
Aku menepikan kemelut penasaran yang di sebabkan oleh bang Amar,demi mendengar rentetan episode kehidupan Dani yang sempat tertinggal olehku.
"Enam bulan, terhitung sejak kembalinya ibu ke rumah kost itu. Aku limbung, kehidupanku tak berarah. Berita tentang aku anak haram dari seorang PSK itu meluas secepat kilat. Tak hanya di lingkungan kost.an, di tempat ngaji pun akan aku temui beberapa sorot mata tajam, seperti sedang menghujatku dalam diam. Sakit mbak, aku bahkan rela nggak makan demi tidak menelan hasil kerja ibu. Aku berusaha menghidupi diri sendiri. Uang pemberian ibu tak pernah aku terima." Dani menghela nafas panjang, terlihat sedang menata deru nafasnya yag semakin memburu karena gejolak emosi yang sempat mampir karena memgingat masa kelam.
"Rundungan orang masih bisa ku tahan mbak, tidak semudah itu merontokkan kekuatan hatiku. Tapi, saat ibu membawa pria muda yang disebutnya pacar. Aku tak lagi kuat meneguhkan hati. Merasa takdir ini terlalu jahat menghajarku, tak bisakah takdir menyapa terlebih dulu sebelum menghatamku begitu keras?." Sorot mata Dani menerawang jauh, bulir bening jatuh di pipi putihnya secepat kilat ia hapus dan menatapku sambil tersenyum getir.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa pria yang di elukan ibu itu hanya
memanfaatkan uangnya. Saat kuberanikan memberi tahu ibu tentang kelakuan pacarnya. Beliau justru marah, dan menyebutku sebagai anak pembawa sial. Sejak saat itu, aku pergi dari kost di pagi buta, dan kembali hampir tengah malam. Tak pernah lagi kusambangi tempat ngaji, aku kalah dengan keadaan. Aku melakukan segala sesuatu yang di larang, semata-mata untuk aksi pemberontakan
Atas takdir yang semena-mena memporak-porandakan hatiku." Lagi, Dani mengusap keras bulir bening yang jatuh tanpa izin.
"Hina banget ya mbak, nggak tahu diri banget aku jadi hambanya." Dani tergugu kali ini. Aku hanya bisa menatapanya sendu dari sisi kanannya. Dia menangkup kedua telapak tangan pada wajah yang berlinang air mata. Jika sendiri dan mengingat masa lalu. Aku akan merasa jadi manusia paling tersakiti di dunia ini. Tapi, mendengar kisah Dani, aku merutuk diri sendiri karena terlalu larut pada kisahku sendiri, sampai lupa bahwa di luaran sana, banyak yang jauh lebih menderita ketimbang diriku. Aku baru memahami perkataan Alam tentang healing dengan melihat ragam pribumi. Healing paling hemat yang justru mampu menebas rasa kurang syukur dengan sempurna.
"Orang-orang sesat yang aku temui selalu punya cara mengalihkan kemelut pikiranku walau sesaat. Sampai aku benar-benar terjerumus dalam surga duniawi yang menawarkan kebahagiaan semu. Penatku teralihkan, kesalku menghilang, kecemasanku pada ibu berangsur pudar. Tapi hatiku gamang, ada yang mengganjal dalam benakku, tapi sekuat tenaga kutepis itu semua. Aku benar-benar seperti jelmaan monster tanpa rasa. Sampai suatu malam, ketika aku pulang, rumah kost yang biasanya sepi, terdengar gaduh dari arah dalam. Awalnya aku akan berbalik untuk meninggalkalkan kegaduhan yang kutahu tercipta oleh pertengkaran ibu dan pacarnya. Namun jeritan ibu membuatku mau tak mau berlari menghampirinya. Saat aku datang, pria tak tau malu itu bergegas pergi tanpa rasa bersalah, setelah mendorong ibu hingga beliau terbentur meja. Tak ada luka awalnya, hanya saja ibu terus meremas perutnya dan menggigit bibirnya kuat. Aku berlari meminta bantuan saat kulihat darah segar mengalir di kaki ibu. Tapi yang kudapat bukanlah uluran tangan dari para tetangga. Melainkan cemoohan berasaut-sautan yang semakin menyesakkan dada. Bukannya berlari ke arah jalan untuk meminta bantuan para pengguna jalan atau menyetop taksi....."
