
Adisty berjalan menuruni anak tangga. Ia masih mengenakan gaun tidurnya dengan rambut yang tergerai sedikit berantakan. Tidak ada aktivitas apapun di dapur. Padahal biasanya, asisten rumah tangganya sudah memasak menu sarapan.
"Bi. Bibi."
Ia berjalan ke arah dapur, tidak ada siapapun di sana dan semuanya masih tertata rapih sama seperti biasanya.
Adisty hanya terdiam heran. Tak lama, Vinsen muncul dari arah kamar mereka, ia berjalan menuruni anak tangga dan memperhatikan Adisty yang berdiri di samping meja makan.
"Tidak ada menu sarapan?"
"Sepertinya Bibi pergi ke pasar."
Vinsen mengangkat satu sudut bibirnya. Semalam, ia memang langsung mengantarkan Bibi ke rumah Farel. Bibi sempat menolak karena ingin berpamitan pada Adisty. Tapi Vinsen melarang dan bilang jika ia yang akan menyampaikannya pada Adisty "Bibi berhenti bekerja."
"Kamu yang memecatnya?"
"Tidak."
Adisty mengembuskan nafas setengah kesal. Kali ini, ia tidak tau apa maksud Vinsen. Yang pasti, hal ini akan memberatkan Adisty. Adisty tau Vinsen memang akan melakukan segala cara untuk membuatnya sengsara.
"Kenapa hanya diam? Kamu tidak ada niatan membuatkanku sarapan?" tanya Vinsen, ia duduk pada salah satu kursi.
"Karena mulai sekarang, sepertinya harus kamu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Termasuk memasakan makanan untukku."
Adisty menghela nafas dan berbalik ke arah pantry. Ia mengambil sebuah roti tawar, Vinsen mengernyit menatapnya.
"Aku tidak ingin roti atau nasi goreng."
Adisty memejamkan matanya sekilas, seharusnya ia menduga hal ini. Vinsen tidak akan mempermudahnya. "Lalu kamu ingin apa?" tanya Adisty dengan sabar seperti biasanya.
"Masak apa saja. Aku akan mandi dan sarapan saat turun nanti." Vinsen bangkit dari duduknya. Dengan sangat kalem, ia tersenyum pada Adisty, melambaikan tangan dan berjalan ke arah tangga.
Sedangkan Adisty mendesah. Ia harus pergi ke kantor dan memasak untuk Vinsen. Sementara waktunya tidak banyak untuk memasak banyak makanan. Padahal, setiap pagi Vinsen hanya sarapan roti. Ia tidak pernah menginginkan hal macam-macam.
Memanfaatkan waktu yang tersisa. Adisty segera mengambil apron dan membuka lemari pendingin. Ia mengambil bahan makanan dan memulai ritual memasaknya sebelum Vinsen turun.
Di dalam kamar, Vinsen mengambil ponselnya di atas nakas. Ia mengirim pesan pada Isyana bahwa ia akan menjemput wanita itu.
Vinsen tersenyum mengingat jika saat ini Adisty sedang sibuk di dapur. Biarkan saja jika wanit itu datang terlambat untuk menghadiri rapat gabungan yang digelar oleh perusahaan Jagaska dan Dirgantara.
Vinsen turun dari arah tangga tepat setelah Adisty menyelesaikan masakannya. Wanita itu bernafas lega. "Sarapanlah, aku akan mandi dan bersiap ke kantor."
"Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus segera ke kantor."
Adisty tersenyum setengah tak percaya. Vinsen tidak sempat sarapan setelah membiarkannya memasak dan kesiangan?
"Boleh pinjam mobilmu? Sepertinya mobilku bermasalah, aku harus segera menghadiri rapat gabungan."
Ow, Adisty melupakan rapat tersebut padahal Olive sudah memberitahukannya sejak semalam, terlebih Chandra tidak akan hadir dalam rapat ini. Sepertinyaa hari ini dia benar-benar harus mengalami kesialan saat tanpa permisi Vinsen mengambil kunci mobilnya dan berlalu begitu saja meninggalkan Adisty.
Lagi-lagi Adisty hanya bisa mendesah, ia berjalan ke arah tangga untuk segera mandi dan merapihkan diri.
Vinsen berjalan dengan penuh wibawa seperti biasanya. Di belakangnya adalah Isyana yang datang bersama dengannya. Sapaan para karyawan yang dilewatinya hanya Vinsen balas dengan anggukan samar.
Gerry baru saja mengabarinya jika rapat akan dimulai sebentar lagi. Beberapa petinggi perusahaan Jagaska maupun Dirgantara sudah hadir di sana.
Vinsen melangkah ke arah lift dengan Isyana. Ia menggandeng Isyana setelah berada di dalam dan menekan angka kemana tujuan mereka.
"Vinsen, ada cctv." Isyana tampak menghindari Vinsen.
"Biarkan saja. Mereka tidak akan berani macam-macam."
__ADS_1
"Reputasimu di sini sangat penting Vinsen. jangan bertindak gegabah." wanita itu mengingatkan. Vinsen hanya menoleh dengan senyum nakal, ia memainkan rambut Isyana. Membuat wanita itu hanya mendesah tanpa bisa menghentikan Vinsen.
