Melati Yang Ternoda

Melati Yang Ternoda
Sebuah nama


__ADS_3

"Mawar, kau memanggilku!" seru Melati sembari mendekati gadis malang itu. Melati mengusap dan menyelipkan rambut Mawar yang terurai menutupi sebagian wajahnya.


"Mbak Melati ...!!" seru Mawar dengan suara beratnya.


"Iya, aku Melati. Kamu masih ingat padaku kan, Mawar?" Melati sangat bahagia karena Mawar masih mengingat dirinya. Setelah Mawar menyebut nama Melati, Mawar kembali menangis dalam pelukan Melati. Seolah-olah gadis itu membutuhkan pelukan hangat dan dukungan. Mawar menangis sejadi-jadinya.


"Haaaa ... aku benci dia! Aku benci dia ... huhuhuhu!" teriak Mawar sambil menangis sesenggukan. Melati tampak ikut duduk di samping Mawar dan menenangkan gadis itu.


"Sssttt! Sudah Mawar, tenangkan dirimu! Tenang, da aku di sini tenanglah!" Melati mengusap rambut Mawar, bak seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Melati begitu lembut kepada Mawar. Sehingga Mawar merasa nyaman saat berada di dekat Melati. Perlahan, Mawar mulai berhenti menangis, gadis itu tampak mengusap air matanya.


Melihat Mawar yang mulai tenang, Melati pun perlahan bertanya kepada Mawar, "Apa yang terjadi, Mawar? Katakan padaku! Kamu tidak usah takut," seru Melati yang berusaha untuk mengorek apa yang terjadi kepada adik Kumbang itu.


Mawar menatap wajah Melati, sejenak Mawar tersenyum manis dan mengusap wajah Melati.


"Kamu cantik, Mbak! Mas Kumbang sangat mencintaimu, dia laki-laki yang sangat setia padamu, Mas Kumbang tidak pernah melupakan Mbak Melati. Cinta Mas Kumbang hanya untuk Mbak Melati. Tapi ... tidak untuk laki-laki brengsek itu! Dia tidak pernah memiliki cinta yang suci seperti Mas Kumbang, dia laki-laki bejat, bajingan!" seru Mawar diiringi tawa cekikikan, sesekali bola matanya berputar ke atas dengan mulut komat-kamit.


Sungguh, siapapun yang melihat kondisi Mawar, pasti akan hati hancur tercabik-cabik, gadis yang dulu sangat ceria dan penuh senyuman. Kini berubah menjadi sosok yang aneh dengan kondisi yang memilukan.

__ADS_1


"Mawar! Siapa maksudmu laki-laki itu? Laki-laki yang mana? Kamu pasti sangat menderita gara-gara pria itu, ya Tuhan! Tolong sembuhkan Mawar, hamba tidak tega melihatnya seperti ini!" ucap Melati ketika Melihat Mawar tertawa cekikikan.


Tiba-tiba seorang perawat datang membawa makanan untuk Mawar. Perawat tersebut berusaha untuk merayu Mawar agar mau makan.


"Permisi, Bu! Saya mau memberikan makan untuk Mbak Mawar!" seru suster tersebut kepada Melati.


"Oh iya, Sus! Silahkan." jawab Melati.


Kemudian suster itu berkata kepada Mawar, "Mbak Mawar, ayo makan dulu! Nih saya sudah bawain makanan kesukaan Mbak Mawar, dimakan ya! Mbak Mawar belum makan loh dari pagi," rayu sang perawat. Namun, Mawar sepertinya tidak nafsu makan, ia tidak menghiraukan perintah sang suster untuk makan. Mawar justru sibuk bermain dengan boneka dan berbicara kepada boneka itu.


Melati yang melihat upaya sang perawat untuk merayu Mawar agar mau makan, ia pun mendekati perawat itu dan meminta makanan yang akan diberikan kepada Mawar.


Sang Suster pun tersenyum dan memberikan piring makanan Mawar. Setelah sang suster memberikan makanan Mawar, kini Melati yang akan merayu Mawar agar mau makan.


"Mawar! Kamu masih ingat kan saat kita sedang piknik ke puncak bersama, di sana hawanya dingin sekali dan selalu membuat perut lapar, brrrr ... pokoknya dingin sekali, kapan-kapan kita muncak lagi, ya? Kamu mau, kan?" seru Melati. Spontan Mawar pun teringat saat dulu dirinya pernah pergi ke puncak bersama Melati dan teman-temannya yang lain. Ia pun teringat akan makanan-makanan yang mereka masak sendiri ramai-ramai.


"He em, ada sate, ada ikan bakar, barbeque, jadi lapar," balas Mawar sambil memegangi perutnya. Melati pun akhirnya senang karena Mawar masih mengingat masa lalunya.

__ADS_1


"Nah! Kalau begitu, Mawar makan dulu, biar nggak laper, setelah itu Mbak akan mengajakmu muncak lagi kalau kamu sudah sembuh, mau kan?" seru Melati yang tiba-tiba membuat Mawar tersenyum bahagia.


"Muncak lagi? Ih pasti seru. Mau mau aku mau makan, sini biar aku makan sendiri," balas Mawar sembari mengambil piringnya dari tangan Melati. Dulu, Melati memiliki hobi mendaki gunung, dan ia pun sering diajak Melati karena mereka memiliki hobi yang sama.


Mawar tampak makan dengan tangan kosong, cara Mawar makan dengan berantakan membuat Melati semakin kasihan, ia pun berkata, "Mawar! Pelan-pelan dong! Pakai sendoknya dengan baik. Sini! Biar Mbak bantuin makan!" tawar Melati.


Mawar melihat tangannya yang penuh dengan nasi yang menempel. Ia pun segera memberikan piring itu kepada Melati. Setelah itu, Melati membersihkan tangan Mawar dengan tisu dan kemudian Melati menyuapi Mawar dengan pelan-pelan.


Mawar pun makan dengan tenang, meskipun tatapan matanya masih kosong, setidaknya Melati berhasil merayu Mawar untuk makan.


"Entah siapapun pria itu, dia benar-benar laki-laki biadab!" batin Melati yang ikut benci dengan pria yang sudah membuat hidup Mawar berantakan.


Hingga akhirnya tiba-tiba saja terdengar dari bibir Mawar, sebuah nama yang membuat Melati membulatkan matanya.


"Surya!" satu kata tapi penuh makna.


"Apa? Surya?" sahut Melati yang tiba-tiba wajahnya berubah menjadi panik.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2