
"Adisty?"
"Jerremy. Ada apa?"
"Bagaimana, sudah sembuh?"
"Sudah. Terimakasih sudah datang menjenguk ke Rumah Sakit. Maaf merepotkan."
Jerremy tersenyum ia mengguyur rambutnya ke belakang, mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan tersenyum dan memperlihatkan gingsulnya yang amat terlihat jelas. Adisty tersenyum melihatnya.
Tanpa keduanya tau, jika Vinsen mendengar hal itu. Dua hari ia habiskan diluar kota demi mengharumkan nama sekolah, tanpa bisa menjenguk Adisty. Sedangkan ternyata, ada orang lain yang berani mendekati pacarnya.
"Disty,"
Adisty melirik Jerremy sebentar saat tiba-tiba saja Vinsen muncul. Jerremy yang mengerti situasi lantas berpamit, pergi lebih dulu tanpa menyapa Vinsen.
"Hay, aku dengar kamu kembali meraih medali emas? Selamat, yah." ia memeluk Vinsen sebentar.
"Jadi kemarin Jerremy menjenguk kamu di rumah sakit?"
"Iya—"
"Kalian bersenang-senang?"
"Apa maksud kamu?"
Vinsen tertawa. "Aku tidak fokus menjalankan pertandingan karena mencemaskanmu tapi ternyata?"
Adisty menghela nafas. Bukankah seharusnya Vinsen meminta maaf karena sudah memaksa Adisty menembus hujan dan menyebabkannya sakit?
Jelas-jelas Jerremy hanya menjenguk Adisty, dan mereka tidak hanya berdua di ruang rawat Adisty.
"Sudahlah, jangan bicara denganku untuk sementara waktu. Kamu memang tidak pernah mau mendengarkan apa yang aku katakan!"
Vinsen berlalu.
Adisty tidak dapat mencegahnya. Lebih tepatnya tidak ingin mencegahnya. Sikap pencemburu Vinsen yang tidak dapat ia kendalikan. Adisty tidak tau bagaimana cara menghadapinya, dan ia selalu membiarkan pemuda itu.
Karena ia yakin, kurang dari satu jam pun. Vinsen akan mendatanginya, meminta maaf, mengajak makan, atau bersikap seolah tidak terjadi apapun di antara kedunya.
Waktu terus berjalan selayaknya air yang mengalir. Vinsen lulus dengan nilai terbaik, ia merayakannya dengan kawan-kawan seangkatannya. Adisty sudah lebih dulu memberinya ucapan selamat sebelum pulang lebih dulu.
Sebelum pulang dan meninggalkan sekolah. Vinsen mendapati sebuah note dalam karton kecil di dalam tasnya.
...Dear Vinsen...
...Selamat, aku bangga kepadamu....
...Aku mencintaimu....
...Adisty....
*
__ADS_1
*
Adisty berjalan dengan langkah santai, begitu sampai di depan pintu sebuah hotel dengan nomor pintu 202. Ia membukanya dengan sebuah kartu, memegang handle dan segera membuka pintu.
"Vinsen," ia memanggil orang yang mengundangnya untuk datang.
"Vin."
Ragu-ragu ia berjalan. Kembali melihat sebuah note di tangannya. Di mana Vinsen memang menyuruhnya untuk datang ke kamar hotel yang saat ini Adisty tempati.
"Vin, itu kamu?"
Adisty melangkah mendekat pada sebuah siluet yang duduk dengan kepala tertunduk di tepi tempat tidur. Lampu di sana memang tidak menyala, sehingga Adisty tidak dapat melihatnya. Ia mengernyit saat mendapati yang duduk di sana ternyata adalah Jerremy.
"Jerremy?"
"Kamu?"
"Sebentar." Adisty tampak kebingungan.
"Adisty. Untuk apa kamu di sini?" Jerremy juga sama heran dan bingungnya.
"Aku, aku menunggu Vinsen."
Jerremy mengernyit tidak mengerti. Ia merogoh saku jaketnya dan menyerahkan sebuah note pada Adisty.
...Temui aku di Rossa Hotel...
Adisty mengernyit heran melihatnya, ia juga buru- buru mengambil note dari clutchnya dan menunjukannya pada Jerremy. Isi note yang sama yang menyuruhnya datang pada kamar hotel ini. Adisty mengira jika Vinsen yang mengundangnya untuk merayakan kelulusan pemuda itu.
"Sepertinya ada kekeliruan di sini. Kita dijebak." ungkap Jerremy yang seketika saja membuat Adisty cepat-cepat berbalik badan dan segera membuka pintu.
Jerremy yang akan menyusul hanya mematung saat melihat Vinsen sudah berdiri di sana. Di ambang pintu tepat di depan Adisty. Ekpresinya tampak terkejut mendapati sang pacar berada dengan pria lain di dalam kamar hotel.
"Vinsen,"
Vinsen menggeser tubuh Adisty, tangannya terkepal sempurna dengan raut wajah menyeramkan yang siap menerkam siapapun. Emosinya sudah sangat tersulut, ia menerobos masuk dan mengahajar Jerremy tanpa ampun.
