Maybe Mine

Maybe Mine
Sakit


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Vinsen mengerjapkan matanya. Ia meraba ponsel yang ditaruhnya di meja samping tempat tidur. Satu pesan masuk berhasil membuat matanya terbuka sempurna begitu melihat isi pesan.


...Babe❤...


...Aku sakit....


Hanya dua kata dan spontan membuat Vinsen segera bangkit. Tapi ia menghentikan gerakannya begitu merasa tangan kananya berat, rupanya Adisty masih di sana. Vinsen lupa jika semalam ia sangat berbaik hati untuk tidur dengan memeluk Adisty.


Ahh, ia sudah menyuruh Adisty untuk melupakan kejadian tersebut. Kenapa justru ia yang pertama kali mengingatnya begitu bangun tidur?


Vinsen tersadar begitu teringat kembali pesan yang sang kekasih kirimkan. Ia pelan-pelan menarik tangannya agar Adisty tidak terbangun dan melihatnya pergi pagi-pagi sekali.


Dengan perlahan, Vinsen beranjak dari tempat tidur. Tapi ujung piyama yang dikenakannya justru ditarik oleh Adisty.


"Jangan tinggalkan aku lagi, Vinsen. Aku sakit," Vinsen merenung sebentar, tapi ia tau jika Adisty hanya mengigau. Meski kalimat sang istri berhasil membuat Vinsen meraba dahi Adisty.


"Panas." ucapnya pelan begitu menaruh punggung tangannya di dahi Adisty. Dalam diamnya, telepon masuk dari Isyana membuat Vinsen buru-buru beranjak.


"Iya, Sayang. Aku akan segera ke sana." ungkapnya buru-buru.


Vinsen berjalan ke arah almari, mengganti pakaiannya dan buru-buru pergi keluar setelah sebelumnya ia sempat ke kamar mandi untuk mencuci wajah.


Mata Adisty sedikit terbuka. Dan ia mendengar saat Vinsen menerima telpon. Sayangnya kesadarannya tak dapat terkumpul sempurna. Ia merasa kepalanya pusing dan badannya begitu panas.


Sementara itu, Vinsen melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah Isyana. Kekasihnya tinggal seorang diri, jika bukan Vinsen maka tidak ada yang mengurusnya.


Buru-buru Vinsen turun dari mobil dan berjalan ke rumah Isyana. Ia memiliki kunci cadangan sehingga bisa masuk kapan saja terutama dalam keadaan genting seperti saat ini.


"Isyana,"


"Vinsen."


Vinsen mendapati Isyana yang merebahkan tubuhnya di sofa, wanita itu masih mengenakan gaun tidur dengan aksen dibagian dada yang terlihat rendah.


Vinsen yang cemas segera mendekat, memapar dahi Isyana yang terasa panas. "Kepalaku juga sakit." keluhnya yang membuat Vinsen dengan cekatan membopong tubuh Isyana, membawanya keluar. Isyana harus dibawa ke Rumah Sakit, ia harus segera mendapat penanganan dokter.


Di sisi lain, Jerremy yang mengetahui bahwa Isyana dilarikan ke Rumah Sakit pagi-pagi sekali. Ia menyusul pada siang harinya, sebagai tetangga yang baik, ia juga perlu mengetahui bagaimana kondisi Isyana saat ini.


Panas siang itu cukup terik, bahkan Jerremy perlu menggunakan kacamata hitamnaya untuk menghalau silau yang menabrak matanya. Tapi langkah kakinya terhenti begitu ia melihat seorang wanita yang ia kenali tampak sempoyongan saat keluar dari mobil.


Jerremy memperhatikannya, ia mempercepat langkah saat merasa benar-benar kenal dengan wanita tersebut. Bersamaan dengan tubuh wanita itu yang terhuyung tepat ke arahnya, membuat Jerremy dengan cekatan menahan tubuh wanita itu agar tidak jatuh menyentuh tanah.


Beberapa orang yang melihat kejadian menyuruh Jerremy agar segera membawanya kedalam Rumah Sakit.


*


*


Jerremy tengah duduk di depan pintu ruang rawat Adisty. Ia sudah menghubungi Chandra jika Adisty berada di Rumah Sakit. Tak lama setelah itu, Rean dengan Zyla datang bersama Mitha, Senjany, serta kedua mertua Adisty. Chandra sedang dalam perjalanan untuk kemari.


"Bagaimana kondisi Adisty?" Zyla bertanya dengan raut wajah yang begitu panik. Bahkan ia hampir saja pingsan mendengar anaknya dilarikan ke Rumah Sakit.


