Maybe Mine

Maybe Mine
Awal Mula


__ADS_3

Adisty hanya melipat tangan di dadanya, dengan gaya kalemnya yang khas, ia berdiri diujung sofa, tepat di samping sang mama yang duduk dengan berbagai ekpresi di wajahnya. Sementara para orang tua itu tengah membicarakan hal serius yang cukup menegangkan. Tentang kaburnya Gerald, calon suami Adisty. Sementara pernikahan akan digelar dalam waktu dekat.


Undangan pernikahan sudah disebar, gedung hotel tempat digelarnya pesta sudah disiapkan. Persiapan pernikahan sudah mencapai sembilan puluh sembilan persen. Tapi, semuanya menjadi kacau karena Gerald yang tiba-tiba saja menghilang bagai ditelan bumi.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Rean, tapi saya tidak tau jika Gerald akan nekad kabur seperti ini. Karena terakhir, dia memang setuju untuk menikah dengan putri, Bapak."


Rean–Papa Adisty hanya menopang dagu, berbagai upaya sudah mereka lakukan selama beberapa jam terakhir ini. Tapi nihil, Gerald tetap tidak dapat mereka temukan, sekalipun nanti pria itu ditemukan, percuma saja jika ia memang tidak ingin menikahi putrinya.


Rean tidak ingin dengan begitu saja menyerahkan, Adisty–Putri bungsu kesayangannya pada orang yang tidak dapat mencintainya, ia tidak ingin jika nanti putrinya dicampakkan begitu saja.


"Bagaimana, Pak Rean?"


"Apa pernikahan ini akan tetap dilanjutkan?" tanya ragu-ragu Antonio.


"Yang benar saja, Pak Anton. Pernikahan ini tidak mungkin dilanjutkan jika calon mempelai pria tidak ada, memangnya putri kami tidak waras, berdiri dipelaminan sendirian, begitu?" Zyla–Istri Rean–Mama Adisty, mendadak emosi mendengar pertanyaan Antonio, calon besannya.


Mitha–Menantunya–Kakak ipar Adisty mengusap lengan Zyla, menenangkan sang mama mertua agar tenang dan tidak memperkeruh suasana.


Antonio yang sudah salah berbicara hanya diam, sementara Rean sendiri memang hanya diam sejak tadi, Chandra–Putra pertama keluarga Dirgantara–Suami Mitha juga nampak hanya diam.


Setelah beberapa saat, Rean menegakan duduknya, ia seolah ingin berkata serius, membuat tatapan semua orang yang berada didalam ruangan itu mengarah padanya—Kecuali Adisty. Berharap Rean menemukan solusi yang tepat.


"Pernikahan ini tetap harus terjadi!"


Adisty adalah yang paling syok di sana begitu ia mendengar pernyataan Rean yang begitu mengejutkan. Awalnya, ia merasa tenang karena pernikahan politiknya dengan Gerald benar-benar batal. Tapi pernyataan final Rean yang penuh keyakinan seolah membuatnya harus menerima kenyataan, ia benar-benar harus melepas masa lajangnya.


Bagaimanapun, Adisty mengerti, jika Rean pasti tidak ingin nama baik keluarganya tercoreng dengan pernikahan putrinya yang batal karena calon mempelai pria kabur.


Memangnya apa yang akan dipikirkan orang-orang begitu berita ini tersebar?


Tapi tunggu, siapa yang akan menjadi mempelai pria setelah keberadaan Gerald bahkan tidak dapat dilacak?


"Apa maksud Papa?" pertanyaan Zyla seolah mewakili aneka pertanyaan yang berkecamuk di kepala Adisty sejak tadi.


Tapi nihil, Rean sama sekali tidak menyahut dan membuat semua orang penasaran. Satu hal yang dapat Adisty tebak, jika Rean tidak mungkin memberikan hal yang sekiranya dapat merugikan Adisty.


Adisty percaya pada sang Papa.


**


"Jany, main sama Tante, yu." ajak Adisty setelah rundingan keluarga yang memberatkan kepalanya selesai.


"Kemana Tante?"


Gadis kecil berumur empat tahun itu bertanya dengan tampang yang semringah saat diajak sang tante bermain. Karena biasanya, jika Adisty yang mengajaknya keluar, ia akan dibelikan banyak es krim dan cokelat.


Alhasil, saat pulang ke rumah, Adisty lah yang akan dimarahi oleh Mitha karena selalu menuruti apapun yang Senjany minta, tapi mau diapakan, Adisty begitu menyayangi keponakannya, ia tidak bisa menolak apapun yang diinginkan gadis imut itu.

__ADS_1


"Mm, kita ke ..., taman?"


"Mau Tante, mau."


"TIDAK BOLEH!"


Tiba-tiba saja Mitha datang dan menahan tangan gadis kecil itu yang akan memeluk Adisty.


"Mama ...," ia merengek karena larangan Mitha.


"Kak Mitha,"


"Disty, diluar gerimis. Enak saja kamu mau mengajak Jany ke taman dan membelikannya es krim." bentaknya tanpa sungkan. Lima tahun tinggal bersana Mitha membuat Adisty mengerti, jika begitulah watak seorang wanita yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri.


"Siapa yang bilang jika diluar gerimis? Hujan sudah turun!"


Mitha menghembuskan nafas kasar mendengar kalimat adik iparnya. Yah, sekarang di luar memang sedang hujan deras. Ia lantas menyuruh Senjany untuk pergi bermain di kamarnya, ia ingin berbicara serius dengan Adisty, tapi sebelum itu, Adisty sempat berkata pada Senjany. "Nanti saja kita mainnya, bagaimana dengan besok. Tante tidak banyak pekerjaan sepertinya."


