
Beberapa kali Isyana melihat jam dinding yang berada di ruangan Vinsen. Seharusnya rapat sudah selesai sejak dua puluh menit yang lalu. Tapi Vinsen tak kunjung muncul ataupun menghubunginya.
Bosan, Isyana memilih untuk keluar dari ruangan Vinsen. Ia perlu mencari udara segar, setidaknya jauh lebih baik daripada berada di ruangan Vinsen sendirian.
Ia melewati kubikel para karyawan yang sedang berkutat dengan pekerjaannya. Sebagian dari mereka tampak bergosip ria.
"Kurasa mereka memang pasangan yang serasi."
"Aku setuju, sangat jelas jika Pak Vinsen begitu mencintai Ibu Adisty. Jika tidak, mana mungkin Pak Vinsen menggendongnya dari loby sampai ke parkiran."
"Loby perusahaaan Jagaska sangatlah, luas."
"Semoga saja begitu, selain menambah keping uang perusahaan, pernikahan politik juga biasanya menumbuhkan cinta."
"Aku menyukai mereka."
Isyana terdiam di tempatnya. Dua orang yang tengah bergosip tampak tersenyum padanya setengah tidak enak. Ketahuan bergosip di jam kerja dengan bos mereka yang dijadikam bahan gosip sangatlah tidak etis.
Sekarang Isyana mengerti kenapa Vinsen tak kunjung menemuinya. Pria itu entah pergi ke mana dengan istrinya. Membuat suasana hati Isyana memburuk seketika.
Isyana berbalik, langkahnya membawa ia untuk kembali ke ruangan Vinsen. Tanpa ia duga, seseorang sudah lebih dulu berada di depan ruangan Vinsen. Barangkali sedang menunggunya.
Isyana mulai tidak tenang, sementara langkahnya terus berjalan dengan pelan sampai ia berhadapan dengan orang tersebut.
"Bagaimana, kamu betah bekerja di sini?"
Isyana tidak tau harus menjawab seperti apa. Yang ia lakukan hanyalah menunduk tanpa bisa membela diri. Harapannya hanya satu, ia ingin Vinsen segera datang dan menyelamatkannya dalam situasi saat ini.
"Aku harus ke perusahaan, bukan pulang." protes Adisty entah untuk yang keberapa kali.
Kali ini, sepertinya Isyana harus mengalah. Karena Vinsen lebih memilih bersama dengan Adisty beberapa waktu ke depan. Pria itu hanya fokus menyetir tanpa perduli dengan Adisty yang memintanya untuk di antarkan ke perusahaan Dirgantara.
"Aku yakin kamu juga memiliki banyak pekerjaan. Jadi antarkan aku ke perusahaanku dengan cepat. Sebaiknya kita jangan berdebat."
"Kita tidak berdebat, kamu yang mengoceh sejak tadi. Aku sudah berusaha sabar dengan diam."
Adisty mendesah, ia memang sebaiknya terus mengalah. Percuma saja berdebat, ataupun berbicara dengan Vinsen.
Vinsen menghentikan mobil di pelataran rumah. Ia segera membuka seatbelt dan turun, Adisty juga melepas seatbeltnya, Vinsen membukakan pintu mobil, bersiap kembali menggendong Adisty.
"Tidak perlu," tolak Adisty, menghindari sentuhan Vinsen.
Vinsen menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Wajah keduanya yang saling berhadapan dalam jarak dekat membuat mata Adisty bergerak gelisah, perasaannya resah.
"Kamu tidak menolak saat Farel menyentuhmu,"
__ADS_1
"Kalian berbeda."
"Apa? Aku suamimu, aku yang jauh lebih berhak daripada siapapun!"
Seketika suasana menjadi hening setelah Vinsen berhenti berbicara. Angin saja seolah menolak hadir di saat seperti ini. Adisty yang dengan cepat tersadar buru-buru mengalihkan tatapannya ke arah lain. Vinsen dengan segera mengangkat tubuh Adisty, kali ini wanita itu tidak dapat menolak ataupun menghindar.
Vinsen menutup pintu mobil dengan kakinya. Ia berjalan ke arah rumah dan membawa Adisty masuk. "Jangan terlalu dekat dengan Farel."
"Dia orang yang baik."
"Kamu tidak bisa menilai seseorang hanya karena di pernah sekali menolongmu!"
"Ingatlah untuk tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing."
Vinsen tepat menatap mata wanita itu. Adisty juga menatapnya dengan tatapan tenang, sama seperti biasa jika wanita itu tak pernah takut padanya. "Kamu sendiri yang mengatakannya." sambung Adisty, sepertinya Vinsen harus menyesalinya sekarang. Di masa depan, ia harus sangat berhati-hati jika bicara.
Vinsen memutus tatapan mereka. Kakinya mulai melangkah menapaki anak tangga.
Vinsen merebahkan Adisty dengan hati-hati di atas tempat tidur. "Tetap di sini!" Ia beranjak setelahnya, Adisty hanya menatap punggung pria itu yang semakin menjauh, kemudian hilang dari pandangannya.
Sudah seharusnya ia tidak berharap lebih pada pria itu. Vinsen terlalu misterius dan sulit ditebak.
"Aw, kenapa harus separah ini?!" Adisty meringis melihat kakinya yang justru memar, sedikit membengkak. Ia merogoh gawainya dari saku blazer, menelpon Skretarisnya jika ia tidak akan datang ke perusahaan untuk beberapa hari ke depan.
"Kirimkan saja berkas yang perlu saya tandatangani."
