
Adisty sedang menandatangani beberapa berkas yang sepuluh menit lalu baru saja di antarkan oleh Skretarisnya, Olive. Tak lama, pintu ruangannya terbuka dengan Olive yang muncul di sana. Wajahnya tampak meringis dan tidak enak dilihat. Membuat Adisty bangkit dari duduknya.
Ia perlahan melangkah menghampiri sang Skretaris, tapi kemunculan Vinsen yang tiba-tiba membuat langkah Adisty terhenti, ia bingung, dan tampaknya Vinsen pun demikian.
Adisty mengalihkan tatapannya pada Olive, Olive justru menggeleng,beberapa detik selanjutnya ia menganggukan kepala untuk berpamitan, keluar dan menutup pintu. Meninggalkan Adisty dengan Vinsen di sana.
Adisty kembali menatap Vinsen, tatapan pria itu sayu. Seperti bukan Vinsen yang ada di hadapannya. Tidak ada tatapan arogan seperti biasanya. Ujung bibir pria itu berdarah, Adisty tidak tau apa penyebabnya, dan tidak akan bertanya.
Ia melangkah, meneruskan tujuannya yang tadi sempat terhenti, lantas berbelok pada sebuah ruangan berpintu, sebuah kamar yang tersedia di ruangannya. Ia masuk, tak lama keluar dengan sebuah kotak P3K di tangannya.
Gestur tubuhnya menyuruh Vinsen untuk duduk meski hatinya tidak yakin Vinsen akan mau menurut.
Tapi jauh dari dugaan, pria itu duduk di hadapannya. Adisty mulai mengobati luka di ujung bibir pria tampan itu.
Sepuluh menit berjalan, keduanya bisu dalam keheningan. Bahkan Vinsen baru sadar, jika saat ini ia berada di kantor Adisty, dan orqlang yang mengobati lukanya adalah sang istri.
Sekaranag Vinsen mulai bertanya-tanya, alasan apa yang membawaanaya kemari dan bertemu dengan Adisty?
"Terima kasih."
Dari sekian banyak tanya di kepalanya, bibir Vinsen justru mengucapkan terimakasih setelah Adisty selesai mengobati lukanya. Adisty berdehem demi menetralisir rasa canggung yang berhasil Vinsen ciptakan.
Ia lantas mengangguk atas ucapan Vinsen. Beberapa detik selanjutnya, keduanya kembali terdiam di selimuti oleh rasa canggung.
Vinsen yang tidak tau harus melakukan apa akhirnya bangkit. Ia mulai melangkah, sampai panggilan Adisty menahannya saat pria itu sudah berada di depan pintu.
"Vinsen,"
Vinsen tak menoleh meski langkahnya terhenti, ia biarkan Adisty. "Di mobilku ada cctv."
Hanya kalimat sederhana yang keluar dari mulut Adisty. Tapi berhasil membuat Vinsen seolah berada di udara, kepalanya terasa ringan dan ia mendapati banyak tanya.
Benarkah?
Apa Adisty sudah melihatnya?
Melihat apa yang dilakukannya dengan. Isyana di daalam mobil wanita itu?
*
*
Sebut saja kesempatan kedua. Memang hal itulah yang Isyana dapatkan sehingga membuatnya terus berada di samping Vinsen. Beberapa hari ini berlalu terlalu cepat, dan Vinsen tidak dengannya siang ini.
Pria itu sedang mengecek proyek resort yang saat ini mulai di bangun, menyuruhnya untuk tetap berada di perusahaan dan berhasil menciptakan setiap detiknya hanya ada kebosanan bagi Isyana.
Sehingga wanita itu memilih untuk makan di luar. Kemudian takdir, mempertemukan ia dengan istri kekasihnya. Adisty mengajaknya bergabung untuk makan siang.
