Maybe Mine

Maybe Mine
Impas


__ADS_3

Vinsen menunggu Isyana pada salah satu pintu toilet wanita. Tak lama, pintu terbuka dan Isyana muncul dari sana dengan mata sembabnya. Wajahnya seketika terlihat kesal saat melihat Vinsen.


"Kita perlu bicara," Vinsen meraih tangan Isyana. Isyana segera menepisnya. "Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang ini Vinsen?" pertanyaan yang sudah Vinsen duga. Ia menarik wanita itu dan membawanya keluar.


Setelah berada di dalam mobil, keduanya hanya saling terdiam. Gerry menunggu di luar.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau kamu dan Adisty pernah berpacaran?"


"Dia orang yang buat lima tahun kamu kacau setelah kalian putus, begitu?"


Beberapa kali Isyana menyeka air matanya yang jatuh tanpa bisa ia cegah. Isyana tidak bisa menerima hal ini. Vinsennya menikah bersama dengan mantan kekasih yang masih dicintainya.


Bagaimana jika Vinsen kembali mencintai Adisty? Atau mungkin perasaan Vinsen sudah mulai gamang padanya dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Adisty di masa lalu?


Pertanyaan yang sangat ia benci dan selalu menghantuinya. Bagaimana jika nanti Vinsen meninggalkannya?


"Jawan aku Vinsen!"


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Isyana. Aku tidak tau jika saat itu, wanita yang akan dinikahkan denganku adalah Jea."


"Ini bukan unsur kesengajaan."


"Tapi, apa kamu masih mencintai Adisty?"


Isyana menatap Vinsen ragu-ragu. Vinsen tak kunjung menjawab pertanyaannya dan membuat Isyana tidak tenang. "Vinsen," Isyana semakin tak kuasan menahan tangisnya. Vinsen menarik wanita itu ke dalam pelukannya. "Tidak." Vinsen menyahut lemah.


"Tidak. Jawabannya tidak, Isyana."


Isyana hanya terdiam dalam pelukan Vinsen. Ia percaya apa yang sang kekasih katakan.


Sore hari, Vinsen sudah kembali pulang ke rumah. Pekerjaannya hari ini tidak terlalu banyak. Tapi badannya sangat terasa lelah, sehingga ia segera memutuskan untuk mandi dan merapihkan diri.


Setelah selesai dengan kegiatannya. Vinsen turun ke lantai bawah. Ada sesuatu yang harus segera diurusnya. Ia merasa rumahnya sepi tanpa ada Adisty.


"Kemana dia?" ia bertanya pada dirinya sendiri. Sudah hampir malam tapi Adisty tak kunjung pulang, tidak seperti biasanya.


"Tuan,"


Vinsen menoleh saat asisten rumah tangga menegurnya. Ia melihat hidangan makan malam sudah tersaji di atas meja makan.


"Jea tidak pulang?" tanya Vinsen. Bibi diam sebentar, kemudian ia sadar jika Vinsen tidak memanggil nama sang istri dengan panggilan akrabnya.


"Nyonya belum pulang, Tuan. Bagaimana, Tuan akan langsung makan atau menunggu Nyonya saja?" tanyanya dengan sopan.


"Saya makan sekarang saja."


"Tapi sebelumnya, ada yang ingin saya katakan pada Bibi."


Bibi diam, wajahnya tampak khawatir. Sebelumnya, majikan prianya tidak pernah berbicara apapun padanya kecuali mengucapkan terimakasih saat ia menyuguhkan kopi atau makanan.


"Ada apa Tuan?"


"Duduk sebentar."


Bibi tampak bingung dan melihat salah satu kursi di sana. "Di sini, Tuan?" pertanyaan itu spontan membuat Vinsen tersenyum, lantas ia mengangguk.


Bibi duduk dengan sedikit ragu. Vinsen menatap perempuan paruh baya yang risih karena harus berhadapan dengannya itu.


"Begini Bi, teman saya sedang membutuhkan seorang asisten rumah tangga. Dan—saya lihat kinerja Bibi bagus—"


"Saya dipecat Tuan?" Bibi menyela dengan raut tidak enak.


Vinsen menggeleng. "Bukan dipecat, bagaimana jika Bibi saya pindahkan untuk sementara waktu sebelum teman saya menemukan asisten rumah tangga yang tepat?"


