Maybe Mine

Maybe Mine
Dalam Dekapan Vinsen


__ADS_3

"Tidakkah kamu menghargai perasaan istrimu?"


"Akan sangat memalukan jika anggota keluarga lain mengetahui hal ini."


"Pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Adisty sampai kamu merasa layak mengkhianatinya!?"


Vinsen menggeram mengingatnya. Kepalanya seperti ditusuk ribuan jarum. Itulah alasan mengapa ia buru-buru mengajak Adisty pulang dari rumah Wira.


Dan sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi mengenai Adisty. Apa kekurangan wanita itu? Tidak, Adisty tidak memiliki kekurangan apapun


Dia nyaris sempurna sebagai seorang istri. Melayani suaminya dengan baik. Hanya saja, Vinsen yang memang egois begitu mengingat dua kesalahan terbesar Adisty padanya.


Pertama, Adisty yang dulu berselingkuh darinya. Kedua, Adisty yang tiba-tiba kembali dalam kehidupannya dan memaksa Vinsen untuk menikah dengannya.


Mati-matian selama ini Vinsen berusaha untuk tidak lagi memikirkan Adisty. Sampai lima tahun setelahnya, ia dipertemukan dengan Isyana, wanita yang sudah memberikan ia segalanya. Cinta, kasih sayang, ketulusan dan kepuasan.


Namun beribu sayang, saat tiba-tiba saja Adisty hadir dan merusak semuanya. Vinsen benci sebuah pengkhianatan, Vinsen benci dengan kehadiran seseorang dari masa lalunya.


Kemudian, siapa yang memberitahu Wira bahwa ia selalu pulang larut malam jika bukan Adisty? Vinsen tau Adisty tidak bisa menghentikannya, itulah yang membuat Adisty mengadu pada Wira agar Wira yang mengurusnya. Vinsen yakin dengan hal itu.


Vinsen menoleh sebentar pada Adisty yang hanya menatap kaca jendela mobil. Dengan pasti, Vinsen mengurangi laju kecepatan mobil, ia mulai menepi dan membangkitkan keheranana pada diri Adisty


"Ada apa?"


"Kamu mengadu pada Papa?" tanya Vinsen dengan tidak sabaran.


Adisty mengernyit. Ia tidak dapat mencerna dengan baik apa yang baru saja Vinsen tanyakan.


"Kamu mengadu pada Papa jika aku selalu pulang larut malam. Begitu?" Vinsen membentak. Ia mulai kehilangan kesabaran.


"Apa maksud kamu? Aku tidak melakukannya,"


Vinsen tersenyum. Ia sudah salah bertanya, memang orang gila mana yang akan mengaku jika ia melempar pertanyaaan untuk memberikannya jawaban jujur.


"Turun!" perintah Vinsen tanpa mau menatap Adisty. Ia tidak bisa berlama-lama dengan Adisty di dalam mobil yang sama.


Adisty semakin tidak percaya dengan satu kata yang Vinsen utarakan padanya. "Kamu bercanda, 'kan,Vin?"


"Apa aku terlihat bercanda, Jea?" Vinsen menyeringai dengan raut menyeramkan, tapi amat menyebalkan di mata Adisty.


Adisty mendesah, ia mengguyur rambutnya ke belakang. Vinsen dengan kasar membuka seatbelt yang terpasang ditubuh Adisty.


"Keluar!" suruhnya tanpa perasaan.


Sebisa mungkin Adisty mengatur deru nafasnya yang tak beraturan karena hawa marah. Bahkan orang gila saja tidak mungkin keluar saat cuaca sedang seperti ini.


Adisty membuka pintu mobil. Vinsen benar-benar serius mengeluarkannya dari mobil. Bahkan tanpa berpikir panjang, setelah Adisty turun, ia melajukan mobilnya. Tanpa ragu meninggalkan Adisty di jalanan sepi dengan kondisi hujan yang masih enggan untuk berhenti.


Vinsen menoleh pada kursi di sampingnya yang kini tampak kosong. Orang yang mendudukinya baru saja ia usir karena keegoisannya.


Vinsen tidak mengerti alasannya, ia juga tidak memahami perasaannya. Padahal di masa lalu, Vinsen yang memutuskan Adisty, ia yang memilih mengakhiri meski semuanya diawali dengan pengkhianatan Adisty.


Vinsen tau, ia benar-benar sudah menjadi seorang bajingaan dengan meninggalkan istrinya sendiri di tengaj jalan, jalanan sepi dengan curah hujan yang masih tinggi.


Tiba-tiba saja Vinsen merasa kepalanya pusing. Bayangan dari masa lalu tentang ia dan Adisty bersarang di kepalanya. Saat itu mereka sedang berada di sebuah halte dekat sekolah, menunggu hujan reda untuk segera pulang ke rumah.


