
Berulang kali kucoba menarik dalam nafas dan menghembuskannya perlahan, agar senggukan akibat tangis tertahan oleh ungkapan bang Amar sedikit mereda. Irama jantung pun belum bisa di ajak berdamai.
Cukup lama kami saling diam, sejenak meresapi kisah masalalu antara kami yang harus terpangkas tuntas oleh takdir yang menghampiri tanpa izin. Berusaha ikhlas dan mencari titik balik berupa kebahagiaan yang kami genggam saat ini setelah berhasil melewati pilunya lara masalalu.
Aku menegakkan tubuh. Merapikan hijab yang sedikit
basah di bagian sisinya oleh air mata. Menatap bang Amar yang juga menatapku, ku ukir senyun manis tanda aku telah berhasil mengendalikan diri dan berdamai dengan keadaan.
"Terimaksih bang, atas waktunya, penjelasannya, juga pengorbanannya."
Bang Alam tersenyum lalu menggeleng pelan.
"Sama-sama. Jangan sia-siakan pengorbanan abang ya. Alam laki laki baik. Dia sangat bertanggung jawab meski kadang tengilnya suka kumat"
Aku tertawa renyah, sepertinya hatiku sudah berdamai sempurna hingga tawa tak lagi sungkan mengudara.
"Pasti. Pengorbanan abang dan perjuangan mas Alam harus aku kasih apresiasi"
"Wooo, kalau buat Alam apresiasi kamu pasti jadi istri yang berbakti, kalo ke aku?"
"Hmmm apa ya, Abang sukanya apa?, Atau pengennya deh. Lagi pengen apa gitu."
"Kan kamu yang mau kasih apresiasi, kok tanya sih, kalau di perlombaan apresiasinya di tanyain satu-satu gini sih enak jadinya."
"Ya nggak gitu, kan ini buat abang. Lagian abang kan nggak lagi ikut lomba, tapi lagi berkorban. Hadiah harus leboh spesial dong."
"Hmmm. Oke, pastikan kamu bisa penuhi ya."
"InsyaAllah."aku mengangguk mantap.
"Itu janji tertinggi untuk seorang muslim"
Bang Amar mengingatkan.
"Iyah aku tahu. Akan ku usahakan"
"Kamu tadi bilangnya kan apa yang aku suka dan apa yang aku ingin."
Bang Amar menengadah menatap langit dengan mengukir senyum di bibir, lalu menoleh padaku.
Aku memicing, merasakan hawa kelabu alarm tanda waspada.
"Hawanya jadi merinding deh bang. Abang jangan minta yang aneh aneh deh,"
Dia tertawa, kali ini tawanya lepas mengudara, hatiku berdesir, hati ini masih mengagumi tawanya, giginya berderet rapi dan bersih, rahanganya keras dan ditumbuhi janggut halus sampai telinga.
Astaghfirulloh, aku memalingkan muka dan menemukan Alam yang sedang berjalan ke arah kami.
"Sudah belum ngobrolnya?" Tanya Alam sesampainya di hadapanku.
__ADS_1
"Udah kok, mau anter aku pulang? Ayok."
Aku buru buru turun dari gazebo demi menghindari permintaan bang Amar yang belum sempat terucap. Biarlah itu jadi urusan nanti.
"Kok buru-buru banget sih, kan belum sempet jawab pertanyaan kamu tadi."
"Kapan-kapan aja bang, kasian ibuk pasti udah nungguin ami pulang" aku buru buru menarik baju Alam untuk segera menjauh dari sana.
"Ameena, nanti aku kirim listnya ke nomer kamu ya.!!" Seruan bang Alam membuat langkahku berhenti dan menoleh.
"Abang nggak lagi rencana bikin aku mati muda kan.?"
kudengar tawanya mengudara, dan kulirik Alam yang sedang menatapku penuh tanda tanya.
"ayo deh, nggak perlu dengerin bang Amar"
"kamu lagi ngajak main rahasia ya?
"aduh mas enggak, nanti aku ceritain detail deh. Lagian aku juga punya segudang pertanyaan buat kamu"
"oh ya,? bang Amar cerita apa aja?"
"banyak, banget malah"
"dia bilang nggak waktu kutonjokin pas tahu dia putusin kamu.?"
"what!, kenapa harus pakek kekerasan sih, emangnya dia nggak kasih tau alasannya apa.
Aku hanya menggelengkan kepala, menanggapi.