Entah perasaan Isyana saja atau memang Adisty adalah orang yang seperti itu. humble dan sangat mudah tersenyum. Ia juga bersikap baik pada Isyana, membuatanya justru tak nyaman mengingat betapa ia tega sudah bermain belakang dengan Vinsen tanpa sepengetahuannya.
"Kamu tinggal di mana?"
"Mm, tidak jauh Bu."
Adisty menaruh garpu dan tersenyum. "Jangan memanggilku ibu, sepertinya justru kamu sedikit lebih dewasa dariku."
"Aku kamu saja, biar kita nyaman." tutur Adisty yang membuat Isyana semakin canggung, tapi ia tidak memiliki pilihan lain kecuali mengangguk.
"Oh, yah. Saya boleh meminta tolong?" pertanyaan Adisty membuat Isyana menatapanya penuh ragu. Tapi wanita itu mengangguk, lantas bertanya.
"Minta tolong apa?"
"Mengawasi Vinsen."
Isyana membeku.
"Intensitas kebersamaan kamu dengannya sangat sering dan lama. Aku tidak bisa mengawasinya."
"Katakan padakau nanti, siapa saja orang yang bertemu dengan Vinsen. Dan siapa saja wanita yang bersama, atau dekat dengan Vinsen."
*
*
"Aku terlalu jahat Vinsen, aku tidak bisa terus menerus berakting di hadapan istrimu!"
Vinsen hanya diam mendengarkan ocehan Isyana. Vinsen tidak tau apa yang Adisty katakan pada Isyana. Yang paling pasti adalah, Adisty berhasil membuat perasaan Isyana padanya goyah.
"Jangan memikirkan apapun. Aku yang akan mengurus semuanya!"
Vinsen pergi, meninggalkan Isyana yang semakin bimbang dengan hubungan mereka. Ia sangat mencintai Vinsen, tapi ketika melihat Adisty. Ia merasa sudah merampas kebahagiaan wanita itu. Ia merasa tidak layak dibandingakan dengan Adisty untuk bersanding bersama Vinsen.
"Lantas, apa yang kamu lakukan?" Yerin menatap wanita di hadapannya bingung. Isyana menelponnya untuk datang ke sebuah restoran yang disebutkan Isyana, lima belas menit ia berada di sana, Isyana tak lagi berkata apapun setelah mengatakan semua masalahnya pada Yerin. Membuat Yerin bingung.
Wanita bersurai pendek itu menghela nafas. "Aku tidak tau harus bagaimana menolongmu."
"Aku mengantuk!"
Yerin mendesah kasar, ia bangkit dan menarik tangan Isyana untuk keluar dari sana. Berjalan bergandengan keluar dari restoran.
"Ayolah, di dunia ini pria bukan hanya Vinsen."
"Jangan membicarakan Vinsen. Aku merasa kepalaku sangat pusing."
Yerin akhirnya diam. Tidak ingin membuat Isyana kesal. Isyana menatap jauh sebelum masuk mobil, ia melangkah menuruni undakan tangga, tak sengaja terpelesat dan jatuh.
"Aww,"
Yerin yang berada di hadapan wanita itu berbalik. Dengan cepat menolong Isyana, bersamaan dengan seorang pria yang akan memasuki restoran.
"Kamu tidak papa?" Yerin bertanya khawatir. Isyana menggeleng. Yerin dan pria paruh baya itu membantu Isyana berdiri.
"Kamu tidak apa-apa nak?"
Isyana mendongak, menatap pria paruh baya itu yang tersenyum hangat. Ia justru terdiam menatapnya. Seperti ada kepingan kenangan tapi ia tak mengingatnya.
Yerin menyender Isyana agar wanita itu sadar dan menjawab pertanyaan pria yang menolongnya. "Tidak apa-apa, Pak. Terimakasih."
Pria paruh baya itu mengangguk, ia lantas permisi untuk memasuki restoran dengan diikuti dua orang bodyguardnya.
Isyana menatapnya sampai pria itu menghilang di balik pintu kaca.
"Ada apa? Kamu mengenalnya?"
