Maybe Mine

Maybe Mine
Freak


__ADS_3

"Bagaimana, kamu betah bekerja di sini?"


Isyana tidak tau harus menjawab seperti apa. Yang ia lakukan hanyalah menunduk tanpa bisa membela diri. Harapannya hanya satu, ia ingin Vinsen segera datang dan menyelamatkannya dalam situasi saat ini.


Meski sangat kecil kemungkinannya.


"Saya berharap kamu segera mengundurkan diri sebelum Komisaris mengetahui keberadaan kamu."


Tangan Isyana meremas ujung rok span hitam yang dikenakanya. Bahkan di matanya, Malik jauh lebih seram dibandingkan dengan Wira. Isyana tau, jika pria itu memang tidak pernah menyukainya sejak Vinsen berpacaran dengannya.


"Saya tau kamu mencintai Pak Vinsen, tapi kamu mengetahuinya sendiri, Pak Vinsen sudah beristri."


"Kamu layak mendapatkan yang lebih baik lagi."


Setelah mengatakan hal itu, Malik pergi meninggalkan Isyana. Wanita itu mengembuskan nafas dan memejamkan matanya sekilas.


Ia tidak mengerti alasan mengapa orang-orang disekitar Vinsen tak pernah menyukai hubungannya dengan Vinsen.


Derajat dan latar belakang keluarga. Mengapa selalu hal itu yang menjadi patokan?


Isyana kembali ke ruangan Vinsen. Ia duduk pada kursi kebesaran sang kekasih. Melihat barang-barang memboasankan yang selalu digeluti Vinsen.


Isyana membuka laci, tangannya mengambil sebuah bingkai foto yang ada di sana. Senyumnya mengembang, mendapati itu adalah foto Vinsen dengannya. Isyana cukup mengerti mengapa Vinsen lebih memilh menyimpannya di dalam laci daripada memajangnya di meja kerja.


Sudah seharusnya Isyana beruntung memiliki Vinsen yang mau menerima ia dengan apa adanya. Tanpa perduli provokasi orang-orang di sekitarnya.


"Andai, Vinsen."


Yah. Andai ia memiliki khasta yang sama dengan Vinsen, mungkin saat ini mereka sudah bersama. Menikah, dan memiliki kehidupan yang bahagia. Tidak seperti sekarang.


Dering gawai yang berada di atas meja membuat Isyana segera meraih benda pipih itu. Ia segera menggeser ikon hijau saat sang penelpon adalah orang yang selalu memenuhi isi kepalanya.


"Kamu di mana?"


Vinsen mendesah di ujung sana. "Aku sepertinya tidak kembali ke kantor."


"Maaf,"


"Jea sakit, dan itu karena aku."


Isyana tersenyum, kepalanya mengangguk samar dengan mata yang mendadak berair tanpa alasan.


"Tidak papa, aku mengerti. Jaga istrimu dengan baik."


"Sayang,"


"Hmm."


"Aku mencintaimu,"


Isyana tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Vinsen."


Setelahnya, panggilan terputus. Isyana menatap layar gawainya. Cepat atau lambat, suatu saat ia akan kehilangan Vinsen. Pasti.


*


*


Vinsen menatap layar gawainya setelah panggilannya dengan Isyana berakhir, ia mendesah. Kemudian memasukan benda tersebut pada saku celananya. Ia melihat sebuah nampan dengan makanan di atasnya, membawanya ke arah kamar.


Satu persatu anak tangga ia pijak dengan langkah santai. Langkahnya terhenti begitu sampai di depan pintu. Adisty tengah berbicara dengan seseorang dibalik telpon.


"Kabarku baik, sepertinya percuma membiarkanmu pergi."


"Yah, pernikahan itu tetap terjadi. Menyebalkan bukan?"


Vinsen mengernyitkan dahi, siapa yang berbicara dengan Adisty? Dan apa katanya? Pernikahan ini menyebalkan? Bukankah Vinsen adalah yang paling di rugikan di sini?


"Suamiku? Hmmm, aku hanya berharap yang terbaik."


"Yah, pernikahan politik jarang mendatangkan kebahagiaan."


"Cerai? Yang benar saja, aku tidak ingin Tuan Rean Dirgantara marah padaku."


Vinsen membuang nafas kesal, ia menerobos masuk. Adisty menoleh setengah terkejut. Tapi kemudian, ia tampak bersikap seperti biasanya. Santai dan tenang.


*

__ADS_1


*


Adisty tidak tau apakah Vinsen akan benar memanaskan makanan untuknya atau tidak. Tapi selama menunggu pria itu, gawai di sampingnya di atas bantal berdering.


Setelah hampir dua bulan menghilang, pria itu baru menghubunginya sekarang. Adisty menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu pada telinganya.


"Hallo."


"Hay. Bagaimana?"


Adisty sedikit terkekeh. "Apanya yang bagaimana, semuanya kacau. Kamu juga pasti sudah mengetahuinya!"


