
Kini, Mawar telah kembali ke rumahnya. Gadis itu terlihat menatap rumahnya kembali setelah bertahun-tahun dirinya tidak tinggal di sana. Kumbang tetap merawat kamar Mawar, tak ada yang berubah. Mawar masuk ke dalam kamarnya dengan sangat terharu.
"Kamarku!" ucap gadis itu sembari menyentuh beberapa barang yang ada di dalam kamar miliknya. Seperti foto dirinya, bajunya, segala aksesoris, sepatu dan tas miliknya yang masih tertata rapi di kamar itu.
Mawar duduk di atas meja tidurnya. Lantas, ia memanggil Amanda dan menyuruh gadis kecil itu untuk duduk di sampingnya.
"Amanda, sini! Duduk sama Tante!" panggil Mawar kepada sang keponakan. Gadis itupun menurut dan berlari ke arah Mawar. Amanda dengan senang duduk di samping tantenya.
"Mas, Mbak Mel! Boleh ya kalo Amanda tidur bersamaku di sini?" pinta Mawar kepada Kumbang.
Kumbang dan Melati saling menatap, Melati pun menganggukkan kepalanya, pertanda jika dirinya mengizinkan Mawar untuk tidur bersama putrinya.
Kumbang tersenyum dan Ia pun mengizinkan Mawar untuk tidur bersama Amanda.
"Tentu saja! Dia kan keponakanmu. Jadi, kami berdua tidak keberatan jika Amanda tidur di kamar ini." Perkataan Kumbang tentu saja membuat Mawar dan Amanda sangat senang.
"Terima kasih banyak, Mas, Mbak Mel!" ucap Mawar yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena malam ini ia akan ditemani sang keponakan.
Hingga akhirnya, seorang anak buah Kumbang datang melaporkan sesuatu kepadanya.
"Permisi, Tuan! Ada satu hal yang harus Anda ketahui, kami mendapatkan informasi penting tentang Tuan Surya," seru anak buah Kumbang yang membawa berita tentang Surya.
__ADS_1
Kumbang langsung keluar dari kan Mawar, ia teringat akan pesan dokter jika untuk saat ini tidak boleh ada yang mengingatkan Mawar tentang masa lalunya yang menyebabkan gangguan mental pada adiknya. Sehingga berita tentang Surya, Kumbang akan membicarakannya di luar kamar Mawar, takut jika sang adik akan mendengarnya dan teringat kembali.
Melati yang saat itu sedang bersama Kumbang, ia pun juga ikut penasaran dengan berita tentang pria yang masih menjadi suaminya suaminya itu.
"Mas Surya! Apa yang terjadi padanya?" ucap Melati lirih.
Akhirnya, Melati maupun Surya pergi keluar dari kamar Mawar dan berharap Mawar tidak mendengar ucapan anak buahnya tersebut.
Melihat kakaknya keluar dari kamarnya bersamaan dengan Melati. Mawar pun tersenyum, mungkin Kumbang dan Melati sedang ingin berdua.
"Mas Kumbang dan Mbak Melati mau kemana? Hmm mungkin saja mereka risih jika aku melihat mereka berduaan." Pikir Mawar yang mengangguk saat Kumbang memberikan isyarat jika dirinya pamit keluar bersama Melati.
Setelah Kumbang dan Melati keluar dari kamar Mawar. Kini tinggal Mawar dan Amanda yang berada di dalam kamar. Gadis kecil itu tiba-tiba berkata kepada Mawar.
"Sebenarnya, Amanda kangen sama Papa Surya. Tante bisa nggak nolongin Manda biar ketemu sama Papa Surya, soalnya kalo Manda minta sama Mama pasti nggak dikabulkan," ungkap Amanda.
Seketika Mawar terkejut saat Amanda menyebut nama Surya.
"Siapa, Papa Surya? Bukannya Papanya Amanda itu Papa Kumbang, kenapa jadi Papa Surya?" tanya Mawar penasaran.
"Iya sih Tante! Kata Mama papa kandungnya Amanda itu adalah Papa Kumbang bukan Papa Surya, ayo dong bantuin Manda untuk ketemu Papa Surya!" rengek sang bocah yang semakin membuat Mawar penasaran. Kenapa Amanda menyebut nama Surya. Sebuah nama yang membuatnya teringat akan seseorang di masa lalunya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, Manda! Bukannya Papa dan Mama udah menikah dan Amanda anaknya, kenapa harus ada Papa Surya? Papa Surya itu siapa lagi?" tanya Mawar makin penasaran.
"Papa Surya itu suaminya Mama, Tante! Tapi kata Mama, Papa Kumbang itu Papa kandungnya Manda, tapi dari kecil Manda hanya tahu Papa Surya." Mendengar pengakuan dari Amanda, Mawar pun dibuat semakin penasaran.
"Itu artinya, Mbak Melati menikah dengan pria lain? Tapi kenapa Mas Kumbang yang jadi Ayah kandungnya Manda? Aneh!!" pikir Mawar.
"Gimana Tante? Mau ya bantuin Manda. Meskipun Papa Surya bukan papa kandung Manda, tapi Manda masih sayang banget sama Papa Surya," sahut Amanda yang terus merengek meminta tolong kepada Mawar.
Mawar pun tersenyum dan mengiyakan permintaan sang keponakan. "Iya iya, nanti Tante pasti bantu Manda untuk ketemu Papa Surya. Sekarang, Amanda bobo dulu di sini. Tante mau ambil minum dulu, Amanda pasti haus, kan?" ucap Mawar sembari beranjak pergi.
Amanda pun menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Mawar pun beranjak pergi untuk mengambil air minum di dapur.
Sementara itu, Kumbang berbicara kepada anak buahnya di ruangan kerjanya. Sang anak buah menceritakan tentang kondisi Surya saat ini. Kebetulan, Mawar yang sedang pergi ke dapur, melewati ruangan Kumbang yang terlihat sedikit terbuka karena pintu belum ditutup sempurna.
"Ternyata Mbak Melati dan Mas Kumbang belum menikah? Terus bagaimana bisa Amanda hadir dalam pernikahan Mbak Melati dan suaminya? Apa jangan-jangan Mbak Melati hamil anak Mas Kumbang karena mereka selingkuh? Waaah ini pasti Mas Kumbang yang nakal. Dari dulu Mas Kumbang tidak bisa ngelupain Mbak Melati. Pasti mereka CLBK, hmm! Eh eh tunggu, sepertinya anak buah Mas Kumbang sedang bicara serius dengan mereka, ada apa sih?" pikir Mawar saat dirinya akan melewati ruangan kerja Kumbang.
Karena penasaran, Mawar pun mendekati pintu dan secara tidak sengaja, ia mendengar ucapan Melati yang menyebut nama Surya.
"Apa? Mas Surya kecelakaan dan kakinya diamputasi? Ya Tuhan! Ampuni Mas Surya!"
Mendengar ucapan dari Melati, Mawar masih belum sadar jika yang dibicarakan oleh Melati adalah Surya, pria yang sudah menghancurkan hidupnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Kasihan suami Mbak Melati, kakinya diamputasi. Eh tapi kenapa Mbak Melati ada di sini? Astaga! Apa jangan-jangan Mas Kumbang jadi pebinor? Omaigad!!" lagi-lagi Mawar masih belum menyadari jika pria yang dibicarakan oleh mereka adalah Surya, sang mantan pacar.
...BERSAMBUNG...