
Dua hari terlewat dengan cepat, hari ini, Adisty dan Vinsen baru saja sampai di rumah yang akan mereka tempati. Adisty berjalan ke arah tangga di mana letak kamarnya berada tepat di lantai dua.
Ia sudah sangat lelah dan membutuhkan istirahat dengan segera.
"Nyonya Jea," sampai panggilan dari suaminya yang terhormat membuat langkah kaki Adisty terhenti. Ia membalikan tubuhnya dan menatap Vinsen.
"Ada apa?"
"Rumah ini memiliki berapa kamar?" tanyanya sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain. Menolak untuk melakukan eye contact dengan Adisty.
"Di sini hanya ada dua kamar. Satu kamar utama di lantai atas dan satu kamar tamu di sebelah sana." Adisty menunjuk samping kiri Vinsen, tatapan pria tampan itu mengarah ke sebelah kirinya.
Adisty terdiam memperhatikan gelagat Vinsen. Hanya ada dua kemungkinan yang akan pria itu katakan setelah ini. Menyuruhnya tinggal di ruang tamu, atau mengalah dan Vinsen sendiri yang akan tinggal di sana, di ruang tamu. Karena sepertinya, sangat tidak mungkin bagi keduanya untuk tinggal dalam kamar yang sama.
"Kalau kamu tidak mau satu kamar denganku, kamu bisa tinggal di kamar tamu. Tapi kamu harus gerak cepat jika orangtua ku mengadakan kunjungan dadakan!" Adisty mendahului Vinsen untuk mengatakan hal tersebut.
"Kamu mengangap aku tamu?" salah satu sudut bibir Vinsen terangkat.
"Aku hanya tau kamu tidak akan tahan tinggal satu kamar denganku!" Adisty berlalu, menapaki satu-persatu anak tangga meninggalkan Vinsen yang berdecih tak berdaya. Tiba-tiba ia mengingat satu kalimat ancaman Adisty.
Kita lihat seberapa kuat kamu melawan pesonaku. Tidak bisa, Vinsen tidak boleh kalah.
Adisty merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil melentangkan tangannya. Rumah yang akan ditempatinya untuk waktu yang ia sendiri tidak tau ini sudahlah bersih dan rapih, sehingga Adisty tidak perlu repot-repot membereskannya.
Terlebih, pekerjaannya sedang banyak saat ini. Ia sedang menangani proyek tander yang baru saja dimenangkan oleh Chandra.
Adisty menoleh saat pintu kamar tersebut terbuka. Vinsen masuk sambil menyeret koper miliknya, perlahan Adisty bangkit dan memperhatikan suaminya itu.
Vinsen balik menatapnya dengan ekpresi yang terlihat kesal.
"Ada apa?"
"Kamu tidak suka aku di sini?" sinis Vinsen saat mendapat tatapan heran dari Adisty.
"Aku akan tinggal di kamar ini, anggap saja— Kita, hanya—Orang asing." Vinsen mengatakannya sedikit gugup. Adisty mengangguk dengan mudahnya.
"Terserah!" ia berkata pelan, bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Adisty menggeser ikon hijau, kemudian berjalan ke arah balkon untuk berbicara dengan sang penelpon.
Vinsen menatap tidak suka, ia menyeret kopernya dengan kasar ke arah almari dan membukanya. Ia akan membereskan pakaian sendiri tanpa bantuan Adisty. Dan ternyata hal seperti itu tidak cocok untuknya.
Ternyata ini yang Adisty rasakan saat merapihkan pakaiannya, repot dan membosankan.
Tapi mengenai Adisty, dia sedang berbicara dengan siapa? Kenapa lama?
"Apa perduliku?" Vinsen menepis pikirannya sendiri.
*
*
"Aku baru saja pindah, bersama suamiku." ah, rasanya Adisty sangat canggung mengatakannya. Ia merasa tidak terbiasa.
Orang yang menelpon adalah Lauren, dia berbicara banyak mengenai jadwal padatnya saat kembali dari Indo sehingga baru memiliki waktu untuk menelpon Adisty.
Dan ia baru bertanya mengenai keadaan Adisty, setelah lelah berbicara panjang lebar tentang dunianya.
"Jadi, suamimu itu, bagaimana?" tanya Lauren, ia menyebut kata suamimu dengan penuh penekanan. Adisty tau itu ledekan, gadis itu pasti sedang tertawa sekarang.
"Bagaimana apanya, aku sama sekali tidak mengenalinya setelah tujuh tahun silam."
"Tapi dia tetap tampan."