Bibi tampak bingung. Tapi Vinsen tidak memiliki alasan lain kecuali hal ini. Sebelumnya ia juga sudah menghubungi Farel jika akan mengirim asisten rumah tangga untuknya.

__ADS_1


Vinsen hanya sedang ingin menghukum Adisty. Jangan tanya apa kesalahan wanita itu, Vinsen pun tak tahu pasti. Yang jelas, ia kesal karena kejadian siang tadi.


*


*


Adisty mengusap bibir gelas kecil di tangannya. Matanya menatap Jerremy yang entah sudah meminum berapa gelas wine. Keduanya sedang berada di mini bar di penthouse milik Jerremy dengan berbagai koleksi minuman yang tertata rapi di tempatnya.


Mereka tidak hanya berdua, ada Olive di sana dan juga Chandra yang baru saja pulang karena waktu sudah malam. Ia juga sempat berpesan pada Adisty agar tidak pulang larut malam dan segera menghubungi Vinsen.


Olive yang lebih memilih duduk di ruang tamu hanya menikmati beberapa camilan yang ia ambil sendiri dari lemari pendingin atas perintah Jerremy. Ia cukup mengerti, jika Jerremy dan Adisty buruh privasi, barangkali mereka akan berbicara hal penting mengenai hubungan Vinsen dengan Adisty.


Seperti yang Olive tau, jika tadi siang. Adisty bertemu Vinsen di restoran tempat ia membuat janji dengan Jerremy.


"Bagaimana?" tanya Jerremy, tangannya sudah membuka botol baru dan menuangkan isinya sedikit.


Adisty yang tidak tau maksud pertanyaan pria itu hanya mengangkat bahu. Sebelumnya mereka memang tidak membahas apa-apa.


"Sekarang kamu sudah menemukan dan bahkan sudah bersama dengan Vinsen." Jerremy meminum isi gelasnya. Ia tersenyum pada Adisty yang sudah mengerti kemana arah pembicaraannya.


"Sekarang dia berbeda." ungkap Adisty dengan senyum miris diakhir kalimatnya. Ia meminun isi gelasnya sampai habis. Jerremy mengangkat botol, menawarinya untuk menuangkannya lagi pada gelas milik Adisty, tapi wanita itu menggeleng.


"Mungkin dia akan berubah jika sudah mengetahui yang sebenarnya."


"Kesalahpahaman yang terjadi tujuh tahun lalu di antara kita."


Adisty tampak menghela nafas. Ia menggeleng pelan dan tersenyum.


"Sepertinya akan percuma. Vinsen tidak akan mau mendengarkan, sekalipun dia tau yang sebenarnya, kecil kemungkinan untuk ia perduli dengan hal itu."


"Aku akan mengatakannya pada Vinsen nanti."


Adisty hanya mengedikan bahu acuh tak acuh. Ia tidak bisa menahan Jerremy, tapi ia juga tidak ingin berharap banyak pada apapun hasilnya nanti.


"Sepertinya Vinsen memiliki pacar." Adisty menoleh pada Jerremy, sedangkan pria itu terdiam untuk beberapa saat setelah merenungi kalimat Adisty tadi. Sejak awal mereka bertemu di restoran siang tadi, Jerremy memang dapat menebak, jika Adisty tidak tau siapa asisten pribadi Vinsen sebenarnya.


"Kuharap begitu, meski kecil kemungkinannya."


Jerremy tersenyum. Ia mengamati wajah Adisty, kemudian menggeleng pelan. Tujuh tahun terakhir, hanya Adisty satu-satunya wanita disekitarnya yang sangat sering ia perhatikan.


Seandainya perpisahan Adisty dengan Vinsen terjadi bukan karena kesalahpahaman yang melibatkan dirinya, mungkin akan mudah bagi Jerremy mendekati Adisty dan berharap lebih dengan wanita itu.


Adisty terkekeh pelan saat Jerremy tiba-tiba saja mengalihkan pandangan begitu tertangkap basah sudah memperhatikannya.


"Ada apa Jerremy? Tidak baik terlalu memperhatikan wanita yang sudah bersuami."


"Aisshh!" decak Jerremy yang sudah tertangkap basah dan tidak bisa mengelak.


Adisty bangkit dari bar stool yang sejak tadi didudukinya. Ia melihat arloji mungil yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sepertinya aku harus pulang."


