
Kejadian di Rumah Sakit ketika Adisty jatuh sakit cukup mengganggu pikiran Zyla sebagai ibu. Bukan alasan Adisty sakit, tetapi Vinsen yang tidak ada di sana saat Adisty membutuhkannya.
Jujur, pikiran Zyla terganggu tentang hal itu. Meski Adisty sudah berkata jika Vinsen pergi karena ada urusan, tetap saja, Zyla merasa hal itu sangat tidak wajar. Justru Jerremy yang mengantarkan Adisty ke Rumah Sakit, bukan Vinsen.
Zyla tau, pernikahan keduanya terjadi atas kesepakatan dan keuntungan yang diperoleh masing-masing keluarga. Tapi Zyla tidak terima, jika putrinya sampai diperlakukan tidak adil oleh Vinsen.
Terlebih lagi, tadi pagi Adisty menolak untuk memberitahukan Vinsen jika ia sudah pulang dari Rumah Sakit.
"Ma,"
Zyla tersadar dari lamunannya begitu tangan Rean menyentuh bahunya. Ia mengembuskan nafasnya dan membuat Rean mengerutkan kening.
"Ada apa, Ma?" Rean duduk di samping sang istri.
"Pah, apa Papa tidak merasa janggal dengan hubungan Disty dan Vinsen?" Zyla harus mengutarakan hal ini pada Rean.
"Maksud Mama?"
"Apa keputusan Papa untuk menyerahkan Adisty pada Vinsen sudah benar?"
Rean terdiam, ia semakin tidak mengerti. Setelah keduanya menikah, baik Vinsen maupun Adisty tidak pernah mengeluhkan pernikahan mereka. Dan Rean merasa jika mereka baik-baik saja dengan hal itu.
"Mama merasa mereka tidak saling mencintai."
Rean menyentuh tangan sang istri. Wajah Zyla tampak khawatir, padahal sejauh ini, Zyla selalu ceria dengan beberapa cerita Adisty tentang keharmonisan rumah tangganya dengan Vinsen.
"Ma, mereka, 'kan baru saja menikah. Mereka masih butuh banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain."
"Tapi Mama merasa Disty tidak bahagia, Pah."
"Belum, Ma."
"Bagaimana kalau ternyata Vinsen sering menyakiti Disty. Perasaan Mama tidak tenang, Pah." Zyla semakin cemas mengingatnya.
"Papa sudah pernah berbicara dengan Vinsen, Ma. Vinsen sudah berjanji akan menjaga dan membahagiakan Adisty untuk kita."
Zyla menghela nafas. Rean menarik perempuan itu dalam pelukannya. "Tidak papa, Mah. Papa merasa Adisty mencintai Vinsen. Cepat atau lambat keduanya akan saling mencintai, hanya tinggal menunggu waktu saja."
Zyla mengangguk samar, berharap apa yang dikatakan suaminya adalah sebuah kebenaran. Semua orang tua pasti menginginkan putri mereka bahagia.
*
*
Jam makan siang sudah berlangsung sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi Adisty belum beranjak dari posisinya. Kacamata anti radiasi yang selalu dikenakannya saat bekerja dengan setia bertengger manis dibalik mata bulatnya.
Tangannya sibuk menggulir mouse, bahkan saat pintu ruangannya diketuk, ia tidak menoleh sedikitpun dan hanya berseru. "Masuk,"
"Bu—" Olive menjeda kalimatnya saat Adisty begitu fokus pada layar monitor di hadapannya. "Ada apa?" wanita itu bertanya tanpa berpaling dari layar monitor.
"Lima menit lagi, kita akan bertemu klien di luar."
"Kenapa lima menit lagi, kita bisa berangkat sekarang." Adisty melepas kacamatanya dan merapihkan blazer yang ia kenakan. Ia lantas bangkit, membuat Olive merada tidak enak karena sudah mengganggu kegiatan atasannya. Tapi akan lebih fatal lagi jika ia tidak mengingatakan agenda kegiatan Adisty hari ini.
"Kita berangkat sekarang," Adisty melangkah ke arah pintu keluar setelah mematikan komputer. Olive yang sudah membawa beberapa berkas di tangannya mengangguk, ia mengikuti langkah anggun Adisty menuju lift untuk langsung ke basemant.
