
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kedua orang tua Melati dan Surya ternyata menjodohkan mereka, surga untuk Surya tapi neraka bagi Mawar. Dan Melati terpaksa menerima perjodohan dari kedua orang tuanya karena itu adalah permintaan dari sang Ayah yang kini sedang sakit-sakitan.
Sesuai janjinya, Surya pun memutuskan semua pacar-pacarnya tanpa terkecuali termasuk Mawar. Padahal Mawar saat itu sedang mengandung anak dari Surya.
"Mas Surya, kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku hamil, Mas. Kamu harus menikahiku, ini bayi kamu!" seru Mawar saat bertemu dengan Surya.
"Dengar Mawar, entah aku percaya padamu atau tidak, tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, maafkan aku!" balas Surya yang tentu saja tidak bisa diterima oleh Mawar begitu saja.
"Apa kamu bilang! Kamu memutuskan hubungan kita begitu saja, dan kamu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilanku ini? Kamu memang pengecut, Mas. Brengsek kamu!" umpat Mawar sambil memukuli dada Surya berkali-kali.
Surya pun berusaha untuk menahan tangan Mawar dan berkata kepada gadis itu, "Dengarkan aku! Itu sudah resiko kamu, kita melakukannya karena suka sama suka, tidak ada paksaan diantara kita. Jadi, kamu juga tidak berhak memaksaku untuk bertanggung jawab atas bayi yang kamu kandung, karena aku tidak suka perempuan hamil," ucapan Surya seketika membuat Mawar lemas.
Di saat yang bersamaan terdengar suara gemuruh yang sangat keras, seolah ucapan Surya adalah sebuah kutukan yang pasti akan menimpa hidupnya.
Surya pun segera meninggalkan Mawar yang sedang tersedu-sedu, karena cintanya yang sudah telanjur buta. Mawar mengejar Surya dan berkata, "Baiklah! Jika kamu tidak suka perempuan hamil, aku akan menggugurkan kandungan ini, demi supaya kamu tidak meninggalkan aku, aku mohon, Mas! Jangan tinggalkan aku!" rengek Mawar yang memohon dengan sangat agar Surya tetap bersamanya.
Surya berhenti dan tersenyum smirk kepada Mawar, ia pun mengusap air mata gadis itu dan kemudian mencium bibir Mawar sekilas.
"Itu baru namanya gadis yang kusukai, aku tidak akan meninggalkanmu asalkan kamu mau menuruti permintaanku, gugurkan kandunganmu secepatnya!" titah Surya yang langsung mendapatkan anggukan dari Mawar.
Hari itu dan saat itu juga, Mawar dan Surya datang ke seorang temannya yang merupakan bidan yang berprofesi ganda sebagai bidan aborsi, di mana Surya sering sekali membawa pacar-pacarnya yang hamil karena ulahnya untuk dibersihkan kandungannya pada bidan tersebut.
__ADS_1
Terdengar teriakan Mawar yang memilukan hati, gadis itu tampak kesakitan, entah apa yang dilakukan oleh sang bidan sehingga membuat Mawar berteriak dengan keras.
Surya hanya menyunggingkan senyumnya, besok dirinya akan melakukan akad nikah dengan Melati, setidaknya hari ini ia bisa membereskan masalah Mawar yang sedang mengandung anaknya, sehingga Mawar tidak akan menuntut pertanggungjawaban setelah Surya menikah dengan Melati.
Setelah beberapa saat Mawar berada di dalam kamar aborsi, sang bidan pun keluar dengan membawa janin satu bulan yang berhasil ia keluarkan secara paksa dari rahim Mawar. Janin tak berdosa yang masih berupa gumpalan darah itu membuktikan jika Surya adalah ayah yang laknat, ia tega membuang darah dagingnya sendiri demi ambisinya untuk mendapatkan Melati.
Surya kemudian masuk ke dalam kamar di mana Mawar masih terbaring lemah, pria itu mendekati Mawar yang tampak pucat. Dengan kondisi masih sangat lemah, Mawar berusaha tersenyum kepada Surya dan berharap pria itu tetap bersama dirinya.
"Mas Surya, sekarang aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan, dan sekarang aku menagih janjimu untuk menikahiku, kapan kamu datang ke rumah dan bertemu dengan kakakku?" seru Mawar yang penuh harapan agar dirinya dan Surya bisa menikah secepatnya.
Alih-alih ingin mendapatkan jawaban yang membahagiakan dari Surya, justru Mawar mendapatkan sebuah berita yang benar-benar membuatnya shok setengah mati.
