Masih Menunggumu

Masih Menunggumu
antara aku dan bang Amar


__ADS_3

Keningku berkerut, berusaha mencerna buntalan rahasia yang terbungkus apik bertahun tahun lamanya. Bang Amar yang kutahu sangat menjagaku, sangat melindungi, sangat peduli padaku dulu. Siapa sangka Alam adalah otak dari semua kenyataan manis yang ada. Membuat sisi bang Amar yang terkesan cuek jadi terbumbui sejumput kata romantis, hingga perlakuannya terlihat hangat dan begitu manis.


Tapi Alam dengan sikap tengilnya justru terlihat menyebalkan. Seperti saat jam istirahat di hari yang sama saat mereka menjemputku. Alam yang tiba tiba menyodorkan teh hangat saat aku dan bang Amar baru duduk di bangku kantin.


"Nih bang pesenannya,"


"Kok di kasih ke aku, kan abang yang pesen?"


"Iya, tapi pesennya buat situ."


"Oh, padahal nggak perlu repot, aku bisa pesen sendiri"


"O tentu tidak bisa. Ini sebagai ucapan terimakasih karena udah kasi liat pemandangan paling indah di muka bumi ini pagi tadi " Alam menaik turunkan alisnya seraya tersenyum menggoda.


"Hei.!!" Aku yang akan berdiri menggetok kepala Alam urung oleh usapan lembut bang Amar di tanganku.


"Ush ush.. udah biarin aja. Minum dulu tehnya biar anget. Baju kamu masih agag basah ya kayaknya, maaf ya."


Aku tersenyum, entah mangkir kemana emosi jiwa yang sempat mampir barusan. Terpangkas oleh letupan kembang api dan soundtrack manis yang menggaduhkan jantung karena perlakuan manis bang Amar.


"Jadi teh hangat itu emang Alam yang pesen?" Aku bertanya memastikan kejadian bertahun tahun silam.

__ADS_1


"He em. Dia se-perfect itu dalam hal ngawasin kamu , awalnya aku pikir dia cuma bantu aku untuk deket sama kamu, tapi ternyata semua spekulasiku terbantahkan pas liat satu file di laptop lamanya yang isinya foto kamu semua"


"Foto?"


"Iya, nanti kalau kalian dah nikah, pinjem deh laptop nya. Cari file "my gilr". Isinya foto kamu semua yang di ambil diam diam"


"Waaaaah,, mas Alam harus tanggung jawab sih ini."


"Tenang, dia pasti tanggung jawab kok. Nggak akan kekepin foto kamu lagi, tapi langsung kekepin orangnya." Alis bang Amar naik turun berirama, selaras dengan senyuman menggoda. Aku mendelik karena gurauannya.


"Lalu?, Bang Amar nyerah gitu aja? I mean, bang Amar mengalah dan pilih cewek lain gitu?"


"Nope. Aku berniat mengakhiri cerita kita sebelum tahu perasaan Alam ke kamu."


"Nggak gitu juga sih,"


"Terus apa,? Penjelasan abang yang dari tadi aku tungguin, malah muter muter bikin kepalaku tambah pusing"


"Verikokel" jawabnya tenang sembari tersenyum.


Aku mengernyit, tanda tak faham.

__ADS_1


"Penyakit kelamin, dan aku dinyatakan mandul"


Aku memekik tertahan, kugunakan kedua tangan untuk menutup mulut dan menggeleng beberapa kali.


Verikokel adalah pembekakan pemubuluh vena yang terdapat pada buah ***** atau skrotum. Hal ini bisa mengakibat kemandulan bagi yang mengalami.


"Sekarang sih sudah operasi, penyakitnya memang di angkat. Tapi kemandulan ini yang nggak bisa aku bagi sama kamu. Kamu harus punya keturunan ameena. Dari kamu akan terlahir anak bangsa yang pasti kuat dan bisa do banggakan agamanya."


Aku menggeleng kuat dan mengusap kasar air mata yang mulai beejatuhan di pipi.


"Harusnya abang bilang,,,,"


Bang Amar buru-buru menggeleng untuk memangkas ucapanku.


"Kamu nggak akan menyerah hanya karena kekuranganku Ameena, aku tahu sekuat apa kamu. Dan nggak kubiarkan wanita sepertimu tak memiliki keturunan"


Aku semakin terisak mendengarnya. Benar, bila waktu itu dia menjelaskan semuanya, aku akan keras kepala memoertahankan hubunganku dengannya.


"Jadi wanita itu?..." Aku menggantungkan pertanyaan, kuyakin dia tahu kemana arah pembicaraan ini.


"Dia sepupuku, dari pihak ayah. Suatu saat kuperkenalkan dia denganmu."

__ADS_1


Aku mengangguk, tak ingin berlama lama menyulam sesal. Semua ini sudah suratan takdirnya. Tak ada yang kebetulan. Bang Amar sudah berkorban, dan Alam sudah berjuang, dan aku hanya harus sabar dan bertahan. Begitu indah skenariomu tuhan, izinkan sejenak aku meresapi, sebelum akhirnya mengucap syukur atas apa yang telah kau beri.


__ADS_2