Adisty duduk dengan manisnya, sementara Vinsen mulai berjalan menembus hujan. "Kita hujan-hujanan, saja."


"Tidak bisa, Vinsen."

__ADS_1


"Ayolah, ini menyenangkan. Aku akan menjaga kamu,"


Adisty melangkah mendekat, Vinsen dengan seragam putih abu dan balutan jaket bomber berwarna biru gelap mengulurkan tangan pada sang pacar yang seorang adik kelasnya.


"Ini menyenangkan, percayalah."


"Tidak bisa. Aku tidak bisa bermain hujan, aku akan sakit, Vinsen."


Dengan spontan Vinsen menghentikan mobilnya. Ia turun dari mobil, menerobos hujan. Akan adil jika ia juga basah, sama seperti Adisty.


Vinsen berjalan, setengah berlari ke tempat di mana tadi ia menurunkan Adisty. Ia tidak ingin membahayakan nyawa Adisty. Entahlah di hatinya masih ada cinta atau tidak. Yang pasti, saat ini ia harus mendatangi Adisty.


Sedangkan itu, Adisty hanya berjalan dengan langkah pelan menyusuri jalan. Ia tidak memiliki minat untuk menaiki kendaraan, apapun itu. Sekalipun ada taksi, ia tidak akan menghentikannya. Ia ingin melihat, apakah Vinsen sampai hati benar-benar meninggalkannya.


Meski mungkin, menunggu Vinsen untuk kembali hanya akan menjadi akhir yang sia-sia baginya.


Tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, beberapa orang tampak berdiri di sebuah teras toko menunggu hujan reda agar bisa pulang ke rumah dan segera beristirahat.


Adisty berjalan ke arah toko, ikut berdiri di sana. Karena sangat tidak mungkin untuk ia sampai di rumah dengan berjalan kaki. Ia mendesah melihat hujan yanh masih saja turun dengan deras.


Adisty mulai kedinginan dan berjongkok. memeluk lututnya sampai sepasang sepatu berhenti di hadapannya. Adisty mendongak, ia melihat Vinsen yang basah kuyup dengan deruan nafas yang tidak beraturan.


"Ayo pulang." ajaknya sembari menarik tangan Adisty. Jauh dalam hati Vinsen, ia merasa senang sudah menemukan Adisty.


Adisty senang melihat Vinsen kembali, tapi hatinya marah mengingat betapa tega Vinsen menurunkannya tadi dan membiarkan air hujan membasahinya.


"Tidak mau!" tolak Adisty. Menarik tangannya kembali. Keduanya mulai menjadi pusat perhatian beberapa orang yang berteduh di sana


"Pulang!"


"Tidak mau!"


"Mas, jangan kasar dong!" seorang pria muda.bersiap mendekat.


"Dia istri saya, Mas." kalimat Vinsen menghentikan langkah pria muda itu. Orang-orang di sana juga tampak mengerti. Urusan rumah tangga, mereka tidak bisa ikut campur.


Dengan sangat terpaksa, Adisty bangkit. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Vinsen. Vinsen mengikuti di belakangnya sambil melepas jas yang ia kenakan. Ia menyampirkannya di tubuh Adisty.


"Tidak perlu bergalak seolah kamu perduli padaku. Aku tidak membutuhkannya." Adisty melepas jas tersebut dan melemparnya pada Vinsen.


"Aku tidak perduli, Jea. Aku hanya ikut menjaga harga diri istriku." Adisty mengernyit, ia mengusap wajah basahnya.


"Biar kuberitahu satu hal, kamu tampak transparan sekarang!" bisiknya dengan pelan. Adisty memalingkan wajah. Kemeja putihnya yang saat ini basah memang memperlihatkan kaos dalam Adisty yang berwarna hitam. Entah Vinsen sadar atau tidak, yang pasti, bibirnya menyunggingkan sebuah Senyum melihat tingkah Adisty. Ia kembali menyampirkan jasnya ditubuh Adisty dan berlalu lebih dulu meninggalkan wanita itu.


Adisty hanya menatap jas Vinsen yang seolah mendekap tubuhnya. Ia berdecak. "Lagu lama!"


*


*


"Astaga, Nyonya, Tuan ada apa?" Bibi tampak terkejut melihat kedatangan dua majikannya dengan keadaan basah kuyup.


"Tidak papa, Bi. Bibi lanjutkan tidur saja. Saya dengan Nyonya Jea akan segera ke kamar."


"Ba—Baik, Tuan."


Bibi hanya terdiam, menatap majikan lelakinya yang menggandeng majikan perempuannya. Ia baru saja menyaksikan pemandangan tak biasa selama satu bulan bekerja di rumah ini.