"Dia sudah mendapat penanganan Dokter. Hanya tinggal menunggu siuman." ucap Jerremy dengan tersenyum.


"Jerremy?" tanya Rean, tak yakin sambil mengerutkan keningnya. Jerremy mengangguk. Perusahaaan Jerremy memang memiliki kerjasama yang baik dengan Dirgantara Corporation selama empat tahun ini.

__ADS_1


"Chandra bilang kamu akan berada di luar negri dalam waktu lama."


"Iya, Pak. Kebetulan, saya bisa menyelesaikan urusan saya dengan cepat. Maaf tidak menghadiri pernikahan Nona Adisty."


Rean tersenyum. "Tidak masalah."


Setelahnya, mereka hanya menatap Adisty yang terbaring lemah di atas brankar melalui dinding kaca pada ruang rawatnya. Dian dan Wira tampak bingung karena tidak mendapati Vinsen di sana.


Sejujurnya keluarga Dirgantara juga merasa heran. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat dalam kondisi saat ini. Zyla adalah yang paling heran dan bingung. Padahal jelas-jelas, kemarin Adisty mengatakan jika ia akan menikmat hari liburnya dengan Vinsen. Namun, di mana Vinsen sekarang?


"Di mana Vinsen?" Wira bertanya pelan pada Gerry. Skretaris Vinsen yang tadi kebetulan sedang berada di rumah dan akhirnya ikut ke Rumah Sakit.


"Pak Vinsen—"


"Katakan di mana Vinsen!"


Gerry menahan nafasnya. Ia memang skretaris Vinsen, tapi ia ditunjuk langsung oleh Wira dan dituntut untuk selalu jujur mengenai apapun kegiatan Vinsen sekalipun itu di luar kantor. Sehingga Gerry selalu siap mengawasi Vinsen dengan cekatan begitu pria itu keluar dari rumah.


"Pak Vinsen sedang dengan wanita itu. Dia juga berada di Rumah Sakit ini." ungkapnya mau tak mau.


"Keterlaluan anak itu. Suruh dia kemari,"


Gerry mengangguk, ia sedikit menjauh dari orang-orang di sana dan mengambil ponselnya. Menghubungi Vinsen agar segera datang menemui istrinya yang sedang sakit sebelum nanti Wira mengamuk padanya.


*


*


Vinsen dengan setia menemani Isyana, wanita itu sedang tertidur saat Vinsen mendapat telpon dari Gerry yang memberitahukan jika Adisty masuk Rumah Sakit.


Vinsen mempercepat langkahnya, ia lupa bertanya pada Gerry di mana letak ruangan Adisty, sehingga ia memilih bertanya pada seorang suster yang berpapasan dengannya.


"Maaf, Sus. Pasien yang pingsan di depan Rumah Sakit, dia ada di ruangan mana?" tanyanya dengan nada hati-hati.


"Oh, pasien yang dibawa oleh suaminya?"


Vinsen mengernyit, ia merasa tidak yakin. Namun begitu, ia justru mengangguk dengan perlahan.


"Pasien berada di kamar nomor 49, sebelah sana Pak."


"Terimakasih, Sus."


Sang suster mengangguk. Vinsen bergegas, dari kejauhan ia melihat di depan pintu ruangan hanya ada Wira yang barangkali memang sengaja menunggunya.


Perasaan Vinsen semakin tidak karuan, meski ia tidak menaruh rasa pada Adisty dan Wira mengetahuinya. Tetap saja, ia sudah lalai menjalani kewajibannya sebagai seorang suami.


"Pah,"


Vinsen melangkah mendekat. Tanpa aba-aba, satu tamparan mendarat dengan keras di pipinya. Ia hanya bisa pasrah menerimanya dan melihat wajah murka sang Papah padanya.


"Apa yang kamu lakukan Vinsen!" tidak. Wira sama sekali tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya tidak mengerti dengan putranya yang membangkang padanya.


"Kamu sengaja ingin mempermalukan


Papah di depan keluarga Dirgantara, begitu?"

__ADS_1


"Aku tidak tau jika Jea sakit, Pah."


"Kalian tinggala satu rumah tapi kamu tidak tau jika istrimu sakit? Apa-apaan kamu ini, Vinsen?"


Vinsen menghela nafas, kesabarannya menipis. "Bukannya aku sudah bilang sejak awal. Aku tidak mencintai Jeana Lingga Adisty! Papa tidak bisa memaksaku!" ia berucap pelan dengan penuh penekanan.


"Vinsen!"


