Maybe Mine

Maybe Mine
Yang Paling Dirugikan


__ADS_3

Beberapa hari ini, Adisty sudah kembali ke perusahaan. Kakinya sudah pulih dan ia sudah melakukan segala pekerjaan rumah yang beberapa hari lalu terpaksa dikerjakan oleh Vinsen. Termasuk memasak untuk Vinsen meski pria itu sangat jarang menyentuh makanan buatannya, bahkan nyaris tidak pernah.


Mobil Vinsen juga sudah diantarkan ke rumah setelah di perbaiki, sehingga ia tidak perlu lagi memakai mobil Adisty. "Tidak sarapan?" tanya Adisty saat Vinsen berlalu begitu saja melewati meja makan. Berjalan pelan sambil membenarkan letak arloji di pergelangan tangan kanannya.


"Aku terlambat." ia menyahut sambil terus berjalan.


"Ini masih sangat pagi." Adisty kembali bersuara disela-sela mengunyah makanannya.


Vinsen menghentikan langkah, ia menoleh malas. "Aku bisa sarapan di kantor, kamu tidak perlu terlalu khawatir." pria itu melanjutkan langkahnya. Adisty hanya tersenyum melepas kepergian Vinsen. Ia melihat hidangan buatannya yang tersaji di meja makan.


Vinsen tidak pernah menginginkan sarapan roti atau pun nasi goreng yang dapat dibuat dengan mudah oleh Adisty. Membuat Adisty harus bangun sangat pagi demi membuatkannya makanan dengan beberapa lauk kesukaannya.


Tapi sayang, sepertinya hari ini pun Adisty harus kembali membawa makanan itu ke kantor untuk beberapa karyawannya daipada membiarkannya mubazir di rumah, karena Vinsen tidak akan menyentuhnya.


Vinsen berjalan tergesa menuju ruangan CEO saat Gerry memberinya kabar jika Wira datang ke perusahaan. Ruangan yang ditujunya adalah ruangan Vinsen, sementara orang yang dicarinya adalah Asisten Pribadi Vinsen, Isyana.


Sapaan dari para karyawan yang dilewatinya Vinsen abaikan, tatapan heran mereka semakin menjadi melihat langkah cepat Vinsen. Sebelumnya pun, kunjungan mendadak Komisaris membuat mereka bertanya-tanya dengan apa yang sedang terjadi.


Vinsen tau, cepat atau lambat Wira akan mengetahui hal ini, tapi temponya tidak secepat sekarang dan membuatnya kalang-kabut. Ia belum menemukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Wira, justru Wira dengan cepat sudah mengetahui apa yang masih coba Vinsen sembunyikan.


"Apa perlu, saya bertindak tegas agar kamu mau meninggalkan Vinsen?" Wira sudah muak pada wanita di hadapannya.


Sedangkan Isyana sendiri, ia hanya diam dan menunduk. Sama seperti saat ia berhadapan dengan Malik. Dan untuk kali ini, bahkan ia harus berhadapan dengan dua orang menyeramkan itu. Malik dengan setia berdiri di belakang Wira.


Pria itu tidak melakukan apapun, tapi hanya dengan kehadirannya saja mampu membuat pasokan oksigen disekitar Isyana seolah habis tak tersisa. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali hanya memilin jari-jari tangannya yang sudah memerah.


"Saya tau kamu tidak sepenuhnya bersalah. Yang bersalah itu adalah Vinsen. Vinsen yang tetap mempertahankan kamu, begitu?" nada bicara Wira sangat tenang yang justru begitu menikam.

__ADS_1


"Vinsen yang bersalah bukan? Jadi biarkan anak itu mendapat hukuman."


"Tidak, Pak!" spontan Isyana membuka bibirnya yang sejak tadi terkatup rapat.


"Vinsen tidak bersalah?"


"Jadi siapa yang bersalah? Saya? Adisty? Perusahaan ini? Atau—"


"Saya yang bersalah, Pak! Saya." Isyana memejamkan matanya, berusaha keras menahan laju air matanya yang mungkin akan jatuh dengan deras. Isyana tidak boleh membiarkannya. Ia harus terlihat kuat, ia memang pantas ditindas, tapi harga dirinya tetap harus ia lindungi.