"Tidak, mungkin hanya pernah bertemunya dalam mimpi."
"Hah?"
*
*
"Bulan madu?" Adisty dan Vinsen bertanya spontan dalam waktu bersamaan. Ia nendapat undangan dari Zyla untuk makan malam di rumah Dirgantara dan akan diberi hadiah.
Tapi rasanya dua orang itu tidak pernah mengharapkan apa yang saat ini baru saja di dengarnya sebagai hadiah dari Zyla. Para anggota keluarga di sana justru tampak setuju dan sangat berbinar.
__ADS_1
"Papa sudah mempunyai cucu dari Chandra, sekarang giliran dari kamu." sungguh kalimat Rean yang menyulut kebingungan.
"Pah, ini terlalu cepat!"
Tak ingin mendengarkan putrinya. Rean justru beralih pada Vinsen, menantunya. "Bagaimana Vinsen, kamu bisa?"
Vinsen berdehem, menoleh pada Adisty yang tetap bersikap tenang seperti biasanya. Tapi Vinsen dapat melihat sorot khawatir di mata wanita itu
"Vinsen?"
"Akan saya usahakan Pah."
*
*
"Bagaimana bisa hal itu terjadi?"
"Kamu tau sendiri, aku dengan Gerald tidak saling mencintai. Aku tidak ingin terjebak pernikahan tanpa cinta."
"Jadi—"
"Kamu dengan Gerald bekerja sama dan kamu membantu mantan calon suamimu itu untuk kabur ke Kanada, begitu?" sela Meghan dengan cepat.
"Yap, betul."
Wanita itu menggeleng, bingung dengan jalan pikir Adisty. Sementara Vinsen yang mendengar pembicaraan istrinya dengan kawannya itu hanya mematung.
Jadi, Gerald kabur meninggalkan Adisty sebelum hari pernikahan karena kesepakatan dua orang itu?
Bukan karena Gerald memandang rendah Adisty?
Vinsen menggeleng, menolak kalimat jahat yang sudah pernah ia lontarkan pada Adisty perihal Gerald yang meninggalkannya sebelum hari pernikahan.
*
*
Vinsen berjalan melajukan mobilnya tanpa tujuan. Akhir-akhir ini, ia merasa memikul beban berat di pundaknya. Perasaannya pada Adisty terasa semakin menjadi saat ia terus berusaha untuk menepisnya.
Kesalahpahaman dari masa lalu sekarang membuatnya penasaran akan apa kebenarannya. Adisty benar, Vinsen memang tidak mampu melawan pesona wanita itu.
Sedangkan di sisi lain, sebagian hatinya masihlah milik Isyana. Vinsen masih mencintai wanita itu dan tidak mengerti dengan perasaannya.
Ia sadar, dirinya tidak mungkin mencintai dua wanita dalam waktu bersamaan.
Mobil Vinsen berhenti pada sebuah restoran kenangan. Ia berdiam setelah membuka seatbelt. Helaan nafasnya terdengar berat, lantas ia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran.
Langkah kakinya justru mempertemukannya dengan Jerremy, tanpa di persilahkan, justru Vinsen duduk bergabung dengan orang yang sejak dulu selalu dihindarinya.
"Ada apa Vinsen? Sekarang, kamu mulai penasaran dengan apa yang terjadi tujuh tahun lalu?"
*
*
"Aku ingin perusahaan kita bekerja sama!"
Vinsen tersenyum tenang menanggapi tawaran kerja sama Marko, ah bukan tawaran, tapi paksaan kerjasama Marko. Pengusaha yang baru kembali merintis bisnis perusahaannya setelah ia baru saja keluar dari jeruji besi atas penggelapan dana perusahaan.
"Tidak bisa!" entah sudah berapa kali Vinsen menolaknya dengan cara baik-baik dan tegas.
Marko meremas berkas di tangannya. "Baiklah, kamu memang sedang mengibarkan bendera perang denganku!"