__ADS_1
Setelah pagi tadi bercerita mengenai beban rumah tangga yang ditanggungnya, tampaknya perasaan Adisty menjadi lebih baik. Faktanya, meski Adisty selalu mampu bersikap tenang, ia tetaplah seorang wanita yang memiliki perasaan yang lembut dan mudah tersakiti.
Sekarang Olive cukup mengerti. Dan ia hanya bisa prihatin dengan nasib atasannya tersebut.
"Saya lupa, bagaimana kerjasama kita dengan perusahaan Pak Jerremy?"
"Kapan dia kembali ke Indo?" tanya Adisty saat mereka sudah berada di dalam mobil. Sopir perusahaan yang mengemudikan mobil mulai melaju meninggalkan basemant perusahaan Dirgantara.
Olive tampak mengecek sebuah iPad di tangannya untuk menjawab pertanyaan Adisty tadi. "Seperti biasanya, Pak Jerremy memang rekan yang tepat. Saat Ibu di Rumah Sakit, dia melakukan pertemuan dengan Pak Chandra di kantin utama perusahaan."
"Dia kembali ke Indo tepat satu minggu setelah pernikahan Ibu Adisty dengan Vinsen."
Adisty berdecih. " Dia seperti buronan, perlu melakukan jebakan untuk bertemu dengannya."
Olive terkekeh mendengar gerutuan sang atasan. Yang ia tau sejauh ini, Adisty dengan Jerremy memang memiliki hubungan yang cukup baik sebagai rekan kerja, maupun teman masa remaja.
"Apa yang mereka bicarakan?" maksudnya adalah Chandra dengan Jerremy.
"Saya tidak yakin. Sepertinya urusan pribadi."
Adisty hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Tak lama, mobil berhenti di sebuah restoran yang membuat Adisty justru merenung alih-alih turun, padahal sopir sudah membukakan pintu untuknya.
"Ow, sepertinya aku yang terjebak." decak Adisty. Olive tersenyum. "Pak Jerremy memang meminta pertemuan ini bersifat pribadi, maaf Bu."
Adisty mengangguk. "Tidak masalah, sepertinya Pak Jerremy memiliki hal penting untuk disampaikan."
"Saya akan menunggu di sini."
"Ibu bisa menghubungi saya jika ada sesuatu."
"Baiklah."
Setelahnya, Adisty menjadi sering berkunjung kemari dengan Jerremy, setelah mereka dewasa dan menekuni dunia kerja serta memiliki sebuah kerja sama. Adisty dengan Jerremy sering bertemu di restoran ini untuk membahas pekerjaan.
Tidak banyak yang berubah dari restoran bergaya prancis tersebut, bedanya, sekarang Adisty sudah sangat dewasa, dan ia sudah tidak menyukai Foie Gras lagi.
Langkah kaki Adisty memelan begitu ia mendapati Jerremy pada meja nomor sepuluh. Tidak, bukan Jerremy yang membuat langkah Adisty memelan, tapi Vinsen, dan seorang wanita yang duduk di sampingnya.
Adisty mengerjapkan matanya, mengusir seribu pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Ia tidak perlu penasaran, sebentar lagi ia akan mengetahui siapa wanita yang bersama dengan Vinsen.
Sedangkan Gerry dengan setia berdiri di belakang Vinsen. Adisty dengan senyum elegan dan gaya menawannya menghampiri meja mereka.
"Waw, sepertinya aku tidak mengetahui jika Pak Vinsen akan ada di sini." sahut Adisty yang membuat empat orang yang berada di sana menoleh.
Adisty tersrnyum tanpa canggung. Berbeda dengan Vinsen yang tampak merasa terpojok dan terjebak berada di sana.
"Ohh, Ibu Adisty, silakan duduk." Jerremy menyambut Adisty dengan sangat baik.
"Tidak perlu begitu formal, aku tau ini pertemuan pribadi. Ada yang ingin dibicarakan?" tanya Adisty dengan santai. Jerremy mengangguk-anggukan kepalanya dengan kedua sudut bibir yang terangkat.
Sedangkan Vinsen? Ia tidak tau dengan apa yang terjadi. Tetapi yang paling pasti, ia merasa kepalanya mendidih melihat bagaimana santai dan ramahnya sikap Adisty pada Jerremy. Sangat berbeda dengan bagaimana Adisty memperlakukannya dengan sikap dingin dan arogannya.
"Oh, aku mengajak Vinsen, kebetulan dia juga sedang makan siang di sini. Jadi, aku mengajaknya bergabung, tidak papa?"
