
Hari sudah menjelang malam. Semua anggota keluarga yang menjenguk Adisty kembali pulang. Hanya ada Vinsen di sana yang hanya diam semenjak masuk.
Adisty tengah tidur, ia banyak mendengarkan cerita Senjany sore tadi dan baru beristirahat dua jam yang lalu. Vinsen masih bertahan di sana setelah mengirim pesan pada Isyana jika tidak bisa kembali ke ruang rawat wanita itu untuk sementara waktu.
Ia tau Wira akan mengawasinya. Vinsen tidak boleh salah melangkah atau Isyana akan berada dalam bahaya nantinya. Fokus Vinsen teralihkan begitu melihat Adisty yang perlahan membuka matanya. Mata Adisty langsung mengarah pada Vinsen yang duduk di samping brankar.
"Kenapa tidak bilang jika sakit?"
Perlahan Adisty tersenyum dan mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Aku sudah mencegahmu pergi dan mengatakan aku sakit. Tapi kamu tidak perduli,"
Seketika Vinsen terdiam. Dahinya berkerut dengan kepala yang spontan menerka apa yang Adisty maksud. "Kamu mengigau,"
"Bukan!" Adisty menepis dengan cepat.
"Aku bahkan mendengar kamu berbicara ditelpon." Adisty benci mengingatnya, tapi ia perlu mengatakannya pada Vinsen. Kini pria itu hanya diam dengan bingung.
"Dia pacar kamu?" tanya Adisty, ia menatap Vinsen. Berharap, kali ini akan mendapat jawaban jujur.
"Sudah kubilang jangan mencampuri urusan pribadiku. Berapa kali aku bilang, jangan pernah membahasnya!" Vinsen justru emosi.
"Jika memang iya, lantas kenapa? Bukankah akan bagus, dengan begitu kamu akan membenciku bukan? Setelah kamu merasa tersiksa, kamu akan meminta cerai dariku, bukan?"
"Itu yang aku inginkan, Jea!"
Adisty terkekeh, ia bangun dan menyandarkan punggungnya pada bantal, menatap Vinsen yang tampak sudah sangat tersulut emosi.
"Kalau begitu aku ingin melihat, secantik apa dia?"
"Kamu pikir aku akan dengan mudah meminta cerai darimu Vinsen? Tidak akan, jika kamu merasa tersiksa dengan pernikahan ini. Nikmati saja, aku senang melihat kamu tersiksa!" Pada dasarnya, Adisty-lah yang paling tersiksa.
Vinsen menyeringai.
"Benar, kamu memang iblis!" desisnya. Adisty hanya tersenyum tanpa merasa terganggu dengan kalimat Vinsen. Ia sudah kebal sejak pertama kali kembali bertemu dengan Vinsen dan mengetahui jika pria itu memang sudah berubah total dari Vinsen yang dikenalnya dulu.
"Oh, yah. Siapa laki-laki yang membawamu ke sini?" Vinsen mengalihkan pembicaraan. Tidak ada yang bisa ditanyainya sedangkan ia sangat penasaran. Ia perlu bertanya langsung pada Adisty.
Tapi Adisty tidak mengetahuinya. Ia dalam kondisi tidak sadar saat itu dan tidak menyadari siapa yang sudah membawanya kemari.
"Kamu bersama laki-laki. Atau jangan-jangan dia pacar kamu. Aahh, selingkuhan,"
Adisty terkekeh sebentar, lantas ia menyahut. "Aku tidak sebodoh kamu Vinsen. Dan aku tidak memiliki pacar seperti kamu."
"Laki-laki yang bersamaku, mungkin dia hanya laki-laki baik yang membantu wanita lemah sepertiku."
"Dia memiliki rasa tanggung jawab sesama manusia saat melihat orang yang sakit dan butuh bantuannya!"
Vinsen berdecih, ia bangkit dari duduknya. Adisty terus memojokannya dalam posisinya yang memang salah dan pantas disalahkan.
"Kamu membenciku Vinsen?" tanya Adisty setelah itu.
"Kenapa?" tiba-tiba suara Adisty terdengar sendu.
"Aku yang main belakang darimu tujuh tahun lalu?"
Vinsen menatap Adisty, mata wanita itu berair. Entah sandiwara atau apa, Vinsen tidak mengetahuinya.
"Vinsen, andai kamu tau yang terjadi diantara kita di masa lalu adalah sebuah kesalahpahaman."
