Melati Yang Ternoda

Melati Yang Ternoda
Tangisan pagi


__ADS_3

Tak terasa, sang raja siang sudah bertahta di atas cakrawala, menghangatkan bumi yang saat itu masih dibasahi oleh embun yang suci, suara kicauan burung yang bernyanyi, seketika membangunkan Melati yang saat itu sedang terbaring di sebuah ranjang tidur mewah.


Kelopak mata indah itu mulai terbuka, perlahan dua manik mata berwarna coklat mulai bergerak memperhatikan sekitar, spontan Melati bangun dari tidurnya dan Ia melihat sekeliling.


"Aku ada di mana ini?" Melati beranjak berdiri dan ia berjalan ke arah jendela, ia buka buka jendela kamar itu, pemandangan pagi yang seharusnya membuat siapa saja bahagia, nyatanya tidak berlaku bagi Melati, pagi ini dunia terasa suram, seolah Melati tak ada gunanya lagi hidup di dunia ini, rupanya pagi ini membuat Melati seketika menangis histeris.


"Tidaaakkkkk!!! Mandaaaa!!" Melati berteriak sekencang-kencangnya, hingga anak buah Kumbang datang dan masuk ke dalam kamar Melati.


"Nyonya! Apa yang terjadi? Kenapa Anda berteriak?" tanya penjaga wanita yang bernama Ana itu. Melati duduk bersimpuh di atas lantai, tubuhnya lemas tak bertenaga, pandangan matanya kosong, seketika bayangan sang anak memenuhi kepalanya.


"Amanda!! Manda anakku! Maafkan Mama, Sayang! Mama nggak tahu apa yang sedang terjadi saat ini, Mama terlambat, sekarang sudah pagi, dokter bilang paling lambat pagi ini dan Mama tidak bisa membawa ayah kandungmu untuk datang, maafkanlah Mama, Nak!"


Melati menangis sesenggukan, ia merasa jika sudah membuat anaknya sendiri celaka, Melati tak henti-hentinya menangis, ia sudah berprasangka buruk, pasti keadaan Amanda lebih kritis atau bisa lebih buruk lagi.

__ADS_1


Sementara itu di rumah sakit, pagi itu Kumbang bisa tersenyum dengan lega, kondisi Amanda semakin membaik, ia pun menghubungi anak buahnya yang sedang ditugaskan untuk menjaga Melati.


"Halo!"


"Iya, Bos! Di sini Ana."


"Bagaimana keadaan Melati?" tanya Kumbang penasaran.


"Nyonya Melati menangis histeris, Tuan! Dia kelihatan sangat sedih sekali, kasihan sekali wanita itu, ia seperti hilang harapan," ungkap Ana.


"Baik, Tuan!" balas Ana.


"Bilang kepadanya, Amanda baik-baik saja, biar dia tidak khawatir," seru Kumbang.

__ADS_1


Setelah itu, Kumbang kembali melihat kondisi sang putri yang terlihat semakin membaik. Akhirnya, setelah begitu lama penantian, Kumbang bisa memeluk putri kandungnya sendiri. Kumbang pun bertekad untuk merebut Melati dari tangan Surya, karena dipastikan Surya sudah mengetahui rahasia jika Amanda bukanlah anak kandung Surya, tapi anak kandung Kumbang.


"Amanda, Sayang! Sebentar lagi kita akan bersama, Nak! Lima tahun sudah Papa menunggu saat seperti ini, dan sekarang sudah tabir rahasia besar antara hubungan darah ini, aku adalah Papamu, Nak! Aku adalah Papa kandungmu," ucap Kumbang sembari mengusap lembut wajah sang putri yang sedang tertidur pulas itu.


Tiba-tiba saja, Amanda mulai siuman, gadis kecil itu perlahan membuka kelopak matanya yang berat.


"Amanda! Kamu sudah sadar, Sayang!" seru Kumbang yang sangat bahagia ketika melihat sang putri sudah siuman. Terdengar Amanda yang memanggil dengan sebutan Papa, entah siapa yang sedang ia panggil, Papa Surya Papa Kumbang.


"Pa ... pa!" suara lembut itu keluar dari bibir mungil gadis itu.


"Iya Sayang, Papa ada di sini, ini Papa,Nak!" sahut Kumbang berharap sang anak bahagia melihat dirinya yang belum pernah bertatap muka sama sekali, selama ini Kumbang hanya melihat wajah sang anak dari foto dan video yang dikirim oleh Melati kepadanya.


"Om siapa??" seketika Kumbang terkejut saat sang anak memanggilnya dengan sebutan Om.

__ADS_1


"Om??"


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2