Sepertinya maksud dari perkataan terakhir Marko sebelum meninggalkannya adalah sebuah ancaman.
Vinsen baru saja mendapat kabar dari Olive jika Adisty diculik. Rean mengendalikan situasi dan mengerahkan semua anak buahnya untuk menemukan Adisty.
Chandra berhasil menemukan lokasi penyekapan Adisty. Tanpa berfikir panjang, bahkan sebelum berunding dengan Rean Vinsen meluncur begitu saja menuju lokasi.
"Chandra, kamu susul Vinsen, bawa anak buahmu. Jangan sampai terjadi apa-apa dengannya."
"Baik, Pah."
Tanpa memperdulikan luka ditubuh dan wajahnya setelah berhadapan dengan semua anak buah Marko, Vinsen berjalan menghampiri Adisty yang duduk terikat di atas kursi.
Penampilan wanita itu berantakan, ujung bibirnya yang berdarah membuat Vinsen sangat merasa bersalah. Vinsen bersimpuh di sana, menjatuhkan kepalanya di paha Adisty.
"Maafkan aku."
"Aku datang terlambat."
"Maafkan aku!" sesalnya. Adisty menggeleng pelan.
Vinsen mendongak, mempertemukan tatapannya dengan Adisty. "Mereka menyakitimu?" jari Vinsen menyentuh luka di ujung bibir Adisty.
Wanita itu menggeleng. Jauh di hatinya, ia bersyukur Vinsen datang menyelamatkaannya.
*
*
Sore hari di hari minggu yang cerah, Adisty baru saja menuruni anak tangga bersamaan dengan suara bel yang ditekan dari luar. "Vinsen, kenapa harus menekan bel?" monolognya. Berfikir jika itu adalah Vinsen yang baru saja pulang setelah pergi entah dari mana.
Adisty melangkah menuju pintu dan membukanya, ia tersenyum saat mendapati Farel, bukan Vinsen.
"Dalam rangka apa datang bertamu?" tanya Adisty, karena tidak biasanya Farel datang ke rumahnya, keduanya berjalan masuk. Adisty sengaja tidak menutup pintu.
"Mm, dalam rangka ..., ingin mengunjungimu." Farel tersenyum jenaka setelahnya. Adisty hanya menggeleng pelan.
Farel kemudian menyodorkan sebuah paper bag. "Tuan Wira menyuruhku datang ke rumahnya,"
Adisty mengerutkan kening meski ia tau hubungan baik Papa mertuanya dengan Farel ataupun Malik.
"Hanya mengajaku mengobrol biasa, lalu Tante Dian menitipkan ini untuk kamu dengan Vinsen."
Adisty mengangguk mengerti. Ia melihat isi paper bag, sebuah kue kering.
Farel mengedarkan pandangannya, melihat seisi rumah, mencari penghuni lain dalam rumah mewah itu. "Vinsen tidak ada di rumah?"
Adisty menatap pria itu, lantas mengangguk seraya mengangkat bahu. Vinsen memang sering datang dan pergi seenaknya.
"Kalau begitu aku pulang. Tidak enak jika Vinsen mendapati kita hanya berdua di sini."
"Kamu bahkan belum kusuguhkan minum."
"Tidak masalah, aku tidak merasa haus." tolak lembut Farel diiringi senyuman.
Adisty mengangguk, mengantarkan Farel ke depan seraya berbicara sesuatu hal, sesekali keduanya tertawa. Vinsen yang berada di ambang pintu hanya mengepalkan tangan.
Rasanya tidak enak di pandang saat ia mendapati Adisty yang tertawa bebas di sekitar Farel.
"Tidak baik tampak menyukai istri orang lain. Terutama istri temanmu sendiri."
*
__ADS_1
*
"Kamu tidak ingin membuatkanku makan?"
"Aku sering membuat makanan untukmu, tapi kamu tidak pernah mau memakannya."
"Saat ini aku sedang ingin makan masakanmu."
