Maybe Mine

Maybe Mine
Kedatangan Vinsen


__ADS_3

"Lalu, bagaimana dengan pria itu?"


"Oh, dia Jerremy Pak." sontak saja jawaban Gerry membuat Vinsen mengerutkan kening dengan heran. Ia merasa tidak asing dengan nama itu. "Jerremy Nakula. Dari hasil yang saya dapat saat mencari informasi tentangnya, dia adalah teman Ibu Adisty saat SMA. Keduanya masih berteman baik sampai sekarang."


"Dia pemilik perusahaan konstruksi dan sudah lama bekerja dengan Dirgantara Corporation."


Vinsen menghela nafas. Pikirannya entah kemana. Jadi, setelah berpisah dengannya, Adisty masih berhubungan dengan Jerremy?


"Pak," Gerry menyentuh bahu Vinsen yang saat itu justru melamun.


"Apa mereka memiliki hubungan pribadi lebih dari sekedar teman?" Vinsen penasaran.


"Mmm .....," Gerry justru sengaja menjeda kalimatnya. Vinsen menatapnya dengan jengah, Gerry tertawa dan setelahnya meminta maaf.


"Sejauh ini tidak ada, Pak. Sepertinya Ibu Adisty tidak tertarik padanya. Atau mungkin—" Gerry semakin gencar menggoda bosnya.


"Jangan berbicara omong kosong!"


"Pak Vinsen cemburu?"


"Ekhem," Gerry menyandarkan punggungnya, ia melihat lurus ke depan sebelum akhirnya berkata. "Kenapa kalian putus?"


Vinsen menoleh, ia menepuk bahu Gerry dan bersiap membuka pintu mobil. "Terimakasih," ungkapnya dan setelah itu keluar begitu saja. Enggan memberikan jawaban atas pertanyaan yang Gerry ajukan. Gerry hanya menatap kepergiannya, ia menggeleng pelan.


Sangat disayangkan mereka berakhir dengan kesalahpahaman. Meski saat ini takdir kembali menyatukan keduanya, namun pada kenyaataannya keadaannya berbeda untuk sekarang.


*


*


Vinsen berjalan dengan diikuti Gerry di belakangnya. Tiga hari sudah Adisty dirawat di Rumah Sakit, sebelum Vinsen ke perusahaan ia akan mampir sebentar sekedar melihat Adisty.


Dan pagi ini, ia merasa geram sendiri saat ternyata Adisty tidak ada di ruanga rawatnya. Brankarnya sudah rapih dan seorang suster mengatakan jika Adisty sudah pulang.


"Hubungi rumah, tanyakan pada asisten rumah tangga apa Jea ada di sana!"


Gerry mengangguk, menghubungi telpon rumah Vinsen. Ia berbicara sebentar dan mengatakan pada Vinsen jika Adisty tidak ada di rumah. Ia langsung berangkat ke perusahaan dan langsung bekerja.


"Bagaimana, Pak. Kita ke Dirgantara?"


Vinsen menggeleng. Ia diam sebentar, kepalanya sedang berpikir. "Bagaimana Isyana?"


"Isyana sudah pulang pagi tadi sebelum Ibu Adisty."


Kali ini Vinsen menghela nafas. Sekarang, semua semakin sulit untuknya. "Kita ke perusahaan Dirgantara."


"Baik Pak."


Gerry menyalakan mesin mobil. Tak lama, mobil melaju meninggalkan pelataran Rumah Sakit menuju perusahaan Adisty, Dirgantara Corporation.


Sementara itu, di perusahaannya. Adisty mendapat sapaan hangat dari para karyawan di kantornya. Ia memang datang cukup siang, tidak seperti biasanya. Setelah pulang dari Rumah Sakit dengan jemputan Zyla, ia meminta untuk langsung bekerja. Zyla sudah melarang, tapi Adisty cukup keras kepala dengan keputusannya.


Ia tidak terbiasa menghabiskan waktunya dengan tidur dan bersantai. Sehingga begitu merasa sehat, ia ingin segera bekerja dan menggiatkan tubuhnya.


"Selamat pagi, Ibu Adisty."


"Sehat, Bu?"


"Selamat kembali bekerja, Bu."


Adisty tersenyum membalas sapaan manis para karyawannya. Langkahnya semakin dekat menuju ruangannya. Olive yang berada di mejanya dengan cekatan membuka pintu ruangan Adisty setelah menyapa atasannya itu.

__ADS_1


Lantas ia mengikuti langkah Adisty, masuk untuk memberitahukan apa saja agenda kegiatan sang atasan. Olive membuka sebuah handout berisi segala kegiatan Adisty yang sudah ia atur begitu Adisty mengabari akan ke perusahaan.


