
Dua tahun terakhir ini, aku selalu berdoa di waktu mustajab, yakni waktu di antara adzan dan iqomah. Aku berhasil istiqomah menjalankannya. Di waktu antara adzan dan iqomah shubuh, sebelum melaksanakan sholat fajar, kubentangkan sajadah untuk menjadi saksi atas do'a yang kupanjatkan.
Dari sekian banyak do'a yang terpanjat, hanya satu kalimat yang kugaris besari.
YA ALLAH, HADIRKAN UNTUKKU HARI YANG SPESIAL, DIMANA SEORANG CUCU ADAM TERBAIK PILIHANMU BERIKRAR SEHIDUP SESYURGA DENGANKU.
Satu kalimat itu selalu mengakhiri lembaran do'aku sebelum akhirnya mengucap Amin penuh hikmat.
Dan spesial menurut Allah itu sangat jauh di luar ekspektasiku. Mungkin karena terlalu banyak melihat video viral pernikahan anak sultan yang bermunculan di media sosial, aku jadi membayangkan menikah menggunakan konsep outdoor dengan tema garden party ala-ala. Dan yang terjadi, justru menikah di sebuah masjid dengan tema Roller coaster prank yang membuat ssi mempelai wanita senam jantung selama acara. Bahkan, belum genap dua puluh empat jam aku menyandang sebagai istri muhammad Alamsyah, aku di buat tercenung dengan kehadiran seorang tamu wanita yang kutaksir berumur tiga puluh tahunan.
Tiga hari pertama masa menstruasi memang sangatlah meresahkan, aku harus mengganti pembalut setiap tiga jam sekali. Karena hal itu juga, akhirnya aku hanya bisa mengeram tertahan saat mendengar suara tangisan perempuan di ruang tamu. Rumah ini memang berukuran kecil, terdiri dari satu kamar, ruang tamu, mushola kecil, ruang tv, dapur plus ruang makan dan kamar mandi. Jadi tidak heran jika aku yang sedang berada di kamar mandi, mendengar tangisan tamu tak di undang yang berada di ruang tamu.
Dengan tergopoh, aku melangkah ke arah ruang tamu dengan nampan berisi tiga botol minuman dingin. Jantungku berdebar mendengar tangisan tamu yang tak kunjung reda.
"Minum dulu kak, biar lebih relaks" ujarku dengan menyodorkan botol minuman ke arahnya.
"Mbaknya ndak peka!, Saya butuh support, butuh pelukan, bukan minuman! Yang ada nanti saya keselek!, Mbak sengaja ya!" Bukannya terimakasih, tamu tak di undang ini justru misuh-misuh.
"Astaghfirulloh, maaf mbak. Saya nggak bermaksud begitu." Untung sekali logikaku masih berjalan dengan normal. Aku masih ingat betul kalau aku harus menjaga marwah suami, baik sedang bersama maupun tidak. Bila tidak, sudah pasti ku lumuri tomat dan terasi mulutnya yang pedas itu, biar sekalian jadi sambel.
"Minta tissue mas, buat seka air mata berhargaku, karena hanya tissue yang tak diharamkan untuk menyentuhku." Dia berujar di iringi senggukannya yang tak kunjung terkendali, aku melirik mas Alam yang justru tertawa sambil menggelengkan kepala menanggapi tingkah polah sang tamu.
__ADS_1
"Sayang punya tissue?," Sungguh santai sekali cucu Adam satu ini, dia meminta tissue padaku dengan senyuman yang mengembang. Sama sekali tak terusik dengan hawa ruangan yang mendadak engap bagiku.
"Nggak punya Mas," Dusta, biarkan saja. Aku terlalu malas menuruti permintaan tamu yang sungguh membuatku resah.
"Oh, sebentar Yen, ku ambilkan di dapur." Alam melangkah ringan ke arah dapur, lalu kembali dengan serbet kotak-kotak di tangannya. Aku mengernyit melihat kerlingan jahil Alam setelah saat memberikan serbet itu pada tamu, dadaku berdenyar, sepertinya aku menangkap niat buruk dari suamiku ini.
"Maturnuwun Mas, mase selalu bisa di andalkan di setiap keadaan." Tamu itu menyeka air matanya menggunakan serber dari mas Alam, sepertinya dia agak tenang, tampak dari suaranya yang tak lagi di iringi senggukan.
"Mas harus tanggung jawab sama anak gadisku!, Sudah berapa hari mase ndak kesini, sibuk apa to! sampek ninggalin dia yang lagi hamil,"
Degg. Apalagi ini?, Ya Allah se-spesial ini cucu Adam yang Engkau hadirkan untukku.
Aku meremas bajuku sendiri, terpaku mendengar penuturan tamu yang berada di kursi singgle dekat jendela.