Jerremy juga bangkit. Ia mengangguk mempersilakan Adisty. "Terimakasih untuk minumnya."


"Tidak masalah."


Adisty tersenyum dan melangkah. Jerremy hanya menatap kepergiannya. Sampai langkah keempat wanita itu, Jerremy justru melangkah mendahului Adisty dan berdiri di hadapan wanita itu. Spontan membuat langkah kaki Adisty terhenti.


"Disty,"


"Ada apa?"


"Jika Vinsen menyakitimu, dan membuat perasaanmu tidak tenang, kamu bisa menghubungiku."


"Kapanpun itu, aku siap mendengarkanmu."


Adisty diam. Tapi beberapa detik berselang, ia hanya mengangguk dan membuat Jerremy tersenyum. Persis, tidak ada yang berubah dari pria itu, dia masihlah Jerremy yang Adisty tau sejak tujuh tahun lalu.

__ADS_1


Sejak Vinsen meninggalkannya.


*


*


Adisty memasukan mobilnya ke garasi. Mobil Vinsen tampak sudah terparkir di sana. Artinya suaminya sudah pulang. Alih-alih masuk ke dalam rumah, Adisty justru berdiam diri di sana. Menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar rumah.


Kepalanya sedikit pening karena minum dengan Jerremy tadi. Dan ia baru saja mengantarkan Olive pulang di mana jarak rumah mereka berlawanan arah.


Adisty merogoh sesuatu dalam tas kecilnya. Sebuah lipatan kertas yang sudah tampak usang. Ia selalu membawa kertas itu kemana pun ia pergi, dan membacanya sesekali jika ia merindukan orang yang menyerahkan kertas tersebut.


...Dear Jeana Lingga Adisty...


...Mari bertemu. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan. Datanglah ke Taman Belakang saat pulang Sekolah, aku akan menunggumu di sana....


...Vinsen...


Adisty kembali melipat kertas tersebut pada bentuk semula. Ia masih mengingat jelas bagaimana dulu Vinsen menyerahkan kertas tersebut padanya.


Mereka berpapasan di koridor sekolah. Adisty dengan Lauren yang banyak mengoceh. Sedangkan Vinsen bersama dengan beberapa kawannya dari anggota OSIS. Ketika mereka saling melewati, tangan Vinsen meraih tangannya, menyerahkan kertas tersebut tanpa membuat orang lain curiga.


Kedua sudut bibir Adisty terangkat. Rasanya manis mengingat masa-masa tersebut. Ketika jam pulang sekolah tiba dan ia menemui Vinsen di tempat yang pria itu sebutkan.


Di sanalah, tempat Vinsen mengungkapkan perasaannya pada Adisty.


Melihat sekarang, rasanya sangat jauh perbandingannya. Vinsennya tak sehangat dulu. Sekarang, dia sangat tak berperasaan.


"Kemana saja kamu?"


Pertanyaan itu membuat langkah kaki Adisty berhenti tepat saat ia akan menaiki tangga. Ia melihat Vinsen yang berjalan mendekatinya dengan tangan yang terlipat di dada.


"Habis dari mana?"


"Tidak terlalu jauh." Adisty menyahut seperlunya.


Vinsen memperhatikan wanita itu. Begitu Adisty berbicara, aroma beralkohol seketika saja mengganggu penciuman Vinsen.


"Kamu minum?"


"Hanya sedikit."


Adisty mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Vinsen menarik tangan Adisty.


"Minum dengan siapa?"


"Olive."


"Dan Jerremy?" mata Vinsen menajam. Adisty menepis tangan Vinsen yang mencekal pergelangan tangannya. "Bukan urusamu!"


"Jelas itu urusanku."


"Seharian ini kamu dengan Jerremy?"


"Bukan—urusan—kamu!"


"Adisty!"


"Jangan memanggilku begitu. Aku sudah terbiasa dianggap seperti orang asing olehmu, Vinsen." Adisty berkata dengan tenang.


"Seperti aku yang tidak mencampuri urusan pribadimu, kamu juga tidak perlu mencampuri urusan pribadiku, dengan begitu kita impas!"


Vinsen terdiam. Ia tidak lagi bersuara bahkan saat Adisty menghilang dari pandangannya. Adisty benar, mereka impas.


"Damn!"

__ADS_1


TBC .


Maafkan aku yang telat up :"(


__ADS_2