Bahkan ia seringkali disuruh untuk menutup mulut oleh Adisty agar apa yang terjadi di rumah ini tidak sampai bocor kepada Zyla.

__ADS_1


Bibi tersadar dan segera kembali ke tempatnya. Cuaca sangat mendukung untuk bergulung di bawah selimut tebal.


Sementara itu. Di kamar utama, yaitu kamar Vinsen dengan Adisty. Keduanya berada di kamar mandi. Vinsen sibuk mengatur air hangat untuk mandi Adisty, sementara Adisty hanya berdiri di sana.


Setelah selesai, Vinsen menoleh. "Mandilah," suruhnya sambil berkacak pinggang. Adisty menatapnya dengan kesal. "Ada apa?" pria itu bertanya dan melipat tangannya di dada.


"Aku akan mandi!"


"Iya, aku tau."


"Dan aku tidak akan mandi kalau kamu tetap berdiri di sana!"


Vinsen menatap Adisty sekilas, kemudian melenggang begitu saja keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Adisty yang setelah itu buru-buru merendam tubuhnya pada bathub yang sudah Vinsen isi dengan air hangat.


Dengan tubuh yang dipenuhi busa, Adisty mengusap lengannya dengan pelan. Sementara bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Sekalipun Vinsen melakukan hal ini karena merasa bersalah, Adsty tetap merasa senang. Perhatian kecil Vinsen jelas terlihat di mata Adisty.


Waktu menunjukan sekitar pukul sebelas malam. Artinya satu jam sudah terlewat sejak keduanya pulang dari rumah Wira. Mata Adisty begitu sulit terpejam, ia masih merasa kedinginan karena kehujanan malam-malam.


Vinsen yang menempatkan diri pada sofa diujung tempat tidur juga tampak sulit memejamkan mata. Ia juga tau jika Adisty tidak bisa tidur. Pergerakan dari wanita itu jelas terdengar olehnya.


"Jea,"


"Hmm." Adisty cukup merasa terkejut, ia mengira jika Vinsen sudah tertidur sejak lama. Dia mengigau?


"Kemarilah!"


Adisty mengernyitkan dahi. Ia mendudukan diri dan menatap punggung sofa tempat di mana Vinsen berada.


"Jea." Vinsen memanggil sekali lagi dan bangkit. Seketika tatapan matanya segera bertemu dengan Adisty yang sejak tadi memperhatikannya. Wanita itu juga sedikit terkejut melihat Vinsen.


Pria itu selalu tiba-tiba dalam segala hal. Tiba-tiba sudah berada di samping Adisty. Tiba-tiba baik dan perhatian, dan mungkin besok. Dia juga akan tiba-tiba menjadi Vinsen seperti biasanya. Vinsen yang dingin, tidak berperasaan dan sangat membenci kehadirannya.


"Jea,"


"Ada apa?"


"Kemarilah!"


"Kenapa tidak kamu saja yang kemari?!" Adisty memilih untuk jual mahal meski ia tidak tau dengan apa yang akan dilakukan Vinsen.


Adisty kembali berbaring, tidur menyamping dengan selimut yang membalut seluruh tubuhnya. Sampai pergerakan dari sedeorang membuatnya urung menutup mata. Vinsen berada di belakangnya, mungkin ia akan tidur di atas ranjang yang sama dengan Adisty malam ini.


Vinesen memang sengaja pindah, entah ada apa dengan hatinya. Yang pasti, sekarang tubuhnya sudah sangat menempel dengan tubuh Adisty. Dan tangannya sudah terulur mendekap tubuh Adisty.


Membuat Adisty hanya terdiam dalam dekapan hangat Vinsen yang membuatnya nyaman.


"Vinsen,"


"Tidurlah. Aku tidak suka kamu banyak berbicara!"


Adisty melepas tangan Vinsen yang memeluknya. Lantas ia berbalik dan berhadapan langsung dengan wajah Vinsen.


Cukup lama keduanya hanya mampu bernafas dan saling menatap dalam cahaya temaram. "Apa yang sedang kamu coba lakukan Vinsen?!"


"Memangnya apa?"


"Kamu tidak perlu berfikir macam-macam. Apa yang aku lakukan malam ini. Besok, kamu hanya harus melupakannya." ungkap Vinsen tanpa bisa dibantah. Ia kembali mendekap Adisty, membuat wanita itu hanya pasrah.


Sesuai dengan apa yang Vinsen katakan. Mungkin besok, Adisty harus melupakannya. Tapi sekarang, ia hanya perlu menikmatinya. Menikmati dekapan Vinsen yang menghangatkan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2