Maybe Mine

Maybe Mine
Alone


__ADS_3

Vinsen tidak bohong saat mengatakan jika mobilnya bermasalah, hari ini pun mobilnya masih berada di bengkel dan ia masih menggunakan mobil Adisty. Dan sesuatu yang harus diurusnya adalah Isyana, tiga hari ini mereka hanya bertemu di kantor, itu pun sebentar karena Vinsen yang sibuk dengan pekerjaannya.


Tidak ada banyak waktu untuk membicarakan bayak hal, terutama masa depan hubungan mereka. Dan akhir-akhir ini, Vinsen merasa Isyana seolah menutup diri darinya. Dan cara satu-satunya untuk menaklukan hati wanita itu, adalah dengan datang padanya secara langsung dan berbicara.


Tanpa mengetuk pintu, Vinsen justru merogoh saku celana dan mengambil sebuah kunci rumah dari sana. Ia segera memasukan dan memutar kunci, membuka pintu.


Langkahnya terlihat ringan saat ia memasuki rumah dan melewati ruang tamu, menatap figura besar di mana potretnya dengan Isyana tengah tersenyum bahagia di sana.


Vinsen tersenyum saat seorang wanita berdiri menatapnya dengan tampang terkejut dan segelas air putih di tangannya.


"Hay,"


"Kamu?" Isyana tampak tidak percaya jika di hadapannya adalah Vinsen. Orang yang akhir-akhir ini sangat jarang menemuinya.


"Tidak merindukanku?" tanya Vinsen sambil merentangkan tangannya. Isyana tersenyum, meletakan gelas yang di pegangnya pada meja di bawah figura, ia lantas memeluk Vinsen, menghirup aroma tubuh pria yang sangat dirindukannya.


"Aku sangat merindukanmu." ungkap Isyana. Vinsen tersenyum mendengarnya. Ia mengusap punggung sang kekasih. Merasakan pelukan erat Isyana ditubuhnya.


Kacau, saat kepalanya justru mengingat apa yang terjadi antara dirinya dengan Adisty sebelum ia pergi. Vinsen tidak tau apa yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut, yang ia tau, perasaannya seolah bertolak belakang dengan logikanya yang sangat menolak kehadiran Adisty di hidupnya.


"Vin,"


Isyana mendongak, mendapati Vinsen yang justru melamun menatap di hadapannya. Wanita itu mengurai pelukan. "Ada apa?"


"Hmm?" spontan Vinsen menatap Isyana, wanita itu memperhatikan.


"Emmm, bagaimana dengan jalan-jalan?" tawar Vinsen dengan cepat, mengalihkan pembicaraan. Bukannya senang, Isyana justru menekuk wajah. Ia kembali mengambil gelas yang tadi ditaruhnya, meminum isinya sedikit dan duduk pada sofa panjang di ruang tamunya.


Vinsen memperhatikan, kemudian ikut duduk di samping Isyana. "Ada apa?"


"Sepertinya terlalu berbahaya untuk kita pergi berjalan-jalan di luar."


"Tidak perlu khawatir, kita hanya perlu berdiam diri di dalam mobil, atau berjalan-jalan di tempat sepi."


"Bagaimana?"


Akhir-akhir ini, Vinsen merasa terlalu sering berada di rumah, sehingga jalan-jalan menjadi alternatif baginya untuk menyegarkan pikiran.


Atas bujukannya, Isyana bersedia berjalan-jalan dengannya. Keduanya naik ke mobil, senyum Isyana tampak merekah, rasanya sudah sangat lama tidak bersenang-senang dengan Vinsen.

__ADS_1


Dan hari ini, mereka akan menghabiskan waktu bersama. Vinsen menghidupkan mesin mobil, tapi ia tak kunjung melajukam kendaraan roda empat tersebut, membuat wanita di sampingnya heran dan menoleh pada Vinsen.


"Ada masalah dengan mobilnya?" tanyanya setengah heran. Berharap-harap cemas, takut acaranya dengan Vinsen hari ini akan gagal.


"Tidak ada."


"Lantas?"


Isyana hanya mengernyit menatap Vinsen yang justru lekat menatapnya. Mendadak ia merasa Vinsen sangat aneh dan berbeda. Mata pria itu saat menatapnya, seperti, menyiratkan rasa bersalah, Isyana tidak tau apa maksudnya.


"Vin?"


