
Lampu lalu lintas sedang menyala berwarna merah. Mobil yang dikemudikan Gerry berhenti mengikuti aturan lalu lintas. Vinsen di belakangnya hanya diam setelah mereka pulang dari perusahaan Adisty.
"Kita ke rumah Isyana sekarang," perintah Vinsen begitu lampu lalu lintas berwarna hijau. Gerry tampak keberatan.
"Pak Malik akan melaporkan hal ini pada Pak Wari, jika kita datang sangat terlambat, Pak."
"Kamu juga akan melapor jika saya datang mendatangi Isyana, bukan?"
"Maaf, Pak."
Vinsen berdecih. "Tapi kita harus segera ke perusahaan," Gerry membujuk, berharap Vinsen tidak keras kepala untuk kali ini.
"Minggir, biar saya yang menyetir!"
Gerry hanya memejamkan matanya sekilas. Kemudian mengangguk dan memilih menuruti Vinsen untuk mengemudikan mobil menuju rumah Isyana.
Gerry tidak tau hal istimewa apa yang Vinsen lihat dari wanita malang yang dua tahun lalu ditemuinya itu. Tapi selama dua tahun ini, ia memang melihat Vinsen jauh lebih baik dari beberapa tahun sebelumnya.
Meski begitu, Gerry tetap merasa tidak setuju dengan keputusan Vinsen yang tetap bertahan dengan Isyana di atas statusnya yang sudah menjadi suami dari putri bungsu keluarga Dirgantara.
Dilihat dari segi apapun, Adisty jelas yang paling unggul jika dibandingkan dengan Isyana.
Begitu mobil sampai di pelataran rumah Isyana. Vinsen buru-buru turun, sedangkan Gerry memilih untuk menunggu di dalam mobil.
Vinsen menghela nafas. Sepertinya ia harus siap jika Isyana akan marah besar padanya karena ia tidak pernah menemuinya saat di Rumah Sakit.
Beberapa kali Vinsen mengetuk pintu, namun tak kunjung ada respon dari dalam. Dan ia lupa membawa kunci cadangan yang dimilikinya.
"Isyana,"
"Sayang."
Tak ada sahutan atau tanda-tanda Isyana ada di dalam rumah. Wanita itu tidak memiliki tempat lain kecuali rumah ini dan ...., Vinsen mengeluarkan ponselnya. Ia mendial nomor seseorang dan menghubunginya.
Sementara di dalam rumah, Isyana memilih diam dan tidak membukakan pintu meski Yerin—temannya saat bekerja di kafe menyuruh ia untuk menemui Vinsen.
"Kamu harus mengerti keadaan Vinsen, Isyana."
"Dia memiliki seorang istri, kamu hanya orang ketiga di antara mereka."
"Aku kekasih Vinsen, wanita itu yang datang dan merebut Vinsen dariku, Yerin!" Isyana bersikeras. Pada dasarnya Vinsen memang mencintainya, miliknya dan Adisty yang merebut Vinsen darinya. Dia bukan orang ketiga.
"Tapi statusmu sebagai pacar bukan apa-apa dibandingkan dia yang istri sah Vinsen di muka umun."
Yerin mengusap bahu Isyana. Ia tidak menyalahkan Isyana sepenuhnya. Hanya saja nasibnya malang sehingga tidak dapat bersama secara utuh dengan Vinsen.
"Temui Vinsen."
"Vinsen tidak menemuimu di Rumah Sakit bukan tanpa alasan."
Tangan Yerin tergerak untuk mengusap lelehan air dari mata Isyana dan membasahi pipi mulusnya. "Aku tidak bisa selamanya berbagi Vinsen dengan wanita lain, Vinsen harus bisa memilih antara aku dengan istrinya."
"Vinsen tidak mencintai istrinya, Yerin. Dia hanya mencintaiku, dia selalu datang padaku dalam keadaan apapun."
