri, ibu dan bapak duduk bersisian di sebuah kursi panjang, keduanya tersenyum lebar tanda bahagia.


"Mulai detik ini kamu tanggung jawabku Nduk, segala sesuatu yang akan kamu hadapi, sudah pasti aku terlibat di dalamnya. Lihatlah ibu dan bapak, senyuman mereka begitu bahagia. Mereka bangga telah sukses mendidik kamu jadi wanita kuat."


Sorot mata Alam menguatkanku. Sebutan barunya terdengar manis di telinga, hingga memaksaku untuk tersenyum. Meski sedikit ragu akan menyalami bapak, akhirnya aku mengangguk dan mengikuti langkah Alam mendekati mereka.


Aku bersimpuh di hadapan ibuk, mengikuti Alam yang lebih dulu bersimpuh di hadapan bapak. kami meraih kedua tangan mereka untuk di kecup takdzim. Terdengar isakan halus seiring dengan usapan lembut di pucuk kepalaku.


"Bapak sangat berterima kasih padamu Le, berkat kamu, senyuman putri semata wayang bapak terbit kembali. Setelah sekian lama senyuman itu terenggut, oleh bapaknya sendiri." Terdengar isakan bapak yang memilukan. Dari sekian ratus episode halu ala Teesya Ameena, tidak pernah ada scene dimana aku dan bapak akan bertemu. Aku masih berusaha menekan egoku untuk tak berlari meninggalkan tempat ini.


Ibuk mengurai tautan tangan kami yang tengah kucium. Lalu menarik bahuku untuk dibawanya kepelukan. Alam tengah memeluk Bapak saat kusempatkan melirik ke-arahnya.


"Bapak jangan pernah berkata seperti itu lagi, ya, pak. justru karena pengorbanan Bapak selama ini, Ameena jadi wanita kuat."


Aku berusaha keras untuk tidak menoleh dan mendelik pada Alam, tahu apa dia soal aku dan bapak. Atau memang Alam tahu semuanya, tapi dari mana dia tahu, seingatku, aku tak pernah memberi tahunya.


"Ameena, anak ibuk. Kamu harus jadi istri yang manut ya nduk, inget-inget pesen ibuk."


Aku mengangguk berulang kali dalam pelukan pelukannya.


"Maafkan Bapak dan ibuk ya Am, kami punya alasan untuk semua ini. Nanti, jika Alam sudah siap menceritakannya, kamu ambil wudlu dulu ya, berlindung pada Allah Ameena, agar responmu nanti tidak di kuasai amarah."

__ADS_1


Aku tak agi mengangguk seperti yang kulakukan sebelumnya. Melainkan menatap ibuk dengan tatapan kosong. Aku bingung harus memberikan ekspresi seperti apa, tetlalu banyak pertanyaan yang berjejalan ingin segera menemukan jawaban.


"Ameena dengar ibuk,kan?," Kedua telapak tangan yang tak lagi kencang karena usia, kini menangkup wajahku. Sorot mata ibuk penuh permohonan. Luruh egoku melihat raut muka ibuk saat ini. Beliau yang tak pernah memasang muka sedih ataupun marah padaku. Kali ini, matanya begitu sendu meminta keikhlasanku untuk menerima sosok yang telah lama terkubur dalam memori.


"Untuk ibuk, hanya demi ibuk Ameena mau melakukan ini. Bapak tetaplah wali ameena. Tanpa bapak, belum tentu Ameena ada di dunia ini." Ucapku bergetar menahan tangis. Kulihat bapak menyunggingkan senyum. Senyuman yang diam-diam kuharapkan hadir dalam mimpi-mimpiku.


Posisiku dan Alam telah berganti. Aku bersimpuh mecium takdzim tangan bapak. Gemuruh dalam dada masih enggan menepi, menyebabkan keringat dingin membasahi kening dan telapak tanganku.


"Nduk, bersyukurlah karena kamu terlahir dari wanita sehebat ibumu. Jadikan dia rujukan di setiap langkahmu. Jaga marwah suamimu, baik ketika dia ada di sampingmu, atau sedang jauh darimu."


