Maybe Mine

Maybe Mine
Flashback (1)


__ADS_3

Kita flashback dulu, yah. Biar kalian tau cerita mereka di masa lalu:")


* * *


Masa putih abu menjadi masa paling menyenangkan bagi setiap orang. Begitu juga Adisty, sebagai junior yang baru dua minggu bersekolah di SMA setelah masa orientasi, ia sudah menjadi pusat perhatian para senior maupun teman seangkatannya.


Parasnya yang cantik, dan senyum manis yang selalu menghiasi wajah cantiknya menjadi daya tarik tersendiri untuknya.


Tapi yang beruntung mendapatkan hatinya, adalah sang Ketua OSIS sekolah, Rai Vinsen Jagaska.


Sejak masa orientasi, Vinsen memang sudah lama memperhatikan Adisty. Gadis yang akan mudah dicari dalam kerumunan orang karena paras cantiknya yang berbeda dari siapapun.


Hubungan keduanya kerap kali menjadi perbincangan hangat siswa lain. Meski tak jarang, Adisty mendapat perlakuan tidak adil dari para senior wanita yang iri kepadanya karena berpacaran dengan Vinsen.


Tapi hal itu tidak masalah bagi Adisty, ia sudah banyak melihatnya dalam film-film anak remaja. Di mana kekasih sang pria, selalu diperlakukan tidak adil oleh para seniornya yang iri pada si wanita.


Adisty tidak pernah kalah berargumen, ia sudah cerdas sejak kecil. Terutama jika ia berada dalam posisi yang tidak salah.


"Vinsen mau kepada kamu karena kamu kecentilan." seorang senior dengan rambut pendek tampak mendelik amat tidak suka pada Adisty.


"Kamu harus tau, tidak lama lagi juga Vinsen akan memutuskan kamu. Dia hanya penasaran dan ingin mempermainkan kamu." seorang senior dengan gaya nyentrik buka suara, ikut menghakimi Adisty yang hanya sendiri.


Mereka berlima, sengaja menyeret Adusty ke toilet saat gadis itu akan pergi ke kantin. Tiga dari mereka mengintrogasi Adisty, sedangkan sisanya berjaga, mencegah anak-anak lain untuk menggunakan toilet dan akan gerak cepat apa bila ada guru yang datang.


"Vinsen sebenarnya tidak suka sama kamu!"


"Oh, yah? Tapi bukan berarti Vinsen menyukai kalian, 'kan?" balas Adisty dengan santai. Tapi dapat menyulut emosi tiga gadis itu.


"Kamu berani kepada senior?"


"Karena saya tidak bersalah!"


"Kalau kalian marah karena Vinsen menyukai saya, seharusnya kalian marah kepada Vinsen."


"Setelah keluar dari sini, saya akan mengadu kepada kepala sekolah jika bully membuli disekolah ini seringkali dilakukan!" ancamnya tanpa rasa takut. Tapi sungguh, Adisty mengatakannya hanya sebagai gertakan, ia tidak akan benar-benar melaporkan hal memalukan seperti ini kepada guru dan kepala sekolah.


"Kamu mengancam kami?!"

__ADS_1


"Iya!"


Tiga senior itu saling tatap dengan perasaan geram pada Adisty. Sementara di pintu masuk toilet, Vinsen yang baru saja selesai rapat OSIS menerobos masuk tanpa bisa dicegah.


"Vinsen," salah satu dari dua orang senior yang menjaga pintu tampak risih, mereka tertangkap basah mengganggu pacar Vinsen.


"Diam di sana. Selangkahpun jangan bergerak!" Vinsen mengangkat jari telunjuknya dengan lurus pada mereka. Matanya melemparkan tatapan tajam yang membuat dua orang itu mematung di tempatnya.


Vinsen membuka satu persatu pintu toilet wanita. Ia menemukan beberapa orang pada toilet paling ujung. Tiga senior yang sedang mengintimidasi Adisty beringsut menjauh dari Adisty saat melihat kedatangan Vinsen yang tiba-tiba. Diam-diam memaki karena orang yang menjaga pintu tidak memberi sinyal sama sekali.


Vinsen menarik tangan Adisty. "Sekali lagi seperti ini, kalian akan tau akibatnya!" ancam Vinsen. Ia buru-buru membawa Adisty keluar dari sana, menyenggol dua orang yang masih berdiri di depan pintu karena Vinsen tidak mengizinkannya untuk bergerak barang melangkah sedikitpun.


Selepas kepergian Vinsen, keduanya mengembuskan nafas lega.