"Oke Tante,"


"Tos dulu dong!"


Dua gadis cantik berbeda generasi itu berhigh five ria, kemudian Senjany benar-benar berlalu dari sana. Adisty menatap kepergian gadis kecil itu dengan senyuman. Sampai panggilan dari kakak iparnya membuat tatapan Adisty teralihkan.


"Disty,"


"Apa kamu tidak khawatir dengan Gerald yang kabur menjelang pernikahan kalian?"


Adisty tersenyum pada kakak Iparnya. Gadis itu memang pandai bersikap tenang.


"Apa yang harus aku khawatirkan, Kak Mitha. Sejak awal, kami berdua memang tidak setuju dengan pernikahan politik ini."


"Tidak ada cinta atau perasaan apapun di antara kami."


"Aku sempat merasa khawatir saat pesta pernikahan hanya tinggal menghitung hari, tapi hari ini, justru berita baik muncul di depan mataku sendiri."


"Apa yang kamu katakan?" Mitha seperti tidak mengerti dengan jalan pikir adiknya.


"Kak Mitha, sudah jauh lebih baik dia kabur menjelang hari pernikahan, bukan ketika aku sudah menyandang status sebagai istrinya."


Mitha mengangguk, merasa apa yang dikatakan adiknya memanglah benar. Jika Gerald melakukannya setelah ia menikahi Adisty, maka ceritanya akan jauh lebih rumit, dan keluarga besar Dirgantara, adalah yang paling besar menanggung malu.


Terutama saat media selalu ikut campur dengan segala permasalahan para pengusaha kalangan atas. Dan keluarga Dirgantara, memang tidak pernah lepas dari sorotan media.


"Aku ingin seperti Kak Mitha dan Mas Chandra, menikah karena cinta. Aku melihat banyak kebahagiaan dalam pernikahan kalian, dan aku juga menginginkannya, Kak." gadis itu berucap dengan sungguh-sungguh. Membuat lengkungan senyum di bibir Mitha terpatri secara otomatis.


"Ohh, adik kecilku ternyata sudah besar!" sahutnya yang kemudian memeluk Adisty. Adisty menerima pelukannya setengah tertawa. Meski sudah dewasa, bagi keluarganya, ia memanglah hanya anak kecil di rumah ini.

__ADS_1


**


Sementara ditempat lain.


"Tidak Pah!"


"Vinsen!"


"Pah, aku sudah memiliki kekasih, dan aku mencintainya. Tidak mungkin aku menikahi gadis lain, terlebih aku tidak tau dia siapa!"


"Calon suaminya saja meninggalkannya, dan Papa justru memintaku untuk menikahinya, apa menurut kalian ini adil?"


Vinsen benar-benar tidak terima saat tiba-tiba saja Wira–Papanya memintanya untuk menikahi putri bungsu dari keluarga yang bisa menyelamatkan perusahaannya. Tentu ini tidak adil bagi Vinsen, terlebih dia memiliki seorang kekasih yang begitu dicintainya.


Bagaimana mungkin hidupnya diserahkan begitu saja pada gadis yang ia sendiri belum pernah melihatnya sama sekali.


"Vinsen," Dian–Mamanya berkata lembut demi mencoba memberikan pengertian pada sang putra.


"Kamu anak satu-satunya dikeluarga ini, jika bukan kamu yang menolong, kita, maka siapa?"


"Saudara sepupumu, para pria sudah menikah, dan sisanya adalah wanita. Hanya kamu yang bisa menolong kami, Nak."


Vinsen diam. Ada yang mengganjal dihatinya, tapi ia juga tidak mungkin mengambil keputusan dengan seenaknya, ia harus memikirkan bagaimana nanti nasib hubungannya dengan sang kekasih, ia tidak ingin ikut mengorbankan hubungannya jika pihak keluarga memaksanya meninggalkan Isyana–Kekasihnya.


"Jika kamu memang ingin hidup menderita, maka silahkan!" Wira kembali angkat bicara. Ia tidak yakin putranya akan mau menuruti syarat yang diajukan Rean–Orang yang ia mintai tolong untuk menyelamatkan perusahaannya.


Tanpa disangka, jika ternyata keluarga Rean mengalami musibah dan meminta Wira untuk mau menikahkan Vinsen dengan putri bungsu


keluarganya.


Meski ragu untuk mengatakannya pada Vinsen, Wira tetap mencoba, bagaimanapun ia tidak ingin perusahaan yang dipertahankannya selama ini bangkrut begitu saja.


Dian juga berharap-harap cemas pada Vinsen, hanya Vinsen yang dapat menolong keluarga besar mereka. Semua anggota keluarga itu bergantung pada perusahaan, dan hanya Vinsen yang dapat menyelamatkan perusahaan dari ancaman kebangkrutan.


Vinsen berdecak setelah beberapa saat ia memutar otak untuk mengambil sebuah keputusan, yang mungkin akan disesalinya seumur hidup.


"Baik. Aku akan menerima syarat ini untuk menikah dengan putri bungsu keluarga Dirgantara. Tapi dengan satu syarat dariku!"


Ia menggantung kalimatnya, membiarkan kedua orang tuanya menatap padanya dengan penuh tanda tanya.


"Tidak boleh ada yang memaksaku untuk mencintai gadis itu!"


TBC


Ini baru permulaan guys.


Aku berharap banyak mendapat dukungan dari kalian dengan like, komen, terutama vote:")

__ADS_1


__ADS_2