Maybe Mine

Maybe Mine
Flashback (2)


__ADS_3

Rai Vinsen Jagaska, pemuda tampan yang tumbuh menjadi idola di sekolahnya. Seorang Ketua OSIS, atlet badminton yang meraih medali emas pada ajang turnamen antar sekolah se-Jakarta.


Ia dikenal sebagai murid pandai dan ramah. Idolanya hampir ada disetiap kelas, namun sayang, mereka semua harus rela saat sang idola jatuh cinta pada adik kelasnya dan pacaran setelah itu.


Patah hati. Itu yang dirasakan semua siswi seantero sekolah. Iri, tentu saja mereka iri pada gadis yang sudah berhasil menaklukan seorang Vinsen. Dia adalah Adisty. Jeana Lingga Adisty.


Bahkan latar belakang gadis itu yang berasal dari kalangan kaum jet set sudah banyak diperbincangkan sejak menjadi murid baru dan menjadi idola baru pula di SMA.


Kebanyakan dari mereka memilih untuk mendukung saja hubungan dua insan itu karena pada dasarnya mereka memanglah cocok menjadi pasangan. Sedangkan sebagian memilih tidak perduli dan menganggap jika Adisty merayu Vinsen.


Bagai tak terusik sedikitpun, Adisty tampak tidak pernah takut pada tatapan penuh intimidasi kakak kelasnya dan cemoohan yang mereka lontarkan. Beruntung, sebagian besar dari mereka yang memusuhinya merasa segan begitu mengingat latar belakang keluarga Adisty.


Tapi Vinsen dan Adisty tidak pernah ambil pusing. Hari-hari keduanya lalui dengan penuh kebahagiaan. Tak jarang, Adisty menunggu Vinsen jika pemuda tampan itu ada rapat OSIS sepulang sekolah.


Dan sangat sering, Adisty menemani Vinsen berlatih badminton setiap dua kali dalam seminggu. "Cape, yah?" Adisty menghampiri Vinsen dengan sebotol air mineral di tangannya. Ia menyerahkannya pada Vinsen.


Dengan nafas berantakan, Vinsen menerimanya dan melegutnya setelah itu, ia duduk di pinggir lapangan dengan kaki yang ia selonjorkan. Mencegah keram.


Adisty tersenyum, ia mengelap peluh yang memenuhi wajah Vinsen, kaos olahraga yang dikenakan Vinsen juga tampak basah karena keringat. Setelah mengatur nafas, pemuda tampan itu tersenyum, menahan tangan Adisty.


"Aku sudah bilang, kamu pulang duluan saja."


"Tidak papa, aku tidak memiliki acara apapun. "


Vinsen menaikan alisnya, gadis di hadapannya mengernyit tidak mengerti.


"Ada apa?"


"Kenapa aku merasa kamu semakin cantik?"


Adisty terkekeh. Vinsen tersenyum menatapnya. "Pantas saja!" gadis itu berdecak setelah cukup lama.


"Kenapa?"


"Di pintu masuk tadi, banyak senior laki-laki yang terus menatapku. Ternyata karena aku semakin cantik?"

__ADS_1


Vinsen menoleh dengan lipatan di dahinya. Kenapa ia tidak suka pada kalimat yang baru saja Adisty katakan tadi?


"Jadi, mereka di sana tadi menatap kamu?"


"Katakan siapa saja mereka?" Vinsen tampak tidak suka.


"Hah?" Dan tentu saja membuat Adisty heran.


"Aku hanya bercanda Vinsen!" kali ini Adisty tertawa. Lain halnya dengan Vinsen yang mendesah tidak suka.


"Aku hanya bercanda!"


"Besok-besok kamu sekolah pakai masker. Tidak perlu repot-repot memamerkan kecantikanmu itu!"


"Aku harus memamerkannya, Vinsen."


"Kecuali kamu ingin mendapat hukuman!"


*


*


Vinsen tidak bisa terlambat, sementara hujan masih turun dengan deras. Ia menoleh pada Adisty yang hanya duduk sambil menatapnya.


Gadis itu tampak sedang mengobrol dengan seorang wanita yang memiliki usia sebaya dengan Vinsen.


"Hay, Adisty." Adisty mengajak berkenalan gadis di sampingnya, karena ia sering bertemu gadis itu jika mampir di halte. Adisty merasa mereka perlu saling mengenal. Gadis itu tersenyum manis. "Isyana." ia menerima uluran tangan Adisty.


"Mau kemana?"


"Pergi bekerja. Tapi hujan tidak kunjung reda, aku pasti akan kena marah bosku."


"Tidak sekolah?" Adisty tampak heran. Karena jika dilihat, gadis di sampingnya sepertinya masih anak usia sekolah.


Gadis itu tersenyun. Kehidupannya tidak membawa ia pada nasib baik seperti Adisty yang bisa bersekolah dan tidak perlu memikirkan besok akan makan apa jika tidak bekerja.

__ADS_1


"Aku tidak seberuntung kamu." ungkapnya dengan manis.


"Maaf,"


"Tidak apa-apa. Mmm, dia, pacar kamu?" Isyana beralih pada pria yang sejak tadi menatap Adisty. Adisty mengangguk. "Kalian cocok, semoga langgeng, yah." sahutnya, Adisty hanya mengangguk. "Aku duluan," pamitnya kemudian, Adisty menahan pergelangan tangan gadis itu.


"Hujan masih deras."


"Sepertinya memang tidak akan reda dalam waktu dekat. Aku tidak bisa terlambat, maaf."


Isyana berlalu menembus hujan. Memayungi kepalanya dengan sebuah tas lusuh berwarna hitam yang warnanya sudah memudar. Adisty hanya menatap kepergiaannya dengan iba.


Kelak, di kemudian hari. Adisty tidak bertemu lagi dengan Isyana. Entah gadis itu sakit, atau dipecat dari pekerjaannya sehingga tidak melewati jalan yang sama.


"Kita hujan-hujanan, saja." Suara Vinsen membuat tatapan Adisty pada Isyana yang kian menjauh teralihkan. Spontan Adisty menggeleng, kemudian menyahut. "Tidak bisa, Vinsen."


"Ayolah, ini menyenangkan. Aku akan menjaga kamu,"


Adisty diam ditempatnya. Sementara tatapan Vinsen sangat memintanya untuk segera mendekat. Adisty tau, sore ini Vinsen akan berlatih selama dua jam, dan besok pagi ia akan keluar kota untuk mewakili sekolah dalam ajang turnamen badminton tahunan.


"Ayolah, aku akan menjaga kamu. Percaya saja," bujuknya.


Adisty mengangguk, ia melangkah mendekat, Vinsen dengan seragam putih abu dan balutan jaket bomber berwarna biru gelap itu mengulurkan tangan pada sang pacar.


"Ini menyenangkan, percayalah." ia menggenggam tangan gadis itu dengan erat.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa bermain hujan, aku akan sakit, Vinsen."


"Ayolah, Sayang. Hujannya tidak akan segera reda. Aku harus segera berlatih,"


Adisty diam sebentar, lantas mengangguk dan membuat Vinsen tersenyum. Perlahan, keduanya berjalan menembus hujan setelah Vinsen menyerahkan jaketnya pada Adisty.


Dan Vinsen tidak tau, jika hal tersebut menjadi sebuah penyesalan baginya saat keesokan harinya ia mendapat kabar bahwa Adisty dilarikan ke Rumah Sakit. Vinsen sangat cemas, tapi ia tidak memiliki waktu untuk menemui Adisty di Rumah Sakit. Ia harus segera berangkat.


TBC

__ADS_1


__ADS_2