
"Sayang,"
Vinsen menggapai tangan Isyana yang tengah merajuk kesal padanya. Vinsen memang terlambat, karena ia harus mengganti kemeja yang dipakainya. Tidak mungkin ia harus bersama dengan Isyana, sedangkan wangi parfum Adisty ada bersama dengan mereka.
"Kamu terlambat setengah jam, Vinsen!" Isyana masih tidak terima.
"Maafkan aku, Sayang."
"Apa istri kamu melarang kamu pergi?" Isyana bertanya dengan nada ragu. Jelas sangat sensitif membahas tentang istri Vinsen di antara mereka.
Isyana tau, bisa saja istri Vinsen terlalu terobsesi dan melarang Vinsen untuk pergi keluar. Bisa saja seperti itu meski Isyana tidak terlalu yakin dengan asumsinya.
"Tidak, dia tidak pernah melarang-larang aku untuk pergi."
"Lantas, apa alasan kamu terlambat."
Vinsen menghela nafas, ia menggeleng pelan. Situasi saat ini memang membuat kepercayaan Isyana padanya memudar. Sekalipun Vinsen tidak berbohong, sulit bagi Isyana untuk percaya seperti dulu padanya.
Isyana hanya diam mendapati Vinsen yang enggam memberikan jawaban. Atau mungkin memang sulit bagi Vinsen untuk menjelaskan kondisinya saat ini.
Pernikahan Vinsen dengan putri bungsu konglomerat itu memang menjungkirbalikan hunungan Vinsen dengan Isyana. Isyana mulai cemas, cemas terhadap hubungannya dengan Vinsen.
"Ada yang kamu cemaskan?" tanya Vinsen, ia meraih dagu Isyana, mempertemukan tatapan mereka. Mengalihkan pembahasan mereka sebelumnya.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya lagi. Isyana menepis tangan Vinsen di dagunya, ia balik menggenggam tangan besar itu.
"Jelas saja Vinsen. Semenjak kamu menikah, aku sering merasa cemas, tidurku tidak nyenyak dan aku tidak berselera makan."
"Mmm, benarkah? Haruskah aku menemanimu tidur, dan makan?"
Isyana tampak berbinar mendengarnya. Tapi beberapa detik kemudian, wajahnya kembali sendu mengingat jika sekarang hal itu tidak akan mudah Vinsen lakukan. Sekarang ia memiliki seorang istri dan tentu harus merahasiakan hubungan mereka.
Kenyataannya semua sekarang sudah jauh berbalik. Takdir dan waktu memaksanya untuk membatasi diri dengan Vinsen.
Vinsen mengusap satu sisi wajah Isyana begitu melihat perubahan ekpresi pada wanitanya. Ia tersenyum. "Mungkin untuk saat ini tidak bisa. Tapi aku berjanji, Isyana, nanti kita akan hidup bersama."
"Kita akan menghabiskan waktu bersama-sama. Percayalah."
"Sulit untukku peecaya padamu saat ini, Vinsen."
Vinsen tampak tersenyum miris mendengar pernyataan Isyana. "Tapi aku akan berusaha. Bukankah kita sudah mengenal cukup lama? Aku percaya tidak mudah bagi kamu untuk melepaskanku."
Vinsen tersenyum dan mengangguk. Apa yang Isyana katakan memang benar, tidak mudah bagi Vinsen untuk melepaskannya. Meski, waktu.
__ADS_1
Dapat mengubah segalanya.
*
*
Vinsen pulang larut malam, ia berjalan dengan langkah pelan melewati ruang tu dan meja makan. Ia melihat Adisty yang tengah mengotak-atik laptopnya di sana.
Hidangan di meja makan tersaji dengan semua makanan yang masih tampak utuh. Mungkin Adisty sengaja menunggu Vinsen untuk makan malam. Tapi sayangnya, wanita cantik itu harus kecewa. Karena Vinsen baru saja pulang setelah menghabiskan makan malam dengan Isyana.
"Kamu sedang menungguku?" Vinsen memastikan setelah meraih segelas air putih yang berada di samping piring.
Adisty menoleh dan menghela nafas. Ia menatap Vinsen dan terdiam. Bukan karena terpana melihat wajah tampan Vinsen, ia hanya sedikit terkejut saat mendapati Vinsen mengenakan kemeja dengan warna yang Adisty kenal. Bahkan ia melihatnya siang tadi saat bertemu dengan Meghan di sebuah restoran.
Spekulasi Adisty semakin kuat jika suaminya, memiliki wanita di luar sana.