"Awas, aja!" salah satu dari tiga orang yang berada di toilet tampak tidak terima. Ia hanya melipat tangannya menatap kepergian Adisty dengan Vinsen.


*


*


"Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau kamu sering diperlakukan seperti ini?" tanya Vinsen. Ia sedikit kesal karena mengetahui hal ini dari Lauren, sahabat Adisty. Vinsen merasa gagal menjadi pacar yang baik untuk Adisty.


"Aku tidak papa, aku bisa membela diri. Seharusnya kamu tidak perlu datang seperti tadi."


"Kamu tau, setelah selesai rapat tadi aku mencari kamu ke mana-mana. Aku khawatir,"


"Maaf."


"Kamu tidak perlu meminta maaf, aku yang salah karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik." Vinsen mengelus satu sisi wajah gadis itu. Ia menggenggam tangan Adisty dan mengecupnya.


"Lain kali, ceritakan hal sekecil apapun padaku. Itu berharga bagiku, Adisty."


"Aku mengerti."


Begitulah Vinsen dan Adisty yang saling mencintai ketika masa sekolah. Setiap hari, mereka habiskan waktu untuk bersama. Menceritakan hal sekecil apapun yang terjadi di setiap hari .


"Astaga, Baby. Are you okay?" Lauren tampak panik saat Vinsen baru saja membawa Adisty ke kantin. Ia menyentuh lengan Adisty dan menilik gadis itu.

__ADS_1


"Aku tidak papa, kamu tenang saja."


"Syukurlah, aku tadi cemas. Aku tau kamu pasti mendapat masalah, jadi aku melaporkannya pada Vinsen." ungkapnya dengan bangga.


Adisty menoleh pada Vinsen sebentar. "Aku pesan makan dulu," pamitnya. lantas berlalu untuk menghampiri ibu kantin. Bersamaan dengan itu, ia berpapasan dengan seorang kapten tim futsal. Orang yang tidak pernah akur dengan Vinsen.


"Ini," pemuda itu menyerahkan sebuah jepitan rambut pada Adisty. Adisty meraba rambutnya, ternyata benar ini adalah miliknya yang jatuh pagi tadi entah di mana.


"Aku menemukannya di perpustakaan!"


Adisty tersenyum dan mengambilnya setelah mengucapkan terimakasih, keduanya terlibat obrolan singkat. Sementara Vinsen yang sedang mengobrol bersama beberapa temannya di meja yang Adisty tinggalkan menoleh saat tak mendapati Adisty kembali.


Ia melempar tatapan tajamnya pada dua orang yang sedang asik berbincang. Lantas Vinsen bangkit, Lauren tampak meringis, ia takut hal yang tak diinginkan dapat terjadi.


Jerremy yang melihat kedatangan Vinsen hanya mengangkat bahu acuh. Pemuda itu menarik tangan Adisty untuk menjauh dari Jerremy.


"Vinsen, kita belum pesan makan."


"Aku tidak lapar."


"Tapi—"


Jerremy hanya menyunggingkan satu sudut bibirnya melihat kepergian dua orang itu.


"Kita belum makan, Vinsen." protes Adisty saat mereka sudah sampai di kelas Vinsen. Vinsen dengan tiba-tiba menyeretnya untuk pergi dari kantin.


"Berapa kali aku harus bilang. Jangan dekat dengan Jerremy!"


"Dia hanya mengembalikan ini!"


Adisty menunjukan jepitan rambutnya. Vinsen mengambilnya. "Bagaimana bisa ini ada ditangan Jerremy?"


"Aku tidak tau, yang pasti ini hilang saat aku kembali dari perpustakaan!"


Vinsen menghela nafas. "Lain kali aku tidak mau melihat kamu berbicara dengannya. Atau dengan pria manapun!"


Dan begitulah Vinsen dengan tingkat tinggi rasa cemburu dan sifat posesifnya. Padahal menurut Adisty, Jerremy tidak buruk, ia adalah seorang pemuda yang baik. Adisty sering mengobrol dengannya saat menunggu Vinsen rapat OSIS di waktu pulang sekolah.

__ADS_1


Adisty juga tidak tau detail, penyebab dua pemuda itu saling bermusuhan. Adisty hanya pernah mendengar, jika sejak SMP Vinsen dengan Jerremy memang selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik, dalam bidang apapun. Ambisi mengantar mereka pada sikap saling mencurigai, sehingga mungkin hal itu yang menjadi alasan kenapa keduanya tidak dapat berteman.


TBC


__ADS_2