Yerin menghela nafas, sepertinya ia harus sedikit menyalahkan Isyana yang terlalu kekanakan. Jika ia masih ingin dengan Vinsen, seharusnya ia mengerti dengan posisi Vinsen dan hubungan mereka yang harus disembunyikan.
"Kamu boleh menyuruh Vinsen untuk memilih. Tapi tidak untuk sekarang. Kamu harus sedikit lebih sabar. Sekarang, temui Vinsen."
Yerin menoleh pada ponselnya yang berdering. ID dengan nama Vinsen menghiasi layar ponsel, tampaknya Vinsen akan menanyakan Isyana padanya.
Yerin memilih untuk mengabaikan telpon, ia meraih kedua tangan Isyana.
"Kamu tau sendiri bukan, Vinsen memiliki mata-mata di perusahaannya. Akan jadi masalaah jika Papanya tau dia menemuimu dan datang terlambat ke perusahaan."
"Cepatlah!"
Isyana mengangguk. Ia menghapus air matanya dan beranjak. Ketika sudah sampai di depan pintu, ia menghela nafas. Memutar kunci perlahan dan membuka pintu tak kalah pelan.
Vinsen yang berdiri di hadapannya tampak menghela nafas, perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Buru-buru meraih Isyana ke pelukannya. Isyana hanya bisa memejamkan matanya dalam dekapan Vinsen.
__ADS_1
Rasanya terlalu lama ia menahan rindunya. Isyana semakin takut, perasaannya menjadi khawatir jika di masa depan, Vinsen akan berpaling dan meninggalkannya.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf," berkali-kali Vinsen mengecup kening Isyana. Perlahan mengurai pelukan mereka, jari tangannya mengusap air mata Isyana.
"Kenapa kamu tidak datang saat aku di Rumah Sakit?"
"Maaf." hanya maaf yang bisa Vinsen katakan. Selebihnya, ia tidak bisa banyak menjelaskan.
"Pada akhirnya kamu akan terus berada dengan istrimu, 'kan Vinsen. Dan aku akan kembali seperti dulu, pada akhirnya aku akan sendirian lagi, 'kan Vinsen."
"Tidak Sayang."
"Iya, Vinsen!"
"Waktu kita semakin sedikit, kamu lebih banyak menghabiskan waktu dengan istri kamu. Pelan-pelan kamu akan nyaman jauh dariku Vinsen." air mata Isyana jatuh semakin deras. Vinsen kembali memeluknya, menenangkan wanita itu dengan usapan lembut di punggungnya.
"Ikutlah denganku ke perusahaan."
Perlahan Isyana mengurai pelukan Vinsen. Pernyataan dari pria itu membuatnya terdiam bingung. Apa yang baru saja Vinsen katakan?
"Vinsen,"
"Ikutlah denganku ke perusahaan, teruslah berada di sampingku. Dengan itu, kamu akan menghabiskan banyak waktu denganku."
"Jangan bercanda, Vinsen."
"Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak ingin membuatmu sedih seperti ini."
Katakanlah Vinsen bodoh. Tapi di hatinya saat ini, tetaplah Isyana. Adisty hanya kekeliruan yang berusaha untuk ia tepis.
Kedatangan Vinsen dengan seorang wanita yang ia katakan sebagai asisten pribadinya cukup membuat kehebohan di seluruh penjuru perusahaan. Beruntung, Gerry dan Farel dapat mengatasinya dengan baik.
Sedangkan Malik yang mengetahui siapa Isyana sebenarnya dengan cepat menegur Vinsen. Ia tidak ingin Vinsen melalukan hal fatal dan membahayakan perusahaan.
"Artinya Pak Malik hanya tinggal mengurus ini dengan baik. Jangan biarkan Papa tau soal ini." Vinsen berusaha membujuk agar Malik menutupi keberadaan Isyana di perusahaan.
"Cepat atau lambat Komisaris akan tetap mengetahui hal ini, Pak."
"Agar kalian memiliki waktu untuk bersama dibalik status antara atasan dan bawahan?"