Vinsen mengerutkan kening saat mendapati Adisty terus menatapnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Adisty tersadar, ia menutup laptopnya. Ia memang sengaja menunggu kepulangan Vinsen untuk makan malam sambil menyelesaikan pekerjannya.
"Aku tidak terbiasa makan malam sendiri." Adisty tersenyum getir. "Aku merindukan rumah, Mama, Papa dan Senjany."
Adisty sedikit terkekeh.
"Kamu benar Vinsen, seharusnya pernikahan ini tidak terjadi." Adisty bangkit dari duduknya, ia menggeser kursi dan siap untuk beranjak.
Vinsen menahan pergelangan tangan Adisty saat sang istri berada satu langkah di depannya. Adisty berbalik, cekalan tangan Vinsen perlahan mengendur.
"Maksudmu, kamu menyerah?"
Kali ini senyum yang terbit dibibir Adisty adalah senyum khas dirinya. Ia mengguyur rambutnya ke belakang.
"Aku hanya sedikit lelah, besok enrgiku akan kembali sempurna. Tenang saja!"
"Kamu tidak perlu khawatir aku akan menyerah dengan mudah. Aku harus mempertahankan apa yang sudah menjadi miliku Vinsen."
"Jujurlah satu hal padaku!"
"Aku hanya ingin memastikan. Apa kamu memiliki wanita di luar sana?" Adisty menikam Vinsen tepat pada netra bulat di hadapannya. Ia tidak ingin Vinsen melakukan kesalahan dengan berbohong dan semakin memperburuk keadaan.
"Jawab aku, Vinsen." suara Adisty terdengar lirih. Kali ini, Vinsen benar-benar melepas pergelangan tangan Adisty
"Tidak!"
Adisty menyipitkan matanya. Mencoba memastikan sesuatu. Adisty pastikan, jika Vinsen baru saja melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Ada baiknya kamu jujur saja, aku tidak akan marah."
Vinsen tersenyum dengan sangat meremehkan. Memangnya apa perdulinya sekalipun Adisty akan marah, menangis dan mengadukan semua pada papahnya. Vinsen tidak pernah menginginkan pernikahan ini untuk terjadi. Sebelum semuanya semakin jauh, mungkin memang lebih baik jika mengakhirinya saja.
"Kamu pikir aku akan perduli jika kamu marah?"
"Aku tidak pernah memiliki pacar setelah putus dengan kamu tujuh tahun yang lalu! Puas?"
Vinsen beranjak ke arah tangga setelah menjawab pertanyaan Adisty, meninggalkan Adisty dengan segera. "Tadi siang aku melihat kamu di restoran, kamu duduk dengan seorang wanita. Berhati-hatilah, aku harap wanita itu belum memiliki suami."
Vinsen menghentikan langkahnya. Kemudian ia kembali kepada Adisty, Adisty dengan tenang hanya menatapnya. Jelas saat ini, di hadapannya Vinsen terlihat amat kesal.
Tapi apa yang Adisty katakan memang sebuah fakta, akan wajar jika ekspresi Vinsen saat ini membuat Adisty semakin yakin dengan asumsinya.
"Kamu membuntutiku?"
"Apa itu kamu? Ku kira bukan, karena aku hanya melihat punggungnya saja. Aku tidak melihat wajahnya."
Damn!
Vinsen mengumpat dalam hati, rupanya ia dijebak. Baiklah, Adisty memanglah cerdas, Vinsen mengakuinya.
Vinssn hanya mampu mematung. Sementara Adisty menoleh ke arah meja makan. Seorang perempuan paruh baya tampak baru saja muncul dari pintu belakang.
"Makanannya bereskan sekarang, Nyonya?"
Dia adalah seorang asisten rumah tangga yang baru saja Zyla kirim sore tadi untuk membantu Adisty.
"Jangan dulu, Bi. Tuan Vinsen akan makan, bereskan setelah nanti dia selesai menikmati makan malam." sekilas Adisty menoleh pada Vinsen yang tak dapat mengatakan sepatah kata pun. Ia sedang terpojok saat ini.
"Baik, Nya."
Bibi kembali ke kamarnya di belakang rumah. Meninggalkan Adisty dan Vinsen di sana. Adisty menatap Vinsen cukup lama. "Selamat makan malam. Aku tidur duluan."
Adisty berlalu dari sana. Meninggalkan Vinsen yang mrngumpat kesal di tempatnya. Yang membuatnya heran, kenapa ia turun dari tangga dan duduk di meja makan?
Bahkan bersiap untuk menyendokan nasi ke piringnya. Ia benar-benar menuruti perkataan Adisty untuk melakukan makan malam.
"Sialan!"
"Aku memang sudah gila!"
TBC
__ADS_1