"Kamu tunggu di ruanganku, begitu rapat selesai aku akan langsung menemuimu." sahut Vinsen setelah ia keluar dari lift. Isyana mengangguk, ia kembali masuk ke lift untuk ke ruangan Vinsen. Sementara Vinsen akan pergi ke ruang rapat.
Kursi di ruang rapat tampak sudah terisi, Vinsen menatap kursi kosong yang nanti akan di tempati Adisty. Olive di sana tampak cemas karena atasannya belum kunjung tiba.
"Kita mulai rapatnya." sahut Vinsen pada mc rapat yang sudah berdiri di podium.
"Maaf, Pak." Olive mengangkat tangannya.
Vinsen hanya menaikan alis. "Ibu Adisty belum sampai."
Yang lain saling lirik, beberapa perwakilan dari Dirgantara Corporation merasa heran. Terlambat bukanlah seorang Jea Adisty.
Vinsen melihat arloji dipergelangan tangannya. "Baiklah, kita tunggu lima menit."
Olive mengangguk, yang lain juga tampak tidak keberatan. Beberapa kali Olive menghubungi Adisty, hasilnya nihil. Ia menatap Vinsen dengan lekat, pria itu sedang membaca materi rapat.
Andai hubungan Vinsen dengan Adisty baik-baik saja. Seharusnya mereka datang bersama ke perusahaan ini.
Lima menit berlalu dengan cepat. Vinsen menoleh pada MC, sang MC mengangguk. Tepat saat gerakan tangan sang mc akan membuka berkas dan membacakan susunan acara, pintu ruangan terbuka.
Adisty muncul dengan nafasnya yang sedikit berantakan. Ia tersenyum dengan tenang setelahnya, merapihkan blazer dan berjalan ke arah kursinya, Olive menghampirinya. "Saya tidak terlambat bukan?"
"Hampir," Olive menyahut, ia menyerahkan sebuah berkas pada Adisty setelah Adisty duduk di tempatnya. "Maaf, saya datang terlambat. Ini rapat pertamakali dengan perusahaan Jagaska, saya sudah setengah mengacaukannya." ungkap Adisty.
"Silakan, rapat bisa segera di mulai."
Vinsen melihat arlojinya, seharusnya Adisty tiba sekitar lima belas menit, atau bahkan setengah jam lagi.
Adisty menatap Vinsen yang duduk dalam satu garis lurus dengannya. Ia tersenyum dengan tenang pada pria itu.
Entahlah kesialan apa lagi yang menimpa Adisty hari ini. Satu pun taksi seolah tidak bisa bekerja sama dengannya. Ia menyusuri jalan, dengan harapan dapat segera menemukan taksi. Namun sia-sia.
Sedangkan seorang pria yang tengah menghentikan mobil saat lampu lalu lintas berwarna merah tampak memperhatikan Adisty. Ia mengenal wanita itu, sehingga ketika lampu lalu lintas berwarna hijau ia melajukan mobilnya ke arah Adisty.
"Hey," sapanya. Adisty yang sedang berjongkok melihat kondisi kakinya lantas mendongak.
Pria tampan itu turun dari mobil dan menghampiri Adisty. "Ada masalah?" ia ikut berjongkok dan melihat kaki Adisty.
"Sepertinya aku pernah melihatmu." sahut Adisty, tidak begitu yakin.
"Kita memang pernah bertemu. Kenapa berjalan kaki?"
"Ada sedikit masalah dan aku harus segera ke gedung Jagaska."
"Biar ku antar."
Tanpa berfikir panjang, Adisty mengangguk mengiyakan. Waktunya tidaklah banyak, dan kesempatan tidak datang dua kali.
Begitu mobil sampai di perusahaan Jagaska. Adisty buru-buru turun setelah mengucapkan terimakasih, ia setengah berlari tanpa perduli dengan kakinya. Ia tidak boleh tertinggal rapat atau Vinsen akan merasa menang dan menertawakannya nanti.
Dan saat ini, Adisty baru merasakan perih di kakinya. Di depan sana, layar proyektor masih menyala, sebentar lagi Vinsen akan mengakhiri presentasinya.
Adisty akui, kemampuan Vinsen dalam berbicara memang patut di acungi jempol. Selain itu Vinsen juga adalah seorang perfeksionis yang ambisius.
Pria itu dengan gagahnya meyakinkan pihak perusahaan Dirgantara mengenai proyek pembangunan resort yang akan mereka jalani bersama. Gemuruh tepuk tangan terdengar setelahnya begitu Vinsen selesai berbicara. Lampu di ruangan kembali menyala.
Begitu rapat berakhir, satu persatu dari mereka membubarkan diri dan meninggalkan ruang rapat. "Kamu tunggu saya di parkiran," sahut Adisty pada Olive. Olive mengangguk, menuruti ucapan atasannya dan berlalu dari sana.
