
Sejenak menepikan kemelut penasaran yang disebabkan oleh Hesti siang ini. Aku menagih penjelasan pada bang Amar tentang bisnis yang sempat ia tawarkan, meski aku tahu pikirannya tak sedang berada dalam satu ruang yang sama dengan raganya.
" Bisa kutagih penjelasan yang sempat tertunda tadi bang?" Aku meletakkan dua cangkir kopi dari talam yang kubawa. Memperhatikan raut bang Amar yang tak kunjung cerah. Kulirik Alam yang mengedikkan bahunya tanda tak mau tahu urusan hati bang Amar.
"Abang nggak perlu overthinking sama Hesti. Dia kan ada keluarganya bang, suaminya juga pasti akan lindungin dia kok. Aku emang nggak kenal secara personal dengam suaminya, tapi yang kulihat, hesti bahagia sejauh ini"
Aku mencoba menenangkannya, walau kutahu itu mustahil. Dilihat dari gelagatnya, bang Amar memang mengetahui sesuatu.
"Aku gelisah karena tahu dia tidak sedang baik-baik saja Am. Dan orang yang paling patut di salahkan disini cuma Abang."
Bang Amar meraup mukanya gusar, rautnya tak berubah sejak kami menurunkan Hesti di titik yang dia minta. Dia mengetahui sebab musababnya. Aku ingin bertanya tapi takut akan memperkeruh keadaan.
"Yaudah, tapi abang harus inget, abang nggak cuma butuh berfikir langkah apa yang akan Abang ambil untuk poin-poin terburuk yang akan terjadi nanti, tetapi abang juga butuh istirahat untuk menghasilkan ide terbaik dan amunisi kalau-kalau poinnya nanti membutuhkan pengerahan tenaga lebih." Dia hanya tersenyum menanggapi perkataanku yang panjang kali lebar. Sedang Alam hanya mendengkus dan mengambil kopinya untuk dia bawa ke dalam.
"Bang Amar emang gitu ya, kalau lagi khawatir sama orang?" Aku mengikuti langkah Alam menuju dapur dan langsung mengajukan pertanyaan padanya.
"Aku sih maklum, sama sikapnya bang Amar. Yang nggak masuk pemaklumanku itu justru sikap kamu" Alam menjawab datar lalu menyesap kopinya.
"Kok jadi aku?, Emang sikapku gimana?"
"Terlalu khawatir sama mantan" kali ini Alam menatapku dalam, tidak ada raut marah atau kecewa, tapi percayalah. Tatapan yang dia berikan padaku saat ini. Alih-alih membuatku merasa terintimidasi, justru membuatku hampir meledakkan tawa jika tak mengingat hari ini kami sedang berduka. Alhasil, aku hanya bisa membungkam mulutku dengan kedua tangan agar tawaku tak lepas begitu saja.
"Aku nggak sedang stand up comedy" Jawab Alam dengan nada sebal serta memalingkan mukanya.
"Kamu emang nggak lagi stand up. Jelas-jelas kamu sedang duduk anteng begitu." Aku berkata sambil tersenyum lebar sebagai ganti tawa yang tak bisa terealisasikan.
"Bisa ya kamu, calon suami lagi sebel gini malah kamu ketawain. Kalau nanti udah nikah gimana?"
"Ya di peluk dong, kan udah halal" jawabku sambil menaik turunkan alis dan tersenyum pada Alam.
__ADS_1
"Gila sih ini. Bener kata bang Amar. Kita bisa kelepasan kalau di tinggal berdua begini"
Tawaku tak lagi bisa ku gadai dengan senyuman. Kegusaran Alam membuatku kegelian. Baru semenit lalu dia mencecarku dengan pertanyaan absurdnya. Sekarang justru dia yang belingsatan mendengar jawabanku.
"Sayang,"
"Ya, mas?"
"Kamu beneran sudah move on dari bang Amar kan?"
"Kamu ragu?"
"Tadinya iya,"
"Maaf ya mas, sikapku tadi berlebihan ya?. Reflek aja sih. Nggak ada maksud apa-apa. Dan lagi, aku penasaran sama hubungan mereka. Kenapa bang Amar terlihat begitu dekat dengan Hesti."