__ADS_1
"Aku dijebak!"
"Dan perpisahan kita yang orang itu inginkan!"
Adisty menghela nafas. "Kamu mengabulkan keinginannya dengan pergi meninggalkanku tanpa bertanya sedikitpun."
Vinsen diam. Sedangkan memori dikepalanya kembali pada masa di mana ia mendapati Adisty dan Jerremy di dalam kamar hotel yang sama.
Vinsen sakit hati. Ia merasa Adisty sudah mengkhianatinya dan bermain api dibelakangnya dengan orang yang sangat ia hindari.
Begitulah penyakit buruk yang bersarang ditubuhnya, di hatinya yang senang berspekulasi sendiri tanpa mau mendengarkan penjelasan orang lain.
Ia bahkan tidak menghubungi Adisty setelahnya. Dengan mendadak meminta pada Wira untuk mengirimnya kuliah ke luar negri karena masalah spele dalam urusan asmaranya.
Namun saat itu, Vinsen hanyalah anak remaja labil yang belum mampu menyelesaikan setiap masalah dengan tenang. Ia memilih pergi dan membawa kebencian untuk Adisty yang ia anggap sudah mengkhianatinya.
Ia bahkan tidak pernah mencari tau bagaimana kabar gadis itu begitu kembali ke tanah air. Padahal sulit melupakan Adisty, tapi ia berusaha keras meski berakhir sia-sia.
Ia justru menjadi seorang pemabuk yang hampir kehilangan nyawa karena kecelakaan. Beruntung, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup. Bahkan mempertemukannya dengan seorang bidadari bernama, Isyana Darma Kencana.
*
*
"Aku di jebak, Vinsen!"
"Aku tidak mengkhianati kamu!"
"Seharusnya aku yang yang membencimu!"
"Kamu sudah pergi meninggalkan luka dihatiku. Dan kembali dalam wujud yang berbeda."
"Aku harus bagaimana Vinsen?"
Vinsen memegang kepalanya dengan kedua tangan. Ia sudah berjalan cukup jauh setelah berdebat dengan Adisty, ralat, setelah Adisty menceritakan detail kejadian di masa lalu mereka.
Apapun itu, semua hanya masa lalu. Tidak ada yang akan berubah sekalipun Vinsen tau kebenarannya. Semuanya sudah sangat terlambat.
Vinsen berjalan menuju ruang kendali cctv, ada hal yang jauh lebih penting. Ia perlu mengetahui siapa orang yang sudah membawa Adisty ke Rumah Sakit.
Setelah berbicara dengan salah satu orang di ruangan tersebut, Vinsen melihat camera cctv parkiran Rumah Sakit. Ia mengamati setiap layar monitor yang berada di hadapannya.
"Sebelah sana!" Vinsen menunjuk salah satu layar di mana ada mobil Adisty terparkir dan perlahan Adisty keluar dari sana. Pengawas cctv menzoom bagian saat Vinsen memintanya begitu seorang pria muncul tepat saat tubuh Adisty terhuyung dan hampir menyentuh tanah.
"Coba lebih dekat,"
"Baik, Pak."
Vinsen menyipitkan matanya, melihat baik-baik pria yang mengenakan kacamata hitam dan membopong tubuh Adisty. "Coba tahan!" Vinsen berkata spontan. Petugas cctv mengiyakan. Vinsen melihatnya baik-baik, tapi ia tak mampu mengenali siapa pria dengan kacamata hitam itu.
"Bisa saya dapatkan gambarnya?" tanya Vinsen pada petugas cctv yang langsung mendapat anggukan. Ia keluar dan akan kembali jika apa yang diinginkannya sudah siap. Ada seseorang yang harus dihubunginya terlebih dahulu.
"Kamu di mana?" tanyanya setelah orang di sebrang sana mengangkat telpon.
"Euu, saya di rumah, Pak. Ada apa?" Gerry menyahut setengah panik. Takut Vinsen akan marah-marah padanya karena ia sudah memberitahu Wira apa yang Vinsen lalukan hari ini dengan Isyana.
"Kamu cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Adisty sejak tujuh tahun lalu. Saya juga akan kirim paket ke tempat kamu, kamu cari tau siapa dia dan apa hubungannya dengan Adisty!"
__ADS_1
"Baik Pak."