Tanpa berkata, Adisty berjalan ke arah dapur. Mengambil bahan makanan dari lemari pendingin dan mulai memenuhi keinginan Vinsen. Vinsen menyusul, mengambil apron dan memakaikannya pada Adisty.
Adisty hanya diam dengan perlakuan pria itu, dan yang selanjutnya Vinsen lakukan adalah memeluk Adisty, membuat gerakan tangan Adisty bergerak perlahan.
Vinsen menghela nafas, menaruh dagunya pada pundak Adisty. "Disty," untuk pertama kalinya Vinsen kembali memanggil Adisty dengan nama panggilan wanita itu.
"Aku mencintaimu, Adisty."
"Aku mencintaimu!"
*
*
"Aku hamil Vinsen."
"Hamil?"
Vinsen menggeleng pelan menerima sebuah testpack dari tangan Isyana. Ekspresi Vinsen membuat mata wanita itu berair.
"Kamu tidak senang?" ia berusaha tersenyum meski setetes air mata sudah berhasil jatuh membasahi pipinya.
"Kalau kamu tidak senang aku akan membuangnya. Kalau kamu menganggapnya beban, kami akan pergi—"
Isyana menggigit bibir bawahnya saat tiba-tiba saja Vinsen merengkuh tubuhnya, membawa ia ke dalam pelukan pria itu.
"Kalian bukan beban untukku, aku akan bertanggung jawab."
Pernikahan siri terjadi antara Vinsen dengan Isyana di tengah perasaan Vinsen yang sangat mencintai Adisty.
Tujuh bulan Adisty memendam semuanya sendiri setelah sekian lama mengetetahui hubungan antara Vinsen dengan Isyana.
Benda di tangannya menunjukan dua garis merah yang artinya positif. Ia sedang mengandung anak Vinsen. Adisty harus menuntut haknya sebagai istri sah Vinsen.
Pintu terbuka, tapi bukan ini yang Adisty harapkan setelah ia mengetahui alamat rumah Isyana yang baru. Untuk saat ini, Adisty masih sama tenangnya seperti biasa meski ia terkejut melihat keadaan Isyana yang tengah berbadan dua.
"Bisakah kamu meninggalkaan Vinsen untukku?"
Isyana menghalau air matanya, ia mengusap perut besarnya. "Sepertinya tidak bisa Adisty, maaf. Aku juga sangat membutuhkan Vinsen."
"Anak ini membutuhkan ayahnya. Kami membutuhkan Vinsen."
Sebuah harapan hancur. Cinta yang tak semestinya terjadi kini remuk beekeping-keping. Perasaan Adisty hancur bersamaan dengan gemuruh guntur di langit gelap ibu kota.
Ia meraba perutnya, bersama Vinsen dulu sangatlah sulit. Tapi ia rela bertahan demi cintanya. Hari ini, ia menyerah. Ia bisa membesarkan anaknya sendiri dan mereka bisa hidup tanpa Vinsen.
Adisty berjalan pelan dengan sebuah koper di tangannya, di tangannya yang lain adalah sebuah berkas perceraian yang sudah di tandatanganinya.
Ia membuka pintu ruang kerja Vinsen, pria itu mendongak. Terkejut melihat kedatangan Adisty. Tidak ada air mata yang berhasil jatuh dari sorot cerah itu.
"Sayang," Vinsen bangkit dari duduknya.
Adisty menghela nafas setelah sebelumnya berhasil tersenyum tipis. "Aku menyerah Vinsen. Kamu menang. Mari bercerai."
Vinsen menggeleng, menarik kertas dari tanflgan Adisty dan melemparnya ke meja.
"Apa yang kamu katakan?!"
"Aku akan menginap ke rumah Papah. Lupakan semuanya, Vinsen."
Vinsen menggeleng, semakin kuat. Tapi ia cukup mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Adisty melangkah mundur, Vinsen juga mengikuti. Kali ini, cairan bening itu meluncur begitu saja tanpa bisa Adisty cegah.