"Hal itu tidak berubah, tapi sikapnya—" Adisty tersenyum sambil memeluk lengannya. "Aku tidak tau bagaimana cara menjelaskannya."
Lauren mendesah di ujung sana. "Aku turut prihatin, kurasa kamu harus berjuang lebih keras lagi."
"Negara ini sudah merdeka. Aku bukan pejuang," Adisty tertawa, Lauren mendesah di ujung sana.
__ADS_1
Setelahnya, Adisty diam cukup lama. Kemudian, ia kembali berucap. "Tapi kamu ada benarnya. Barangkali, aku harus berjuang untuk mempertahankan apa yang sudah dibangun!"
"Maksudku seperti itu. Yasudah, aku tutup telponnya. Nanti kapan-kapan aku akan menghubungimu."
"Baiklah."
Adisty menghela nafas setelahnya, menatap pemandangan di hadapannya sebentar. Kemudian berbalik dan melihat Vinsen berdiri tepat di pintu balkon, Adisty sedikit terkejut.
"Sejak kapan kamu berdiri di sana?" tanyanya dengan tenang. Vinsen melipat tangannya di dada.
"Sejak satu menit yang lalu."
"Ow," Adisty lega. Artinya Vinsen tidak mendengar pembicaraannya dengan Lauren.
"Kamu berbicara dengan siapa?"
"Temanku."
Setelahnya adalah hening. Vinsen tidak bertanya lagi dan Adisty tidak bersuara. Sampai kemudian Adisty melangkah ke arah pintu masuk, Vinsen bergeser memberi celah untuk Adisty.
*
*
Seorang wanita baru saja keluar dari rumahnya. Pakaiaannya rapih, dress selutut dengan aksen garis-garis berwarna hitam dan abu. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai bebas.
Langkahnya anggun, tapi sebelum seorang pria tiba-tiba saja menghadang langkahnya. Wanita tersebut terdiam dengan heran.
"Ada apa?" tanyanya. Pria dengan jas hitam tersebut hanya melipat tangannya di dada.
"Mau ke mana?"
"Bukan urusan kamu. Pergilah!"
"Aku bisa menemanimu berjalan-jalan? Mobilku ada di sebelah sana." ia menunjuk sebuah rumah besar tanpa pagar, tepat pada sebuaj sedan hitam yang terparkir cantik di pelataran rumah tersebut.
"Ayolah, Isyana. Vinsen sedang tidak ada, lebih baik kita bersenang-senang."
Isyana berdecih dengan senyum geli pada pria di hadapannya. Dua tahun mengenal seorang Jerremy Nakula, Isyana tau bagaimana seorang Jerremy. Dan ia tidak akan mudah terbuai dengan segala bujuk rayu pria itu.
"Menyingkirlah, atau aku akan memberitahu Vinsen jika kamu bertindak macam-macam."
"Silahkan saja. aku akan jujur pada Vinsen jika aku menyukai kamu dan serius, tidak seperti Vinsen."
"Apa maksudmu?"
"Semua orang tau, Isyana. Vinsen sudah menikah dengan putri bungsu dari keluarga kaya."
"Tapi Vinsen hanya mencintaiku."
"Kamu tidak lebih dari sekedar. Wanita—Simpanan!" Jerremy mengatakannya dengan dramatis. Membuat Isyana menggeram kesal, wanita itu membuang tatapannya ke arah lain.
"Wanita itu yang merebut Vinsen dariku. Aku wanita pertama di hidup Vinsen. Selamanya akan seperti itu."
"Kamu tidak pernah berfikir. Jika kemungkinan akan ada wanita kedua, ketiga dan seterusnya?"
Isyana terdiam dengan tangan yang terkepal sempurna, ia berusaha menahan emosinya. "Dengar ini Isyana, pria tidak cukup hanya dengan satu wanita." sahutnya dengan sangat menyebalkan. Ia mengusap rambut Isyana, menyelipkan sebagian rambut itu ke belakang telinga, kemudian berlalu begitu saja.
Isyana menghembuskan nafasnya dengan kesal, menatap punggung pria itu sampai menghilang dari pandangannya. Ia mengambil ponsel di tas selempangnya, kemudian mendial nomor seseorang dan menaruh benda pipih itu di telinga kanan.
"Kamu di mana?"
"Aku mau ketemu."
Isyana memutus sambungan sepihak, kemudian berjalan dengan langkah kaki yang terlihat masih kesal.
*
__ADS_1
*
Vinsen mengancingkan kemeja yang dikenakannya sedikit terburu-buru setelah menerima telpon dari Isyana yang tiba-tiba saja meminta bertemu.
