
Hari berganti hari, kini kondisi Mawar semakin membaik dan ia pun kembali ceria seperti dulu lagi. Sangat berbanding terbalik dengan keadaan Surya. Pria itu terlihat tak terawat, hidupnya ia habiskan di atas kursi roda.
Surya menatap ke arah kolam renang, hingga akhirnya seorang pelayan memberikan sesuatu yang baru saja dikirim seseorang dari pengadilan agama. Iya! Melati menggugat cerai Suaminya.
Surya membaca isi pemberitahuan surat itu. Surya marah dan ia berteriak begitu kencang. Ternyata Melati begitu tega melayangkan gugatan cerai kepada dirinya di saat Surya sangat membutuhkan perhatian darinya. Selain dari surat gugatan cerai, Surya juga mendapatkan surat pribadi dari Melati.
"Untuk Mas Surya. Mas! Maafkan aku, aku rasa hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi. Aku sudah tahu semuanya, sebuah rahasia besar yang kamu sembunyikan dariku. Aku tidak menyangka kamu setega itu kepada Mawar. Gadis yang tak berdosa, kamu tinggalkan dia demi aku. Aku merasa sangat berdosa kepada Mawar. Aku pernah berjanji kepada Mawar untuk membawamu kembali padanya. Dan hari ini aku akan memenuhi sumpahku kepadanya, kita harus bercerai. Kembalilah kepada Mawar! Dia yang harusnya kamu nikahi, bukan aku. Lupakan semuanya tentang kita, kita pilih jalan hidup masing-masing, aku berharap kamu baik-baik saja dan aku turut berdukacita dengan apa yang terjadi padamu, Mas! Semoga semua ini dapat menjadi pembelajaran untukmu. Aku berharap kamu tidak akan menyakiti Mawar-Mawar yang lain, Tuhan sudah memberimu sebuah hukuman yang tak ternilai harganya. Selamat tinggal Mas Surya!"
Surya merremas surat dari istrinya, ia bukan hanya kehilangan kedua kakinya. Tapi Surya juga kehilangan cinta sejatinya.
"Ya Tuhan!! Kenapa Kau hukum aku seperti ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Melati! Jangan tinggalkan aku!! Melati!!"
Mama Seroja menghampiri putranya dan berusaha untuk menenangkannya.
"Surya! Tenangkan dirimu, Nak!" ucap Mama Seroja yang sangat tidak tega melihat kondisi putranya yang kian memprihatinkan. Surya semakin kurus dan wajahnya sudah tak terawat lagi. Dulu, pria itu sangat gagah dan tampan, banyak sekali wanita-wanita muda yang mengantri untuk menjadi pacarnya, sehingga membuat Surya khilaf dan hanya memanfaatkan para wanita itu sebagai kesenangannya belaka.
Sekarang, semuanya tinggal kenangan. Surya tidak bisa lagi bersinar seperti dulu. Kehilangan kedua kakinya adalah sesuatu yang benar-benar membuatnya hancur. Apalagi gugatan cerai oleh Melati kepadanya. Lengkap sudah penderitaan pria itu.
"Ma!"
"Ada apa, Surya?"
"Aku bosan di rumah, aku ingin melihat jalan-jalan ke luar, Mama bisa antar aku ke taman kota sebentar? Aku ingin menenangkan diri di sana," pinta Surya dengan suara pelannya.
"Tentu saja, Mama akan mengantarkan mu ke sana!"
Hari itu juga, Mama Seroja membawa Surya untuk pergi ke taman kota, entah kenapa tiba-tiba dirinya ingin sekali pergi ke sana. Sesampainya di tempat itu, tak jarang banyak mata yang memandang rendah kepada Surya, bagaimana tidak. Kumis dan jenggot Surya tumbuh subur tanpa dicukur, ia sudah tidak perduli lagi dengan penampilannya. Begitu juga dengan rambutnya yang mulai panjang. Sosok Surya yang tampan kini tidak ada lagi wanita yang mau melirik kepadanya.
__ADS_1
Sejenak, tatapan mata Surya mengedar ke sekeliling taman, dengan memakai kursi roda, ia meminta Mama Seroja untuk mengantarnya ke kolam air mancur yang berada di tengah-tengah taman. Sesampainya di depan kolam air mancur, Mama Seroja meminta izin untuk membeli minuman.