"Mawar, terima kasih kamu sudah menuruti permintaanku, aku berharap hidupmu selanjutnya akan bahagia, dengan hilangnya janin itu hubungan diantara kita sudah tidak berarti lagi, dan sekarang kamu bisa bebas dan menikah dengan pria lain. Dan aku ... aku juga akan menikah dengan wanita yang tentunya sangat aku cintai, besok aku akan menikah, jadi lupakan semua tentang kita." Surya berkata tanpa rasa berdosa sedikitpun.
Seperti disambar petir di siang hari, Mawar tidak berkata apa-apa, pandangan matanya mulai kosong, terlalu sering ia mengeluarkan air mata karena Surya. Kini, hanya tatapan kosong yang menghiasi wajah cantik seorang Mawar.
Setelah mengatakan hal itu, Surya segera pergi dari tempat itu dan meminta bidan temannya mengantar pulang Mawar. Ia tidak mau lagi berhubungan dengan wanita manapun di masa lalunya, karena sekarang wanita satu-satunya yang ada di dalam hati Surya hanyalah Melati.
"Tidaaakkkkk!! Mawar, apa yang terjadi padamu adikku! Mawar sadarlah aku kakakmu!" seru Kumbang saat melihat perubahan sikap adiknya setelah seseorang mengantar Mawar pulang, dengan alasan Mawar ditemukan di pinggir jalan dan tidak tahu kemana gadis itu pulang. Karena Mawar hanya senyum-senyum saja jika ditanya. Belum lagi bercak darah pada tubuhnya akibat proses aborsi itu.
Mawar menjadi pendiam dan sesekali menangis, kadang ia juga mengamuk tidak jelas sambil menyebut nama Surya.
__ADS_1
"Huaaaaaa aku benci kamu Surya! Apa kamu tidak lihat betapa penderitaanku karena laki-laki bajingan seperti kamu, kamu suruh aku membuang bayiku, dan sekarang kamu menikah dengan wanita itu, kamu pikir aku ini apa hahahaha ... hiks hiks hiks!"
Suara teriakan Mawar yang diiringi dengan tangisan yang memilukan, akhirnya bisa dimengerti oleh Kumbang, ternyata sang adik mengalami depresi yang begitu berat karena ulah seorang pria yang bernama Surya.
Mawar tampak menangis sambil membawa foto Surya di tangannya. Karena tidak tega melihat kondisi adiknya yang semakin parah. Kumbang pun memutuskan untuk membawa Mawar ke rumah sakit jiwa. Untuk sejenak Kumbang melihat foto pria yang sudah membuat kehidupan adiknya hancur. Dengan tatapan yang penuh kemarahan, Kumbang merremas foto itu dan bersumpah akan membuat Surya lebih menderita daripada adiknya.
"Surya Kencana, kemanapun kamu lari, kamu tidak akan pernah bisa bebas dari tanganku, kamu harus membayar setiap tetesan air mata adikku dengan darahmu, aku akan membawa kepalamu untuk tunduk di kaki adikku, aku pastikan itu!" sumpah Kumbang yang tidak akan pernah ia lupakan sampai akhirnya kini dirinya sudah mendapatkan Surya dalam genggamannya.
Masih di dalam rumah sakit, Kumbang menghajar Surya habis-habisan sampai pria itu tidak bisa membuka kedua matanya.
"Sudah Bos! Jangan diteruskan! Bos bisa membuat pria ini mati, Bos!" seru asisten Dharma yang berusaha untuk menenangkan sang Bos yang sudah kesetanan memukuli Surya.
Surya jatuh tersungkur, pria itu sangat kesakitan dengan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya, hingga tiba-tiba saja seorang gadis kecil datang menghampiri Surya dan memanggilnya dengan Papa.
"Papa! Papa kenapa? Bangun, Pa! Manda kangen sama Papa, huhuhu!" gadis itu tampak menggoyang-goyangkan badan Surya yang lemas.
Rupanya gadis itu adalah Amanda yang tahu sang Ayah sedang kesakitan. Sontak Kumbang pun berusaha untuk menurunkan amarahnya saat melihat sang putri yang sedang menghampiri Surya.
"Amanda, apa yang kamu lakukan, Nak?" seru Kumbang yang berusaha untuk membawa putrinya dan menjauhi Surya. Tapi, Amanda justru terlihat marah kepada Kumbang, gadis itu berdiri dengan kepala yang masih diperban.
"Om jahat! Kenapa Om pukul Papa Manda, Manda benci sama Om!" seru gadis itu sambil memeluk Surya kembali.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...