Melati Yang Ternoda

Melati Yang Ternoda
Berpura-pura


__ADS_3

"Amanda, Om tidak bermaksud ...!" Kumbang mencoba meyakinkan putrinya jika itu hanya kesalahpahaman. Tapi, bagaimanapun juga Amanda menyangka jika Kumbang sudah berbuat jahat kepada Papanya.


"Om pergi! Manda nggak suka lihat Om di sini. Pergi!!" teriak gadis itu sambil menangis. Kumbang pun terus berusaha untuk mendekati putrinya. Namun, Amanda tetap saja menangis melihat Surya yang terkapar di atas lantai sambil mengerang kesakitan.


"Papa, Papa nggak apa-apa, kan? Manda sayang Papa. Dokter! Tolongin Papa Manda dokter!" gadis itu berusaha untuk memanggil petugas kesehatan yang tak sengaja melihat Surya yang terjatuh di atas lantai dengan kondisi luka parah.


Sementara itu Kumbang berusaha ditenangkan oleh sang asisten agar pria itu tidak terhanyut dalam perasaan. Kemudian para petugas medis membawa tubuh Surya yang lemas ke dalam ruangan ICU. Tampak Amanda yang baru saja pulih dari sadarnya, gadis kecil itu setia mengikuti Surya yang saat itu sedang dibawa ke ruangan perawatan.


"Manda, kamu harus dengerin Om dulu!" seru Kumbang kepada putrinya dan berusaha untuk menarik tangan Amanda. Spontan Amanda menepis tangan Kumbang.


"Manda tidak mau lagi bertemu dengan Om, Om udah jahat sama Papa, Manda benci dan nggak suka lihat Om di sini, pergi!" seru sang bocah yang tentu saja membuat Kumbang bersedih.

__ADS_1


Kumbang hanya bisa melihat kepergian putrinya yang sedang mengikuti brankar dorong yang membawa tubuh Surya. Wajah kesedihan tidak bisa Kumbang tutupi, sang putri rupanya sangat menyayangi Surya, tentu saja karena Surya memberikan kasih sayang yang tulus kepada gadis itu, hingga akhirnya Surya tahu jika Amanda bukanlah putri kandungnya.


"Amanda putriku lebih menyayangi Surya, bagaimana bisa aku mengambil hati Amanda jika pria itu masih ada dalam hatinya," ucap Kumbang lirih. Sang asisten pun iba melihat bosnya yang benar-benar mencintai putrinya, tapi putrinya lebih menyayangi pria lain sebagai ayahnya.


"Bos harus bersabar, Amanda masih belum mengerti masalah orang dewasa, gadis itu masih menganggap Surya sebagai ayah kandungnya. Itu wajar, karena sedari kecil Amanda sudah melihat Surya terlebih dahulu sebelum Bos," ucap Dharma yang juga sedang memperhatikan Amanda yang sedang berjalan mengikuti kemana Surya dibawa.


"Bagaimana caranya agar aku bisa mengambil kembali perhatian Amanda?" seru Kumbang.


"Apa aku harus meminta maaf kepada Surya, demi mendapatkan maaf dari anakku? Ayolah, itu tidak mungkin aku lakukan? Meminta maaf kepada pria bejat itu? It's impossible," ucap Kumbang.


"Saya tahu, Bos! Tapi untuk berpura-pura tidak masalah kan asalkan putri Bos percaya kembali kepada Anda?" sahut Dharma menjelaskan.

__ADS_1


"Berpura-pura?" Kumbang pun mulai berfikir untuk mencari cara agar bisa dekat lagi dengan putrinya.


Sementara itu di tempat lain, brankar dorong itu mulai masuk ke dalam ruangan perawatan, Manda tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam, hanya petugas medis saja yang berhak masuk ke dalam ruangan itu.


"Maaf ya, Dek! Adek tunggu di luar saja, kami akan menolong papa Adek!" ucap sang dokter kepada Amanda.


"Iya Dokter! Tolong selamatkan Papa ya, Dokter! Amanda nggak punya teman main kalau nggak ada Papa," ucap Amanda dengan lugu. Sang dokter pun tersenyum dan mengusap kepala bocah itu.


"Kamu anak yang baik, papamu pasti baik-baik saja!" ucap sang dokter sembari tersenyum. Akhirnya, Amanda terpaksa berada di luar ruangan sembari duduk di kursi tunggu. Hingga akhirnya, tiba-tiba Kumbang duduk di sebelah Amanda, gadis itu tampak bersedih melihat kondisi sang Papa yang sedang terluka.


"Papa Amanda pasti baik-baik saja, Om minta maaf, ya!" suara itu tiba-tiba membuat Amanda sangat terkejut dan gadis itu segera menoleh ke arah samping, di mana Kumbang tersenyum kepada Amanda.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2