Isyana menggigit bibir bawahnya, apa yang akan ia katakan memanglah sulit, dan ia harus siap jika memang Wira ingin mendengar hal ini. "Saya akan meninggalkan Vinsen."


"Tidak ada yang mengizinkan!"


Tatapan tiga orang itu mengarah pada Vinsen yang baru saja muncul dari ambang pintu. Gerry segera menutup pintu agar karyawan lain tidak melihat keributan yang sedang terjadi.


Vinsen melangkah mendekat pada Wira yang duduk pada single sofa di ruangannya. Wira bangkit dari duduknya.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu, Pah. Papa sudah merusak semuanya dengan menikahkan aku dan Adisty, sekarang apalagi?!"


Plak!


Satu tamparan mendarat dengan sangat keras di pipi Vinsen. Isyana menutup mulutnya tidak percaya. Vinsen memegangi pipinya yang perih, ia kembali menatap sang papa bahkan tak perduli dengan sudut bibirnya yang berdarah.


"Keluarlah," Vinsen menoleh pada Isyana, wanita itu tak bergeming. Vinsen menggerakan kepalanya ke arah pintu keluar.


"Minta Gerry untuk mengantarkan kamu pulang."

__ADS_1


Tatapan Vinsen sangat memohon, mau tak mau membuat Isyana perlahan melangkah dengan berat, meninggalkan Vinsen yang saat ini sedang dalam bahaya.


Isyana membuka pintu perlahan setelah menghapus air matanya agar tidak mengundang banyak tanya para karyawan perusahaan.


"Apa yang terjadi di dalam?" Gerry langsung menyerbunya dengan pertanyaan, meski kurang lebih ia sudah menduga peemasalah yang sedang diributkan.


Isyana menolak bersuara, ia hanya berjalan meninggalkan lantai ruangan Vinsen. Gerry mengikutinya, ia mengerti situasia dan akan mengantarkan Isyana pulang.


Setelah menebar senyum palsunya saat membalas sapaan para karyawan yang ia lalui, Isyana menyeka air matanya yang tiba-tiba saja jatuh tanpa henti. Ia meninggalkan Gerry, membuatnya harus menunggu pria itu atau Vinsen akan marah jika mengetahui ia tidak mendengarkan perintah Vinsen untuk pulang dengan Gerry.


Dalam hidup Vinsen, barangkali Isyana hanyalah pengacau. Benalu bagi masa depan pria itu, meski Vinsen tak menganggapnya demikian. Pada kenyataannya, itulah yang Isyana rasakan dan orang-orang di sekitar Vinsen pikirkan.


Sebuah sapu tangan terjulur di hadapan Isyana, membuat wanita itu menghentikan tangannya yang akan menyeka air mata. Ia menoleh, mendapati ketampanan seorang Manejer HRD di hadapannya yang menaikan alis, gestur tubuh yang menyuruhnya untuk mengambil sapu tangan.


"Pak Farel, maaf." ia menyeka air matanya dengan cepat.


Farel meraih tangan wanita itu, menaruh sapu tangan pada telapak tangannya. "Tidak perlu begitu formal. Aku dengan Vinsen berteman baik sejak kecil."


"Kita juga pernah beberapa kali bertemu saat kamu sedang dengan Vinsen." penuturannya membuat Isyana hanya diam mendengarkan sambil menyeka air matanya dengan sapu tangan dari Farel.


"Vinsen adalah orang yang baik, dan aku percaya kamu juga adalah orang yang baik. Aku yakin, kalian tidak akan terus menerus menyakiti satu hati di antara kalian bertiga." oceh Farel. Yang ia maksud kalian bertiga adalah Vinsen, Isyana dan Adisty.


Isyan lagi-lagi hanya bisa diam. Artinya Farel mengetahui semuanya. Hubungan Vinsen dengannya yang terus berlanjut meski Vinsen sudah menikah dengan Adisty.


"Dengar ini baik-baik. Aku tau kalian saling mencintai, tapi kamu harus tau. Apapun posisi kamu dalam hidup Vinsen, kamu tetap yang paling dirugikan." Farel tersenyum, lantas melenggang dari sana. Meninggalkan Isyana yang semakin mematung bingung di tempatnya.


Yang paling durugikan? Benarkah?

__ADS_1


TBC


__ADS_2