"Kenapa Pak Malik menjadi lancang seperti ini?!" nada bicara Vinsen meninggi.
"Maaf, Pak."
Vinsem menyandarkan punggungnya, ia terlihat kesal dan bimbang. Tangannya membanting sebuah berkas yang baru saja ia terima dari Gerry.
"Aku yang akan mengatakan sendiri pada Papa!"
Malik menatap Vinsen sebentar. Ia hanya mengangguk dan kemudian permisi untuk keluar dari ruangan Vinsen.
Tak lama setelah Malik keluar. Isyana masuk, ia sempat berpapasan dengan Malik dan mendapat tatapan tidak suka dari pria yang sudah tidak muda lagi itu.
"Apa hal ini menjadi masalah, Vin?" tanyanya. Ia berjalan ke arah Vinsen dan berdiri di samping pria itu. Vinsen meraih tangan Isyana dan mengecupnya.
"Bukan masalah besar, aku bisa mengatasinya. Kamu cukup ada di sampingku dan mendukungku."
Isyana tersenyum, kemudian mengangguk.
"Bagaimana dengan makan siang saja?" Vinsen mengalihkan pembicaraan. Kebetulan waktu memang sudah menunjukan jam makan siang. Isyana tanpa sungkan segera mengangguk mengiyakan.
Gerry selalu setia menjadi Skretaris sekaligus sopir untuk atasannya. Ia mengemudi menuju restoran yang ditunjuk Vinsen. Bahkan Vinsen sendiripun tidak tau alasan mengapa ia memilih restoran tersebut.
Restoran yang dulu sering dikunjunginya bersama Adisty. Sepulang dari luar negri. Vinsen pernah beberapa kali mendatanginya. Faktanya hal itu bukanlah sesuatu yang baik untuknya terus bertemankan kenangan Adisty.
Justru anehnya, sekarang ia malah ingin mengunjungi restoran tersebut. Rupanya apa yang Vinsen katakan tak baik memanglah benar, di restoran tersebut, ia justru di pertemukan dengan Jerremy yang dengan ramahnya mengajaknya duduk di meja yang sama. Seolah mereka akrab, pada kenyataannya tidak.
"Tidak papa, bergabung saja. Kita sudah lama tidak bertemu." ungkapnya dengan santai. Vinsen hanya diam dengan wajah yang tampak tak antusias sedikitpun.
"Ayolah, aku juga akan bertemu dengan seseorang. Kamu pasti akan terkejut," bujuknya yang mau tak mau membuat Vinsen menurut. Mereka sudah cukup menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Isyana duduk dengan tampak tidak nyaman di samping Vinsen. Sedangkan Vinsen tampak sangat enggan berada di sana. Perasaannya menjadi amat tidak tenang. Selanjutnya, hal yang Jerremy maksud akan membuatnya terkejut benar-benar membuat Vinsen mematung untuk beberapa saat.
"Waw, sepertinya aku tidak mengetahui jika Pak Vinsen akan ada di sini."
"Ohh, Ibu Adisty, silakan duduk." Jerremy menyambut Adisty dengan sangat baik. Vinsen hanya memperhatikan gelagat keduanya.
"Tidak perlu begitu formal, aku tau ini pertemuan pribadi. Ada yang ingin dibicarakan?" Jerremy hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Adisty tak ambil pusing, ia hanya tersenyum menanggapinya.
Isyana tampak memperhatikan Adisty. Dari ujung rambut sampai ujung kaki bahkan memperhatikan gaya bicara Adisty. Isyana tidak bodoh untuk segera mengetahui siapa wanita yang baru saja bergabung dengan mereka. Jeana Lingga Adisty. Ah, Jeana Adisty Jagaska, sepertinya itu jauh lebih tepat.
Mata Adisty yang memancarkan sinar kelembutan menatap ke arahnya, cukup membuat Isyana merasa risih dan minder di waktu bersamaan.
