
Disebuah ruangan serba putih yang beraroma lemon segar, Adisty beberapa kali mengembuskan nafasnya, menatap pantulan dirinya dalam cermin besar di hadapannya.
Tangannya yang mulus perlahan ia taruh di dada, debaran hebat masih terjadi meski dirinya sudah lama berada di toilet restoran, tempat berlangsungnya acara pertemuan ia dengan calon suami pengganti Gerald.
Sedikitpun Adisty tidak pernah mengira jika Vinsen yang akan menjadi calon suaminya. Vinsen, pria yang pernah menjadi bagian dari cerita masa remajanya saat SMA.
"Ini bukan mimpi, 'kan?" ia meyakinkan dirinya sendiri.
Adisty melepas satu kancing kemeja bagian atasnya, ia mendadak merasa gerah, tatapannya kembali pada kaca besar di hadapannya, sampai pantulan orang asing di sana membuatnya perlahan membalikan tubuh.
Ia tertegun melihat Vinsen berada di hadapannya dengan tatapan yang tidak dapat ia artikan.
"Kamu—"
"Masih mengingatku, Player?"
"Maksudmu, Vin?" Adisty merasa terganggu dengan player yang dikatakan Vinsen.
"Aku masih mengingatmu bagaimana saat SMA dulu,"
Adisty terdiam, menatap Vinsen bahkan sudah selama ini ia belum bisa membaca apapun dari netra bulat itu.
"Apa orang tuamu hanya meminta aku untuk menikahimu saja?"
"Mereka tidak sekalian memintaku untuk menaruh hati?"
Sungguh, Adisty masih belum mengerti dengan apa yang sejak tadi dimaksud oleh Vinsen. Pertanyaan pria itu ambigu dan misterius. Mengundang berbagai tanya di kepala Adisty.
Vinsen menatap wanita di hadapannya. Tidak ada yang berubah dari Adisty sejak dulu, ia justru semakin cantik, dan selalu menjadi primadona. Tanpa sengaja, mata Vinsen mengarah pada kancing baju Adisty yang terbuka, hanya sekilas, bahkan mungkin Adisty saja tidak sadar jika ia melihatnya.
Hampir saja Vinsen melupakan satu hal, jika dirinya memiliki kekasih yang begitu dicintainya. Yang terpaksa harus dikhianatinya karena harus menikahi Adisty.
"Vinsen," Adisty menegur pria yang hanya terdiam itu.
Vinsen tampak menghela nafas, kemudian berkata. "Sampai bertemu di pelaminan, Nyonya Jeana."
Vinsen berlalu, meninggalkan Adisty yang sungguh dilanda kebingungan dengan sikap Vinsen padanya tadi.
Memang apa yang dimaksud pria itu?
Adisty benar-benar tidak mengerti.
**
"Cantik sekali,"
"Calon suamimu pasti akan bersyukur karena menikah dengan wanita secantik kamu, Disty." Zyla mengusap lengan putrinya yang hari ini tampak begitu memesona dengan riasan pengantin dan gaun yang dikenakannya.
Mitha tersenyum, mengangguk setuju dengan pendapat sang mama mertua jika hari ini Adisty lebih cantik daripada seorang putri, calon suaminya harus bersyukur karena menikahinya.
Ballroom tempat diadakannya resepsi sudah begitu ramai, tamu undangan dari kalangan menengah atas, baik para pengusaha, artis dan para petinggi negara sudah memadati tempat berlangsungnya pesta.
Berbagai media turut ikut memeriahkan untuk meliput berlangsungnya acara pernikahan putri konglomerat itu dengan seorang pengusaha kaya.
Selain karena mereka adalah orang dari kalangan atas, rupanya desas desus kebangkrutan yang dialami perusahaan Jagaska sudah tercium oleh media. Dan pernikahan tiba-tibanya dengan putri bungsu keluarga Dirgantara tentu saja mengundang banyak tanya.
Terlebih, menurut undangan yang sudah tersebar. Jeana Adisty akan menikah dengan Gerlad Antonio, ketika sekarang yang berada di atas pelaminan adalah Rai Vinsen Jagaska, maka ribuan spekulasi dari banyak orang, pasti akan bermunculan tanpa bisa dihentikan.
Keluarga Vinsen boleh berbahagia dengan pernikahan ini. Tapi Vinsen, berada di sana dan menerima ucapan selamat dari banyak orang bagai neraka baginya.
Tidak bisa ia pungkiri, jika pengantin wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya memang memiliki pesona yang memabukan. Vinsen tidak bisa menyangkal hal itu.