Vinsen menghembuskan nafasnya dengan kasar. Perasaannya mendadak kacau dan ia mulai penasaraan dengan apa yang terjadi pada Adisty setelah berpisah dengannya.
Oh, dan Vinsen benar-benar melupakan kekasih yang barangkali sedang menunggunya.
"Maafkan aku Isyana," lirihnya.
*
*
Vinsen berjalan menuju mobil Gerry, Skretarisnya itu sedang menunggu di sana untuk memberikan informasi setelah dua jam mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang Adisty.
"Apa yang kamu dapat?" tanya Vinsen dengan tidak sabaran.
"Mohon maaf, Pak. Tapi sepertinya, berita mengenai Ibu Adisty sangat ditutupi dari publik. Baik kehidupan pribadinya sebagai Wakil Direktur atau kisah asmaranya, semuanya tidak terekspos sembarangan dalam media apapun."
"Sekalipun ada artikel tentang dirinya, itu hanya kegiatan kerja, bukan tentang kehidupan pribadinya."
"Sepertinya keluarga Dirgantara memang sengaja melakukannya."
"Bukannya para pencari berita bebas menulis apa saja jika mereka benar-benar mengawasi Adisty?" heran Vinsen. Gerry mengangguk.
"Benar, Pak. Memang ada beberapa berita tentang Ibu Adisty yang berkencan dengan seorang pria. Tapi perusahaan selalu meluruskan jika itu pertemuan klien, bukan kencan."
"Dan tampaknya, keluarga Dirgantara juga memang memiliki akses untuk menghapus pemberitaan kehidupan pribadi Ibu Adisty dari berbagai web."
Vinsen mengusap wajahnya kasar. Bagaimana mungkin Rean membuat kehidupan Adisty benar-benar tertutup rapat dari muka umum. Menyebalkan!
"Tapi, saya mendapat beberapa informasi saat Ibu Adisty masih SMA."
Vinsen terdiam sesaat, kemudian menoleh pada Gerry dengan gestur bertanya. "Dia pernah berpacaran dengan kakak kelasnya. Satu tahun, tapi setelahnya mereka putus karena kesalahpahaman."
Kali ini Gerry yang menghela nafas. Ia lelah sekali, juga tidak mengerti dengan atasannya ini. Ia baru tidur dua jam saat Vinsen menelponnya dan menyuruh ia mencari informasi mengenai istri dari atasannya tersebut. Kemudian harus datang ke Rumah Sakit untuk menyampaikan apa yang ia dapat. Dan besok harus ke kantor untuk bekerja. Hidup macam apa ini?
"Ibu Adisty dikenal sebagai primadona sejak SMA. Setelah lulus, dia berkuliah di Las Vegas, dengan harapan dapat bertemu dengan mantan kekasihnya."
"Arrghh, saya tidak mengerti. Wanita secantik Ibu Adisty masih mengharapkan mantannya."
Vinsen menoleh, menopang kepalanya saat Gerry berceloteh. "Pak, saya cukup yakin. Mantan Ibu Adisty tidak lebih baik dari Bapak. Bapak tidak perlu merasa cemburu. Memangnya pria bodoh seperti apa yang mencampakan wanita secantik dan sehebat Ibu Adisty."
Vinsen berdecih, membuat Gerry menoleh padanya. "Kamu tau siapa pria bodoh yang kamu maksud?"
"Mantan Ibu Adisty." Gerry menyahut polos dengan keyakakinan di dadanya.
"Kamu tau dia siapa?"
"Saya!" Vinsen menjawab pertanyaannya sendiri. Gerry memundurkan kepalanya dengan dramatis. Setelahnya ia tersenyum kikuk, sementara Vinsen memutar bola matanya jengah. Enak saja dia disebut pria bodoh.
Selang beberapa detik, Gerry menatap Vinsen dengan mata menyipit dan penuh tanda tanya.
"Jadi, Bapak dan Ibu Adisty pernah berpacaran?"
TBC
Aku mau ngomong panjang lebar tapi ngantuk. Btw guys, aku udah buat karakter Adisty sekuat mungkin di sini. Vinsen emang brengsek, karakter dia emang gitu.
__ADS_1
Dan ...., alur cerita ini emang ngeselin. Terlalu dini buat kalian merasa sakit hati. Hahaa, dan lagi, ada saatnya Vinsen dan Adisty berpisah. Tapi enggak sekarang, oke.