"Baik,"
" ...,"
"Terimakasih, yah."
Adisty menutup telpon. Ia baru merasakannya sekarang jika ia sangatlah haus. Sementara untuk mengambil minum, ia harus turun ke bawah dengan kakinya yang sangat sakit.
Seandainya Vinsen tidak membuat Bibi berhenti bekerja, mungkin Adisty tidak perlu bersusah payah melangkah pelan sambil menahan sakit di kakinya hanya untuk sekedar minum.
Ia menghela nafasnya setelah segelas air memabahasi kerongkongannya. Dan sekarang, ia hanya berdiam menatap anak tangga, ada perasaan tak sanggup di hatinya harus kembali naik ke atas. Tapi mau tak mau, ia memang harus kembali ke kamar.
Langkahnya masih sama seperti saat ia turun, pelan dan hati-hati. Naas, nasib baik tak selalu berpihak padanya saat justru ia terjatuh. Duduk dengan ringisan yang semakin kuat.
"Aww, aissh. Aku tidak selemah ini," lirihnya sambil memegangi kakinya.
Vinsen yang baru saja kembali setengah berlari menghampiri Adisty. "Apa aku tidak bilang kalau seharusnya kamu berada di kamar saja dan jangan kemana-mana!." sahut Vinsen sambil mengangkat wanita itu susah payah.
Sedangkan Adisty hanya diam. Heran mendapati Vinsen kembali ke rumah.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Vinsen tanpa menatap Adisty. "Aku baru kembali dari apotik. Kakimu perlu diobati." ia mengatakannya bahkan saat Adisty tidak bertanya.
Adisty sama sekali tidak bersuara. Ia memang heran dan tak menyangka jika Vinsen akan kembali.
Sedangkan tanpa Adisty tau, Vinsen memang pergi untuk membelikan obat untuknya di apotik. Ia sama sekali tidak memiliki niatan untuk meninggalkan Adisty begitu saja dalam keadaan saat ini yang terjadi karena dirinya.
Vinsen melangkahkan kakinya memasuki kamar yang tidak tertutup. Ia kembali merebahkan Adisty, wanita itu memperbaiki posisinya. Bersandar pada kepala ranjang.
Vinsen mengeluarkan sebuah salep dari plastik yang dibawanya. Ia mengolesi kaki Adisty, sedangkan Adisty hanya memperhatikannya.
Sepertinya untuk saat ini, ia sedang bersama dengan Vinsen dari tujuh tahun lalu. Vinsen-nya yang perhatian."Aww," rintih Adisty yang membuat gerakan tangan Vinsen berhenti, ia menoleh pada wanita itu. Mengembuskan nafasnya dengan tenang dan kembali mengolesi kaki Adisty dengan sangat lembut.
"Kalian berangkat bersama?" pertanyaan random Vinsen yang tiba-tiba membuat Adisty mengernyitkan dahi tidak mengerti.
"Farel." Vinsen memperjelas pertanyaannya.
Adisty diam, Vinsen menatapnya. Ia sudah selesai mengobati kaki Adisty dan menyimpan tube salep pada meja di samping tempat tidur, ia lantas dudul di tepi tempat tidur.
"Jea,"
Adisty memusatkan tatapannya pada Vinsen. "Aku bertanya."
"Aku bertemu Farel di jalan, dia mengajaku karena tempat tujuan kami sama."
"Tapi dia tidak ragu saat terang-terangan mendekati bahkan menyentuhmu di hadapanku." wajah Vinsen datar, ia merasa kesal saat mengingatnya.
"Aku tidak tau."
Pada dasarnya Adisty memang tidak tau. Ia dan Farel bahkan baru saja saling mengenal. Kejadian tadi pagi adalah pertemuan kedua mereka setelah pertemuan pertama terjadi saat pernikahannya dengan Vinsen.
"Kamu tidak akan kembali ke kantor?" Adisty mengalihkan pembicaraan. Vinsen tak menyahut, ia bangkit dan membuka jasnya. Meletakannya dengan begitu saja di atas tempat tidur.
"Aku akan menghangatkan makanan untukmu. Tunggu di sini, jangan turun ke bawah."
"Aku bertanya!" Adisty mengabaikan kalimat Vinsen tadi. Vinsen menoleh, ia membuka rompi dan meletakannya di atas jas yang baru ia buka tadi. Lantas menggulung lengan kemeja hitamnya sampai sikut dan tak kunjung menyahut pertanyaan Adisty tadi.
"Tunggu di sini." ia berlalu dari kamar setelah mengatakannya. Vinsen benar-benar tak berniat menjawap pertanyaan yang Adisty ajukan. Adisty menggeleng pelan. "Cih."
Di dapur yang bahkan tak pernah dikunjunginya kecuali saat akan makan. Vinsen harus berkutat dengan perlatan tempur ibu-ibu.
Beruntung, skilnya di dapur tidaklah buruk, mengingat bagaimana dulu dia hidup mandiri saat berkuliah di luar negri dan mengurus segala keperluannya sendiri, termasuk memasak makanan.
Ia bersandar pada meja makan, menunggu sup yang ia panaskan mendidih. Ia berdecak, pelan. Sepertinya, selama kaki Adisty belum sembuh. Ia yang harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.
Baiklah, mungkin ini adalah hukuman untuknya karena berniat menghukum Adisty dengan memecat asisten rumah tangga mereka.
__ADS_1
Pada akhirnya, justru ia sendiri yang terkena imbasnya. "Arrgghh!"
TBC