"Harusnya Mas bawa dia kemanapun Mas pergi, tunjukkan tanggung jawabnya Mase. Kehamilan anak gadisku ini kan, karena keteledoran mase waktu itu. Jangan biang mas lupa!" Dia menatap Alam garang, aku ikut melirik Alam untuk memastikan ekspresi nya, Dia terlihat gusar oleh tatapan yang penuh intimidasi dari tamu di hadapannya, dia mengusap tengkuknya lalu balik menghadapku. Alam sedikit terhenyak melihat mataku yang mulai merebak, lalu diraihnya tanganku dan di usapnya lembut. Lihatlah, dia melakukan hal selembut ini di depan tamu yang secara tidak langsung mengumumkan bahwa Alam adalah bapak dari calon cucunya.
"Ya udah sini, bawa anak gadismu itu kesini Yen, biar aku dan istriku yang merawatnya selama hamil, nanti setelah dia melahirkan, akan kukembalikan ke kamu, dan bayinya aku adopsi aja gimana?" Mas Alam mengutarakan keputusan besarnya seperti sedang menyuruh tamunya membeli permen di warung sebelah, enteng sekali. Dia kira aku mau serumah dengan wanita hamil yang mengandung anak suamiku?, Dan apa dia bilang tadi, mengadopsi! Bukankah memang kewajibannya merawat bayi dari benihnya sendiri.
Aku menarik kasar tanganku yang sedang di genggam Alam, Dia terkesiap melihat perubahan mimikku. Bukannya gusar dan meminta maaf atas perubaha sikapku, dia justru tertawa geli setelah memastikan tamunya keluar untuk menjemput anak gadisnya. Gila! Apa lelaki yang tengah duduk di hadapanku ini sedang mengalami sakit jiwa?, Lihatlah dia senyum-senyum tanpa dosa denga menyandarkan punggugnya di sandaran kursi, sedang tangan kanannya mengelus pundakku.
Apakah sikap Alam memang selalu manis kepada semua orang, jika benar begitu, berarti selama ini aku termakan bualan manisnya. Apalagi ibuk, aku tak bisa membayangkan betapa kecewanya pahlawan wanitaku itu jika mengetahui kelakuan anak mantunya di balik sikap manis yang selalu dia suguhkan selama ini.
__ADS_1
"Ya Allah marrie, hati-hati toh, kamu itu hamil loh, jangan lari-lari." Teriakan panik dari luar menhinterupsiku, Mas Alam tergopoh menghampiri. Cihh, mau di bilang suami sigap ya?, Asli aku mual melihatnya.
"Eh eh, sini sayang, ya Allah kangen banget ya, sampai lari-lari begini." Mas Alam jongkok meyambut hangat kucing yang melompat kearahnya. Aku memaligkan muka, menghirup udara sebanyak yang kubisa, aku harus tegar menghadapi ini, sekalipun tak boleh menampakkan wajah lemah terhadap wanita yang mungkin mengandung anak mas Alam.
Mas Alam dengan santainya duduk di sampingku dengan mengelus lembut kucing berbulu abu-abu itu, meski aku sangat menyukai spesies satu ini, tapi tanganku tak sudi menyentuhnya, dadaku bergemuruh, apakah mas Alam akan berlaku sama terhadapa wanita hamil yang di ceritakan tamu tadi?.
Tamu tak di undang itu kembali dengan nafas tersengal. Kentara sekali dia habis lari beberapa menit lalu. Aku celingukan, mencari sosok yang menjadi topik panas beberapa saat lalu.
"Kamu cari apa nduk?" Aku hanya meliriknya dan mendengkus kasar. Bisa-bisanya dia masih bertanya padaku dengan nada semanis itu.
"Dasar kamu ya, anak gadis ndak tahu terimakasih! Kacang lupa kulit kamu ya!, Mentang-mentang Mas Alam udah datang. Kamu berpaling dari bundamu."
Aku melongo, melihat tamu tadi menuding kucing yang tengah terlelap di pangkuan Alam. Dia menyebutnya anak gadis, sebentar. Jadi anak gadis yang dia maksut itu kucing?
"Jadi, anak gadis mbaknya?....." Pertanyaanku menggantung karena suara gelak tawa Alam. Saking kerasnya, kucing yang sedang terlelap di pangkuannya mengerang, merasa tidurnya terganggu.
Kulihat tamu itu duduk dengan mengusap peluh di wajahnya menggunakan serbet.
"Mas Alam, kok mukaku panas ya. Mripatku juga Mas, ini lap bekas apa, sih?" Tamu itu menyodorkan serbet pada Alam lalu mengipasi mukanya menggunakan kedua tangan. Alam menerima uluran serbet itu sambil mengerutkan dahi, tampak berpikir.
"Hmm, seingatku tadi hanya kupakain mengelap kecap pedas yang tumpah di meja makan Yen"
__ADS_1
"Hah!!!!" Aku dan tamu itu menganga berjamaah. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu dengan sesantai itu. Pasti ini hasil kerlingan jahilnya tadi. Dasar suami Roller coaster!.