Vinsen mendesah, ia melepas seatbelt yang dikenakannya, meraih dagu Isyana dan menyatukan bibir mereka. Isyana hanya memejamkan mata, jika Vinsen melakukan sesuatu hal yang membuatnya senang, artinya tidak ada apa-apa. Tidak ada hal mengkhawatirkan yang terjadi dan semuanya akan baik-baik saja.


Jauh dilubuk hati seorang Vinsen, ia hanya mencoba menghapus apa yang terjadi antara dirinya dengan Adisty. Karena sejak tadi, wajah wanita itu terus bersarang di kepala Vinsen, membuat kepalanya terasa ingin pecah.


Sensasi yang saat itu di rasakannya pun masih membuat aliran darahnya terasa terhenti.


Dengan menghapusnya bersama Isyana, mungkin perasaannya akan membaik. Ia tidak ingin memikirkan Adisty.


*


*


Zyla sudah pamit lebih dulu karena suatu urusan, meninggalkan Adisty hanya dengan Dian di rumah. Mama mertuanya itu baru saja selesai membuat kue kering dan menyuguhkannya pada Adisty.


"Coba kamu cicipi," ujarnya dengan bersemangat. Adisty mengangguk. Mengambil satu kue kering dan menggigitnya. Dian menatapnya, berharap-harap cemas dengan penilaian menantunya.


"Bagaimana?"


"Enak,"


"Syukurlah."


"Seharusnya Disty membantu Mama." sesal Adisty karena ia hanya bisa memperhatikan Dian saat membuat kue tadi.


"Kapan-kapan kita bikin barengan, bagaimana?"


"Boleh, Ma."

__ADS_1


Dua wanita berbeda generasi itu tersenyum hangat. Bagi Adisty, berbading terbalik dengan Vinsen, Dian memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan tatapan wanita paruh baya itu tampak tulus setiap kali melihatnya. Seolah, pernikahan antara dirinya dengan Vinsen didasarkan karena cinta, bukan sebuah simbosis mutualisme yang di dapat oleh ke dua belah pihak keluarga.


Dian melihatnya seolah menganggap jika Adisty adalah menantunya, wanita yang menjadi istri putranya, bukan putri bungsu keluarga Dirgantara.


"Bagaimana kamu dengan Vinsen?" Dian bertanya dengan tangannya yang menyentuh punggung tangan Adisty.


"Sepertinya Vinsen masih membutuhkan banyak waktu, Ma. Tidak papa,"


Dian tersenyum lembut. "Kamu yang kuat, yah. Mama mengenal Vinsen, dia anak yang baik. Suatu saat, dia pasti bisa menerima kamu."


Adisty hanya mampu mengangguk dan tersenyum. Semuanya hanya tergantung waktu asalkan Adisty siap menunggu.


Siap menunggu Vinsen mencintainya, atau menunggu Vinsen untuk meninggalkannya.


Tepat pukul dua siang, Dian pamit pulang. Meninggalkan Adisty di dalam rumahnya yang sepi, ia mendapat telpon dari Meghan yang menanyakan kabarnya. Wanita itu sibuk sendiri karena Adisty tidak mengabarinya jika sakit.


"Tidak begitu parah, kakiku hanya lecet. Kamu mengetahuinya sendiri bagaimana Mas Chandra dan Tuan Rean yang selalu berlebihan."


"Sungguh? Tapi syukurlah jika kamu benar tidak papa."


"Ahh, kamu beruntung memiliki mereka berdua, dan juga suamimu."


"Aku ingin menjengukmu, tapi restoran sedang sangat ramai saat ini." Meghan terdengar mendesah.


"Tidak papa, kakiku sudah pulih, kita bisa bertemu kapan-kapan."


"Aku kecewa,"


"Ada apa?"


"Harusnya kamu memberitahuku, kesannya aku bukan teman yang baik untukmu."


Adisty tertawa. Begitulah seorang Meghan yang memang tidak enakan dan orang yang perhatian padanya. "Tidak papa, kamu kembali saja bekerja."


"Kasihan pelangganmu jika kamu hanya berkutat dengan telpon."


"Yasudah. Jika sudah sembuh kabari aku dan datanglah ke restoran. Aku akan mentraktirmu."


"Iya. Baiklah,"

__ADS_1


Telpon terputus. Adisty diam di tempatnya, ia menyentuh bibirnya. Vinsen, kapan pria itu akan pulang?


TBC


__ADS_2