
"Mawar!" Surya menyebut nama Mawar dengan gemetar, sungguh ia malu pada dirinya sendiri. Apa yang sudah dilakukannya sangatlah tidak manusiawi dan sangat menyakiti Mawar. Tapi gadis itu masih mau memaafkan Surya. Apalagi melihat kondisi Surya yang sekarang sangat memprihatikan.
"Terima kasih banyak, Mawar! Terima kasih kamu sudah memaafkan kesalahanku, aku memang manusia yang laknat. Jika kamu ingin membalasnya, silakan kamu lakukan apapun yang ingin kamu mau. Aku iklhas, kalaupun kamu ingin aku berada di dalam penjara, aku pun sudah siap menghadapinya, hidupku sudah tidak ada gunanya lagi. Jadi, untuk apa lagi aku berharap lebih."
Ucapan Surya seketika membuat Mawar menghampiri pria itu. Langkah kaki Mawar bergerak ke arah kursi roda dimana Surya duduk di sana. Hingga akhirnya, Mawar kini berada di dekat Surya yang saat itu menatapnya dalam-dalam.
"Aku memang sangat kecewa padamu, Mas. Aku ingat betul kalau aku pernah kehilangan arah hidupku, aku depresi berat. Aku sempat gila karena kamu, bertahun-tahun aku tinggal di rumah sakit jiwa. Bertahun-tahun aku hidup dalam kehampaan dan rasa sakit yang teramat dalam. Hingga akhirnya, datang di hadapanku seorang gadis kecil yang seketika membuatku sadar jika di dunia ini masih ada cinta yang tulus. Wajah polos Amanda membuatku semangat untuk berjuang melawan rasa sedih itu. Dan pada akhirnya, sedikit demi sedikit Amanda kembali mencerahkan duniaku dan aku bisa terhibur dengan kehadirannya, saat itu aku pun mulai bisa menerima kenyataan bahwa cinta itu tidak selamanya harus memiliki dan bodohnya aku, aku terlalu percaya dengan cinta semu yang kamu tawarkan. Sekarang, semuanya telah berlalu, aku ingin membuka lembaran hidup baru dan melupakan masa laluku yang teramat kelam, dengan memaafkanmu, mungkin aku bisa melangkah untuk maju dan menata hidupku kembali. Setiap orang mempunyai kesalahan dan aku belajar dari kesalahan yang pernah aku perbuat. Aku memaafkanmu, Mas!"
Ucap Mawar diiringi dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. Sesekali Mawar mengusap sendiri buliran bening itu dengan tangannya.
__ADS_1
Setelah berkata kepada Surya, Mawar pun membalikkan badannya dan beranjak untuk pergi meninggalkan tempat itu. Namun, baru saja dua langkah, Mawar tiba-tiba berhenti saat ia mendengar Surya memanggil namanya.
"Mawar! Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" pertanyaan Surya seketika membuat Mawar berhenti dan menghela nafas panjang. Amanda tiba-tiba menghampiri Mawar dan berkata kepada sang Tante.
"Tante jangan pergi! Tante cinta ya sama Papa Surya? Kalau Tante cinta, kenapa Tante harus pergi? Apa karena Papa Surya tidak bisa jalan lagi? Papa kan sudah minta maaf sama Tante. Ya udah Tante balikan aja sama Papa Surya, biar Papa Surya ada yang nemenin, sekarang Mama sudah bersama Papa Kumbang. Kalau Mama dan Papa Kumbang menikah, terus ya nemenin Papa Surya siapa dong? Masa Nenek doang, kan ngga seru, Tante!!" ucapan polos Amanda seketika membuat Mawar tersenyum malu.
Kemudian Mama Seroja pun ikut menghampiri Mawar dan Amanda.
"Mama benar, aku akan bertanggung jawab tentang statusmu. Aku akan menikahimu dengan tujuan untuk membuat statusmu menjadi jelas, bahwa kamu bukanlah seorang gadis, dan jika suatu hari nanti kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi, maka aku bersedia digugat cerai, karena aku sadar diri jika aku sekarang adalah laki-laki yang cacat tidak berguna, agar kamu bisa menikah dengan pria lain yang lebih segalanya dariku, dan dalam hal ini statusmu menjadi jelas, jika kamu adalah seorang janda, dan suamimu kelak tidak akan bertanya macam-macam," sahut Surya.
__ADS_1
Seketika Mawar menoleh ke arah Surya dan menghampiri lagi pria itu. "Tidak, Mas! Pernikahan bukanlah untuk mainan. Jika kamu berniat untuk menikahiku, maka lakukanlah secara iklhas. Karena aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Aku tidak akan menceraikanmu karena aku masih mencintaimu, Mas!" ungkapan Mawar sangatlah membuat Surya malu, ternyata masih ada wanita yang mencintainya begitu tulus, seorang wanita yang pernah ia sakiti hatinya.
"Mawar, apa kamu bersedia menjadi istriku!" ucap Surya sambil membuka kedua tangannya dan berharap Mawar datang ke pelukannya.
Mawar tersenyum dan sangat terharu. Ia pun mendekati Surya lantas memeluknya.
"Aku bersedia, Mas. Aku mau menikah denganmu, dari dulu ini yang ingin aku dengar darimu, hanya itu saja." seru Mawar dibalik tangisnya yang sesenggukan.
"Tapi aku tidak seperti dulu lagi, aku laki-laki cacat, Mawar. Apa kamu tidak malu memiliki suami yang cacat sepertiku." Seru Surya sembari melihat kedua kakinya yang buntung.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah malu, Mas!" balas Mawar dengan tersenyum.
...BERSAMBUNG ...