Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
Maryam atau Marry ?


__ADS_3

Aku masih terpaku manis di tempatku berdiri. Sama sekali tak terusik oleh banyaknya lalu lalang manusia dari berbagai penjuru. Terang saja, aku berada di tanah abang, tempatnya seribu ummat. Aku masih tak percaya oleh satu fakta dimana bang Amar sudah menikah. Memang hal itu bukanlah urusanku, tapi tetap saja aku sangat terkejut oleh fakta yang terungakap beberapa menit lalu. Kenapa aku selalu telat menyadari fakta yang ada di sekitarku. Apa karena aku yang terlalu cuek?, atau aku yang TEL-MI?


"sayang!! Ameena" seruan itu sontak membuatku menggelang berulang kali. Mencoba membangun kesadaran. MasyaAllah, aku melihat Mas Alam dan bang Amar berlari kecil mendekatiku.


"Kan udah janji sih, nggak akan ngelamun lagi?" Alam langsung mengomel tanpa peduli nafasnya yang tersengal.


"Maaf mas" jawabku menyesali kecerobahanku sendiri.


"Lagi mikir apa?" Tanya Alam lagi.


"Eng,, nggak ada kok mas"


"Masih ada yang mau di beli?"


"Hmm, udah kok mas, mau langsung anter Ami pulang?"


"Gimana kalo makan dulu, mumpung maryam ada di kafe deket sini. Kita makan malam sekalian jemput dia gimana Lam?"


Bang Amar memberi usul.


"Aku sih oke, kamu gimana sayang?, Mau nggak makan bareng sama maryam sekalian?"


"Sebenernya mau aja Mas, tapi aku kepikiran ibuk, apa nanti pulangnya nggak kemaleman ya?"


Jam yang setia melingkar di tanganku menunjukkan pukul dua puluh. Aku khawatir ibuk masih terjaga untuk menungguiku pulang.


"Gimana kalo makan malam di rumah aja mas, sekalian ajak maryam juga. Ibuk pasti seneng rumahnya rame."usulku setelah menimang beberapa saat.


"Oke deh, suruh maryam bungkusin makan bang, biar nanti kita makannya di rumah mertua gue."


Ctak!! Bang Amar menyentil kening Alam.


" Calon woy!! Typo lo ya"


Aku tertawa geli lalu4 menggeleng dan menggoyangkan lima jari tanda tal setuju dengan usul Alam.


"Nggak usah beli makan bang, di rumah kan banyak olahan. Mending beli cemilan aja sih, soalnya cemilanku menipis di rumah."

__ADS_1


"Oke deh kalo gitu" setelah menyetujui usulku, kamipun menuju mobil hendak menjemput maryam, yang katanya istri bang Amar.


Dalam perjalanan aku terus membayangkan sosok maryam, siapa kah wanita yang dengan lapang dadanya menerima kekurangan bang Amar.


"Kita di pinggir jalan ini. kamu keluar ya, jangan main nyebrang aja tapi, tunggu Abang dulu. Cemilannya nggak lupa kan?"


Itu suara bang Amar, dia menelpon maryam, sambil membuka pintu mobil dan berjalan perlahan untuk menyebrang jalan.


Kulihat dia, seorang wanita muda yang mungkin seusiaku. Melambai dwngan senyum mengembang. Dadaku bergemuruh, cantik sekali dia. Dengan rambut ikal panjang dan gaun selutut yang begitu anggun menempel di badan.


Bukan, ini bukan lagi rasa cemburu. Lebih ke syock dan khawatir mungkin. Karena ku kira bang Amar akan mencari janda beranak untuk menjadi istrinya, karena kekurangan yang ia miliki. Kukihat bang Amar melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di bahu maryam, wow sweet sekali. Mereka berjalan beriringan dengan tangan maryam yang melingkari lengan bang Amar dan bergelayut manja.


Gadis itu masuk di bagian belakang dan sedikit terhenyak melihatku disini. Aku tersenyum dan sedikit mengangguk.


"Wait, ini?" Dia menunjukku dan mengerutkan keningnya tanda berpikir.


"Oh my god,. Bang Alam udah berhasil nemuim ini cewek ya." Dia memekik tertahan lalu mengulurkan tangannya untuk menyalamiku.


"Kenalin aku marry, kamu pasti nggak kenal aku kan, kita pernah ketemu sekali, dulu. Pasti kamu lupa. Kalo aku sih nggak bakal lupa sama kamu. Soalnya fotomu bertebaran di laptop bang Alam"


"Eh?" Aku yang masih bingung terpaksa memutar memori. Dimana kiranya aku pernah bertemu dengan dia.