"Tidak masalah. Sepertinya Vinsen juga baru saja bertemu dengan kliennya. Bukan begitu Vinsen?"
__ADS_1
Vinsen tersenyum. "Tidak sama sekali. Aku hanya sengaja makan siang di sini," jawab Vinsen dengan sarkas. Gerry di belakangnya meringis, sementara Adisty hanya tersenyum seperti biasanya.
"Dan—" mata Adisty mengarah pada wanita di samping Vinsen yang sejak tadi hanya terdiam. Vinsen menoleh ke arah pandang Adisty, tak terkecuali Jerremy yang melakukan hal yang sama.
"Dia, Isyana."
"Asisten Pribadiku." Vinsen memperkenalkan.
Adisty mengangguk. "Asisten Pribadimu sepertinya istimewa."
"Oh, tidak, Bu. Saya hanya Asisten Pribadi biasa."
"Saya tau." Adisty tersenyum dengan sedikit ringisan. Membuat Isyana terlihat serba-salah di tempatnya, atau Adisty memang sengaja membuatnya agar seperti itu.
Vinsen hanya menatap Adisty tidak suka. Jerremy yang merasa situasi tampak canggung lantas buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Oh, yah, aku belum memberikan ucapan selamat atas pernikahan kalian."
"Kita tidak seakrab itu untuk menyesali hal kurang penting!" Vinsen berkata pelan. Adisty menoleh sebentar. Kemudian beralih pada Jerremy.
"Tidak masalah. Ku dengar kamu sudah pulang sejak satu bulan lalu. Kenapa tidak memberi kabar?" ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Memberi kabar?" spontan Vinsen berkata dengan keras seolah tidak terima jika pada kenyataannya Adisty menunggu kabar dari Jerremy.
Spontanitas Vinsen tampak menarik perhatian beberapa orang dari meja lain yang dekat dengan meja mereka. Tak terkecuali Adisty, Gerry, Jerremy serta Isyana di sana.
Jerremy mendehem kala situasi menjadi canggung. Sedangkan wajah Vinsen tampak frustrasi. "Ternyata meninggalkan perusahaan cukup lama membuatku sibuk saat kembali, Disty."
Disty? Ah, Vinsen semakin murka mendengarnya. Perubahan ekpresi pria itu tidaak luput dari perhatian sang kekasih yang berada di sampingnya.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku saat di Rumah Sakit."
"Tidak masalah, aku sudah terbiasa dengan hal itu."
Terbiasa? Adisty tau Jerremy yang menyelamatkannya? Oh, damn! Kesabaran Vinsen semakin menipis.
Setelah basa-basi yang membuat darah Vinsen mendidih. Mereka mulai memesan makan, tak lama menunggu. Seorang pramusaji membawakan pesanan mereka.
"Gerry, kamu tidak ikut makan?" tanya Adisty pada skretaris sang suami.
"Tidak Bu, saya sudah makan di kantin perusahaan sebelum kemari."
Adisty mengangguk, lantas ia makan dengan yang lain. Dan juga Vinsen yang terlihat sangat tidak nyaman.
Makan siang berjalan dengan sedikit canggung. Baik Vinsen maupun Isyana tampak kehilangan selera makannya. Isyana tampak sudah menikmati hidangan penutup.
Adisty juga sudah menyelesaikan makannya. Membuat Jerremy menggeser sebuah dessert padanya. Vinsen memperhatikan dan segera menyingkirkannya. "Singkirkan! Jea tidak suka dessert," sahutnya yang membuat Jerremy dan Adisty bertukar pandang.
Sesaat keadaan di meja mereka menjadi hening. "Ow, aku lupa. Maaf,"
"Sepertinya, tujuh tahun berlalu Vinsen masih mengingat banyak tentangmu, Disty. Kalian pasangan yang luar biasa."
"Maaf, saya permisi ke toilet sebentar." lsyana beranjak. Vinsen menatap wanita itu yang berjalan ke arah toilet.
Adisty terkekeh, Vinsen menoleh. "Vinsen, apa kamu tidak merasa jika hal ini terlalu berlebihan?" tanyanya. Vinsen hanya mengembuskan nafas kesal, ia menyandarkan punggung, menatap ke arah di mana tadi Isyana pergi.
__ADS_1
Sedangkan Adisty memilih untuk tidak perduli. Apa yang dilakukan Vinsen memang cukup berlebihan. Meski tak ayal membuat perasaannya tak karuan.
TBC