Tapi, mengingat bagaimana imbalan yang diminta keluarga Adisty karena menolong perusahaannya dari kebangkrutan membuat Vinsen merasa frustrasi.
Dimana ia harus mengorbankan hidupnya, statusnya dan hubungannya dengan sang kekasih, demi pernikahan ini.
"Vinsen," Adisty menegur suaminya yang melamun saat para tamu undangan hendak mengucapkan selamat padanya.
Vinsen tersadar, senyum yang ia paksakan terpampang di wajah tampannya. Menerima uluran tangan orang-orang dan menanggapinya dengan terimakasih saat mereka mendoakan kebaikan untuk pernikahannya dengan Adisty.
Sedikitpun Vinsen tidak merasa bahagia.
"Disty sayang,"
Seorang wanita dengan balutan gaun panjang berwarna marun, dengan belahan sampai ke paha, memeluk Adisty dengan binaran kebahagiaan. Dia adalah Lauren, sahabat baik Adisty, seorang model yang sudah go internasional.
__ADS_1
Kedatangannya cukup menjadi kejutan bagi Adisty, karena saat mengabarinya jika ia akan menikah, Lauren sedang berada di Maldives. Sehingga rasanya mustahil ia akan datang dalam waktu dekat hanya untuk menghadiri acara pernikahannya.
"Selamat, ya."
"Terimakasih Lauren, senang kamu datang. Ku kira jadwal pemotretanmu sedang padat." sindir Adisty.
"Disty, sekalipun padat. Aku akan tetap terbang ke Indo untuk menghadiri pernikahan kamu, mana mungkin melewatkan moment penting ini dengan begitu saja." cerocosnya dengan panjang lebar. Adisty hanya tertawa menanggapinya.
"Suamimu?" Lauren beralih pada Vinsen yang sejak tadi hanya acuh tak acuh saja.
Adisty menoleh pada Vinsen, kemudian mengangguk.
"Sebentar, ini—"
Lauren mengulum senyum, kemudian berbisik pada Adisty. Membuat Vinsen hanya menoleh karena sebelumnya ia mendengar jika namanya disebutkan.
"Rai Vinsen, 'kan. Dis?"
Adisty mengangguk.
"Kenapa hidup kamu begitu beruntung, Adisty?" decaknya setelah melihat anggukan kepala Adisty.
Adisty hanya tersenyum menanggapinya. Ia memang sudah bercerita pada Lauren mengenai Gerald, calon suaminya yang kabur dan digantikan oleh seseorang, yang tak lain adalah Vinsen.
"Oh, yah. Bagaimana jika kita abadikan moment ini?" usul Lauren, kali ini bukan hanya pada Adisty, melainkan juga pada Vinsen.
Tanpa menunggu persetujuan, Lauren mengeluarkan gawai dari clutch-nya dan mengarahkan kamera pada dirinya dan pasangan pengantin.
"Vinsen, coba tersenyum!" suruhnya yang membuat Vinsen tersenyum kaku, membuat Adisty yang heran menatap pada suaminya.
Foto kedua berhasil diambil dengan pose Adisty yang menatap Vinsen.
"Sekali lagi happy wedding untuk kalian. Oh, yah Disty, jangan lupa untuk cepat memberiku keponakan."
Adisty hanya mengalihkan tatapannya dengan senyuman saat Lauren mengatakannya. Sementara Vinsen, ah dia ingin sekali rasanya segera menyelesaikan acara ini dan beristirahat.
"Nanti sore aku akan segera berangkat ke Maldives—Again." sahut Lauren dengan wajah sedih diakhir kalimatnya.
"Secepet itu? Kamu tidak ada niat untuk menetap beberapa hari di Indo?"
Gadis itu berlalu dengan berat hati. Meninggalkan Adisty dengan Vinsen, Adisty hanya melambaikan tangan, Lauren, sahabat yang selalu Adisty rindukan.
"Temanmu?"
"Yes,"
Vinsen menggeleng tak mengerti. Sementara Adisty bersikap santai seperti biasanya.
"Nyonya Jeana?"
Adisty menoleh, menatap Vinsen yang memanggilnya seperti orang asing. Sebagian para tamu undangan sudah selesai memberi ucapan selamat, sehingga Adisty dan Vinsen bisa bersantai sebentar.
"Ada apa?"
"Jangan berharap pernikahan kita akan berjalan normal seperti pasangan suami istri pada umumnya." sahut Vinsen dengan ketus.
