Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
tiga puluh dua


__ADS_3

"Dengan kamu cari tahu tentang aku. Itu sama saja kamu sedang menggali tanah, dimana semakin dalam kamu menggali, Semakin kamu dekat dengan mata air, yang menjanjikan keberlangsungan kehidupan kamu. Itu artinya, semakin kamu mencari tahu, semakin kamu dekat dengan masa depan yang menjanjikan. Kamu siap?"


Alam memasang muka percaya dirinya dan menaik turunkan alisnya berulang kali.


"Dih, pe-de banget sih Mas, awas tuh, volume kepala membesar. kasian pecinya nggak muat!." kataku mengingatkan. Alam justru terkekeh mendengarnya.


"Seneng deh, liat kamu kembali waras gini" ujarnya dengan tawa menggelegar.


"Alam..!!" Aku menggeram kesal mendengar penuturannya. Kentara sekali dia sdang mengejekku. Tadi aja lembut banget. Biar saja ku sebut namanya tanpa embel-embel penghormatan.


Alam menghentikan tawanya seketika. Menggerakkan jari telunjuknya ke-kanan dan ke-kiri. Raut mukanya berganti ke mode serius.


"Ameena, Say No!, to bad attitude. Kamu nggak boleh manggil aku tanpa embel-embel Mas begitu." Tuturnya tegas.


"Biarin!. Mumpung belum ijab kabul, nggak bakalan kuwalat." Jawabku cuek.


"Baik kalau begitu. Saya ngikut peraturan mbak ami aja." Jawabnya enteng, lalu berjalan begitu saja, mengabaikan pelototan mataku.


"Mas Alam. Gitu banget sih, tungguin Ami dong," Dia tak menghiraukan panggilanku. Aku agak kesulitan menyejajarkan langkah lebarnya. Ku jimpit sedikit gaun lebarku, agar tak menyapu jalan. Sekedar info saja, aku memakai gamis lebar yang telah disiapkan Alam tadi pagi. Aku disuruhnya mandi, dan dia menyiapkan segala ***** bengek keperluanku selama di perjalanan. Aku sempat dibuat heran ketika mengecek barang bawaanku yang disiapkannya bersama ibu dan marry tadi. Tidak, tidak. Lebih tepatnya, Alam sendiri yang menyiapkan keperluanku, tak ada satupun keperluanku yang tertinggal. Untuk ukuran seorang laki-laki. Dia patut di beri bintang lima untuk hal ini. Sedang ibu dan marry mengepak baju lamaku yang telah di sortir Alam untuk di berikan kepada dhu'afa. Iya, Alam sendiri yang menyortir bajuku. Kulot, kaos, rok span, dan celana jeans, adalah yang termasuk tidak lulus seleksi. Oh iya, jangan lupakan jilbab sport faforitku yang jumlahnya lusinan. Dia juga dengan teganya memasukkan benda itu dalam keresek.


Aku tak sempat menanyakan alasannya menyortir bajuku se-enak jidat begitu. Karena sindrom bunglonku waktu pagi tadi, lalu berlanjut disini, dia sibuk dengan urusannya sendiri, dan sekarang, saat ada waktu untukku memuntahkan berbagai pertanyaan yang berjejalan di benakku, Alam justru ngambek karena ulahku.

__ADS_1


"Mas, ya Allah, maafin Ami. Tadi tuh cuma bercanda." Aku masih setengah berlali untuk men-sejajarkan langkah dengannya. Sumpah, kaki Alam ini sepanjang apa sih, sulit banget di sejajarin.


"Dani, ambil keresek hitam yang isinya baju, di bagasi mobil gue ya. Kasih nyokap lo, suruh bagiin ke yang butuh." Alam melempar kunci mobilnya pada Dani, sama sekali tak menggubrisku yang tersengal karena mengejarnya.


"Dwi,"


"Nggeh Mas."


"Temani mbak ini makan ya, jangan di tinggal. Dia baru kali ini berkunjung kesini."


"Nggeh Mas, mari mbak. Ikut saya, mbak mau makan apa........" Aku tak lagi mendengarkan apa yang keluar dari mulut gadis ayu di depanku. Dia begitu lembut saat bertutur kata. Dwi, Alam memanggilnya begitu tadi, siapa dia?.


"Ah, iya. Aku akan ambil makan sendiri. Kamu nggk sibuk?," Aku bertanya padanya, karena takut mengganggu aktifitasnya jika harus menungguiku.