Sedangkan Adisty sudah rapih, ia akan bertemu dengan karibnya yang baru saja pulang dari Malang setelah menjenguk orangtuanya yang sedang sakit.
"Adisty."
"Kamu akan kemana?" Vinsen sudah selesai mengancingkan kemejanya, ia berjalan ke arah Adisty dan berdiri di sana.
"Aku akan bertemu teman lamaku." Adisty menyahut sambil menyemprotkan parfum pada leher dan pergelangan tangannya. Vinsen memalingkan wajah, meski tidak bisa menghindari aroma wangi yang mulai menyeruak indera penciumannya.
"Laki-laki?" Vinsen bertanya dengan penuh cemoohan. Adisty bangkit dari duduknya, mengambil tas selempangnya. "Dia wanita, pemilik restoran dekat perusahaanku, kami sudah berteman lama."
"Kamu perlu menjelaskannya sedetail itu?" Vinsen mencibir yang membuat Adisty merasa serbasalah.
"Tidak perlu," Adisty menyahut diakhiri senyum tipisnya. Kemudian berlalu meninggalkan Vinsen. Vinsen mendengkus kesal, begitu melihat arloji dipergelangan tangannya ia buru-buru.
Mengambil parfum dengan random dan menyemprotkannya. "Hah?"
Ia mengumpat saat justru memakai parfum yang baru saja Adisty letakan tepat di samping parfum miliknya, itu adalah parfum Adisty. Sekarang ia merasa bingung, harus berganti baju atau membiarkannya saja.
*
*
"Kado untukmu." Meghan—Sahabat Adisty itu menyerahkan sebuah kotak persegi dengan motif buah-buahan sebagai pembungkusnya. Adisty hanya mengernyitkan dahi.
"Kamu tidak perlu repot-repot,"
"Aku tidak repot, Adisty!"
Adisty akhirnaya hanya tersenyum dan menerima kado dari Meghan. Orang yang sudah di kenalanya dengan baik selama tiga tahun ini.
"Jadi bagaimana, aku yakin kehidupan pernikahan kalian pasti sangat menyenangkan." komentar Meghan, Adisty bisa apa selain tersenyum?
Di mata orang-orang, penilaian mereka akan sama mengenai hubungan rumah tangga Adisty dengan Vinsen. Pernikahan yang sempurna antara dua penerus perusahaan besar. Namun, pada kenyataannya, semua tidaklah seindah apa yang mereka semua pikirkan. Setidaknya hal itu yang Adisty rasakan tanpa perlu merasa keberatan.
Hidup sudah begitu banyak memberinya kesempurnaan. Seperti menghadirkan Vinsen misalnya.
"Yah, tidak berbeda dengan kamu dan Mas Fajar."
Fajar adalah suami Meghan, seorang arsitek asal kota Bandung yang merantau ke Jakarta. Setahun tinggal di Jakarta, ia bertemu dengan Meghan dan mereka menikah setelah saling mengenal kurang lebih enam bulan.
Rumah tangga keduanya sudah berjalan dua tahun dengan sekarang.
"Yah, kehidupan rumah tangga setiap orang memang tidak akan sama."
"Seperti itu." Adisty melegut minumannya dengan pelan. Matanya mengedar pada ruangan lain yang terbatas oleh kaca.
Adisty mengernyit saat mendapati punggung seseorang yang dikenalinya duduk satu meja dengan seorang wanita. "Vinsen?" Adisty seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Tapi kemudian ia menepis pikiran tersebut saat mengingat jika bukan warna kemeja tersebut yang Vinsen kenakan saat akan pergi keluar
"Adisty," Meghan menyentuh lengan Adisty. Adisty menoleh.
"Ada apa?"
"Tidak ada, aku kira di suamiku, ternyata bukan." sahut Adisty dengan senyum tipis. Meghan hanya mengangguk setelahnya. Sedangkan Adisty juga kembali melegut minumannya. Matanya sesekali menoleh pada punggung pria tersebut yang sedang menggenggam tangan wanita di hadapannya.
Seperti Vinsen, tapi Adisty tidak bisa yakin begitu saja.
TBC
FYI : Karakter Adisty di sini memang tegar dan tenang. Karena Vinsen amat brengsek, jadi tokoh ceweknya gak usah mewek-mewekan, gak asik, kesannya lemah dan kalah. Wkwk.
And ini masih permulaan guys, nanti ada saatnya Adisty ketemu cowok yang baik sama dia. But, kalian harus sabar, yah. Alur ceritanya emang kaya gini:")
__ADS_1