"Kamu tidak memiliki hak bahkan hanya dengan satu langkah mengejarku!"
*
*
Semalaman Vinsen tidak bisa tidur. Adisty menghilang tanpa jejak. Bahkan Rean dengan Zyla dan Chandra tidak menerima kehadiran Vinsen untuk sekedar bertanya di mana keberadaan Adisty.
Vinsen merasa hidupnya hancur. Tubuhnya luruh di lantai, sedangkan tangannya mencari sesuatu dalam laci di kamarnya dan Adisty barangkali Adisty meninggalkan jejak untuknya. Tapi yang justru Vinsen temukan bukan saja membuat hidupnya hancur, bahkan dunianya runtuh mendapati alat tes kehamilan dengan keterangan positif.
Ia baru saja kehilangan dua orang berharga dalam hidupnya. Dua orang sekaligus.
...Aku menyerah Vinsen. Berpisah, mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar setelah tidak ditemukannya penyelesaian dari masalah yang telah kamu perbuat....
...Adisty...
***
Holla gaess, ini bukan up yah. Ini adalah spoiler buat alur cerita ini ke depan. Setidaknya, kalian ada gambaran. Dan gak sampe di sini aja, ceritanya masih sangat panjang dan seru
Kalian yang always nuntut Adisty buat ninggalin Vinsen. Akan ada saatnya, tapi nggak cepet, semua butuh proses, tahapan dan kejelasan.
Aku nulis spoiler ini dengan tujuan kalian tau alur cerita. And, aku mau ngasih tau kalian, dengan berat hati. Maybe Mine tidak akan diteruskan.
Maaf, yah.
Aku tau saat kalian baca note ini kalian pasti sangat marah dan kecewa. Tapi aku membuat keputusan bukan tanpa pertimbangan.
Sejak lima bulan lalu, aku sudah diajak bergabung buat nulis di platform kuning. N-o-v-e-l-M-e. Aku sempet nulis di sana dengan publish My Eternal Enemy. Tapi karena mendadak kontrakku diterima di NT, jadilah tidak aku lanjutkan, dan saat itu aku enggak ada bahan buat ditulis.
Kesempatan kedua datang, aku gak mau sia-siain. Dan aku memutuskan untuk coba nulis di sana, N-o-v-e-l-M-e dengan memindahkan novel ini.
Asal kalian tau, bukan tanpa alasan juga aku akan mindahin novel ini. Kalian tau sendiri, semakin kesini kebijakan di NT sangat merugikan penulis. Terutama penulis kecil kaya aku.
Aku juga nggak tau gimana prediksi ke depan. Aku enggak berharap mendapat keuntungan besar saat nulis di sana. Tapi setidaknya, aku udah nyoba buat merambah ke platform lain, enggak cuma bertahan di sini.
Aku juga nggak berharap kalian mengikuti aku ke sana. Aku hanya mau kalian memaklumi pilihanku dan mendukung keputusanku. Karena sebelumnya pun aku sudah menyuguhkan beberapa novel gratis di sini.
Terimakasih untuk kalian yang masih setia bersamaku selama satu tahun ini sejak era Andreas Grrycia di My Handsome Teacher. Andai kalian tau, tidak saling mengenalpun, aku merasa kita akrab. Aku merasa kita seperti saudara. Aku merasa setiap dukungan kalian begitu berarti.
Membuat karya atau tidak lagi di sini. Aku akan memberikan pengumuman, baik melalui grup chat atau instagram aku.
Sekalian follow ig ku yah, haha. @eva_yuliaaan_04
Aku sayang kalian❤
Just Info
Kalau kalian pensaran sama cerita ini, aku akan mulai post di sana, N-o-v-e-l-M-e, Januari tahun depan. Dengan judul yang tetap sama MAYBE MINE. Yang pasti, cerita ini akan sangat seru dan menarik.
Salam hangat.
Eva Yulian.
I Love U
__ADS_1