"Kamu di sini dulu, ya! Mama mau beli minuman dulu di sana, nggak lama kok!"
Surya pun mengangguk. Akhirnya Mama Seroja pergi untuk membeli minuman untuk mereka.
Dari kejauhan, Surya melihat ada seorang anak kecil dan seorang gadis yang sedang bermain tangkap bola, sekilas Surya mengenal gadis kecil itu yang sedang menghadap ke arah dirinya, sedangkan sang gadis yang satunya terlihat membelakanginya.
"Itu seperti Amanda? Amanda!!" seru Surya yang terkejut saat melihat wajah anak kecil itu mirip sekali dengan Amanda. Tak disangka bola yang dilemparkan oleh gadis kecil itu menggelinding jauh sampai ke tempat Surya berada.
"Ya ... bolanya kesana, Tante! Manda ambil dulu, ya!" dan benar gadis kecil itu adalah Amanda, putri Melati.
"Hmm ... hati-hati, ya!" balas Mawar yang rupanya ia sedang menemani sang keponakan bermain di taman kota. Amanda berlari mengikuti arah bola yang menggelinding, hingga akhirnya Amanda menemukan bolanya yang berhenti tepat di depan kursi roda Surya.
Spontan Amanda dan Surya saling bertatapan, Surya yang tahu jika itu adalah memang Amanda, ia pun berusaha untuk memanggil gadis kecil yang pernah ia anggap sebagai anaknya itu.
"Kamu siapa? Aku takut! Kamu bukan Papaku," sahut Amanda sambil berlari ke arah Mawar.
"Amanda, ada apa? Bolanya mana?" tanya Mawar yang terkejut saat Amanda tiba-tiba memeluknya dengan ketakutan.
"Itu Tante, bolanya di sana, Manda takut dengan orang itu, hiii serem kayak hantu!" ucap bocah itu lugu.
Mawar tertawa kecil mendengar pengakuan dari sang keponakan.
"Kamu tuh ada-ada saja, mana ada siang bolong gini hantu jalan-jalan, sini! Biar Tante yang ambil!" ucap Mawar sembari beranjak untuk mengambil bola itu.
Di sisi lain.
__ADS_1
"Amanda! Ya Tuhan, kenapa dia malah lari, apa wajahku terlalu menyeramkan?" pikir Surya sambil meraba wajahnya sendiri. Sekilas Surya melihat bola yang tepat berada di bawah kursi rodanya. Surya melihat pada permukaan bola itu ada dua tulisan yang cukup membuatnya teringat akan nama seseorang.
"Amanda. Mawar!!" lirih Surya sambil menunduk membaca tulisan pada bola berwarna oranye itu. Benar saja, setelah menyebut nama itu, datang seorang wanita dengan menggendong Amanda yang tampak menyembunyikan wajahnya dengan menghadap ke belakang.
"Permisi Tuan! Saya mau mengambil bola itu!" ucap Mawar yang belum mengetahui jika pria yang sedang berada di depannya itu adalah Surya. Seketika Surya sangat terkejut saat mendengar suara yang sangat ia kenal.
"Mawar!!"
Spontan Surya menyebut nama Mawar sembari mengangkat wajahnya. Mawar melihat Surya yang sedang menatapnya aneh.
Untuk sejenak Mawar menatap bola mata itu, seolah dirinya pernah melihatnya. Kondisi Surya yang sangat tidak terawat membuat Mawar tidak mengenalinya dan sedikit prihatin.
"Siapa pria ini? Tatapan matanya tidak asing bagiku. Kasihan sekali dia, kurus sekali badannya, dia juga lumpuh!" batin Mawar yang masih belum mengenali Surya.
Surya hanya diam dan ia sangat tercengang dengan sosok gadis yang dulu pernah hadir dalam hidupnya yang tak lain adalah adik Kumbang, Mawar.
Hingga akhirnya, Mama Seroja datang membawa dua minuman sambil memanggil nama putranya.
"Surya! Ini minummu, Nak! Es lemon tea kesukaanmu!" seru Mama Seroja.
'Deg'
Seketika Mawar terkejut saat Mama Seroja memanggil pria itu dengan sebutan Surya, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah minuman lemon tea itu adalah minuman favorit Surya. Mawar masih ingat betul jika dulu Surya sangat menyukai lemon tea.
"Mas Surya!!"
...BERSAMBUNG...
__ADS_1