Melati Yang Ternoda

Melati Yang Ternoda
Bujang lapuk


__ADS_3

Mawar tampak tegang dan panik, apakah Kumbang akan marah kepadanya.


"Mawar? Kenapa kamu bengong seperti itu? Kamu kenapa, kamu sakit?" tanya Kumbang yang melihat wajah sang adik yang sedikit pucat.


"Em ... enggak, Mas! Mawar nggak apa-apa kok, Mawar capek mau istirahat, permisi!" sahut Mawar sembari pergi masuk ke dalam rumah. Kumbang menatap kepergian sang adik, entah kenapa Kumbang melihat sang adik yang sedikit berubah, biasanya Mawar selalu banyak bicara jika sudah bertemu dengan sang Kakak. Kini, Mawar hanyalah tersenyum dan seolah gadis itu menyimpan sesuatu.


"Tumben Mawar nggak seperti biasanya? Ada apa dengannya?" Kumbang pun merasa ada yang harus ia ketahui dari sang adik.


Mawar masuk ke dalam kamar dan segera menguncinya, ia tampak menangis sembari memeluk kedua lututnya, masa depannya hancur hanya karena cinta butanya kepada Surya, meskipun ia melakukannya dengan pria yang dicintainya, Mawar merasa ini adalah sebuah kesalahan besar yang tidak mungkin bisa kembali seperti semula.


"Maafkan aku, Mas! Aku adik yang tidak tahu diri, aku sudah membuat Mas Kumbang kecewa, aku bodoh sekali ya Tuhan!" sesal Mawar merutuki nasibnya.


Setelah dirinya puas menangis, ia pun segera pergi ke kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air, menghilangkan jejak tangan Surya yang sudah menjamah dirinya, tapi rasanya itu tidak akan bisa hilang. Apalagi banyak sekali jejak petualangan Surya pada tubuh gadis itu.


"Aku jijik! Aku kotor! Aku jijik dengan diriku sendiri, aaahhhh ... kenapa aku bodoh sekali sudah menyerahkan segalanya, kamu bodoh Mawar, kamu bodoh sekali, huhuhu!" tangisan Mawar saat dirinya berada di bawah guyuran air shower.


Semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur, Mawar tidak bisa memutar waktu untuk kembali seperti dulu. Di usianya yang masih terbilang muda, Mawar sudah kehilangan mahkota kebanggaannya sebagai seorang wanita. Direnggut dengan paksa oleh pria yang dicintainya.

__ADS_1


Kumbang mengetuk pintu kamar sang adik, tak berselang lama, Mawar membuka pintu dengan kondisi rambut yang basah dan tentu saja wajah Mawar terlihat masih sembab karena menangis.


"Mawar! Kamu baik-baik saja, kan? Kamu habis nangis?" pertanyaan Kumbang seketika memaksa Mawar untuk berbohong, agar sang kakak tidak curiga.


"Hah! Nangis, enggak kok, Mas. Mawar nggak nangis, Mawar baik-baik saja, tadi cuma kelilipan, jadi Mawar mengucek mata, ya gini deh jadinya," jawab Mawar berpura-pura.


"Oh ya sudah! Kamu sudah makan?" tawar Kumbang, Mawar pun menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, kita makan dulu, tadi aku sudah pesen makanan ke Abang gojek, sebentar lagi pasti datang, Bi Sumi sedang cuti pulang kampung, Mas nggak sempat masak. Jadi, Mas pesen aja," ucap Kumbang yang membuat Mawar mengatakan sesuatu.


"Mas juga nggak tahu, terlalu susah untuk melupakan Melati, entah sekarang dia ada di mana, Mas juga tidak tahu, atau mungkin sekarang Melati sudah menikah. Jika Melati bahagia bersama dengan pria lain, Mas rela dan ikhlas, tapi untuk melupakannya rasanya itu tidak mungkin," ungkap Kumbang penuh haru.


"Mawar mengerti perasaan Mas, tapi apa Mas akan selamanya seperti ini? Ayolah Mas! Masa depan Mas masih panjang, masih banyak gadis lain yang bisa mencintai Mas, Mas menunggu apa sih? Keburu jadi bujang lapuk loh!" seru sang adik.


Kumbang pun hanya tersenyum, sembari menatap ke arah luar jendela, suasana malam yang spontan mengingatkan dirinya tentang cinta pertamanya. Kumbang pun berkata, "Sampai kapanpun, Mas tidak bisa melupakan Melati, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Melati dalam hati Mas, tidak ada!" ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Itu artinya, Mas tidak akan menikah dong?" tanya Mawar. Kumbang pun menghela nafas panjang dan menjawabnya, "Mungkin tidak, karena aku sangat yakin sekali, suatu hari nanti aku akan bertemu dengan Melati."

__ADS_1


Mawar melihat begitu besar cinta sang kakak kepada Melati, ia pun berharap Surya akan seperti itu, sangat mencintai dirinya, seperti sang kakak yang sangat mencintai Melati.


"Bolehkah Mawar bertanya?" tiba-tiba Mawar mengajukan pertanyaan itu kepada Kumbang.


Kumbang menoleh ke arah sang adik sambil mengerutkan keningnya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" balas Kumbang. Mawar pun menundukkan wajahnya dan setelah itu menanyakan tentang sesuatu yang sangat pribadi.


"Apa dulu Mas pernah minta syarat kepada Mbak Melati untuk membuktikan bahwa Mbak Melati benar-benar cinta sama Mas?" tanya Mawar sedikit gugup, karena pertanyaan itu muncul dari hal yang baru saja Ia alami.


"Syarat? Maksudnya?" Kumbang masih belum mengerti dengan pertanyaan Mawar.


"Em ... maksud Mawar, apa Mas Kumbang dulu pernah meminta Mbak Melati untuk berhubungan ba-badan?" pertanyaan Mawar sontak membuat Kumbang tertawa. Tentu saja Mawar jadi bingung dengan sikap Kumbang yang justru tertawa.


"Kok Mas malah tertawa sih? Aku serius, Mas!" seru Mawar sedikit kesal. Kumbang pun berhenti tertawa dan berkata kepada sang adik. "Hanya laki-laki pengecut yang melakukan itu kepada wanita yang dicintainya, pria sejati tidak akan pernah meminta syarat untuk berhubungan badan dengan wanitanya, ia akan menghalalkan dulu hubungan mereka, setelah itu sang pria akan menjadi pemenangnya, tidak ada yang tulus dari seorang pria jika dia minta itu terlebih dahulu, ingat kata Mas! Dan kamu jangan sampai tergoda dengan segala bujukan pria seperti itu, kamu mengerti!" ungkap Kumbang yang membuat Mawar bersedih.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2