Isakan tangis menjadi jawaban atas apa yang bapak ucapkan. Tuluskah beliau dengan apa yang di ucapkan. Semulia itukah ibuk dalam hidupnya. Saat ingatan kejadian beberapa tahun silam berkelindan, aku mulai sanksi dengan apa yang bapak ucapkan, apa mungkin ini hanya pencitraan semata. Mengingat banyaknya pasang mata yang sedang menatap haru ke arah kami.


"Mbak ini kalau mau foto pakek hape sendiri kenapa. Lagi mengharu biru gini malah di rusuhin." Dani yang menjelma sebagai pothografer berujar sewot pada Maryam.


"Anak kecil tahu apa sih!. Situ belum nikah kan pasti. Belum pernah sungkeman segitu lamanya. Pakek nangis-nangis pula. Pening itu kepala kalau kelamaan, tahu nggak!." Maryam yang semula pasang muka elegant, kini bertanduk. Dia berkacak pinggang siap beradu mulut dengan Dani.


"Ngapain lu Bang," Aku menoleh mengikuti arah pandang Alam dan merenggangkan jarak di antara kami. Tepat di bawah tautan tanganku dan Alam, bang Amar menaruh baskom kosong.


"Nadahin dosa. Bakal gue simpen, kalau nanti lu bikin Ameena sedih. Gue gg akan mikir dua kali buat ngeguyur lo pakai dosa ini." Bang Amar berkata serius, sembari mengangkat baskom hingga sejajar dengan muka Alam.


"Ngenes banget, sih, bang! Mentang-mentang jomblo. Dosa pakek lo kekepin segala." Alam membalas ucapan bang Amar sambil tertawa cekikikan. Dan tawa itu menular padaku, kami tertawa di atas penderitaan jones tampan nan rupawan yang sedang melirik sinis ke arah kami.

__ADS_1


Hari ini, Alam sukses membuat hatiku seperti menaiki roller coaster. Hanya dalam hitungan detik, dia telah Sah menjadi suamiku. Ini bukanlah akhir dari ceritaku, melainkan awal part dari buku baru. Mampukah kami membangun rumah tangga seperti yang di ajarkan Rosululloh?.


Sederet acara rasa tahu bulat ini terlaksana dengan khidmat. kami mengakhirinya dengan sesi foto yang berhias alami dari siluet mentari yang menembus lubang-lubang hiasan pada dinding. Cuaca cerah seakan memberi selamat pada dua pengantin baru yang berhias wajah berseri.


Aku tersenyum sesekali, menekan slide pada kamera yang menampilkan hasil foto beberapa saat lalu. Dari sekian banyak hasil jepretan, foto yang benar-benar menyandang gelar baik dan enak di pandang hanya bisa di hitung jari. Salah satu foto yang membuatku kesulitan menahan tawa adalah, saat Maryam yang marah-marah karena posisi Dani terlalu dekat, justru berakhir dengan Maryam yang terjungkal, dan Dani dengan sigap menangkapnya.


Aku dan Alam berpamit untuk meneruskan perjalanan. Sebelum masuk mobil, bang Amar berucap pada Alam dengan berbisik, tapi masih sangat jelas terdengar olehku.


" jangan lupa. tunaikan dulu surat Ar-Rohman, baru boleh unboxing."


"lo lupa bang, baru juga tadi pagi dia kena sindrom bunglon. Alamat harus perpanjang puasa kan gue." aku mendelik setelah berhasil menecerna gurauan mereka.


" tenang Nduk, kamu aman malam ini." Kumat. Alam dengan alisnya yang naik turun sudah menjadi alarm ter-rese dalam kamusku.


Aku menoleh kaget ke arah Maryam yang beberapa detik lalu memekik dengan suara nyaring.


" pinter banget emang nih si ulet, nggak pernah salah alamat kalau mau nemplokin sodaranya."


Alam dan bang Amar tertawa terpingkal mendengar selorohan Dani, aku yang baru memahami prahara itu iku tersenyum, ternyata ada ulat bulu yang menempel di hijab Maryam, dan wanita itu terlihat kesal bukan main saat Dani yang tak lekas membantu, justru mengoloknya terlebih dulu.


Sepertinya aku merasakan atmosfer merah jambu, bukan, bukan dari pengantin baru ini. melainkan dari dua sosok cucu adam dan hawa yang sedang asyik beradu mulut yang justru terlihat menggemaskan di mataku.

__ADS_1


__ADS_2