Melati Yang Ternoda

Melati Yang Ternoda
Mawar sembuh


__ADS_3

Mama Seroja langsung memeluk putranya, berusaha untuk menenangkan Surya yang terlihat begitu shok. Pria itu menjerit tatkala kedua kakinya tidak bisa lagi ia miliki.


"Tenangkan dirimu, Nak! Sabar!" ucap Mama Seroja sembari terus memeluk putranya.


"Kenapa, Ma? kenapa ini harus terjadi padaku? Kakiku, aku tidak akan bisa berjalan lagi." Surya menangis dalam pelukan ibunya. Sungguh dirinya kini telah hancur. Namun, bagaimana lagi, ini sudah menjadi takdir seolah Surya Kencana. Bagaimana bisa dirinya mencari Melati jika untuk berjalan saja ia tidak bisa.


*


*


*


Di Rumah Sakit Jiwa.


Kumbang pun akhirnya benar-benar mengajak Melati dan putrinya untuk menjenguk Mawar. Hari itu Mawar sedang duduk di sebuah bangku di taman yang ada di rumah sakit itu, Mawar terlihat sedang duduk melamun tanpa ekspresi, pandangan matanya jauh menerawang. Hingga akhirnya terdengar suara sang kakak sambil duduk di samping adik kesayangannya itu.


"Bagaimana kabarmu, adikku? Kamu sedang lihat apa?" tanya Kumbang sembari menyelipkan rambut Mawar di telinga.


Tidak ada jawaban dari Mawar, gadis itu masih diam dengan ekspresi yang sama seperti semula. Sedangkan Melati dan Amanda tampak memperhatikan Kumbang yang sedang mendekati Mawar terlihat ikut terharu.


"Ma! Itu Tante Mawar?" tanya Amanda sambil menunjuk ke arah Mawar yang sedang duduk membelakanginya.


"Iya Sayang! Itu Tante Mawar," jawab Melati. Tiba-tiba saja Amanda berlari ke arah Mawar, tentu saja Melati berusaha untuk mengejar sang putri.

__ADS_1


"Amanda tunggu, Nak!"


Gadis kecil itu berlari hingga akhirnya ia sampai di depan Mawar yang sedang melamun. Pandangan Mawar tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran wajah seorang gadis cilik yang terlihat begitu manis. Seketika wajah tanpa ekspresi yang ditunjukkan oleh Mawar berubah menjadi berseri.


Spontan Mawar berdiri dan menghampiri Amanda, entah kenapa Amanda tidak merasa takut sama sekali dengan Mawar yang berusaha untuk mendekatinya.


Sedangkan Melati dan Kumbang tampak terkejut kala Mawar tiba-tiba menghampiri putri mereka. Setelah Mawar tiba di depan Amanda, gadis itu berjongkok dan tersenyum kepada Amanda. Hingga akhirnya Mawar bertanya kepada Amanda, "Hai! Siapa namamu?"


Tanpa rasa takut, Amanda pun menjawab pertanyaan Mawar. "Namaku Amanda, Tante! Kalau Tante namanya pasti Mawar iya, kan?" balas gadis kecil itu sambil tersenyum. Seolah Mawar mendapatkan obat ajaib, Mawar terlihat begitu bahagia kala berada di dekat Amanda.


"Kamu lucu sekali, boleh Tante memelukmu?" pinta Mawar yang seolah-olah dirinya sudah sembuh dan ia merasa jika Amanda adalah penghibur dirinya.


"Tentu saja!" Amanda pun mengizinkan Mawar untuk memeluknya. Mawar pun tersenyum dan langsung memeluk sang keponakan dengan penuh kasih sayang.


Melati dan Kumbang terlihat begitu senang, rupanya kehadiran Amanda membuat psikologi Mawar membaik, Mawar terlihat selalu tersenyum dengan bermain bersama Amanda. Bahkan, senyuman yang dulu selalu Mawar perlihatkan, kini senyum itu kembali merekah. Setiap hari Kumbang membawa putrinya untuk datang ke rumah sakit, tentu saja kedatangan Amanda sangat dinantikan oleh Mawar.


