
"Saya sendiri kurang tahu namanya, tapi sepertinya pria itu adalah rival bisnis Tuan Kumbang," seru Ana.
"Rival bisnis?" Melati tampak mengernyitkan dahinya, karena Kumbang adalah seorang direktur utama yang tentunya memiliki banyak rival bisnis.
"Benar, Nyonya! Pria itu adalah rival bisnis Tuan Kumbang, maka dari itu Tuan berniat untuk menghancurkan kehidupan pria itu dengan membalaskan dendam atas penderitaan yang dialami oleh Nona Mawar," ungkap Ana.
Melati pun mulai faham dan mengerti dengan sikap Kumbang, ternyata sifat pantang menyerah itu tidak pernah hilang dari sosok Kumbang, sehingga membuat Melati teringat akan masa-masa dimana dirinya berpacaran dengan Kumbang sewaktu masih SMA.
Melati sedikit mengulas senyum saat dirinya teringat bagaimana saat Kumbang menyatakan cintanya kepada Melati yang saat itu mereka adalah teman satu kelas. Kumbang rela hujan-hujanan untuk menemui Melati hanya untuk mengatakan jika dirinya menyayangi Melati. Tak perduli jika dirinya kedinginan untuk mengejar mobil Melati, sementara Kumbang hanya menaiki sebuah motor kesayangannya.
Melati melamun sendiri sembari tersenyum, rasanya perasaan sayang itu mulai muncul kembali, apalagi sekarang Kumbang sudah memberinya seorang anak.
"Nyonya! Nyonya ...!" Ana tampak menepuk pundak Melati yang saat itu sedang melamunkan Kumbang.
"Ah ... iya! Maaf tadi aku ... aku sedang memikirkan putriku," ucap Melati yang terkesiap saat Ana menyadarkan dirinya.
Ana pun tersenyum, kemudian Ana pamit untuk keluar dari kamar Melati. Dan Melati pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah Ana keluar dari kamarnya, Melati pun mulai semangat untuk makan, karena sekarang kondisi Amanda aman bersama ayah kandungnya. Tapi, ada satu hal yang masih membuat Melati bersedih, yaitu tentang nasib pernikahannya dengan Surya.
"Mas Surya, maafkan aku! Aku tahu kamu pasti kecewa, aku akan terima keputusanmu, aku memang tidak pantas untuk mendampingi mu. Tapi, bagaimana dengan Amanda? Dia pasti akan mencari mu, karena Amanda sangat menyayangimu, entah apa yang akan aku katakan kepadanya, apa aku harus bilang terus terang saja kalau kamu bukanlah ayah kandungnya? Apakah Amanda bisa mengerti?" ucap Melati lirih.
Tak ingin terlalu meratapi nasibnya, Melati beranjak pergi ke kamar mandi. Namun, sebelum itu ia melihat-lihat dulu kondisi apartemen milik Kumbang itu, Melati melihat sebuah lukisan bunga melati, dimana ada sebuah Kumbang yang hinggap pada kelopak bunga berwarna putih bersih itu.
Sejenak Melati berdiri di depan lukisan itu, ia pun menatapnya dalam-dalam, ada sebuah makna yang terbesit pada lukisan bunga melati yang sengaja Kumbang letakkan di sana, seolah itu adalah dirinya dan juga Kumbang.
"Entahlah ada apa dengan perasaanku kali ini, rasa yang dulu pernah hilang, tiba-tiba muncul begitu saja, apa mungkin perasaanku masih ada untuk Kumbang?" Melati tampak bermonolog sendiri.
Setelah cukup puas dirinya menatap lukisan itu, ia pun segera pergi ke kamar mandi, Melati masuk ke dalam kamar mandi, sejenak ia dikejutkan dengan sebuah foto yang berukuran cukup besar menggantung di salah satu dinding kamar mandi itu yang berhadapan langsung dengan bathtub, sehingga foto itu akan mudah terlihat saat Kumbang sedang berendam. Dan ternyata itu adalah foto Melati saat dirinya masih muda dulu.
"Jadi, selama ini Kumbang memandangiku saat dirinya sedang mandi? Ewww ngapain dia mandangin aku sambil mandi!! Eh kok aku jadi negatif thinking sih!" seru Melati sembari menggelengkan kepalanya membayangkan bagaimana Kumbang bisa mandi dengan menatap fotonya di sana, apa foto dirinya digunakan Kumbang untuk berfantasi?
Melati pun berusaha untuk tidak membayangkannya, karena pastinya ada alasan khusus kenapa Kumbang meletakkan foto dirinya di dalam kamar mandi. Ia pun segera melepaskan pakaian dan segera membersihkan dirinya.
Di sisi lain, Surya yang masih kesal, sedih dan kecewa. Nyatanya Surya terlalu mencintai Melati, dan ia pun tetap ingin melihat Melati. Kumbang pun mencari keberadaan Melati yang mungkin saat ini masih berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Aku ngga bisa seperti ini terus! Aku tidak bisa jauh dari istriku, aku harus menyusulnya di rumah sakit!" ucap Surya saat dirinya beranjak pergi ke rumah sakit.
Tiba-tiba saja, Mama Seroja menghentikan sang anak untuk pergi menemui Melati.
"Mau kemana kamu, Surya?" cegat Mama Seroja.
"Surya mau menjemput Melati, Ma!" jawabnya spontan. Tentu saja Mama Seroja sangat terkejut dengan pengakuan sang anak.
"Apa? Menjemput wanita murahan itu? Kamu sudah gila, ya! Wanita itu sudah mengkhianatimu, bahkan dia sudah melahirkan anak haram dari musuhmu! Sekarang kamu mau menjemputnya? Mama tidak setuju!" ucap Mama Seroja yang masih kesal dengan Melati.
"Ayolah, Ma! Surya sangat mencintaimu Melati, Mama tahu sendiri itu, Surya tidak bisa hidup tanpa Melati, Ma! Surya akan tetap membawa Melati pulang, Surya tidak perduli dengan Amanda, biarkan saja Amanda dibawa oleh ayah kandungnya, tapi tidak dengan Melati, dia akan tetap menjadi istri Surya, karena aku tahu jika aku menceraikan Melati, maka Kumbang pasti menertawakan aku, dia pikir dia bisa mengalahkan seorang Surya, dia sudah salah besar, aku tidak akan pernah melepaskan Melati begitu saja," tekad Surya yang akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan Melasti.
Setelah mengatakan hal itu, Surya segera pergi ke rumah sakit untuk membawa Melati pulang.
"Surya! Tunggu Surya, dengerin Mama dulu!" teriak Mama Seroja.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1