"Maksudmu?"
"Kita baru saja saling mengenal bukan? Mustahil ada cinta diantara kita. Ingat satu hal, jika pernikahan ini terjadi karena sebuah kesepakatan, bukan keinginan kita."
Adisty terdiam, mencoba mencerna dengan baik apa yang sedang coba Vinsen sampaikan.
"Apa yang sedang kamu coba sampaikan?" ia akhirnya memutuskan untuk bertanya secara langsung.
Vinsen tersenyum meremehkan.
"Ingat satu hal, setelah aku bisa mengganti dana yang keluarga kamu berikan untuk perusahaan keluargaku. Maka kita akan bercerai,"
Kini, giliran Adistya yang tersenyum. Senyum penuh arti dengan raut tenang menatap Vinsen.
"Kamu pikir akan semudah itu menceraikan aku?"
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Bertahan, Vinsen."
__ADS_1
"Hanya sendiri, kamu pikir bisa?"
"Maka aku akan coba buat kamu juga bertahan."
Vinsen tersenyum.
"Lakukan jika bisa!"
Adisty hanya menatap netra hitam Vinsen yang lekat menatapnya. Sampai anggota keluarga yang memberi ucapan selamat pada ia dan Vinsen membuat fokus keduanya teralihkan.
Rean, adalah orang pertama yang memberi mereka ucapan selamat. Menyampaikan beberapa wejangan untuk bekal rumah tangga Adisty dengan Vinsen. Begitu juga Wira yang melakukan hal yang sama.
Zyla, meski Adisty melihat ada ketidakrelaan di mata sang mama, tapi wanita cantik itu memberikan doa terbaik padanya.
Begitu juga Mitha dan Chandra yang turut memberikan do'a terbaiknya.
"Kakak ipar," ucap Vinsen saat Chandra memberinya ucapan selamat. Chandra tersenyum dan memeluk orang yang sudah resmi menjadi adik iparnya dan menjadi bagian dari keluarga Dirgantara.
"Selamat datang di keluarga Dirgantara." ucapnya ramah. Vinsen mengangguk.
"Semoga berbahagia selalu, Adikku sayang." Mitha memeluk sang adik.
"Terimakasih Kakakku sayang."
Dua wanita cantik itu saling berpelukan.
"Semoga pernikahan ini hanya sekali dalam seumur hidup, semoga kalian selalu berbahagia."
Adisty mengangguk, Vinsen juga tersenyum. Sekilas, ia menatap Adisty.
"Tante Distynya Jany jadi milik Omm ganteng deh." ucap Senjany dengan polosnya.
"Tante Disty, 'kan bakalan sering main sama Jany. Yah," Adisty menekan hidung mancung gadis kecil itu.
"Om ganteng kasih izin? Kata Mama, kalo mau pergi kemana-mana, Mama harus minta izin sama Papa."
"Papa jarang kasih izin Mama buat keluar," gadis itu mencebikan bibirnya, sementara Chanda dan Mitha, selaku orang tua gadis kecil itu hanya tersenyum.
Vinsen tersenyum melihat tingkah Senjany, ia setengah membungkukkan badannya untuk mengimbangi tinggi Senjany.
"Nanti, Om akan sering kasih izin Tante Jea buat main sama kamu. Gimana?"
"Are you sure?"
"Of course!'
Senjany tersenyum senang. Sampai Chandra mengajaknya berlalu karena tamu lain banyak yang sudah mengantri untuk memberi ucapan selamat.
"Sayang,"
Adisty tersenyum saat orang yang memberi ucapan selamat ternyata adalah ibu mertuanya. Dibelakangnya ada beberapa saudara sepupu Vinsen dan juga saudara sepupu Adisty sendiri.
"Selamat, ya."
"Makasih—" Adisty masih sangat bingung memanggilnya dengan sebutan apa.
"Mama,"
Adisty tersenyum.
"Makasih, Mama."
"Kamu cantik sekali, Vinsen beruntung mendapatkan kamu."
"Semoga kalian berbahagia, yah."
Vinsen hanya mengelus lengan sang Mama, satu tangannya menggandeng Adisty. Adisty hanya tersenyum, apa yang dilakukan Vinsen hanya sebuah formalitas.
Adisty mengerti sampai disini, jika pernikahannya dengan Vinsen adalah palsu, hanya sebuah pertukaran antara kekuasaan dan status.
Neraka baginya, baru saja dimulai.
TBC
Jangan lupa untuk tinggalkan like, koment dan vote❤❤❤❤
__ADS_1