
Setelah sholat isya' bersama ibuk, aku biasa menemaninya nonton sinetron ikan terbang, selagi menemani ibuk yang sesekali mengomel karena kesal pada sang pelaku antagonis, selang lima detik beliau udah nyuruh ambil box tissue untuk menyeka mata dan hidungnya yang mbeler.
Heran sih, meski aku selalu menemani ibuk tapi aku tak pernah mengikuti serial dramanya, aku hanya sibuk dengan gawaiku. Aku hanya geleng" kepala saat ibuk mulai mengomentari para pemain, tak kuhiraukan, pekerjaanku lebih penting dari sekedar meladeni hobi ibuk.
Drrt.. drrrt..
Satu pesan masuk di app hijauku yang kebetulan sedang aktif, aku hanya melirik sekilas dan meneruskan diskusi masalah stok kurma yang menipis karena terjadi hambatan pengiriman.
Drrrt drrrt drrrt drrrt...
Kali ini gawaiku menampilkan sebuah foto cowok berseragam putih abu" yang bersender di pilar teras sekolah, wait... No.. aku bukan sedang fokus dengan foto nyengir Alam, tapi pada gadis yang sedang duduk di bangku sambil serius membaca buku...
Oh No... Aku memekik di balik lima jemariku.
Bugg .
"Ngagetin aja sih Am.. kenapa kamu?..
Ibuk melempar bantal ke arahku.. aku tersadar lantas nyengir ke arah ibuk.. lanjut pamit ke kamar untuk menuntaskan keterjutanku pada profile whatssapp Alam.
"Halo.. " sapaku ketus pada seseorang di seberang sana.
"Assalamu'alaikum ami sayang.."
Aku menepuk pelan kening, malu karena lupa mengucap salam saking kesalnya pada Alam.
"Wa'alaikumsalam.. kamu apaan sih lam.. itu foto aku kenapa di gituin sih. Gg ada bedanya dong sama nenek moyang kamu beribu tahun silam."
__ADS_1
"Cantik kok sayang, nenek moyang aku nggak kalah cantik sama kamu!"
"Ya kali, mana bisa sih bedain rupa ganteng cantiknya monyet" aku yang mulai, aku pula yang kesel kan
"Kamu inget nggak foto itu di ambil kapan?." Tanya Alam di seberang sana, anehnya ini nak. Kenapa bisa santai gitu sih jadi orang.
"Siang kan.. nggak malem, keliatan terang gitu" jawabku asal
Alam tertawa keras. Suaranya nyaring hingga reflek kujauhkan handphone dari kuping.
"Itu foto ku ambil pas kamu ulang tahun sayang, inget nggak .?"
Aku reflek membuka memory lama, yang sungguh sudah rapi kusimpan di otak paling ujung. Lama tak pernah aku mengunjungi memory masa putih abu", karena satu nama yang sangat ingin kudelete. Tentu saja bukan Alam orangnya.
Hari ulang tahunku.. yaps. Berarti tanggal 7 oktober, ya.. aku mulai mengingatnya. Kala itu seminggu sebelum ujian nasional. Aku tengah menekuri buku soal matematika. Tiba" Alam datang bersama tripotnya.
Aku yang menoleh karena terganggu dengan kebisingan Alam seketika mengernyit saat dia berjalan mundur mendekatiku, lalu duduk di sampingku dan merangkul pundakku.
"Happy birhday teesya sayang" Alam tersenyum dan memyerahkan tripotnya pada salah satu temannyya yang tak kutahu siapa. Lalu menyodorkan kue tart toping kurma kesukaanku.
Aku menerimanya dengan kebingungan yang masih terbalut apik di balik senyuman, aku tau pasti ada udang di balik Alam. Aku menunggu penjelasannya dengan terus memarkir senyum palsu.
"Ok guys, gue rekomend banget buat lu uang mau rayain ultah cewek atau cowok lu.. atau mau rayain ultah bestie?.. boleh banget kok.. tinggal hubungi nomer di bawah, di jamin oke.. nggak bakal nyesel.. ya kan sayang.. " Aku tersenyum.. sekadar menghargai Alam. tuh kan!.. pasti dia nyimpen udang di balik baiknya rayain ultahku.
Cup.. Alam memgecup pipiku dengan lima jari yang dikuncupkan. Dan tersenyum.
"Makasih ami sayang"
__ADS_1
"Happy birhtday sayang... Maaf ya.. nggak bisa kerumah kamu buat rayain langsung, jadi cuma bisa kirim kue kesukaan kamu. Untuk foto yang aku edit pakek bulu" itu karena aku mau tutup aurat kamu.. maaf ya.. "
Bukan.. ini bukan episode masa lalu.. ini live, yups.. Alam sukses membuatku tak bisa berucap walau satu kata terimakasih.
Aku lemas, lidahku kelu.. dia ingat hari ini ulamg tahunku. Padahal aku sama sekali tak mengingatnya..
"Permisi.. paket...
Suara nyaring dari luar rumah membuatku sadar. Aku beranjak dari kasur sedikit berlari dengan gawai yang masih tertempel di telinga.
"Kiriman kue atas nama teesya Ameena"
"Ya oke.. trimakasih mas.. "
"Sama sama mbak.. mari"
" Baru nyampek ya kuenya " Alam bertanya. Pasti dia mendengar percakapanku dengan kurir tadi.
"Iya mas.. makasih ya.. " suaraku melembut tiba".. Ya Allah Ami.. bukannya tadi lagi kesel ya.
"Sama sama sayang.. besok besok kalo kesel jangan panggil nama doang ya. Serrem banget dengernya. "
" Iya mas maaf.. " ya Allah Ami.. kemana ngungsiinya gondok tadi sih...
"Di makan ya.. nggak usah bayangin aku ya.. nanti kuenya jadi kemanisan.. Assalamu'alaikum" Alam mematikan sambungan telpon sebelum kujawab salamnya. Sempat kudengar dia tertawa lirih sebelum akhirnya sambungan terputus.
"Wa'alaikum salam.. " jawabku meski Alam jelas tak mendengarnya.
__ADS_1
Ya Allah.. kenapa Alam si biang onar berubah jadi manis gini sih...