"Mereka memang dekat sejak di pesantren kampus dulu. Hesti adik tingkat bang Amar, lebih tepatnya mereka selisih empat semester."
"Iya, hesti sudah di anggap sebagai adik perempuannya oleh bang Amar. Tapi ketika bang Amar memutuskan hubungannya sama kamu. Di situ hesti menawarkan diri untuk menggantikan posisi kamu."
"Terus?" Aku semakin antusias mendengar cerita Alam. makin kesini, benang yang mulannya tergulung tak beraturan kini mulai bisa ku urai pelan-pelan.
"Bang Amar menolak. Dengan alasan yang sama seperti ketika memutuskan hubungannya dengan kamu. Singkat cerita, ada laki-laki yang datang menemui bang Amar dan mengatakan ingin bertaaruf dengan hesti, saat itu tanpa pikir panjang, bang Amar mendukungnya."
"Hmm hmm.." aku menganggukkan kepala merespons cerita Alam.
"Dan laki-laki itu, yang sekarang jadi suami hesti mas?"
"Yups, pinter nian istriku" Alam menjentikkan jarinya didepan hidungku.
__ADS_1
Aku memutar bola mata dan berdecak pelan. Sedetik kemudian ekpresiku berubah ke mode serius.
"Mas," tanpa sadar aku menggebrak meja makan karena teringat sesuatu yang mungkin akan jadi clue atas masalah yang hesti alami.
"Uhuk uhukk.. " Alam terbatuk karena kaget oleh gebrakanku barusan.
"Eh eh Mas, maaf ya, maaf"
Aku mengambil tissue dan menyerahkan pada Alam.
"Apasih sayang. Kenapa tiba-tiba sih, Mas salah apa emang?" Protes Alam sambik mengelap mulutnya dengan tisuue, dan lanjut membersihkan tumpahan kopi di meja makan.
"Ih, enggak kok. Mas nggak salah. Ini Ami mau cerita kok. Mungkin ini bisa jadi clue untuk masalah Hesti"
"Oh ya? Gimana?" Alam memajukan badannya demi mendengar ceritaku
"Jadi, kemarin lusa, pas acara lamaran kita. Novy sempet liat novy tengkar sama laki-laki, yang kemungkinan suaminya. Meski kita nggak pernah ketemu, tapi kita pernah liat foto dia di ponsel Hesti. Yang bikin aku nggak habis pikir. Suaminya ini dengan tak tau malunya menampar dia di tempat umum begitu."
"Bener? Novy nggak lagi salah liat kan?" Alam memicing, memastikan kebenaran dari apa yang telah keluar dari mulutku.
Aku mengacungkan dua jari untuk meyakinkannya, jika apa yang kukatakan tadi benar adanya.
"Aku kurang yakin sih, tapi bisa jadi. Karena yang kutahu. Suami hesti ini seorang muallaf. Yang bikin aku nggak percaya sama cerita kamu, suami dia ini tipe bucin. Dia bahkan bisa membuat hesti luluh begitu cepat. Karena sebulan setelah masa taaruf itu, mereka menikah. Mereka di juluki "sweet couple" waktu itu. Seperti yang kamu tahu. Hesti bahagia dengan pernikahannya. Meski bang Amar harus ikut andil meyakinkannya bahwa laki-laki itu baik. Dan yang bikin aku percaya sam ucapan kamu tadi. Dulunya, sebelum muallaf, suami hesti ini bad boy. Pemabuk berat, suka balapan liar, dan beberapa hal buruk lainnya. Tapi itu dulu, sebelum dia dapat hidayah."
"Hmmm, jadi maksut Mas, bisa jadi dia berbuat begitu karena mungkin dia flashback ke pribadi yag dulu.?"
"Iya, karena kalau dia menampar hesti di tempat umum, bukan lagi karena kelepasan dan tidak sengaja kan?"
Pyar....
__ADS_1
Aku dan Alam seketika menoleh mendengar gelas terjatuh.
"Bang Amar..."