Melati Yang Ternoda

Melati Yang Ternoda
Kumbang terluka


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, Kumbang mengajak putrinya untuk pulang ke rumahnya, sembari menunggu kabar tentang keberadaan Melati. Amanda tampak diam saat berada di dalam mobil sehingga membuat Kumbang bertanya kepada gadis kecil itu.


"Amanda kok sedih? Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Mama loh, senyum dong!" ucap Kumbang sembari mengusap rambut putrinya.


"Amanda haus, Om!" balas Amanda.


"Ya sudah! Om belikan minuman dulu. Pak sopir, berhenti di depan swalayan, aku mau belikan putriku minum," ucap Kumbang yang tentu saja membuat Amanda terkejut.


"Kok putri sih, Om! Amanda kan bukan anaknya Om, Amanda anaknya Mama dan Papa," sahut sang bocah yang membuatnya Kumbang tersenyum.


"Oh iya lupa, itu karena Om udah menganggap kamu seperti putri Om sendiri. Ya sudah, Manda tunggu di sini dulu, biar Om belikan minuman untukmu," pamit Kumbang yang akan masuk ke dalam swalayan untuk membelikan putrinya minuman. Untuk hari ini Kumbang tidak membawa anak buah, karena mereka diperintahkan Kumbang untuk pergi mencari keberadaan Melati. Sampai saat ini anak buah Kumbang belum juga mendapatkan kabar.


Hingga akhirnya, anak buah Kumbang mendatangi rumah Surya dan berharap Melati berada di dalam rumah itu. Beruntung saat itu Surya tidak ada di rumah, sehingga mereka bisa mencari di mana Melati disembunyikan oleh Kumbang.


Hanya ada Mama Seroja yang berada di rumah itu, dengan mudah anak buah Kumbang masuk dengan menyamar sebagai sales panci.


"Selamat siang, Bu!" seru seorang anak buah Kumbang yang menyamar sebagai sales.


"Selamat siang!" balas Mama Seroja yang kebetulan wanita itu sedang berada di halaman rumah.


"Saya mau menawarkan produk panci terbaru kami, ada diskon 70 persen bagi pembeli pertama. Dijamin pancinya tahan banting dan tahan bocor, tidak karatan dan tidak lumutan seperti duda sebelah. Mari Bu dilihat-lihat dulu pancinya!" seru tukang panci palsu itu.

__ADS_1


"Aduh! Maaf, panci-panci saya masih bagus, tidak karatan dan tidak lumutan, saya belinya masih perjaka ting-ting, sudah sana-sana pergi! Ganggu orang saja," sahut Mama Seroja sambil membalikkan badannya.


Di saat situasi mulai aman, anak buah Kumbang yang menyamar menjadi sales itu pun tiba-tiba membekap mulut Mama Seroja. Mama Seroja langsung pingsan dan dengan mudah mereka masuk mencari keberadaan Melati.


Melati yang saat itu sudah pasrah, ia terlihat duduk di atas lantai sembari memeluk kedua lututnya, ia tidak bisa pergi dari kamar itu, karena Surya sudah mengunci semua pintu dan jendela kamar mereka dari luar.


"Amanda! Mama kangen sama kamu, Nak! Mama ingin sekali bertemu denganmu," rintih Melati dengan sesenggukan. Hingga akhirnya ia dikejutkan dengan suara pintu yang berusaha dibuka oleh seseorang. Melati menduga jika itu adalah suaminya. Ia pun berdiri saat pintu kamar itu dibuka.


"Siapa kalian?" tanya Melati yang terkejut melihat kedatangan orang-orang yang tak lain adalah anak buah Kumbang. Tak berselang lama Ana masuk ke dalam kamar dan segera membawa Melati pergi dari rumah suaminya.


"Mari, Nyonya! Kita akan bertemu dengan putri Nyonya," seru Ana yang tentu saja membuat Melati sangat bahagia.


"Amanda, Mama datang, Nak!" ucap Melati yang begitu bahagia akhirnya dirinya akan bertemu dengan putrinya.


"Awas Tuannnn!" teriak sang sopir yang membuat Kumbang spontan menoleh ke belakang, ia pun sigap dan langsung menghindari pisau yang hendak dihujamkan pada tubuhnya.


Namun nahas, bukan cuma satu orang saja yang menyerang Kumbang, tapi ada tiga orang. Alhasil Kumbang terkena pisau dan melukai lengannya karena berusaha untuk menghindar. Merasa terluka, Kumbang emosi dan berusaha untuk melawan ketiga orang itu.


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Kumbang berhasil membuat orang-orang itu lari terbirit-birit.


"Shiiit! Mereka memang payah, melawan satu orang saja tidak becus. Sialan!" umpat Surya yang saat itu berada di dalam mobil sedang mengawasi anak buahnya yang sedang menyerang lawan bisnisnya itu, dan dia lah yang mengikuti mobil Kumbang dan berusaha untuk mencelakai Kumbang.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Kumbang melihat darah pada lengan sebelah kiri, ia pun segera masuk ke dalam mobil dan segera menutup lukanya agar darah tidak semakin keluar banyak.


"Tuan tidak apa-apa?" seru sang sopir yang melihat Kumbang berdarah.


"Aku tidak apa-apa, ayo jalan!" titah Kumbang kepada sang sopir. Amanda yang melihat itu, ia pun mulai iba kepada Kumbang.


"Om kenapa? Om terluka, ya?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya.


"Iya sayang! Tapi tidak apa-apa, hanya luka kecil, nanti juga sembuh sendiri," balas Kumbang dan berusaha untuk tidak membuat putrinya takut, karena sebenarnya Kumbang merasa sangat kesakitan.


"Tuan! Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja? Luka anda sepertinya serius, saya khawatir, Tuan!" ucap sang sopir.


"Tidak usah! Biar aku obati sendiri lukanya," Kumbang tetap bersikukuh untuk pulang ke rumah. Hingga akhirnya, ia mendapatkan informasi jika anak buahnya sudah berhasil menemukan Melati.


"Benarkah Melati sudah ditemukan? Syukurlah! Terima kasih banyak Tuhan. Awww ... ssss," ucap Kumbang yang sangat bahagia mendengar Melati yang sudah ditemukan dengan menahan rasa sakit pada lengannya. Amanda yang tak sengaja mendengar percakapan Kumbang dan anak buahnya. Bocah itupun bertanya, "Kita akan bertemu Mama kan, Om?"


Kumbang tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya Sayang, sebentar lagi kita akan bertemu dengan Mama," ucap Kumbang yang seketika membuat Amanda spontan memeluk dirinya. Terasa begitu dingin dan menentramkan hati saat putri kecilnya memeluk dirinya, seolah rasa sakit itu hilang seketika saat Amanda memeluk sang ayah.


"Asiikk terima kasih banyak ya, Om! Amanda seneng banget bisa ketemu lagi dengan Mama," ucap gadis kecil itu sambil memeluk Kumbang.


"Anakku, betapa bahagianya hati Papa, Nak! Kamu adalah anak Papa, darah daging Kumbang!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2