
Sementara di sisi lain, Melati pun tak sabar ingin segera bertemu dengan anaknya, menunggu kabar dari Kumbang seperti menunggu hujan di tengah gurun Sahara, karena sudah tidak sabar ia pun bertekad untuk pergi dari apartemen Kumbang. Tapi, rupanya upaya Melati untuk pergi dari sana tidak semudah yang ia kira, banyak penjaga yang menunggu di luar apartemen.
"Ya Tuhan, bagaimana caranya aku bisa pergi dari sini, aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan putriku, bagaimana keadaannya sekarang?" Melati sangat cemas, sebagai seorang ibu tentu saja dirinya ingin tahu bagaimana keadaan Amanda, meskipun Ana mengatakan jika Kumbang sudah menolong putrinya dan kondisi Amanda sudah sangat membaik.
Melati pun untuk sejenak teringat akan suaminya, ia bisa saja menghubungi nomor Surya lewat telepon dari apartemen Kumbang. Tapi, apa Surya masih mau menerimanya setelah pria itu tahu yang sebenarnya.
Karena ia masih penasaran, Melati pun mencoba menghubungi nomor Surya, ia berusaha memberanikan diri untuk berbicara dengan sang suami untuk meminta maaf, meskipun ia sadari mungkin Surya tidak akan memaafkan dirinya, karena Melati masih merasa ada yang dilakukannya itu sungguh sangatlah fatal.
Perlahan jari lentik itu menekan nomor Surya, hingga akhirnya ponsel Surya yang saat itu pria yang kini terbaring di sebuah ranjang rumah sakit itu berdering tiada henti.
Surya melihat ke layar ponsel, nomor tak dikenal sedang menghubunginya.
"Siapa yang sudah menghubungiku?" ucap Surya lirih. Ia pun menerima panggilan telepon dari Melati.
"Halo!" sapa Surya, untuk sejenak Melati menutup speaker teleponnya.
"Mas Surya!" batin wanita itu antara terkejut dan takut.
"Halo ... siapa ini?" desak Surya. Di saat yang bersamaan Mama Seroja datang menghampiri putranya dan wanita itupun terlihat panik saat melihat kondisi putranya yang terluka. Mama Seroja memeluk putranya yang saat itu sedang menerima telepon dari Melati.
"Ha ...!" baru saja Melati ingin mengatakan halo, seketika ia berhenti saat mendengar suara Mama Seroja yang terdengar sangat keras.
"Surya! Kamu kenapa, Nak? Ya ampun kamu terluka seperti ini, siapa yang sudah melakukan ini padamu, Nak!" seru Mama Seroja yang tentu saja membuat Melati sangat terkejut.
__ADS_1
"Mas Surya kenapa?" batin Melati masih mendengarkan secara seksama suara Mama Seroja.
"Iya iya, Ma! Surya tidak apa-apa, biasa ada orang gila yang menyakiti Surya, musuh bisnis, Ma!" jawab Surya berbohong, agar sang Mama tidak terlalu khawatir.
"Apa? Musuh bisnismu, ya ampun bajingan sekali tuh orang, main pukul orang saja, tadi Mama denger dari petugas medis di sini katanya ada orang yang sedang menganiaya kamu, ini tidak bisa dibiarkan Sur! Kamu harus melapor ke polisi, biar dia kapok," seru Mama Seroja.
"Ah sudahlah, Ma. Lagipula Surya tidak apa-apa, hanya luka kecil, nanti juga sembuh sendiri," balas Surya.
"Kamu sih udah Mama bilangin jangan ke rumah sakit, ngapain kamu cari Melati, toh dia nggak ada kan? Dia pasti sedang mencari laki-laki itu, dan kamu tidak mungkin dia ingat lagi, sudah ceraikan saja istrimu!" ucap Mama Seroja. Surya pun tidak terlalu menanggapinya, justru ia kembali berbicara dengan seseorang yang ada dalam telepon itu.
"Halo! Ini siapa? Tolong jangan ganggu saya jika tidak ada keperluan, saya mau istirahat!" balas Surya yang hampir saja menutup teleponnya. Tapi, tiba-tiba terdengar suara Melati yang sangat membuat Surya terkejut.
"Halo Mas, ini aku Melati!" seru Melati.