"Nggak kok mbak, ini aku juga mau makan kok, kan masih jam istirahat"


"Oh iya ya." Baru aku sadar setelah mendengar penuturan gadis itu, ternyata tidak hanya kami yang sedang makan siang disini. Mungkin Alam menyuruh Dwi menemaniku karena di ruangan ini, hanya di isi oleh kaum hawa. Mungkin memang ruang makan ini di khususkan untuk wanita.


Empat puluh menit sudah berlalu, aku sudah menyelasaikan ritual makanku dua puluh menit lalu, sambil menunggu Alam, aku mengedarkan pandangan ke sisi ruangan, ruangan ini cukup luas. Dari yang kulihat, bisa di simpulkan bahwa semua penghuni kampung ini makan bergantian disini. Silih berganti orang yang menyapaku, dan dari mereka, aku jadi tahu bahwa Alam lah yang mencetuskan pembangunan tempat ini. Yang dulunya tempat prostitusi, kini di sulap Alam menjadi kampung islami. Aku ternganga mendengarkan penjelasan wanita paruh baya di depanku. Pasalnya, Alam tidak terlihat seperti orang yang berpengaruh disini. Tapi, selama aku disini. Tak satupun orang yang tak mengenal Alam, semua mengangguk sopan dan menyapanya. Aku tidak menyangka saat mengetahui semua fakta ini, jika memang benar Alam pencetus perubahan ini, itu artinya pada saat itu Alam belum menyelesaikan kuliahnya. Dan menurut wanita muda yang menyapaku tadi, dia mengenal bang Amar juga. Kemampuan psikologinya di manfaatkan disini. Beberapa pendatangnya memang mengalami depresi, dan disini lah mereka terfasilitasi untuk sembuh dan melanjutkan sisa umur.


Aku masih setia menunggu Alam, berharap dia menghampiriku, di temani gulungan benang dalam benak tentang sosok baru Alam, yang mulai bisa kuurai sedikit demi sedikit. Karena lama Alam tak kunjung menghampiri, ku beranikan keluar untuk melihat lebih jelas keadaan kanpung ini. Kampungnya bersih, di sisi kanan masjid ada bangunan tiga lantai yang kuduga sebagai tempat mengaji. Sedang di sisi kanan, terlihat bangunan dua lantai memanjang, dengan pintu berjejer yang hanya berjarak satu meter. Lalu di lantai bawahnya, pintu kamar yang berjejer itu berjarak tiga meter. Itu artinya ruangan bawah lebih luas daripada yang di atas. Mungkin bangunan itu adalah rumah warga.

__ADS_1


Aku menajamkan telinga, sayup-sayup kudengar lantunan dzikir dari masjid. Suara itu terdengar familier di telinga Ami.


"Dani, sini"


"Iya mbak,, ada perlu?"


"Hmm, itu yang di masjid suara siapa."


"Oh, itu bang Alam lagi ngimami rotibul hadad mbak, harusnya ini tugas bang Amar. Tapi kan tadi bang Amar izin pulang. Jadi bang Alam yang menggantikan. Mau ikutan mbak?"


"Aku lagi halangan, emang boleh?,"


"Boleh, kan cuma wirid mbak, ada bukunya kok. Yang nggak boleh itu baca dan pegang qur'an mbak."


Aku manggut-manggut tanda mengerti. Lalu mengikuti langkah Dani menuju tempat pembacaan wirid khusus wanita berhalangan.


Saat pembacaan wirid yang tak begitu panjang, air mataku melesak tak terkendali. Dadaku bergemuruh, hangat menjalari sekujur tubuh. Ya Allah, indahnya moment singkat ini, baru kali ini aku merasa begitu dekat denganMu. Di tempat ini, bersama riuhnya ratusan orang malafadzkan wirid, aku merasa sedang di rengkuh erat oleh sang Maha Kuasa.


Tangisku belum juga reda, saat kudengar suara Alam menginterupsi dari mikrofon.


" Assalamu'alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh, perhatian semuanya. Teesya Ameena. Saya tahu, kamu berada di tempat yang mana bisa mendengar suara saya sekarang. Kepadamu, kutunaikan janji yang ku ikrarkan empat tahun lalu. Di masjid ini, bertepatan dengan peletakan batu pertama. Aku berjanji akan mengucap ijab qobul saat berhasil membawamu kemari. "

__ADS_1


__ADS_2