🌻🌻🌻
Kukira Alam akan mengantarku pulang karena hari sudah sore. Ternyata dia mengajakku makan bersama bunda dan ayah.
"Nggal boleh nolak!, Kami semua telat makan siang gara-gara kamu." Suara bang Amar menginterupsiku, Orang ini titisan jaelangkung kali ya, sedari tadi aku tak menyadari kapan dia datang dan pergi.
"Dih!, Siapa juga yang mau nolak makan" Jawabku sambil melirik tajam pada bang Amar. Lalu tersenyum tanda terimakasih pada Alam yang menarik kursi untukku duduk.
"Jangan di jahili gitu dong Mar, ngambek lagi baru tahu rasa kamu." Ayah mewakiliku menimpali kejahilan bang Amar.
"Tau nih abang, mentang-mentang udah di maafin" kali ini Alam yang menimpali.
"Udah dong, makan dulu yang tenang, nanti di lanjut lagi ngobrolnya."
"Baik bunda.." jawab ketiganya serempak. Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah konyol keluarga ini. Dalam hati aku bersyukur, Tuhan telah memberiku calon keluarga yang harmonis.
Selesai makan, bunda mengakku mengobrol di ruang tengah. Beliau mengatakan sudah menelepon ibuk untuk mengabari bahwa aku akan pulang malam, saat kutarakan kekhawatiranku akan ibu yang menunggu di rumah.
"Am, bunda kan minggu depan mau umroh, agak lama sih, tiga mingguan. Pengennya tuh dari sana nggak usah bawa oleh-oleh gitu. Jadi pengennya order kurma di toko kamu aja, gimana?."
__ADS_1
" Oke sih bund. Bunda mau kurma apa?, Buat hampers, atau buat suguhan aja?."
"Maunya sih buat suguhan. Tapi karena kamu tadi bilang hampers, bunda jadi kepikiran"
"Bunda belum nyiapin hampers?"
"Belum, apa ya Am kira-kira. Yang nggak perlu bawa dari sana, tapi yang berbau arab gitu"
"Bunda beli aja sih parfum arab yang banyak. Nanti hampersnya di isi kain mori yang abis di semprot parfum itu. Simple kan." Bunda mendelik dan melempar bantal kursi pada Alam. Sedang bang Amar dan Ayah hanya tertawa melihat kekesalan bunda.
"Aku nyumbang madu deh bund buat hampersnya." Kali ini bang Amar yang memberi usul. Ini sih usulan waras, berbanding terbalik dengan usul Alam.
"Wah iya, tapi masa iya isinya cuman madu Mar."
"Salah satunya aja bund. Kemasannya juga yang sedang aja." Usul bang Amar lagi.
"Kalau gitu gimana kalau di tambah stoples aja bund. Nanti isinya kacang arab atau kurma gitu."
'iya ya, bunda mau kacang arab yang ada kulitnya itu am, sama kurma yang kayak kemaren bunda pesen ke kamu"
"Kacang pistachio maksud bunda?"
"Fustuk Am, bukan piscok"
"Pistachio bunda,, "
Jawab bang Amar dan mas Alam berjamaah, terlihat gemas oleh ungkapan bunda.
Aku dan Ayah hanya tertawa geli.
"Iya deh itu, bukan Am, kacang yang ada kulitnya itu fustuk namanya."
"Iya bunda, keduanya sama, cuma beda bahasanya aja."
"Oh gitu, lagian kasi nama kok mirip sama dagangannya si umay.,"
Aku melongo, sedang yang lain justru tertawa.
" Umay itu yang dagang piscok di ujung gang sana Am." Ayah menjelaskan padaku.
"Oh,," aku mengangguk-angguk faham dan ikut tertawa.
"jadi fiks ya bund, isi hampersnya sebotol madu sama dua stoples isi kurma dan kacang fustuk" tanyaku memastikan keinginan bunda.
"iya Am, terus stoplesnya gimana?, apa beli yang udah kemasan gitu aja ya.?"
"udah, yang itu jadi urusan Ami aja. bunda tinggal bang butuhnya berapa. nanti aku siapin" bunda memelukku tanda setuju dan berulang kali mengucap terimakasih.
"hmmm, ada yang lagi girang nih karena di manjain mantu."
__ADS_1
celetukan Ayah membuat semuanya tertawa, hari ini perasaanku seperti rollercoaster, dari yang emosi mendidih sampai hangatnya berada di tengah keluarga ini.