"Vinsen!"
Adisty mencobakan menghentikan Vinsen, tapi pemuda itu tak mau mendengarkan. Adisty menarik tangan Vinsen agar berhenti memukuli Jerremy yang tak melakukan perlawanan.
"Kamu membela dia?" tanya Vinsen dengan tatapan meremehkan dan nafas yang berantakan.
"Vinsen, terjadi kesalahpahaman di sini!"
Vinsen menyeringai, ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan meremasnya sebelum akhirnya melemparkanya pada dada Adisty.
"Jangan pernah menghubungiku lagi. Semuanya sudah selesai di antara kita!" Vinsen menepis tangan Adisty yang menahan lengannya. Ia menatap Adisty dengan mata memerah, kemudian pergi tampa bisa Adisty cegah. Lagi.
Pria mana yang tidak merasa sakit hati mendapati pacarnya berada dalam kamar hotel dengan pria lain?
Adisty memungut kertas yang Vinsen lempar padanya. Ia membukanya ragu-ragu.
__ADS_1
...My dear....
...Temui aku di Rossa Hotel...
...Kamar no. 202. Kita perlu merayakan kelulusanmu. Jangan terlambat, ingat, pukul delapan malam....
...Adisty...
Adisty menggeleng, ia tidak pernah mengirimkan note apapun pada Vinsen kecuali note ucapan selamat kelulusan pada sang kekasih yang ia masukan ke dalam tas Vinsen.
Mereka bertiga memiliki note yang sama, namun dengan waktu yang berbeda. Waktu antara milik Jeremmy dengan Adisty berdekatan seolah memang sengaja di atur seperti itu, dan note milik Vinsen yang dua puluh menit lebih lama.
Tapi Adisty percaya, Vinsen hanya sedang marah saat ini. Setelahnya, seperti yang sudah-sudah selama satu tahun ini, semuanya akan kembali baik-baik saja.
"Kamu tidak papa?" Adisty menghampiri Jerremy.
"Tidak papa. Kamu kenapa tidak mengejar Vinsen?"
"Biarkan!"
Adisty tau, akan percuma mengajak Vinsen berbicara jika pemuda itu sedang marah. Untuk sementara waktu, biarkan saja.
Meski pada kenyataannya, semua tidak sesuai dengan apa yang Adisty harapkan. Satu minggu berlalu Vinsen tak pernah lagi menghubunginya, bahkan pria itu sulit di hubungi.
Dan Adisty harus mulai menerima, jika hubungannya dengan Vinsen benar-benar sudah berakhir.
Rai Vinsen Jagaska. Cinta pertama, yang ia harapkan untuk menjadi cinta terakhirnya. Namun kini, semua sirna.
Jerremy menelusurinya. Siapa pengirim note tersebut dan ia menemukan fakta, jika pelakunya adalah kawan seangkatannya. Ketua Geng yang sering membuli Adisty.
Kebenaran terungkap dengan cepat. Namun sayang, saat itu Vinsen sudah pergi entah kemana. Kabar terakhir yang Adisty dengar, Vinsen memilih untuk melanjutkan pendidikannya di luar negri.
Adisty tidak tau, kapan mereka akan kembali di pertemukan.
*
*
Adisty menghela nafas, ia perlahan membuka pintu mobil. Rasa pusingnya membawa ia pada kenangan masa remajanya bagaimana ia dan Vinsen menikmati masa berpacaran dulu. Meski semua berakhir karena kesalahpahaman dan keegoisan Vinsen yang tidak pernah mau mendengarkan penjelasan orang lain. Atau sekedar bertanya duduk permasalahan tanpa menyimpulkannya sendiri.
Pagi tadi ketika bangun tidur, Adisty sudah tidak mendapati Vinsen di dalam kamar. Ia tau Vinsen pergi pagi-pagi sekali, entah apa yang akan pria itu lakukan. Adisty tidak mengerti.
Wajah Adisty terlihat pucat, ia tampak tidak bersemangat. Memegang kepalanya sebentar, kemudian turun dari mobil setelah di rasa pusing di kepalanya berangsur reda.
Di depannya adalah sebuah Rumah Sakit. Adisty akan menemui dokter karena suhu panas di tubuhnya tak kunjung menurun.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Kemudian langkah kaki Adisty terhenti, terik matahari membuat kepalanya kian pusing. Pandangannya kabur. Selanjutnya, ia merasa tubuhnya bagai terhempas. Anehnya ia tidak sampai terjatuh, seperti ada orang yang menahannya meski Adisty tidak dapat melihat, matanya sulit terbuka.
Ia hanya mendengar samar-samar orang di sekelilingnya yang menyuruhnya untuk segera di bawa ke Rumah Sakit. Kemudian, ia tidak sadarkan diri.
TBC
Aku pengen up cepet dan banyak. Cuma kadang kalau liat like dan vote, kok aga bikin—Sa pamit mo pulang😂😂
__ADS_1