Vinsen yang melihat hal itu segera memperkenalkan Isyana. Isyana tersenyum, berusaha seramah mungkin agar tidak tampak mencurigakan.
"Dia, Isyana."
"Asisten Pribadiku."
Adisty mengangguk. "Asisten Pribadimu sepertinya istimewa."
"Oh, tidak, Bu. Saya hanya Asisten Pribadi biasa." Isyana dengan cepat menyangkal.
"Saya tau." Adisty tersenyum dengan sedikit ringisan. Membuat Isyana terlihat serba-salah di tempatnya, atau Adisty memang sengaja membuatnya agar seperti itu.
Awalnya Isyana membayangkan jika makan siangnya dengan Vinsen akan menyenangkan, di mana ia bebas bersama dengan Vinsen di muka umum tanpa harus merasa risih karena posisinya cukup mengagumkan sebagai asisten pribadi pria itu.
Namun semua tak selalu berjalan mulus. Karena saat ini, Isyana sedang makan siang dengan istri sah dari sang kekasih. Ia seperti terjebak di lahan gersang tanpa bisa mencari tempat nyaman.
Vinsen tak pernah luput dari pengawasannya. Bahkan sedikit demi sedikit eskpresi pria itu jelas terlihat olehnya. Bagaimana ia seperti tidak suka melihat keakraban Jerremy dengan Adisty.
Dan hal yang lebih mengejutkan lagi terjadi saat Vinsen menyingkirkan dessert dari Jerremy untuk Adisty.
"Singkirkan! Jea tidak suka dessert," sahutnya yang membuat gerakan mulut Isyana yang sedang mengunyah mendadak berhenti. Kemudian, kalimat selanjutnya dari Jerremy benar-benar membuat Isyana ingin segera pergi.
"Ow, aku lupa. Maaf,"
"Sepertinya, tujuh tahun berlalu Vinsen masih mengingat banyak tentangmu, Disty. Kalian pasangan yang luar biasa."
Jadi, sebelumnya mereka pernah berpacaran, begitu? Kenapa Vinsen tidak pernah mengatakan apapun padanya?
Isyana tersenyum, perlahan ia beranjak. Sepertinya ia harus pergi sebentar untuk menenangkan diri. "Maaf, saya permisi ke toilet sebentar." Ia berlalu ke arah toilet, meninggalkan Vinsen yang hanya menatap kepergiannya.
Jerremy hanya tersenyum, sepertinya apa yang dilakukannya hari ini cukup memuaskan.
"Oh, yah. Kamu akan langsung kembali ke perusahaan?" tanya Jerremy pada Adisty. Mereka mengabaikan Vinsen yang barangkali saat ini ingin bunuh diri.
Adisty mengangguk. "Kalau begitu aku akan ikut denganmu. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Pak Chandra."
"Aku kemari dengan taksi,"
"Tidak masalah."
"Baiklah, kamu duluan saja. Aku akan mengambil bil dan membayar."
Adisty mengangguk. Ia mulai bangkit dari duduknya, ia menatap Vinsen sebentar. Vinsen yang merasa diperhatikan lantas mendongak. Mempertemukan tatapan mereka.
"Ada apa?"
"Tidak ada yang ingin kamu katakan?"
"Tidak." Vinsen membuang tatapannya sejauh-jauhnya dari Adisty.
"Kalau aku ada," kalimat Adisty berhasil membuat Vinsen kembali menatapnya.
"Maaf,"
Sesaat hanya hening. Adisty tersenyum dan setelahnya melangkah pergi, seketika membuat perasaan Vinsen menghangat melihat senyumannya tadi. Hampir membuat Vinsen tersenyum kalau saja ia tidak ingat Isyana belum kembali cukup lama.
Vinsen bangkit menyusul Isyana setelah Adisty hilang dari pandangannya.
__ADS_1
Gerry yang ditinggalkan di sana hanya menggeleng. Ia berdecak pelan, "Sepertinya bukan hanya kisah percintaan Mark Anthony dan Cleopatra saja yang rumit."
TBC