Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
si jelangkung


__ADS_3

"Assalamu'alaikum.. buk, ami pulang " volume suara agak kunaikkan beberapa oktaf, karena tidak mendapati wanita paruh baya yang saban hari kupanggil ibu itu berada di ruang tengah.


"Wa'alaikumsalam.. ibuk di dapur am, sini!"


Ibu berteriak dari arah dapur, aku lekas menghampirinya. Sebelum masuk dapur aku menajamkan pendengaran, penghuni rumah ini kan cuman aku dan ibuk. Tapi kok?.


Aku disini dan ibuk disana....


Kita memandang langit yang sama...


Helleh.. kok jadi nyanyi sih..


Aku mempercepat langkah, mulai penasaran dengan suara gelak tawa dua insan di dapur istana kami.


Aku mamatung sempurna di ambang pintu. Boleh tidak?, jika pemandangan super manis yang ada di depan mataku ini jadi masa depan?. Seorang cucu adam yang tak canggung bertegur sapa dengan alat-alat dapur. Dia dengan luwesnya membantu ibu memasak, mengalahkan aku si penyandang wanita jadi-jadian. Ibuk pernah bilang padaku, predikat itu tak akan luntur dariku, kalau aku belum bisa membedakan antara lengkuas dan jahe. Novy bilang, aku keterlaluan. Mana ada orang yag kesulitan membedaka lengkuas dengan jahe, dari aromanya saja sudah sangat beda. Tapi itulah yang terjadi padaku. Di umur dua puluh tujuh tahun ini. Ameena teesya, belum bisa membedakannya. Dan itu berarti, predikat wanita jadi-jadian akan lebih lama aku sandang. Tak kurasa seuntai senyuman terukir di bibirku. Duh manisya, replika masa depan yang terpampang nyata di depan mata.


Ctak!!


Awww.. aku menggosok pelan kening yang sedikit ngilu karena jitakan seseorang.


" Kawin yuk.. biar nggak halu doang manisnya." Alam sudah berdiri gagah didepanku, dan tersenyum dengan wajah tak berdosa setelah menjitakku.

__ADS_1


"Minggir.. aku mau peluk!" cetusku sewot.


"Wooo big No sayang.. kita belum halal"


Dia berkata dengan wajah serius dan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.. persis seperti bapak yang melarang anaknya jajan gula-gula.


"Apaan sih, pede banget jadi orang!"


Aku mendorongnya kesisi kanan dan melewatinya begitu saja, lalu mendekati ibu yang sedang mencicipi sup ayam dan memeluknya dari belakang. Aku tahu, seseorang yang telah melahirkanku ini sedang sangat bahagia. Kentara sekali, ibu menuntaskan sesi masak-memasaknya sambil terus mengukir senyum.


"Ibuk pasti seneng sekali ya. senyumnya awet dari tadi. kayak abis di kasih formalin." aku menggodanya sambil menumpukan dagu di pundak kanannya, lalu memiringkan wajah demi melihat wajah ayunya yang semringah.


"Iya dong am.. kan udah lama sekali ibuk pengin masakin mantu. eh, nggak taunya malah dibantuin. Alam jago masak lo am. kakah kamu, bedain lengkuas sama jahe aja kagak bisa sampek sekarang. emang bener ini anak wanita jadi-jadian." ibu menggerakkan bahunya berulang kali. Aku melengos mendengarnya memuji Alam dan memgolokku yang notabene anak kandungnya. Ku urai pelukanku lalu berbalik mengambil gelas untuk minum.


Alam menggeser kursi untukku setelah meletakkan gelas air putih yang disambarnya dari tanganku. Aku menurut, duduk dan meneguk air.


"Segala sesuatu yang akan kamu minum atau kamu makan harus di awali dengan menyebut nama Allah sayang, Baca Bismilahirrohmanirrohim. karena apapun yang masuk dalam tubuhmu, akan menjadi haram karena tidak knmenyebut asmaNya. Mengerti?" Dia membuat gerakan mengacak rambut yang tentu saja masih tertutupi hijab, setelah berbicara panjang padaku, lalu melangkah ke ruang tengah meninggalkan aku yang masih terpaku.


"Mandi gih am.. kasian kalo Alam harus nunggu kamu lama buat makan. " teguran ibu menyadarkanku dari lamunan yang di ciptakan Alam.


"Iya buk." aku lekas beranjak ke kamar untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Pintu kamarku tepat berada disisi kanan ruang tengah. Itu artinya aku akan melewati Alam yang sedang berada disana.


Aku menghela napas lega melihat Alam yang serius menatap benda pipih ditangannya, sehingga tak menyadari ada seorang wanita berpipi merona yang melewatinya dengan langkah terburu.


Aku mematut diri di cermin, menggerai rambut yang masih basah setelah keramas. memakai bedak tipis dan bersiap keluar kamar.


Aku celingukan menyadari ada yang kurang, dan menghampiri ibu yang sedang mencuci piring.


"Alam kemana buk, kok ibuk cuci piring? udah makan ya?"


"Udah.. kamu sih kelamaan, ibu tadi ajakin Alam makan duluan karena dia mau pamit, ada urusan mendadak katanya."


"Oh... Kek jelangkung aja itu anak" Aku melontarkan kata tanpa dosa.


"Hush.. gitu-gitu dia calon suamimu loh am, oh ya.. itu bingkisan dari Alam, tadinya mau di kasih sendiri. Tapi kamunya kelamaan."


Aku menyambar paperbag di atas kulkas, melihat apa gerangan yang lelaki itu berikan untukku. Sebelum mengeluarkan isinya,aku mengambil secarik kertas yang berisi pesannya


"Allah jadikan wanita sebagai makhluk termulia, sampai jasad tak bernyawapun dilindungi olehnya. Liang kubur wanita lebih dalam dari liang kubur laki-laki, tujuannya untuk melindungi jasad wanita agar tak mengambang jikalau terjadi banjir. Seindah itu Allah menjaga aurat hambanya. jaga dirimu ya sayang... Aurat adalah hartamu yang paling berharga,🙂


Hatiku menghangat membaca pesannya. Baru kali ini ada yang peduli dengan mahkotaku. ya, wanita memang harus menjaga auratnya. Selama ini tak satupun laki-laki yang berpesan sedalam ini padaku, Zaman sekarang, tak banyak laki-laki yang menghiraukan tatanan agama. Dari banyaknya laki-laki yang pernah mendekatiku, hanya Alam, yang sepertinya mampu membuatku memupuk benih cinta yang lama tak terurus di ladang hati yang gersang ini. Dengan cara yang begitu istimewa tentunya.

__ADS_1


Aku menyentuh gamis yang masih terlipat rapi di paperbag. Tersenyum mengingat pesannya. Diakah imam yang Allah kirim atas do'a-do'a yang kumunajatkan selama ini.?


__ADS_2