
Obrolan Mas Alam dengan tamunya sukses membuat mataku enggan menutup. Bukannya aku niat menguping, tapi suara mereka terdengar begitu jelas dari kamar yang kutempati. Tak ada satupun yang kumengerti sebenarnya, tapi setelah satu nama yang tak asing di telinga terucap dari bibir Mas Alam, Amir, iya, satu nama itu sukses membuatku terduduk. Aku mencondongkan badan kearah jendela agar lebih jelas mendengar percakapan antara Mas Alam dan tamunya.
"Gimana kinerja pak imron sebagai pengganti pak Amir Mid?"
"Saya belum cek secara langsung Mas, tapi menurut bu Maya di telpon kemarin, Pak Imron bisa di percaya Mas, Beliau lebih cekatan dibanding Pak Amir."
"Oke, nanti saya akan cek langsung kinerjanya. Kamu jangan kabari mereka ya, biar nggak ada persiapan apapun."
"Baik Mas, tapi apa benar? Pak Amir ndak balik ke salatiga lagi Mas?"
"Beliau ingin menghabiskan sisa umurnya bersama keluarga yang telah lama dirindukan Mid, biarkan saja. Perjuangannya selama ini patut di hargai, salah satunya dengan membiarkan beliau menghabiskan sisa umur bersama orang yang dicintai."
"Maaf kalau saya lancang bertanya. Apa benar, jika wanita yang Mas nikahi, adalah putri kandung Pak Amir?"
"Benar, aku bahkan masih ingat betul moment saat aku mendatanginya untuk melamar sang putri. Beliau syok, aku baru mempercayai bahwa dunia ini tak lebih lebar dari daun kelor, ya, pas moment itu." Terdengar suara kekehan halus yang keluar dari bibir Mas Alam.
"Bagaimana Mas bisa tahu? Kan, Pak Amir dan keluarganya terpisah sejak lama."
"Saat bertandang ke rumah istriku untuk pertama kali, aku tak sengaja melihat foto yang terjatuh dari pigura. Disitu aku tau ada yang tidak beres, ada sesuatu yang harus kuluruskan. Ternyata benar, kau tahu Hamid? Definisi cinta sejati itu apa?,"
__ADS_1
"Yang setia mungkin Mas, yang selalu ada dalam kondisi apapun."
"Itu mungkin salah satunya Mid. Tapi menurut jalaludin rumi, jangan pernah bilang cinta kalau kau tak berani menghadapi perpisahan. Nggak ada kata perpisahan untuk dua orang yang saling mencintai, karena jiwa mereka yang sudah menyatu. Dan itu yang sedang dialami mertuaku Mid, mereka memang dipisahkan jarak dan waktu, tapi mereka tak pernah absen bertemu dalam do'a. Mereka bahkan mempunyai jadwal temu untuk saling menguar rindu. Di setiap bakda shubuh dan bakda ashar, mereka selalu membaca surat rohman. Di waktu yang sama, namun dengan tempat yang berbeda, surat Ar-Rohman menjadi akses penyampai rindu mereka. Sweet banget ya Mid."
"Wah.. berat ya Mas, yang berdampingan aja banyak yang berkhianat. Lha ini, saling berpegang erat walau jarak tak lagi bisa dibilang dekat. Hebat."
Tanganku bergetar dalam tautan, tremor mulai terasa akibat eratnya genggaman demi mengurangi gemetar yang enggan enyah. Apa bubur angsle yang dikirim untukku dan ibuk di setiap pagi itu dari Bapak?, Jika iya, berarti ibuk mengetahuinya, kenapa nggak pernah cerita?. Apa ibuk melakukan semua ini demi aku?. Aku memang tak pernah merutuki perpisahan kami, tapi bukan berarti aku ikhlas. Aku tak pernah menangisinya, parahnya, aku mengahpus paksa semua memori tentang Bapak. Bukan, bukan menghapus, mungkin lebih tepatnya menyisihkan, karena sampai saat ini pun, aku masih ingat manisnya senyum Bapak saat aku berlari untuk memeluknya, bahkan elusan lembut Bapak seakan bisa kurasakan setiap menjelang tidur.
Kuusap kasar air mata yang membasahi pipi. Buru-buru kuambil pouch make up dan berlari ke kamar mandi saat kudengar tamu Alam berpamit pulang. Kutarik nafas dalam dan kuhembuskan pelan, menetralkan degup jantung dan gemetar di sekujur tubuh.
Aku sedikit terkejut saat melihat Mas Alam berdiri di depan kamar mandi, jelas aku menghabiskan banyak waktu dalam kamar mandi karena harus mencuci muka dan berdandan sedikit. Meski dirundung kesedihan dan tertampar kekecewaan, aku tak bisa menampilkan muka sedih di depannya. Seperti kata ibuk, aku harus menghargai kepurtusannya untuk tidak menveritakannya langsung padaku. Pasti dia punya alasan, kan.
"Nggak sia-sia aku berdiri lama demi menunggumu disini." Ucapnya sambil tersenyum dan mendekat kearahku yang masih terkejut di ambang pintu kamar mandi.
"Sebenarnya iya. Tapi ketimbang itu, sepertinya kamu lebih membutuhkan pelukanku malam ini" Dia mengatakannya dengan menarikku kedalam pelukan hangat. Benar dugaanku, bukan tak ada maksud dia bercerita panjang lebar pada tamunya tadi. Pasti dia tahu aku akan mendengarnya dari kamar.
"Maaf karena tak punya cukup keberanian untuk menceritakannya langsung padamu Nduk. Mas nggak yakin bisa menuntaskan cerita saat melihat air matamu." Aku mengangguk dalam pelukannya. Mas Alam punya segudang cara untuk selalu membuatku nyaman.
"Terimakasih Mas," kupeluk erat tubuhnya demi mengusir pikiran yang berdatangan dengan misi mengacau moodku. Memejamkan mata, menikmati usapan lembut di punggung dan kecupan mesra di pucuk kepalaku.
__ADS_1
Aku semakin erat memeluknya dan menenggelamkan wajahku di dada Mas Alam. Bukan karena suasana hatiku yang masih kacau, melainkan untuk mengelabuhinya agar tak mengajakku berpetualang malam ini.
"Nduk,, aku tahu kamu belum tidur."
"Sssst,,, jangan berisik Mas, Mimpi Ami belum tamat... "
Kurasakan dadanya berguncang karena tawa menderai.
"Kamu kok curang, sih. Lagi seru-seruan dalam mimpi, tapi Mas nggak di ajak." Aku menengadahkan muka demi melihat tawa Mas Alam.
"Nggak asyik, Mas kerjaannya jahilin aku terus soalnya."
Bukannya membalas gurauanku, Mas Alam justru menarik satu tangan untuk menopang kepala, lalu menangkup pipiku dengan satu tangan lainnya.
"Jangan ngeles, aku tahu kamu mau gugup untuk sesi petualangannkita malam ini kan?"
Deg!.. mampus kau Ami,,
"Nggak usah kabur, aku jamin. Petualangan ini bakal bikin kamu ketagihan."
__ADS_1
"Tapi kan, aku mens Mas."
"Nggak masalah."