Melati Yang Ternoda

Melati Yang Ternoda
Bonchap


__ADS_3

...Untuk Lebih amannya baca bakda Maghrib, ya! 😁 othor nggak bertanggung jawab kalau ada yang nangis dan kejang-kejang karena baca bab ini 😁🙏...


Kumbang melepaskan jas pengantinnya ke sembarang arah, setelah itu ia pun mengendurkan ikatan dasi. Namun, karena terlalu fokus kepada kecantikan sang istri, Kumbang menjadi lama melepaskan ikatan dasinya. Melati tersenyum nakal dan ia beranjak untuk membantu sang suami untuk melepaskan dasi dari kerah kemeja putih itu.


Kumbang tidak pernah melepaskan pandangannya ke arah sang istri, seolah dirinya sudah terhipnotis oleh seorang Melati.


Sementara itu, Melati mulai berdiri di depan sang suami dan kedua tangannya membuka ikatan dasi suaminya. Tak membutuhkan waktu lama, kini Melati sudah melepas dasi itu dan membuangnya ke lantai.


Setelah dasi itu terlepas, Melati kembali menyentuh kemeja pengantin Kumbang dan mulai membuka satu persatu kancing baju itu. Perlahan, dada nan seksi itu mulai terlihat. Melati membelai lembut bulu-bulu halus yang tumbuh pada dada bidang sang suami dengan tatapan keduanya yang tak pernah lepas.


"Akhirnya, setelah sekian lama. Aku bisa mendapatkanmu sebagai istriku. Ini adalah kebahagiaan yang tiada terkira, kehadiranmu adalah sebuah nyawa baru untukku. Jangan pernah meninggalkan aku, Mel! Jangan pernah." Kumbang mulai mendaratkan ciumannya pada bibir sang istri.


Melati tidak mungkin menolaknya, karena kini Kumbang adalah suaminya. Ciuman itu semakin panas, lebih panas dari tungku api kompor yang menyala. Bahkan penyejuk ruangan pun tidak bisa memadamkan api asmara yang sedang mereka nyalakan.


Entah sejak kapan, kain-kain pelindung tubuh mereka jatuh tergolek di atas lantai. Full naked iya, begitulah keadaan mereka sekarang.


Hingga pada akhirnya, Kumbang merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang pengantin yang penuh bunga-bunga nan segar itu. Dengan efek cahaya lampu temaram, semakin membuat Kumbang bergejolak untuk segera menguasai istrinya.

__ADS_1


Nafas Melati semakin terengah-engah saat Kumbang melakukan sesuatu di bawah sana dengan kecupan dan gigitan kenikmatan yang membuat Melati harus merremas rambut Kumbang. Pria itu begitu mencintai istrinya, dari ujung kaki hingga ujung rambut tak lepas dari sentuhan lembut bibirnya.


Sampai akhirnya, Kumbang tiba di sebuah tempat yang membuatnya semakin tergila-gila, Kepala itu bergerak-gerak maju mundur bahkan berputar-putar. Melati semakin dibuat gila karenanya karena sensasi rasanya seperti di awang-awang.


"Stop, Mas! Stop. Aku tidak kuat lagi."


Suara Melati terdengar begitu lemah. Namun Kumbang tidak melepaskannya begitu saja, ia semakin cepat memperdalam hisapan dan kecupannya hingga akhirnya Melati menggelinjang tak karuan.


Kumbang merasakan sesuatu yang keluar dari sumber surgawi itu. Sejenak ia berhenti, pria itu menyeringai, ia pun mulai merangkak naik ke atas tubuh sang istri dan menatapnya penuh cinta.


Kumbang melihat wajah sang istri yang masih menggigit bibir bawahnya. Kemudian ia kembali menatap wajah sang suami. Mereka berdua tampak tertawa kecil, Melati terlihat malu-malu saat dirinya mencapai tujuan terlebih dahulu.


"Maaf aku duluan, aku tidak kuat lagi, Mas. Kamu terlalu nakal sih," jawab Melati sambil mencubit hidung sang suami.


"Aku tidak mau egois, aku ingin istriku bahagia terlebih dahulu sebelum diriku. Jika kamu sudah bahagia, kini aku pun akan memulai permainan yang sesungguhnya, dan kamu pasti akan lebih suka, ahhh ...!" .


"Ahhh ... Maaassas!"

__ADS_1


Finally, mereka berdua akhirnya menyatukan raga untuk kedua kalinya. Setelah pertemuan mereka malam itu. Kini Kumbang dan Melati kembali mengulang manisnya menghisap madu cinta. Dalam suasana romantis itu hanya terdengar suara indah dari bibir keduanya yang menggila. Belum lagi kecupan demi kecupan yang terdengar bergantian, membuat telinga siapapun menjadi merinding.


"Lebih cepat, Mas!" bisik Melati disela-sela gerakan brutal itu. Kumbang menyeringai, Ia pun mempercepat gerakan itu sesuai irama yang pas dan tidak kurang.


"Kamu suka seperti ini?" Kumbang berbisik mesra di telinga sang istri.


"Hmm suka banget, Mas! Rasanya beda. Kamu lebih bertenaga dan lebih besar, hmmm!"


Di saat mereka tengah menikmati surga dunia. Tiba-tiba saja Amanda mengetuk pintu sambil memanggil nama sang Mama.


"Mama!! Mama bukain pintunya, Ma! Amanda nggak bisa bobo tanpa Mama, huhuhu!" teriak Amanda dari luar pintu. Sementara itu pengasuh Amanda berusaha untuk membujuk anak itu untuk tidak mengganggu Mama dan Papanya.


"Aduh, Non Manda, kita kembali ke kamar yuk! Mungkin Mama dan Papa sudah tidur, mereka pasti kecapekan seharian menemui tamu undangan," bujuk sang pengasuh. Tapi, Amanda tidak percaya begitu saja. Pasalnya ia samar mendengar teriakkan kecil disertai suara gedebak-gedebuk dari dalam kamar Melati.


"Nggak mungkin Mama dan Papa udah tidur. Buktinya Mbak denger nggak suara berisik dari dalam, jangan-jangan mereka bertengkar. Amanda ngga mau Mama digebukin Papa, kasihan kan Mbak Mama!" ucapan polos Amanda seketika membuat sang pengasuh bingung harus berkata apa.


Sementara itu di dalam, Melati mendengar suara sang putri yang sedang memanggilnya.

__ADS_1


"Mas! Berhenti, Mas!" seru Melati yang meminta Kumbang untuk berhenti bergerak.


"Hmm ... apa sih, Sayang! Aku ngga mau berhenti, udah posisi wenak nih!!" jawab Kumbang yang masih semangat untuk bergoyang dombret.


__ADS_2