
Wajah polos Amanda tidak bisa dibohongi jika gadis kecil itu sangat bersedih atas apa yang menimpa Surya.
"Kenapa Om pukul Papa? Apa salah Papa, Om? Kenapa Om jahat banget sih, Manda sedih melihat Papa sakit seperti itu. Mama juga kemana sih? Kok nggak datang-datang? Kasihan kan Papa, pasti nyariin Mama terus," ucapan polos Amanda membuat Kumbang menghela nafasnya. Ia pun beranjak dari duduknya dan berjongkok di depan sang anak sembari memegang tangan Amanda.
"Amanda sayang sama Papa?" tanya Kumbang sembari menatap bola mata Amanda yang sangat mirip sekali dengan bola mata Melati. Amanda pun menganggukkan kepalanya.
"Kenapa Om pukul Papa?" pertanyaan gadis polos itu memaksa Kumbang untuk mengatakan sesuatu.
"Em ... oke, Om memang salah sudah memukul Papanya Manda. Manda masih kecil dan belum mengerti urusan kami, biar Manda tidak marah sama Om, apa yang harus Om lakukan?" tawar Kumbang penuh harap agar sang putri memaafkan dirinya.
Entah kenapa gadis kecil itu tidak bisa marah lagi kepada Kumbang, seolah pria itu membuat Amanda nyaman. Amanda hanya menundukkan wajahnya dan meminta kepada Kumbang untuk memanggil sang Mama untuk datang ke rumah sakit.
"Baiklah! Amanda memaafkan Om. Tapi, Amanda minta tolong sama Om, tolong panggilkan Mama ke sini, Om! Amanda sudah kangen banget sama Mama, biar Mama bisa menemani Papa sekarang," ucap sang putri yang tentu saja membuat Kumbang berpikir. Tidak mungkin dirinya mempertemukan lagi Melati dan Surya, karena bagaimanapun juga Melati tidak boleh lagi bertemu dengan pria itu.
"Mama? Iya nanti Om akan bilang sama Mama jika Amanda kangen. Sekarang, Amanda istirahat dulu ya! Setelah ini Om pasti telepon Mama untuk datang," bujuk Kumbang kepada putrinya.
"Bener ya, Om? Tapi Papa bagaimana? Manda ingin melihat keadaan Papa," ucap gadis itu yang memaksa ingin bertemu dengan Surya.
__ADS_1
"Dokter pasti sedang merawat Papa Manda, Papa pasti baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir, Sayang! Yuk, kita ke kamar Manda dulu, kamu harus banyak istirahat supaya saat Mama nanti ke sini, Amanda sudah segar dan sehat," ucap Kumbang sembari menggendong putrinya. Amanda menganggukkan kepalanya dan terlihat merangkul Kumbang.
Sungguh perasaan Ayah mana yang tidak bahagia saat dipeluk oleh putrinya sendiri, Kumbang mengelus rambut sang putri dan sesekali dirinya menitikkan air mata. Seorang pria yang gagah tengah menangis untuk putrinya.
Sesampainya di kamar, Kumbang segera menidurkan putrinya pada ranjang tidur, dengan sangat pelan, Kumbang meletakkan tubuh mungil itu.
"Sekarang Manda istirahat, Om akan menelpon Mama, ya!" seru Kumbang sembari mengusap wajah Amanda.
Kumbang pun keluar dari kamar Amanda, ia pun memerintahkan kepada anak buahnya untuk menjaga kamar Amanda agar Surya tidak bisa masuk dan menemui putrinya.
Kumbang menemui Surya yang baru saja menerima beberapa jahitan pada kepalanya akibat pukulan dari Kumbang. Kepala Surya diperban dan ia pun terlihat memandang Kumbang dengan tatapan mata yang sinis.
"Kenapa kamu datang ke sini? Kenapa kamu tidak sekalian saja membunuhku! Aku tidak pernah punya masalah denganmu Tuan Kumbang, aku mohon pergilah dari kehidupan kami dan biarkan aku hidup bahagia bersama Melati," ucapan Surya hanya dibalas senyum smirk oleh Kumbang.
Kumbang mendekati Surya dan berkata, "Kamu pikir aku perduli dengan hidupmu, Surya! Melati tidak akan pernah kembali padamu, dia hanya milikku. Dan kamu! Harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu kepada Mawar."
Seketika Surya panik saat Kumbang menyebut nama Mawar, darimana Kumbang tahu tentang gadis yang bernama Mawar, tentu saja Surya belum mengetahui jika Kumbang adalah kakak kandung Mawar.
__ADS_1
"Mawar? Siapa yang kamu maksud? Mawar siapa?" balas Surya yang masih berpura-pura tidak tahu.
"Kamu masih belum mengakuinya? Mawar, dulu dia jatuh cinta kepada seorang pria bajingan yang hanya menginginkan madunya saja, setelah pria brengsek itu mendapatkan apa yang dia inginkan, dengan mudahnya dia meninggalkan Mawar begitu saja dalam keadaan yang menyedihkan. Dan kamu tahu siapa Mawar itu, hah!" teriak Kumbang sembari mengangkat kerah leher Surya.
Tatapan mata Kumbang sudah dipenuhi dengan dendam yang membara, rasanya ingin sekali dirinya menjatuhkan kepala Surya di bawah kaki sang Adik.
"Mawar adalah adikku! Gadis lugu yang sudah kamu renggut kehormatannya dan kamu hamili dia, entah apa yang ada dalam pikiran setanmu itu, sehingga kamu membuat adikku menggugurkan kandungannya? Pernahkah kamu berfikir bagaimana perasaan seorang Kakak melihat adiknya seperti itu, jawab!!" teriak Kumbang yang tanpa sengaja membuat petugas medis merasa jika apa yang dilakukan Kumbang sudah mengganggu keamanan.
Kumbang dipaksa untuk keluar dari ruangan ICU itu, dan untuk sejenak Surya bisa bernafas dengan lega.
"Maaf, Pak! Silahkan Anda keluar! Ini rumah sakit bukan tempat untuk membuat keributan," seru seorang petugas medis kepada Kumbang.
"Haaaa lepaskan! Ingat Surya! Aku akan tetap mengejarmu sampai kapanpun," tunjuk Kumbang kepada Surya yang saat itu masih bersikap angkuh dan tidak ingin meminta maaf.
"Jadi, Mawar adalah adiknya Kumbang? Ck! Tidak semudah itu kamu bisa mengambil Melati dariku Kumbang, karena aku tidak pernah mencintai adikmu, aku hanya mencintai Melati dan aku tidak akan pernah menceraikannya," ucap Surya sungguh-sungguh. Kini dirinya menyadari kenapa Kumbang selalu berusaha untuk menghancurkan dirinya, ternyata Kumbang melakukan hal itu untuk membalas dendam atas apa yang dilakukan Surya kepada adiknya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1