Maybe Mine

Maybe Mine
Di Bawah Air Hujan


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu sesuai dengan semestinya. Satu bulan berjalan dengan begitu cepat. Tapi tidak bagi Adisty ataupun Vinsen yang sama-sama menolak kehadiran masing-masing.


Satu bulan ini, keduanya memang sudah terbiasa tinggal dalam atap yang sama. Namun begitu, bagi Vinsen, a tidak mendapat kenyamanan sedikitpun ada bersama dengan istrinya.


Sedangkan bagi Adisty, penderitaannya kian hari kian bertambah. Vinsen yang selalu menghindar dan jarang pulang ke rumah, sulit bagi Adisty untuk membuat Vinsen nyaman dengannya.


Jika pulang, Vinsen lebih memilih tidur di sofa daripada berbagi ranjang dengan Adisty. Setiap pagi, meja makan hanya Adisty yang mengisi. Vinsen selalu menolak sarapan bersama.


Tak pernah ingin makan malam di rumah. Dan ia lebih banyak menghabiskan waktunya di luar.


Di sisi lain, Zyla selalu menghubungi Adisty dan menanyakan bagaimana kabar pernikahannya dengan Vinsen. Sebis maungkin Adisty memberikan jawaban terbaiknya meski apa yang dikatakannya selalu kebohongan demi menutupi aib sang suami.


Selain itu, Adisty juga selalu sebisa mungkin menahan agar Zyla tidak berkunjung ke rumahnya. Entah itu siang atau pun malam.


"Sayang, besok hari libur. Vinsen pasti ada di rumah, 'kan. Kalian akan ada di rumah, 'kan?" Zyla memastikan. Ia sudah jarang bertemu dengan putri bungsunya setelah menikah. Sesekali Adisty akan mampir sepulang dari kantor di rumah Rean, tetapi hanya sebentar. Jika Zyla yang ingin datang berkunjung, Adisty seolah menahannya untuk tidak datang. Entah apa yang putrinya itu lakukan.


Adisty hanya tidak ingin bersandiwara di depan Zyla jika ia harus berkunjung ke rumah. Karena 100% Adisty yakin, ia dan Vinsen harus berpura-pura menjadi pasangan yang saling mencintai. Barangkali hal itu memang tidak mudah untuk keduanya lakukan. Terutama Vinsen.


"Iya, Ma. Tapi, Vinsen dengan Adisty hanya akan menghabiskan waktu berdua." dusta Adisty dengan dahi mengernyit. Berharap Zyla akan yakin dengan apa yang baru saja dikatakannya.


"Oww, rupanya masih mau menikmati moment pengantin baru?"


Adisty mendehem mendengar nada menggoda sang mama di ujung sana. "Iya, Ma."


"Baiklah, Mama tidak akan memaksa untuk datang. Tapi lain kali, tolong jangan halangi Mama untuk bertemu putri dan menantu Mama."


Adisty tersenyum, jauh dalam hatinya, ia sangat merindukan Zyla. Perasaannya sangat sensitif jika membandingkam perlakuan antara Vinsen dengan keluarganya yang sangat berbanding terbalik.


"Iya. Disty mengerti."


Setelahnya, sambungan terputus. Satu tangan Adisty terlipat di depan dada. Sementara tangan yang satunya berada di depan mulut dengan kukunya yang ia gigit pelan. "Siapa?"


Adisty spontan menggigit kukunya, sudut jarinya berdarah. Ia terkejut mendengar suara Vinsen yang tiba-tiba.


"Aw,"


Adisty menyembunyikan jari telunjuknya ke belakang, ia menatap Vinsen sebentar, sementara Vinsen sudah melihat jari tangan sang istri yang berdarah. Vinsen cukup mengenal Adisty, ia akan menggigit kukunya jika sedang cemas.


"Tadi, Mama Zyla yang telpon. Dia bilang akan datang, tapi aku sudah melarang."


"Kenapa harus dilarang. Dia ingin bertemu dengan putri kesayangannya."


"Kami bisa bertemu di luar!"


Vinsen mengangkat bahu acuh, kemudian berlalu ke arah kamar. Sedangkan Adisty menatap jari telunjuknya yang berdarah. Ia meringis menahan perih, lantas berjalan ke arah westafel untuk mencuci jari tangannya tersebut agar tidak terinfeksi.


Ia memang sudah terbiasa menggigit kukunya jika mencemaskan sesuatu. Dan ia sangat tidak tau jika Vinsen akan datang dan membuatnya terkejut.