Alam bersuara. Nah iya, kata mereka tadi namanya maryam. Kenapa sekarang jadi marry.


"Dih apasih abang. Suka suka aku dong, pokoknya ameena harus panggil aku marry. Kayak bunda sama ayah."


"Eh, kok tahu namaku?" Tanyaku bingung.


"Ck, udah dibilang, semua tentang kamu tuh aku hapal luar kepala. Cuman satu sih yang bikin aku pangling. Kamu sekarang pakek hijab. Jadi aku sempet mikir dulu tadi."


"Kamu kalo manggil Ameena yang sopan bisa kan, dia kan calon istri Alam. Harusnya kamu manggilnya mbak, atau neng mungkin." Bang Amar menegur maryam halus.


"Iya ih bang. Keceplosan aja tadi. Maaf ya mbak meena. Aku terlampau syock tadi."


Dia mengusap lenganku. Friendly sekali anak ini, aku nggak ada canggung sama sekali meski ini pertemuan pertamaku dengannya, eh tapi dia bilang tadi kita pernah bertemu. Berarti ini pertemuan kedua kami.


"Eh, sebentar. Kenapa dia harus panggil aku mbak bang?. Dia kan istri kamu, berarti panggil aku adek dong. Panggil mas Alam juga harusnya adek kan." Aku yang baru tersadar bahwa ada sedikit kekeliruan berusaha membenarkan. Tapi alih-alih menjawab pertanyaanku, mereka justru tertawa kompak. Lah, lucunya dimana?.

__ADS_1


"Bang Amar beneran udah buka hati buat marry ya?" Marry atau maryam ini melongok ke jok depan demi melihat ekspresi bang Amar dengan raut yang begitu berbinar.


Aku yang masih terbengong berusaha mencerna keadaan.


"Sejak kapan sih maryam, hatiku ini ada pintunya?"


Bang Amar menjawab enteng sambil mendorong pelan kepala marry ke belakang.


"Dih! Abang nih. Orang tanya beneran juga!"


Dia merajuk sambil merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan karena ulah bang Amar.


"Bang Alam nih pasti yang berulah." Tunjuk marry pada Alam dengan raut sebalnya.


"Nah, noh. Tanggung jawab lu Lam, dah bikin muka anak orang kek pantat ayam begitu."


Kami sontak tertawa mendengar ucapan bang Amar. Marry yang awalnya merajuk pun ikut tertawa karenanya. Meski masih di terpa kebingungan, aku memeilih menyimpannya dalam benak. Melihat mereka bertiga adu mulut sambil sesekali bercanda membuat aku tak tega merusak suasana dengan berabagai pertanyaan yang berkelindan di benakku.


Saking asyiknya bercanda, aku baru menyadari kalau mobil ini berhenti di depan gerbang, aku turun untuk membuka gerbang dan di susul bang Amar.


"Biar aku yang dorong meena. Kamu masuk rumah dulu gih, kelihatan sepi banget. Ibuk pasti udah tidur." Bang Amar mengambil alih mendorong pintu gerbang dan aku membuka pintu rumah.


Heran, nggak biasanya ibuk matikan lampu ruang tamu saat aku belum pulang.


Kuputar handle pintu, loh. Kok tidak di kunci.


"Ibuk, akhhhkkkhhkh" aku berlari keluar sebelum menemukan ibuk. Ya Allah apa yang terjadi. Kemana ibu?. Dan kenapa ada hantu di rumah Ami ya Allah.. dosa Ami apa ?.


"Sayang kenapa?" Alam yang baru turun dari mobil panik melihatku berlari keluar.


"Hantu Mas, ada hantu di dalam." Aku menjelaskan dengan nafas sedikit tersengal. Alam bersama bang Amar berjalan terburu untuk memastikan keadaan rumah. Sedang marry mendekat kearahku dan mengusap lembut bahuku supaya aku lebih rileks.


"Lam tolongin ibuk Lam?" Itu suara ibuk. Ya Allah apa ibuk disandera sama hantu itu ya.? Kenapa ibuk kelihatan panik?


"Ibuk?, Ngapain di atas buk?" Suara Alam khawatir.


"Ini ibuk benerin lampu dari tadi. Eh, nggak nyala-nyala. Sampek pegel ini leher."

__ADS_1


Nah loh, itu maksutnya apa?.


__ADS_2