"Syukurlah! Saya melihat kondisi kejiwaan Nona Mawar sudah berangsur-angsur membaik, ia sudah tidak pernah mengamuk lagi. Saya rasa kehadiran putri Tuan adalah motivasi Nona Mawar untuk melupakan depresinya," ucap dokter kepada Kumbang.


"Terima kasih banyak, Dokter! Apa kira-kira adik saya sudah bisa dibawa pulang?" tanya Kumbang yang berharap jika Mawar segera kembali ke rumah.


"Saya rasa sudah bisa, Tuan! Nona Mawar bisa kembali ke lingkungan seperti biasa, asalkan! Tolong hindari dulu hal-hal yang mengingatkan tentang apa yang menyebabkan dia depresi. Saya khawatir Nona Mawar masih trauma." Penjelasan dari sang dokter tentu saja membuat Kumbang begitu bahagia, akhirnya dirinya bisa membawa sang adik untuk pulang bersama dengannya.


"Aku ikut bahagia, akhirnya Mawar bisa tinggal bersama dengan kita," ucap Melati.

__ADS_1


"Terima kasih, kau tahu Mel, bertahun-tahun aku menunggu momen seperti ini, adikku pulang bersamaku. Aku ucapkan terima kasih banyak padamu, karena kamulah yang membuat Mawar sembuh," ungkap Kumbang sembari menundukkan kepalanya di depan Melati.


"Aku? Kok aku, memangnya apa yang sudah aku lakukan? Mawar sembuh karena Amanda, bukan aku." Jawaban Melati. Kemudian Kumbang pun mencium tangan Melati sembari berkata, "Tentu saja kamu, jika Amanda bukanlah putrimu, mana mungkin aku berterima kasih kepadamu," ucap Kumbang yang seketika membuat Melati tersenyum malu.


"Amanda bukan hanya putriku, tapi dia juga putrimu. Putri kita!" mendengar ucapan dari Melati, Kumbang pun spontan memeluk Melati. Betapa bahagianya, Kumbang mendapatkan kedua wanita yang disayanginya. Sang adik dan tentu saja sang mantan yang tidak akan pernah ia lupakan, yang tak lain adalah Melati.


"Putri kita! Iya, Amanda memang putri kita," seru Kumbang sembari memeluk Melati. Hingga akhirnya, mereka tiba-tiba dikejutkan dengan suara yang membuat mereka terpaksa melepaskan pelukan.


"Cie cie ... ehem! Mas Kumbang akhirnya menemukan bunga impiannya. Selamat ya!" sahut Mawar yang datang bersama Amanda.


"Mawar!!" seketika Kumbang terkejut ketika sang adik berkata demikian.


"Mawar, kamu!" sambung Melati yang ikut bahagia melihat Mawar yang sudah terlihat segar seperti dulu lagi dan ia siap untuk pulang ke rumah.


"Aku sudah sembuh, hari ini aku ingin pulang bersama kalian dan juga Amanda. Kalian berdua memang pintar. Bagaimana bisa kalian memiliki gadis semungil ini, dia imut banget, Mas! Anak kalian nggemesin, keponakanku cantik banget!" puji Mawar sambil menggendong Amanda.


Kumbang pun tertawa riang dan berkata, "Iya, itulah kehebatan Masmu ini, kamu tahu sendiri kualitas Masmu seperti apa, Melati saja sampai tergila-gila," ucapan Kumbang rupanya memaksa Melati memutar bola matanya.


"Aduhh PD sekali, Anda! Bukannya yang tergila-gila itu Anda Tuan Kumbang!" sahut Melati tak terima. Kumbang pun mendekati Melati dan berbisik, "Iya, aku memang tergila-gila padamu. Tapi, kamu juga nggak mau kalah denganku, karena aku masih ingat sekali jika kamu sangat menikmatinya. Jangan pernah lupakan itu!"


Wajah Melati berubah menjadi merah merona tatkala Kumbang mengingatkan dirinya tentang malam itu.


"Oh ya? Sayangnya aku sudah lupa," balas Melati tanpa menatap wajah Kumbang.

__ADS_1


"Sudah lupa? Kalau begitu aku akan mengingatkannya kembali, setelah perceraianmu dengan Surya, aku akan menikahimu," ucap Kumbang dengan senyum seringainya.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2