Untuk kali ini, Adisty mendesah. Matanya menatap kaca di hadapannya yang menampilkan taman belakang. Membiarkan air terus mengalir membasahi tangannya.


Adisty tidak tau dengan apa yang sedang dicemaskannya. Banyak hal yang ia khawatirkan belakangan ini. Takut Vinsen meninggalkannya. Takut Vinsen bermain belakang dan memiliki wanita di luar sana. Takut keluarganya tau jika keharmonisan Vinsen dengannya hanyalah sebuah sandiwara.


Adisty tersadar begitu sebuah tangan besar meraih tangan mungilnya. Itu adalah tangan Vinsen yang dengan segera mematikan keran air.


"Kamu ingin semua darahmu habis tersapu air?" sinisnya. Matanya menatap mata Adisty dengan tatapan mengintimidasi, sementara tangannya mengeringkan tangan Adisty dengan tisue.


Ia menarik Adisty untuk duduk, mengoleskan salep pada bagian luka di jari tangan Adisty. Keduanya hanya diam, Adisty memperhatikan suaminya. Melihat setiap inci wajah orang yang sangat jarang memperhatikannya.


Bagaimanapun dan secuek apapun Vinsen padanya. Ia tetap memiliki sisi baik saat melihat orang lain terluka. Namun, entahlah. Adisty tidak dapat mengetahui apa isi hati Vinsen.

__ADS_1


"Aku ada beberapa pertanyaan." Adisty buka suara. Vinsen tak merespond, tapi Adisty tau pria itu mendengarnya.


"Kamu kemana saja akhir-akhir ini, kamu jarang berada di rumah. Pulang larut malam, bahkan tidak pulang."


"Kamu menginap di mana?"


Vinsen memasangkan plester pada jari tangan Adisty. Ia lantas menatap sang istri dengan tatapan tidak suka. Lantas ia bangkit berdiri, membuat Adisty mendongak untuk dapat melihat wajah suaminya.


"Pastikan ini adalah terakhir kalinya kamu bertanya hal seperti itu. Karena kamu tidak perlu tau aku pergi kemana, tidur di mana atau dengan siapa!"


"Kamu hanya perlu menjadi istri yang baik."


"Jangan mencampuri urusan pribadiku. Kamu tau, sedikitpun aku tidak pernah mencampuri urusan pribadimu. Bekerjasamalah dengan baik Nyonya Jea!"


"Aku tidak suka kamu ikut campur!"


"Aku hanya perlu tau Vinsen. Bagaimana kalau ternyata kamu bersama wanita lain?"


"Aku memang bersama dengan wanita lain. Mau apa? Mau meminta cerai?" sela Vinsen dengan cepat.


Adisty diam. Ia harus mengalah, pembahasan Vinsen sudah menjurus pada hal yang sangat sensitif. Ia tidak ingin salah mengambil tindakan dan mengacaukan segalanya.


Adisty mengalah, memutus tatapannya dengan Vinsen bersamaan dengan ponsel Vinsen yang berdering. Vinsen merogoh ponselnya dan segera menggeser ikon hijau.


"Hallo, Pah?"


Adisty mendongak, memperhatikan Vinsen yang entah menerima telpon dari siapa. Rean, ataukah Wira?


" ....., "


Vinsen tampak menatap Adisty sebentar. "Iya, Pah. Kami akan datang."


"Bersiaplah, kita akan ke rumah orangtuaku untuk makan malam." ujarnya pada wanita yang baru saja ia marahi.


Adisty tak bereaksi, tapi ia mendengar yang Vinsen katakan. Vinsen berlalu lebih dulu untuk bersiap-siap. Sedangkan Adisty hanya diam. Tidak biasanya mertuanya mengundang mereka untuk makan malam.


Atau mungkin Wira merindukan Vinsen, bagaimana pun, mereka sudah jarang bertemu semenjak Vinsen menikah dengan Adisty.


Makan malam di rumah Wira Jagaska berjalan normal seperti biasanya. Tidak ada gerak-gerik mencurigakan dari Wira. Sedangkan Vinsen sudah mulai tidak tenang, ia sudah memprediksi apa yang akan terjadi ketika makan malam usai.


Beberapa pelayan membereskan meja makan. Para anggota keluarga sudah menyelesaikan makan. "Vinsen, ada yang ingin Papa bicarakan. Kita bicara di ruang kerja Papa." Sesuai dugaan Vinsen.