Tinggalah hanya ada Vinsen dengan Adisty di dalam ruang rapat. Adisty ingin sekedar meredakan rasa sakit di kakinya, sedangkan Vinsen, ia berdiam tanpa tujuan, padahal ia sudah berjanji akan segera menemui Isyana.
__ADS_1
Vinsen hanya memperhatikan Adisty, wanita itu bangkit. Vinsen dapat melihat ringisan di wajah Adisty saat ia melangkah perlahan. Vinsen mengernyit melihatnya. Ada apa dengan wanita itu?
Pintu ruangan yang terbuka membuat Vinsen menoleh. Farel masuk dengan sebuah plastik putih di tangannya, ia melihat Vinsen sekilas, kemudian menghampiri Adisty.
"Maaf," ia memegang kedua bahu Adisty dan mendudukan wanita itu tanpa permisi. Membuat kerutan di dahi Vinsen. Farel tidak perduli, sepertinya ia tidak perlu bersikap seolah hubungan rumah tangga Vinsen dengan Adisty baik-baik saja.
"Apa yang kamu lakukan?"
Farel tak menyahut, ia membuka alas kaki Adisty dan mengoleskan salep yang dikeluarkannya dari plastik yang ia bawa pada luka di kaki wanita itu. Vinsen bangkit dari duduk, matanya tetap lekat menatap dua orang di hadapannya. Terutama Farel yang seolah tidak menghargainya.
"Kamu tidak perlu repot, aku bisa mengobatinya sendiri."
"Tidak papa, seharusnya aku melakukannya sejak di mobil tadi."
Vinsen semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Beberapa kali ia membuang nafas dengan kesal. Kenapa Jerremy dengan Farel seolah bebas mendekati istrinya?
"Bagaimana?"
Adisty hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Farel. Ia bangkit dengan susah payah, Farel membantunya.
"Oh, yah. Siapa tau kamu belum mengetahui namaku."
"Farel. Farel Malik." Farel mengulurkan tangannya. Adisty menerimanya dengan senyum tipis yang tak pernah luntur dari wajahnya.
"Jeana Lingga Adisty."
"Jea," sahut Farel.
"Panggil saja Adisty. Orang yang memanggilku Jea hanya orang asing,"
"Artinya aku bukan?" senyum jenaka timbul dengan natural di wajah Farel. Vinsen seolah tidak ada di antara mereka.
"Sepertinya akan begitu."
"Sepertinya sudah cukup!" Vinsen menyela dengan cepat, ia menarik tangan Adisty, membuat Wanita itu semakin meringis dengan gerakan kasar Vinsen yang menyeretnya mendekat.
"Maaf, Pak Vinsen." Farel mengatakannya dengan nada meledek. Vinsen mendelik kesal. Ia menarik Adisty untuk melangkah pergi.
"Hey, kaki istrimu terluka, Pak." Farel mengingatkan. "Terimakasih untuk tumpangannya, dan terimakasih untuk yang tadi." sahut Adisty sebelum benar-benar berlalu. Ia terseok dengan kakinya yang terluka mengikuti langkah cepat Vinsen.
Vinsen tau, Farel memang tidak perlu berakting di hadapannya. Pria itu memang mengetahui bagaimana pernikahan Vinsen dengan Adisty. Tapi bukan berarti dia bebas melakukan apa saja tanpa menghormati dirinya sebagai suami sah Adisty.
Vinsen yang dengan kuat menggenggam tangan Adisty menjadi pusat perhatian para karyawan yang dilewatinya. Mereka menyapa, tapi sepertinya Vinsen tidak sadar.
Bahkan setelah keduanya berada di dalam lift, Vinsen tak kunjung melepas tangan Adisty. Adisty yang mati-matian menahan sakit pada lecet di kakinya sama sekali tidak memprotes.
Ia meringis pelan, perlahan melepas genggaman tangan Vinsen dan memperbaiki alas kakinya. Vinsen perlahan menoleh, ia melihat kaki Adisty yang terluka.
Tak lama setelah itu, pintu lift terbuka. Vinsen berbalik, tanpa mengatakan sepatah katapun ia mengangkat tubuh Adisty. membuat wanita itu cukup terkejut dan melingkarkan tangannya pada leher Vinsen dengan spontan.
"Vinsen,"
Vinsen tak bereaksi, ia melangkah keluar dari lift. Menyusuri loby dan mengabaikan tatapan penuh kagum para karyawannya melihat ia membopong Adisty. Farel yang melihat hal itu hanya melipat tangannya di dada.
Olive yang sudah lama menunggu Adisty tampak terkejut mendapati Adisty dalam gendongan Vinsen. Ia akan melangkah, tapi Vinsen membawa Adisty pada mobil lain. Mobil yang Olive tau adalah mobil Adisty. Olive urung melangkah dan hanya memperhatikan.
"Kita akan kemana?" tanya Adisty setelah Vinsen duduk di sampingnya tepat di balik kemudi.
"Pulang!"
TBC
__ADS_1
Sebenernya kemaren tuh pihak NT yang lama review, aku udah upnya sejak sabtu pagi. Maaf, yah:")
Aku selalu usahain up tiap hari. Yang penting komen aja sama vote di banyakin. Wkwk