Adisty dengan tenang duduk dan mendengarkan. Ia hanya mengangguk setelah Olive menyampaikan seluruh kegiatannya hari ini. Salah satunya adalah bertemu dengan klien di luar.


"Bagaimana keadaan Ibu Adisty?" Olive melenceng dari sebagian tugasnya yang telah usai.


"Seperti yang kamu lihat, saya sehat."


"Senang melihat Ibu kembali bekerja."


Adisty justru tertawa mendengar penuturan Skretarisnya. "Atau jangan-jangan hatimu tidak demikian?"


"Mm, maksud Ibu?" Olive kebingungan, beberapa detik kemudian, ia tersadar dan tersenyum pada Adisty yang sudah meredakan tawa.


"Tidak, Bu. Saya senang, justru saya merasa tidak memiliki kerjaan jika Ibu tidak masuk." tuturnya.


Olive, ia adalah Skretaris yang sudah bekerja dengan Adisty selama empat tahun ini. Olive bukan hanya sekedar orang yang membantu kelancaran segala pekerjaannya, tapi bagi Adisty ia juga adalah seorang teman. Tempatnya berbagi cerita jika keduanya memiliki waktu senggang.


"Permisi,"


Pintu ruangan Adisty terbuka, asistennya masuk dengan senyum berbinar. Adisty dan Olive hanya memperhatikan setelah beberapa saat hanya bertukar pandang.


Pintu terbuka dengan lebar. Vinsen menerobos masuk diikuti Gerry di belakangnya. Kedatangan keduanya membuat Adisty beranjak dari duduknya.


Vinsen yang tak mengatakan satu kalimat apapun hanya menatap Adisty yang berdiri di tempatnya. Masing-masing Skretaris mereka hanya bertukar pandang, meski Gerry mengetahui persis bagaimana hubungan Vinsen dengan Adisty dan apa yang terjadi saat ini.


"Ada apa? Kenapa datang bertamu tidak memberitahuku?" basa-basi Adisty yang merasa jika situasi saat ini mulai tidak nyaman. Atmosfer dia ruangannya juga terasa memburuk, seperti ada asap hitam yang keluar dari belakang Vinsen dengan aura menyeramkan di wajahnya.


Adisty tau persis apa penyebab pria itu datang ke perusahaannya.


"Kenapa tidak memberitahuku jika sudah pulang dari Rumah Sakit?" tebakan Adisty tidak melesat.


"Olive, beritahu OB untuk membuatkan minuman, segera antarkan kemari!" suruh Adisty pada sang Skretaris, mengabaikan pertanyaan Vinsen. Olive mengangguk. "Baik, Bu."


Sementara dua orang yang ditinggalkan hanya terdiam. Adisty berjalan menghampiri Vinsen. "Duduklah," ia melangkah dan duduk pada sofa di belakang Vinsen. Vinsen mendesah, kemudian menuruti Adisty dan duduk di sana.


"Kenapa kamu repot-repot datang kemari?"


"Pak Malik akan melaporkan hal ini pada Papah jika kamu datang terlambat ke perusahaan."


Vinsen berdecih, sepertinya Wira sudah memberitahu Adisty jika Vinsen selalu diawasi.


"Papah tidak akan marah, karena aku terlambat untuk menemui menantu kesayangannya." ungkap Vinsen dengan sarkas. Adisty mengangguk kecil, ia sama sekali tidak pernah tersinggung sedikitpun atas apapun yang keluar dari mulut Vinsen.


Bahkan setelah perdebatan mereka di Rumah Sakit. Adisty merasa hatinya semakin kebal berhadapan dengan Vinsen.


"Kenapa tidak bilang jika kamu pulang dari Rumah Sakit?" Vinsen mengulang pertanyaan pertamanya yang menjadi alasan ia datang ke perusahaan Adisty.


"Aku hanya tidak mau merepotkan." Adisty menyahut logis. Jawabanya berhasil membuat Vinsen mematung bingung. Tak lama, seorang OB datang membawakan minuman. Menjeda obrolan keduanya.


*


*


"Kenapa mengikuti saya?" tanya heran Olive pada Skretaris dari suami atasannya. Gerry tersenyum.


"Ini pertamakalinya aku datang ke perusahaan istri atasanku."


"Lantas?"


"Aku tidak tau seluk beluk perusahaan ini."

__ADS_1


Olive berdecih meremehkan. "Semua perusahaan besar hampir sama. Saya pikir Bapak cukup cerdas untuk mengetahui hal itu."


Gerry menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pria beralis tebal, dengan hidung mancung itu tersenyum setelahnya. "Bagaimana kalau kamu membuatkan aku kopi?"


"Mohon maaf kita tidak saling mengenal."