"Aku baik-baik saja, Mas! Kamu jangan khawatir. Katakan padaku, Mas? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Melati yang nyatanya ia masih mengkhawatirkan keadaan sang suami.
"Em ... aku, aku dihajar oleh Kumbang, dia jahat sekali, dia sudah berusaha merebutmu dan dia juga berusaha untuk mencelakaiku, sungguh laki-laki biadab!" umpat Surya agar bisa mempengaruhi Melati untuk membenci Kumbang.
"Apa? Kumbang yang sudah melakukannya? Bagaimana bisa? Tapi kamu baik-baik saja, kan?" Melati masih mengkhawatirkan keadaan sang suami, karena bagaimanapun juga ia masih belum mengerti masalah antara Kumbang dan suaminya.
"Ya ... aku datang ke rumah sakit untuk menengok keadaan Amanda dan kamu, tapi aku tidak mendapatkan dirimu dan disaat aku ingin menemui Amanda, dia rupanya tidak mengizinkan ku untuk bertemu dengan anakku, aku untuk minta maaf padamu, Mel! Waktu itu aku sangat emosi, aku ingin sekali bertemu denganmu," seru Surya yang nyatanya membuat Melati bersedih.
"Ya Tuhan, kenapa Kumbang tega sekali melakukan hal itu, aku nggak nyangka dia benci sekali dengan suamiku," batin Melati.
__ADS_1
"Mel, pulanglah! Sekarang kamu ada di mana? Aku akan menyuruh orang untuk menjemputmu, kita akan memulainya lagi dari 0, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Mel! Aku mohon kembalilah!" rengek Surya yang pada akhirnya membuat Melati luluh.
"Aku sekarang ada di luar kota, ceritanya panjang, Mas." Ungkap Melati saat dirinya menjelaskan alamat di mana sekarang dirinya berada.
"Baiklah! Tunggu orang-orangku ke sana untuk menjemputmu," ucap Surya.
Akhirnya, Melati pun bisa bernafas lega, sang suami ternyata sudah bisa memaafkan dirinya. Tapi, meskipun begitu Melati masih bimbang, apa Surya benar-benar telah memaafkan dirinya.
"Entahlah ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa mungkin Mas Surya benar-benar menyesal? Aku masih teringat bagaimana dia sangat marah dan ingin berpisah denganku, aku ragu untuk kembali padanya," ucap Melati sembari duduk untuk berfikir langkah apa yang akan Ia lakukan.
Hingga akhirnya, Melati tanpa sengaja melihat foto Mawar bersama Kumbang yang terletak di atas meja kecil. Melati mendekati foto itu dan Ia melihat foto Mawar saat ulang tahun yang ke 17, ia ditemani oleh sang kakak yang terlihat begitu menyayangi sang adik. Untuk sejenak Mawar teringat akan adik Kumbang yang konon mengalami depresi mental karena ulah pria tak bertanggung jawab.
"Kalian berdua sangat manis, Mawar! Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku ikut bersedih dengan apa yang terjadi padamu, apakah seberat itu dia mengalami depresi? Apa Mawar masih ingat denganku?" ucap Melati yang mulai penasaran dengan kondisi Mawar.
Akhirnya, Melati berpikir untuk menemui Mawar, tapi bagaimana caranya bertemu dengan adik Kumbang itu, siapa tahu dirinya bisa membantu Mawar untuk lepas dari masalahnya.
Melati meminta kepada Ana untuk mengantarkannya bertemu dengan Mawar, paling tidak ia ingin menghibur Mawar, karena bagaimanapun juga dulu Mawar dan Melati pernah dekat dan mereka juga seperti Kakak adik.
"Bisakah Anda mengantar saya untuk bertemu dengan Mawar?" tanya Melati kepada Ana, wanita yang dibayar Kumbang untuk menjaga Melati.
"Maaf Nyonya! Bukannya kami tidak mengizinkan, tapi harus ada persetujuan dari Pak Kumbang, karena kami khawatir dengan keselamatan Anda, mengingat Non Mawar mudah mengamuk jika bertemu dengan orang asing," ucap Ana.
"Baiklah, bilang padanya aku ingin bertemu dengan Mawar," balas Melati yang seketika dirinya kepikiran untuk bertemu dengan Mawar dan ia lupa jika anak buah sang suami tengah datang menjemputnya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...