__ADS_1
Dani menengadah, menjeda ceritanya. Aku di buat heran dengan peralihan ekspresinya. Dia tersenyum sambil menatap langit khidmat.
"Begitu indah cara Allah menarik seorang hamba yang penuh dosa ini, untuk kembali pada fitrahnya mbak. Allah menggerakkan kakiku ke arah masjid, saat sampai di pagar masjid. Aku di buat bingung, baru tersadar bahwa aku berjalan begitu jauh dari rumah kost. Saat akan berbalik, disitulah aku bertemu bang Alam. Dia menangkap rautku yang kacau. Dia menawarkan bantuan padaku setelah kuceritakan garis besar masalahku , tanpa banyak tanya, aku segera mengikutinya masuk mobil dan segera membawa ibuk ke rumah sakit."
Dani menatapku, dia tersenyum manis sebelum akhirnya kembali bercerita.
"ibuku hamil mbak, tapi pria itu tak ingin bertanggung jawab, ibuku kecewa karena terlalu menaruh harapan pada pria itu. akhirnya mereka bertengkar dan berujung adu fisik sampai ibu keguguran. Aku menyalahkan diriku sendiri saat itu. Aku berlari ke arah mushola Rumah sakit dan mengadu disana. Tak tahu malu memang. Tapi aku merasa tak memiliki siapapun saat itu, gemerlap dunia sesatku tidak ada yang bisa membantu, Aku sadar, betapa besar kesalahanku saat itu. Andai aku mau bersabar, dan terus berdo'a untuk ibu. mungkin hal ini tidak akan terjadi. aku hampir kehilangan dua nyawa, ibuku dan calon adikku mbak. Andai itu terjadi, aku tak akan memaafkan diriku sendiri. Aku terus menangis dan merutuki diri kala itu, sampai tepukan halus kurasakan dari arah sampingku. Bang Alam tersenyum padaku saat aku menoleh untuk mengetahui siapa gerangan yang membersamaiku saat itu.Dia mengajakku sholat berjamaah, mengajakku mendoakan keselamatan ibu. Aku gamang, masihkah sholatku diterima?, setelah semua ini?. " Dani masih terus mengukir senyum di sela ceritanya.
"Bang Alam bilang padaku waktu itu, Jika kamu menanti uluran tangan dari makhluk, mereka akan berlari terbirit-birit menjauhinya. tapi, jika kamu menggantungkan semua perkaramu pada Allah, Allah akan merentangkan tangan dan mendekapmu erat." Dani menoleh dan terssnyum padaku.
"yang aku ingin tahu sekarang, kenapa tempat ini jadi seperti ini?, maksutku, kamu tahukan Keramat tunggak ini tempat apa dulunya." akhirnya kuberanikan bertanya pada Dani.
"khusus itu, biarkan bang Alam yag cerita langsung ke mbak. Kalau aku yang cerita, feelnya beda." Dani menjawabnya dengan cengiran.
"kenapa begitu?"
__ADS_1
"ya gitu aja." Dani tertawa melihatku rautku yag berubah kesal.
"oke, semerdekanya kamu aja kalau gitu. Jadi, kamu kenal Mas Alam udah Lama ?"
"Lumayan, nanti mbak Ami tanya langsung aja ya." jawabnya singkat sambil mengulum senyum. Aku mengernyit, sungguh, Alam dengan segudang rahasianya membuat kepalaku pusing.
Saat kulempar wajah serius, hendak mengorek info dari Dani tentang Alam. Aku reflek tersenyum manis saat pandanganku menangkap sosok M.Alamsyah yang melambaikan tangan padaku.
"Ghibahin aku ya." Alam menuduh saat sampai di hadapanku.
"He-eh, kamu emang pantes di ghibahin kok" jawabku enteng, sembari mengulas senyum pada Dani yang berpamit pergi.
"Semakin kamu ghibahin aku, cintamu akan semakin jatuh terperosok dalam diriku sayang." Balasnya tersenyum.
Aku melongo di buatnya. Ternyata selain senyumnya yang unlimited, stok over pe-de nya jug tak kalah bejibun.
__ADS_1