"Kamu ingin berkenalan, oh itu mudah." Gerry menarik tangan gadis itu, memaksanya berjabat tangsn. "Gerry."


"Gerry—Mis?" guraunya.


Gerry memutar bola matanya jengah. "Hujan!" sahutnya. Olive hampir tertawa, tapi ia berhasil menahannya setelah melihat Gerry memperhatikannya.


Meski beberapa waktu lalu sempat menolak, kali ini Olive tampak bersiap untuk membuatkan kopi untuk Gerry. Keduanya memang sedang berada di pantry karyawan setelah tadi Olive memberitahu salah satu OB untuk membuatkan minuman dan mengantarkannya ke ruangan Wakil Direktur.


Gerry memperhatian gadis itu yang sedang membuatkan kopi untuknya. "Oh, yah. Kamu tau apa yang terjadi dengan—" Olive menjeda kalimatnya, rasanya tidak sopan jika ia menggosipkan hubungan rumah tangga atasannya.


Tapi sungguh, Olive merasa penasaran dengan hal itu. Bagaimana mungkin seorang suami tidak tau kepulangan istrinya dari Rumah Sakit? Atau keduanya sedang bertengkar?


Tapi Olive tidak merasa puas hanya dengan hal itu. Karena sebelumnya, ia juga sempat merasa heran saat Adisty menelponnya dan meminta nomor telpon Vinsen dua hari setelah pernikahannya.


"Ada apa?" tanya Gerry saat Olive tidak melanjutkan kalimatnya.


"Tidak apa-apa." Gadis itu tersenyum. Ia menyerahkan kopi yang sudah dibuatnya pada Gerry. Gerry mengucapkan terima kasih. Bersamaan dengan itu, gawai di balik saku jasnya berdering. Ia mengambilnya dan segera menggeser ikon hijau.


"Baik, Pak." singkat. Setelahnya sambungan terputus. Gerry tersenyum pada Olive. "Oh, yah. Siapa namamu?"


Olive mengerutkan kening. Gerry menatap tanpa pengenal yang gadis itu kenakan. "Olive, sepertinya lain kali saja aku mencicipi kopi buatanmu. Terimakasih, aku permisi." ia berlalu begitu saja, pergi dengan senyum menawan. Olive hanya menggeleng melihatnya.


Di ruangan Adisty. Vinsen yang sudah selesai dengan keperluannya mulai beranjak. Ia hanya ingin mengetahui alasan Adisty tidak memberitahunya jika ia sudah pulang dari Rumah Sakit. Dan alasan yang Adisty katakan cukup masuk akal untuk tidak ingin merepotkannya.


Karena selama Adisty berada di Rumah Sakit, Vinsen dengan setia selalu menemaninya. Meski apa yang ia lakukan belum dapat dipastikan, entah karena cintanya masih ada untuk Adisty. Atau rasa bersalahnya terlalu besar sudah membuat Adisty berada di Rumah Sakit


Vinsen bangkit tanpa pamit. Tappa mencicipi sedikitpun minuman yang disuguhkan.


"Vinsen,"


Panggilan Adisty membuatnya urung membuka pintu. Ia berbalik, Adisty melangkah ke arahnya. Keduanya saling berhadapan, Adisty tersenyum. "Terimakasih," ucapnya dengan tulus.


Terimakasih untuk apa? Untuk menemaninya di Rumah Sakit. Menyuapinya makan. Dan membuatnya merasa nyaman.


Vinsen terdiam, setelah beberapa saat ia hanya mengangguk. Membuka pintu dan benar-benar keluar dari ruangan Adisty. Gerry sudah menunggunya di parkiran.


Atmosfer di ruangan Adisty perlahan membaik. Tapi seperti ada yang hilang dari hidup Adisty bersamaan dengan langkah Vinsen yang kian menjauh.


Memang tidak ada celah bagi Adisty untuk kembali memiliki hati Vinsen. Sekalipun Vinsen mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, hati Vinsen sudah ada yang menempati. Sulit untuk mengembalikan keadaan seperti dahulu.


"Bu,"


"Oh, Olive, ada apa?"


Sepertinya Adisty terlalu lama melamun. Ia sampai tidak menyadari jika Olive sudah berada tepat di hadapannya dan memerhatikannya cukup lama.


"Ibu melamun?"


Adisty menggeleng kecil dengan tersenyum. Ia duduk, Olive juga ikut duduk di sana. Memperhatikan sang atasan yang hanya terdiam.


"Kamu merasa heran?" tanyanya yang membuat Olive kebingungan.


"Pernikahan saya dengan Vinsen, tidak seindah apa yang kamu bayangkan, Olive."


Pada dasarnya Adisty tidak bisa memendamnya sendiri. Ia butuh seseorang untuk bisa mendengarkan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2