Pria itu hanya mengangguk, sedangkan Adisty berlalu dengan Dian untuk mengobrol di ruang keluarga.


Vinsen mendesah. Ia mengusap wajahnya dan beranjak, dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruangan Wira. Tangannya sudah memegang handle pintu. Lagi-lagi ia menghela nafas dan dengan perlahan membuka pintu.


Wira sudah duduk di depan meja kerjanya. Vinsen duduk di sebrang meja di hadapan sang Papa. Persis seorang karyawan yang akan mendapat teguran dari atasannya.


Wira hanya terdiam menatap putranya. Ia masih belum mendapatkan diksi yang tepat untuk berbicara pada putranya sendiri.


"Apa yang ingin Papa bicarakan?" tanya Vinsen. Ia sudah mulai tenang, bagaimanapun, bukan hanya sekali ia berada dalam posisi saat ini.


"Apa yang kamu lakukan selama satu bulan ini?"


Vinsen sempat mengernyitkan dahi, tapi sejurus kemudian, ia segera menyahut. "Bekerja."


"Pulang larut malam, dan bahkan tidak pulang. Begitu?" sela Wira dengan cepat. Vinsen hanya mematung.


"Kamu masih menemui wanita itu?"

__ADS_1


"Namanya Isyana, Pah."


"Papa tidak perduli!"


Vinsen diam. Wira membuka kacamata yang selalu dikenakannya. Lantas ia menghela nafas. "Sampai kapan Vinsen?!"


"Tidakkah kamu menghargai perasaan istrimu?"


Vinsen mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ayolah, memang Adisty siapa sampai Vinsen harus menghargai perasaannya?


"Siapa yang mengadu pada Papa? Jea?"


"Akan sangat memalukan jika anggota keluarga lain mengetahui hal ini." Wira enggan menjawab pertanyaan Vinsen.


"Ini konskuensinya, Pa. Sejak awal aku tidak ingin menikah dengannya!"


"Pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Adisty sampai kamu merasa layak mengkhianatinya!?"


*


*


Adisty hanya terdiam dengan mata yang terus menatap keluar jendela mobil. Hujan turun dengan begitu derasnya, sesekali petir menyambar dengan kilatan menyeramkan. Vinsen di sampingnya fokus menyetir, wajahnya tampak tidak bersahabat sejak ia keluar dari ruang kerja Wira.


Adisty tidak tau apa yang sudah mereka bicarakan. Tapi dari yang Adisty tangkap, Vinsen seolah marah padanya. Entah kesalahan apa yang sudah Adisty lakukan.


"Ada apa?" tanya Adisty saat perlahan mobil menepi. Vinsen tak menoleh sedikitpun padanya.


"Kamu mengadu pada Papa?"


Adisty mengernyit. Ia tidak dapat mencerna dengan baik apa yang baru saja Vinsen katakan.


"Kamu mengadu pada Papa jika aku selalu pulang larut malam. Begitu?"


"Apa maksud kamu? Aku tidak melakukannya,"


Vinsen tersenyum.Ia sudah salah bertanya, memang orang gila mana yang akan mengaku jika ia melempar pertanyaaan untuk memberikan jawaban jujur.


"Turun!"


Adisty semakin tidak percaya dengan satu kata yang Vinsen utarakan padanya. "Kamu bercanda, 'kan,Vin?"


"Apa aku terlihat bercanda, Jea?"


Adisty mendesah, ia mengguyur rambutnya ke belakang. Vinsen dengan kasar membuka seatbelt yang terpasang ditubuh Adisty.


"Keluar!" suruhnya tanpa perasaan.


Sebisa mungkin Adisty mengatur deru nafasnya yang tak beraturan karena hawa marah. Bahkan orang gila saja tidak mungkin keluar saat cuaca sedang seperti ini.


Adisty membuka pintu mobil. Vinsen benar-benar serius mengeluarkannya dari mobil. Bahkan tanpa berpikir panjang, setelah Adisty turun, ia melajukan mobilnya. Tanpa ragu meninggalkan Adisty di jalanan sepi dengan kondisi hujan yang masih enggan untuk berhenti.


Vinsen, pergilah sejauh yang kamu bisa!


Jika di hatimu masih ada sedikitnya cinta untukku. Maka kembalilah, peluk aku. Hujan malam ini lebih dingin dari sikapmu.


TBC


Hajar Vinsen, skuy:"(

__ADS_1


__ADS_2