Wira akhirnya hanya mampu mengusap wajahnya gusar. Ia memang tidak bisa memaksa Vinsen, tapi seharusnya Vinsen mengerti situasi untuk saat ini. Ia tidak bisa seenaknya pergi atau tidak ada di samping Adisty saat sang istri membutuhkan kehadirannya.


Wira mengibaskan tangannya, menyuruh agar Vinsen masuk dan menemui Adisty, percuma saja mengajak Vinsen berbicara. Yang lain sudah berada di dalam begitu Adisty siuman. Sementara Jerremy pamit pergi, ia menemui meja resepsionis dan menanyakan keberadaan ruang rawat pasien yang memang akan dikunjunginya.


Kakinya perlahan memasuki ruang rawat Isyana. Wanita itu sedang berbaring dengan mata terpejam, Jerremy duduk di sana. Pada sebuah kursi di samping brankar yang bisa ia tebak siapa yang sudah mendudukinya sebelum ia datang.


Menatap wajah cantik Isyana dengan iba. Jerremy tidak tau mulai dari mana ia senang mengganggu Isyana. Tapi begitu dua tahun lalu mereka tak sengaja bertemu di salah satu pusat perbelanjaan, Jerremy justru penasaran pada Isyana yang saat itu sedang menjalin kedekatan dengan Vinsen.


Bahkan Jerremy nekad membeli rumah dekat dengan tempat tinggal Isyana. Hanya saja, ia tidak pernah menunjukan keberadaannya pada Vinsen jika pria itu berkunjung ke rumah Isyana.


Vinsen, saingannya sejak SMP. Lawannya saat berada di SMA. Ketua OSIS yang beruntung berpacaran dengan adik kelas mereka yang cantik.


Vinsen memang selalu beruntung. Bahkan untuk saat ini sekalipun. Tujuh tahun berlalu setelah kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka di sebuah hotel, justru sekarang Vinsen menikah dengan Adisty.


Gadis yang begitu dicintainya. Bahkan ia memiliki Isyana, gadis malang yang cantik, yang berhasil jatuh dalam pelukannya. Sepertinya Jerremy perlu belajar dari Vinsen, bagaimana caranya digandrungi para perempuan cantik. Tapi sayang, mereka tidak seakrab itu untuk saling berbagi cara.


"Air,"


Fokus Jerremy teralihkan saat bibir Isyana berucap pelan dengan tangan yaang siap meraba ke meja di samping brankarnya. Buru-buru Jerremy mengambil segelas air di sana dan membantu meminumkannya pada Isyana dengan pelan-pelan.


Isyana berdiam diri sebentar, kemudian perlahan membuka matanya. Ia mengamati ruangan tempatnya berada sekarang. Pandangannya mulai normal, panas ditubuhnya sudah menurun dan pusing di kepalanya juga mulai reda.


Tapi ada yang salah pada matanya. Tiba-tiba ia melihat Jerremy berada di dalam ruangannya. Padahal ia mengingat jelas bagaimana saat ia mulai tertidur setelah meminum obat.


Ia menggenggam tangan Vinsen kuat, dan Vinsen berkata padanya untuk tidak akan pegi sebelum ia bangun.


"Vinsen," Isyana meyakinkan diri jika matanya memang bermasalah. Tapi ketika pria di hadapannya bersuara, barulah ia sadar jika dia adalah Jerremy. Dia memanglah Jerremy, bukan Vinsen.


"Bukan!"


"Di mana Vinsen?" Isyana sudah sepenuhnya sadar. Jerremy hanya mengangkat kedua bahunya bersikap acuh.


"Sejak aku masuk, di sini memang tidak ada siapa-siapa."


"Sepertinya, Vinsen lebih memilih untuk menemani istrinya daripada kamu."


Isyana mengernyitkan dahi. Ia butuh penjelasan agar dapat mengerti apa yang Jerremy katakan.


"Istri Vinsen masuk Rumah Sakit, dia berada di ruangan yang sedikit jauh dari sini. Mungkin Vinsen di sana sedang, duduk seperti ini—" Jerremy menunjuk dirinya sendiri.


"—Menggenggam tangan istrinya—" ia menggenggam tangan Isyana.


"—Dan ..., tidak akan pergi meninggalkan istrinya sendirian." Jerremy mengatakannya dengan sangat dramatis. Sengaja agar Isyana mengetahuinya.


Atau lebih tepatnya sengaja agar Isyana sadar. Jika seharusnya, ia akhiri saja hubungannya dengan Vinsen.


TBC

__ADS_1


Suport dengan like, komen dan vote guys❤❤


__ADS_2