Orang di ujung sana justru terkekeh, Adisty menggeleng pelan. Begitulah seorang Gerald Antonio.


"Jadi, kapan kamu berencana akan pulang?"


"Tidak tau, aku dan Teresa sepertinya akan menetap di sini. Papaku sudah tau keberadanku, aku sudah mengabarinya."


"Oh, yah, bagaimana respondnya?"


"Kamu bisa menebakanya sendiri. Dia memarahiku, telpon internasional menghabiskan banyak biaya. Pulsaku habis sebelum dia selesai mengomeliku." Gerald mengatakannya dengan tawa yang tertahan. Adisty juga tertawa, ia cukup mengenal karakter mantan calon mertuanya.


"Tapi beruntung, sepertinya dia merestui hubunganku dengan Teresa."


"Syukurlah."


"Bagaimana kabarmu?"


Adisty menatap kakinya yang sedikit bengkak, lantas ia menyahut. "Kabarku baik, sepertinya percuma membiarkanmu pergi."


Lagi-lagi hanya tawa Gerald yang Adisty dengar. "Bagaimana pernikahannya?"


"Yah, pernikahan itu tetap terjadi. Menyebalkan bukan?"


"Sangat menyebalkan!"


"Tapi bagaimana suamimu?"


"Suamiku? Hmmm, aku hanya berharap yang terbaik."


"Bagaimana, kamu mencintainya? Kalian saling mencintai? Kalian berbahagia?"


Pertanyaaan beruntun Gerald membuat Adisty menggelengkan kepala. Ia berfikir sejenak dan mempertimbangkan jawabannya.


"Yah, pernikahan politik jarang mendatangkan kebahagiaan."


"Artinya kalian tidak saling mencintai dan bahagia?"


"Lalu apa selanjutnya, kalian akan bercerai?"


"Cerai? Yang benar saja, aku tidak ingin Tuan Rean Dirgantara marah padaku."


"Yayaya, aku tau Om Rean. Tapi jika kamu tidak bahagia, sepertinya ia lebih rela menanggung malu jika putrinya menjanda daripada membiarkannya menderita."


"Jangan berbicara sembarangan, aku tidak ingin menjanda." Adisty menyahut dengan sedikit kekehan kecil.


Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka. Vinsen muncul dengan nampan di tangannya. Adisty berdehem, "nanti ku telpon lagi." ia memutus sambungan secara sepihak.


"Siapa?" tanya Vinsen setelah meletakan nampan tersebut di atas bantal dalam pangkuan Adisty.


"Oh, bukan siapa-siapa." Adisty menyahut acuh. Vinsen duduk di tempatnya tadi sebelum meninggalkan Adisty. Sementara wanita itu melahap makanannya sebelum Vinsen persilahkan. Vinsen hanya memperhatikannya.


Hatinya penasaran dengan orang yang tadi berbicara di telpon dengan Adisty. Asik memperhatikan wanita di hadapannya, Vinsen sekarang bertanya-tanya. Pernikahannya dengan Adisty sudah sejauh ini, tapi belum pernah terjadi apapun dengan mereka.


Bangun tidur dalam keadaan berpelukan, sepertinya tidak pernah lebih dari hal itu. Seakan sudah lumrah, dan tidak masalah bagi ia atau pun Adisty.


Sama seperti saat Adisty sakit karena menembus hujan tengah malam, dan hal itu terjadi karena Vinsen. Saat ini pun demikian, Adisty sakit karena Vinsen, dan Vinsen melakukan hal yang saat itu pernah ia lakukan. Menjaga Adisty dan melayaninya.


Adisty menurunkan kakinya dengan perlahan, pagi ini ia merasa jauh lebih baik daripada kemarin. Ia akan mandi sebelum Vinsen kembali dari lantai bawah. Ia tidak ingin Vinsen mengantarkannya ke kamar mandi, menyiapkan air untuknya dan menjemputnya setelah ia selesai.


Ayolah, Adisty tidak separah itu sampai harus di antar jemput hanya untuk ke kamar mandi. Adisty melangkahkan kakinya pelan-pelan ke arah kamar mandi, tanpa ia sadar jika Vinsen memperhatikannya di ambang pintu.


Ia perlahan mendekat, mengikuti wanita itu untuk antisipasi barangkali Adisty akan terjatuh.


Wanita itu berjongkok. "Seharusnya tidak sampai seperti ini." sahutnya sambil memijit kakinya. Ia terlonjak saat tiba-tiba saja tubuhnya melayang.


Vinsen mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba. Membawanya ke kamar mandi. "Aku bisa melakukannya sendiri." ungkap Adisty setengah dongkol.

__ADS_1


"Kalau bisa melakukannya sendiri, seharusnya kamu tidak perlu mengeluh."


Adisty diam, Vinsen menurunkannya. Ia sibuk mengisi bathub dan mengukur suhu air. Adisty hanya diam seperti biasanya. "Kamu tidak perlu melakukan hal ini. Aku bisaโ€”"


"Siang nanti Mama akan ke sini." Vinsen menyela dengan cepat.


"Mama Dian?"


"Mama Zyla?"


"Dua-duanya. Aku akan pergi sebentar nanti, ada sesuatu yang harus di urus."


Adisty tak berniat menanggapi, ia hanya diam. Membuat Vinsen bingung dan akhirnya memilih undur diri. Lama Adisty hanya diam setelah Vinsen melangkah. Perlahan ia membuka cardigan pada sleepwear lace satin nightdress yang dikenakannya.


Tanpa sadar, jika Vinsen masih berada di sana. Pria itu masih menahan knop pintu kamar mandi yang akan ditutupnya. Sepertinya terlalu sayang menyia-nyaikan vista di hadapannya.


Ini memang bukan kali pertama Vinsen melihat bahu mulus sang istri, hanya saja, ia tidak ingin terjebak pesona Adisty seperti yang ia katakan padanya.


Beberapa detik kemudian, Vinsen tersadar. Spontan ia menutup pintu dan membuat Adisty menoleh, wanita itu mengernyit menatap pintu yang baru saja tertutup.


*


*


"Mama mertuamu ada di sini dan kamu malah akan pergi?" tanya Dian dengan pelan saat ia sedang berada di dapur dengan putranya.


Setengah jam yang lalu, Zyla dan Dian datang bersama. Kedatangan mereka tak lebih dari sekedar mengunjungi anak menantunya dan melihat kondisi Adisty yang beberapa hari lalu tidak masuk bekerja.


Sebenarnya, kondisi memar di kaki Adisty sudah perlahan membaik. Tapi Rean dan Chandra menelponnya dan mengatakan untuk Adisty cuti saja beberapa hari.


"Vinsen," Dian menegur putranya yang tak kunjung merespond.


"Hanya sebentar, Ma. Mama Zyla juga sudah mengetahuinya."


"Kamu tidak berniat untuk menemui wanita itu, 'kan Vinsen?"


"Namanya Isyana, Ma."


"Kalian masih berhubungan?"


"Aku hanya keluar sebentar."


Vinsen mengalihkan pembicaraan, berlalu dari dapur, berjalan menuju ruang utama di mana Adisty berada, sedangkan Zyla sedang membereskan meja makan. Mereka memang baru saja sarapan bersama.


Dian mendesah menatap kepergian putranya. Lantas ia menghampiri Zyla dan membantu sang besan. Ruang utama dengan meja makan memang tidak memiliki sekat, mudah bagi dua orang itu untuk mengawasi Vinsen dengan Adisty.


Vinsen duduk di samping Adisty, miring menghadap gadis itu, membuat wanita itu menoleh dengan heran. Sudah pernah Adisty katakan, jika keduanya baik Vinsen maupun Adisty pandai memainkan peran.


Adisty cukup mengerti untuk situasi saat ini. Alasan, kenapa Vinsen memilih duduk daripada langsung pergi meninggalkannya seperti biasa.


"Aku akan pergi." sahut Vinsen.


"Hmm,"


Keduanya terdiam bingung, canggung dan entah karena apa. Vinsen mendekat, meraih pinggang wanita itu membuat Adisty mengerjap polos.


Beberapa detik berselang, Adisty merasakan benda kenyal mendarat di dahinya. Vinsen melakukannya? Sebelumnya dia tidak pernah semanis ini. Meski ia tau alasannya adalah karena ada Zyla di rumah mereka.


Zyla dengan Dian hanya saling bertatapan Dengan tersenyum. Senang melihat keharmonisan rumah tangga anak-anak mereka meski mungkin keduanya belum saling mencintai.


Zyla yang paling bahagia, ternyata penilaiannya pada sang menantu sudah salah. Sementara Dian merasa lega, sepertinya Vinsen sudah mampu menerima Adisty.


"Mereka masih melihat kita?" tanya Adisty saat Vinsen tak kunjung melepaskan tangannya dari pinggang Adisty.


Vinsen mengangguk, Adisty menoleh untuk melihat situasi, Vinsen dengan cepat menahan dagu wanita itu. "Jangan lihat."


Adisty mengernyit. tapi matanya mengerjap pelan saat justru Vinsen mendaratkan ciuman di bibirnya. Cukup lama dan menahan laju pernapasan Adisty.


Adisty masih mematung bahkan setelah Vinsen menjauhkan wajah darinya. "Aku berangkat." ia berlalu begitu saja. Adisty hanya mengangguk samar tanpa ia sadar.


Mengembuskan nafas, Adisty perlahan menoleh ke arah meja makan. Kali ini matanya membulat saat tidak ada Dian maupun Zyla di meja makan. Entah sejak kapan.


Ia mendengkus, melihat ke arah pintu keluar, bibirnya berdecak pelan mengutuki Vinsen "Freak!"


TBC


Da gimana atuh, Vinsen mah emang pantes dihujat, dicaci maki๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2